
Pagi itu, aku memutuskan tidak mengambil quest untuk mencari kedua gadis itu. Dengan bantuan Yuri, aku bersama Lia dapat menemukan mereka dengan cepat. Kami menemukan mereka di salah satu kedai makanan di kota.
Nafsu makan mereka sungguh besar. Keduanya makan banyak sekali hingga membuat tumpukan mangkuk dan piring. Sepertinya mereka sudah berada di tempat ini sejak kemarin. Terlebih, aku yang harus membayar semua tagihan mereka. Bukan hanya tagihan makanan saja, sang pemilik toko memintaku membayar lebih karena mereka membuatnya terjaga semalaman.
Pagi-pagi saja aku sudah tertimpa sial. Ini sih namanya, sudah jatuh masih tertimpa tangga. Tapi apa boleh buat. Lagipula, ini memang salahku karena meninggalkan mereka berdua. Mungkin bukan 'meninggalkan', lebih seperti 'tidak memikirkan'.
Setelah menemukan mereka, aku membawa mereka ke Guild. Jujur saja, memanggil mereka dengan sebutan 'mereka/kalian' itu sangat membuatku kesusahan. Akan lebih baik jika aku cepat memikirkan nama untuk mereka berdua. Untuk Ziz... sepertinya aku harus membutuhkan waktu lagi.
Saat kami dalam perjalanan ke Guild, entah mengapa aku langsung memikirkan dua buah nama untuk mereka. Karena mereka terlihat kembar, mungkin sebaiknya aku memanggil mereka begitu.
"Hei, kalian. Bagaimana jika mulai sekarang, nama kalian adalah Celin dan Celena?"
Aku memberikan mereka nama. Gadis yang memiliki pakaian merah kuberi nama Celin, sedangkan yang berpakaian biru Celena.
"Celin...? Aku suka nama itu! Terima kasih, Master!"
"Saya juga. Master, terimakasih!"
Bagaimana mengatakannya, ya? Mungkin Celin memiliki sifat yang cenderung tomboy, periang, dan penuh semangat. Apa mungkin karena elemennya api? Sedangkan Celena bersifat sedikit pemalu, meski tidak seperti Lia. Selain itu, dia terlihat lebih dewasa. Terlebih bagian dadanya.
"Heh?! Apa yang kupikirkan?"
Heh!! Barusan, itunya bergerak! Aku yakin tadi itu bergerak!
"Ada apa, Rei?"
"Hah!! Heh... Eng... tidak ada! Tidak ada apa\-apa!"
Semoga saja Lia tidak menyadarinya. Bisa gawat jika dia menyadari apa yang kupikirkan. Untuk lebih baiknya aku kembali berjalan dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya kami di Guild, aku melihat Reiga dan yang lainnya sedang berkumpul. Ketika aku bertanya kepada mereka kenapa mereka tidak mengambil quest. Mereka mengatakan bahwa mereka masih terguncang karena kejadian yang kemarin.
Tentu saja mereka pasti akan terguncang karena kemarin mereka baru saja bertemu dengan Ziz. Selain itu, saat mencoba untuk melarikan diri, mereka semua hampir saja dalam bahaya karena pada saat itu terpisah.
Jika aku yang berada dalam posisi mereka, aku juga pasti memutuskan untuk tidak pergi mengambil quest untuk beberapa hari- tidak hingga aku kembali tenang.
Hari ini sepertinya aku tidak akan mengambil quest. Tapi apa yang harus kulakukan jika aku tidak mengambil quest? Karena aku sekarang sudah memiliki beberapa teman baru, apakah memperdalam ikatan itu penting? Mungkin untuk melakukan itu, kami harus membutuhkan tempat yang sedikit jauh dari kota.
__ADS_1
Aku juga harus memberitahukan 'semuanya' kepada kelompok Reiga sebelum kami meninggalkan kota ini.
Tapi ketika aku bertanya kepada Lia mengenai hal itu, dia mengatakan bahwa keputusan ada di tanganku. Mungkin ini sedikit berbahaya untuk memberitahukan mereka semuanya. Tapi... sepertinya inilah kesempatan terakhir kami untuk memberitahukannya kepada mereka.
Selain itu, baru kali ini aku mendapatkan teman selain Shin. Bukan berarti aku akan melupakan Shin. Tapi aku harus mencoba beradaptasi di dunia ini. Baiklah sudah kuputusakan. Aku akan memberitahu mereka. Untuk tempat... sepertinya aku bisa menggunakan rumah yang berada di tengah hutan mati tersebut.
"Semuanya, bisakah kalian ikut dengan kami sebentar? Ada yang ingin kusampaikan, tapi tidak di tempat ini!"
Mereka saling melihat satu sama lain. Tanpa berunding, mereka langsung memutuskan untuk mengikutiku.
***
Mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai rumah tersebut. Tapi kami dapat mencapainya tanpa ada yang terluka. Meski aku tidak dapat membantu sama sekali. Senjataku sudah hancur. Selain itu jika aku meminta babtuan Celin dan Celena, aku yakin mereka pasti akan terkejut dan itu akan menjadi tidak ada gunanya membawa mereka kesini.
"Kanezuki Rei, apa yang akan kita lakukan di rumah ini? Selain itu, bukankah di sekitar sini ada makhluk yang sangat besar itu...?"
Mereka semua terlihat sangat waspada. Aku memberitahu bahwa makhluk yang luar biasa besar itu adalah salah satu dari Tiga Penguasa. Lebih tepatnya adalah Penguasa Langit, Ziz. Hanya mendengar bahwa itu adalah salah satu dari Tiga Penguasa sudah membuat mereka semua gemetar ketakutan.
"Salah satu dari Tiga Penguasa?! Lalu untuk apa kita berada di sini?"
Mendengar Nita yang berbicara dengan nada yang mengecil. Aku menghadap mereka dengan serius.
"Mulai sekarang aku tidak akan membohongi kalian lagi dan aku akan berterus terang. Maaf! Selama ini aku menipu kalian semua! Sebenarnya, aku bukanlah manusia yang berasal dari dunia ini."
"A\-apa maksudmu Kanezuki Rei...!?"
Aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Aku hanya akan berterus terang. Dan mulai hari ini, Kanezuki Rei yang selalu menutup diri dari orang lain yang berada di sekitarnya harus menjadi lebih terbuka kepada orang lain.
"Aku ingin kalian mendengarkanku. Jangan panik! Tidak usah takut! Aku akan memberitahukan semuanya."
Meskipun aku mengatakan begitu, mereka semua terlihat menjadi sangat tegang. Secucur keringat terlihat dari masing-masing orang. Sambil menelan ludah, mereka menatapku dengan tatapan serius.
"Sebenarnya, aku adalah... Raja Iblis..."
Mendengar kata terakhir yang kuucapkan. Mereka semua membeku tanpa tatapan.
"Ra\-Raja Iblis?! Ka\-Kanezuki Rei, kau pasti bercanda bukan?! Maksudku, bagaimana bisa?! Kau\-..."
Aku memberikan Reiga tatapan serius. Sebuah tatapan yang menunjukkan bahwa tidak ada sebuah kebohongan sama sekali.
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda atau sedang berbohong?"
__ADS_1
Kata-kataku membuat mereka sadar. Wajah yang dipenuhi ketakutan. Itulah yang mereka tunjukkan kepadaku. Tidak seperti dugaanku, aku menduga setidaknya salah satu mereka akan melarikan diri, tapi mereka semua tidak ada yang melarikan diri.
Diantara semuanya yang sedang merasakan ketakutan, Reiga terlihat tenang, meski tidak terlalu tenang. Meski begitu, dia tetap memberanikan diri untuk bertanya kepadaku.
"Apakah kau adalah utusan Raja Iblis Azazel?"
Aku hanya menganggukkan kepala padanya. Entah mengapa, setelah itu, lima orang yang berada di depanku langsung berlutut. Saat itu, rasa takut yang mereka rasakan seakan langsung menghilang. Aku tidak pernah mengira, bahwa mereka akan berlutut tepat di hadapanku.
"Heh!? Apa yang kalian lakukan? Cepat bangun! Jangan berkata apa\-apa! Cepat bangun!"
Setelah mereka bangun, aku langsung bertanya kepada mereka, tentang alasan kenapa mereka berlutut di depanku. Dan jawaban mereka adalah karena Azazel merupakan Raja Iblis yang bijak. Jadi mereka menganggap bahwa utusannya juga akan memiliki sifat yang sama. Sepertinya mereka terlalu berharap. Sejujurnya, aku adalah orang yang mengambil keputusan tanpa berpikir dua kali.
Aku menceritakan semuanya kepada mereka. Dari bagaimana aku bisa berada di dunia ini hingga aku bisa mendapatkan Ziz dan [Excalibur Fragment]. Membutuhkan waktu lama jika aku menceritakannya dari awal. Jadi aku hanya memberitahu mereka semua poin penting yang selama ini aku lalui dan mereka semua percaya, bahkan terlalu mudah.
"Apa kalian sama sekali tidak berpikir bahwa bagaimana jika itu semua adalah kebohongan?"
"Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak percaya setelah semua yang sudah terjadi."
Entah mengapa aku sempat berpikir bahwa Reiga adalah orang yang terlalu cepat untuk membuat alasan, tapi masuk akal.
Tapi dengan begini, aku tidak perlu untuk membuktikan lebih jauh terhadap mereka. Karena aku menceritakan semua itu, tanpa kami sadari hari sudah menjelang sore. Akan berbahaya jika kami kembali sekarang. Apakah lebih baik jika kami bermalam di rumah ini untuk malam ini? Sepertinya hanya itu pilihan kami.
Meski ini adalah kali kedua aku memasuki rumah ini, tetap saja aku tetap merasa aneh. Bagaimana tidak. Rumah ini besar, terletak di tengah hutan, terlebih sepertinya tidak ada penghuninya. Bagaimana bisa?!
"Rumah ini sungguh besar, bagaimana bisa Kanezuki Rei menemukannya?"
"Kami menemukannya ketika sedang dikejar oleh Ziz."
Kami membagi dua kelompok untuk menyusuri seluruh rumah ini. Aku, Lia, bersama Neil menelusuri lantai dua. Sedangkan sisanya di lantai satu. Meski aku sudah mengetahui bahwa rumah ini besar, tapi pada saat itu aku dan Lia tidak sempat memeriksanya.
Jadi akan menjadi lebih baik jika kami memeriksa semua bagian rumah ini. Sebenarnya aku berharap ada makanan di sekitar rumah ini. Tapi, di lantai dua, kami menemukan empat buah kamar. Sebuah kamar memiliki tiga buah tempat tidur, dua kamar yang lain memiliki dua buah tempat tidur, sedangkan kamar yang lain hanya memiliki sebuah tempat tidur, hanya saja lebih besar dari tempat tidur yang lainnya.
Hal itu membuat rumah ini semakin mencurigakan. Empat buah kamar yang seperti masih sangat terjaga. Bersih dan juga sangat rapi. Karena tidak menemukan apapun lagi, kami kembali turun ke lantai satu.
Dilain sisi, Reiga dan yang lainnya menemukan banyak makanan dan dapur dengan meja yang memanjang. Yang lebih penting, sebuah tempat pemandian yang besar, katanya. Aku penasaran, apakah hanya sebuah tempat pemandian biasa?
Namun ketika aku melihat tempat pemandian itu, ternyata itu sebuah pemandian air panas! Lucky! Tapi sebelum pergi ke pemandian, aku menyarankan mereka untuk makan malam terlebih dahulu. Tentunya aku yang menjadi juru masak. Akan kutunjukkan kemampuan memasak seorang anak yang sudah terbiasa tinggal sendiri.
__ADS_1
"Kalian tunggu saja! Aku akan membuat masakan yang belum penah kalian makan di dunia ini!"