Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 24 : Persiapan


__ADS_3

Tidak hanya informasi tentang Raja Iblis Dagon. Aku juga meminta informasi tentang keadaan daerah yang berada di sekitar kerajaan kepada Lilith, terlebih keadaan tempat yang akan menjadi tempat Dagon dan pasukannya lewat nanti.


Tempatnya cukup landai, terlebih, tempat tersebut ditutupi oleh beberapa bukit. Jadi, tidak akan terjadi kekacauan di sini, karena mereka tidak akan melihat pertempuran tersebut.


Pada saat pertarungan berlangsung, aku bersama Lilith yang akan berada di garis depan, bersama dengan Celin dan Celena. Sedangkan Lia akan berada di garis belakang untuk memberikan bantuan.


Kurasa, jika keadaannya menjadi memburuk. Aku akan menyuruh Ziz keluar dari tubuhku. Tapi jika tidak, kurasa tidak perlu. Yang terpenting adalah jangan sampai aku melakukan perubahan di sana, namun keselamatan mereka adalah yang utama.


Setelah mendapat semua informasi tentang Dagon. Aku yakin bahwa kemampuannya bisa digolongkan dalam golongan menengah. Jadi ini tidak akan menjadi mudah. Selain itu, aku harus berhati-hati jika ingin menggunakan skill milikku.


Meski begitu, masih banyak kekuatan Dagon yang tidak diketahui. Ini akan menjadi masalah jika dia memiliki kekuatan yang merepotkan. Dia sepertinya Raja Iblis yang bertarung dengan jarak dekat, namun dia juga sepertinya suka menyerang dari jarak jauh. Itu berarti, kemungkinan dia menggunakan sihir sangatlah besar.


"Lilith. Misalnya, ini hanya misalnya saja. Jika kau tewas dalam pertempuran itu, bagaimana dengan kerajaan ini?"


"Saya sudah mempercayakan kerajaan ini kepada orang yang sangat saya percaya."


Yah, kurasa itu bukanlah ide yang buruk. Jika dia mempercayakannya kepada orang yang benar, maka tidak akan menjadi masalah.


"Begitu, ya? Tapi, jika Dagon yang tewas dalam pertarungan ini, apa yang akan terjadi pada kerajaannya?"


"Mungkin, kita bisa menganggapnya sebagai rampasan perang. Selain itu, sepertinya Dagon tidak memiliki orang yang dia percaya. Jadi, kerajaan itu pasti akan menjadi perebutan."


"Kalau begitu jadikan saja kerajaannya sebagai wilayahmu! Itu akan sangat menguntungkan, bukan?"


"Tapi, jika kau yang membunuhnya?"


"Akan tetap kuberikan kepadamu!"


Untuk sekarang aku masih tidak terlalu membutuhkan wilayah. Dengan menjadi petualang saja sudah membuatku senang. Selain itu, aku juga tidak terlalu pandai untuk memerintah. Itu sama sekali bukan keahlianku. Aku masih ingin melakukan semua yang kuinginkan terlebih dahulu. Mungkin, setelah mengalahkan tiga Raja Iblis yang menjadi penguasa itu, baru akan kupikirkan.

__ADS_1


"Baiklah, akan kuterima!"


"Kalau begitu, aku beserta Celin dan Celena akan keluar untuk melihat sekitar istana."


"Ya, berhati-hatilah!"


Aku memberikan izin kepada Lia dan si kembar saat ingin meninggalkan ruangan untuk melihat sekitar istana.


Setelah mereka pergi dan menutup pintu, di dalam ruangan tersebut hanya ada aku dan Lilith, beserta beberapa pelayannya. Aku sama sekali tidak memiliki rencana untuk melakukan apapun, jadi aku memutuskan untuk tetap berada di ruangan sambil mencari informasi yang lain.


Tapi, Lilith mangajakku berkeliling istana. Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya, jadi aku menerima ajakannya.


Dia mengajakku berkeliling di sekitar taman yang berada tepat di depan istananya. Di sana aku melihat Lia dan yang lainnya sedang melihat berbagai macam bunga yang ditaman disitu. Mereka terlihat senang.


"Gadis itu, yang bernama Lia. Dia terlihat sangat dekat denganmu."


"Hm?! Ah... ya, bisa dibilang, dia kekasihku."


"Tentu aku tahu."


"Begitu, ya...?"


Kenapa dengannya? Tiba-tiba bertanya begitu. Apa ada yang salah dengan Lia? Jika yang dia maksud adalah wujud aslinya, aku memang tidak pernah melihatnya menggunakan wujud aslinya. Tapi menurutku, dia tetaplah orang yang sama.


Apa dia mengira aku tidak mengetahui tentang Lia? Dan berencana untuk memberitahukannya padaku? Maaf saja, tapi aku sudah mengetahuinya.


"Tapi, yah... Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang pilihan Azazel!"


Jujur saja, dia mengetahui itu dari mana? Aku bahkan tidak pernah membahas Azazel sekalipun.

__ADS_1


"Bisa kau katakan, bagaimana bisa kau mengetahui itu?"


"Itu mudah. Kau adalah Raja Iblis yang bahkan belum memiliki tanduk. Itu berarti kau baru menjadi Raja Iblis. Sedangkan Raja Iblis terakhir yang tewas adalah Azazel. Meski Raja Iblis Coyote juga telah tewas karena Pahlawan R, tapi Coyote tidak memiliki kemampuan [Astral Body]. Mudah, bukan?"


Aku terkejut jika dia bisa berpikir seperti itu. Mungkin dia memang sudah jenius, sehingga dia dapat berpikir seperti itu. Selain itu, dia bisa melihat wujud orang lain, itu sungguh hebat.


Sedangkan aku. Aku hanya bisa menghancurkan. Tapi... jika mengingat kembali. Kenapa kemampuan yang berada di dalam perubahanku itu 'tidak diketahui'? Atau, mungkinkah perubahanku tidak memiliki kemampuan sama sekali?! Tidak, kurasa bukan seperti itu. Mungkin saja memang masih belum diketahui. Mungkin untuk mengetahuinya, aku harus melakukan perubahan untuk pertama kalinya?


Selain itu, ini akan menjadi informasi baru bagiku. Raja Iblis Coyote sudah mati di tangan Pahlawan R. Itu semakin membuatku tertarik dengan Pahlawan itu.


Setelah itu, Lilith mendekati mereka bertiga. Mungkin dia ingin mendekatkan diri kepada mereka. Saat itu, entah mengapa sebuah pertanyaan muncul dari dalam diriku. 'Apakah aku bisa melindungi mereka?' adalah sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa kujawab sama sekali.


Karena, jawabannya hanya akan bisa kudapatkan ketika aku bisa melihat masa depan. Jadi aku yakin, jawabannya adalah 'Waktu'.


Aku hanya bisa berusaha, berusaha, dan berusaha untuk mereka semua. Aku memutuskan hubunganku dengan dunia yang sebelumnya, karena aku merasa bahwa aku sudah tidak memiliki 'dunia' di sana. Tapi mengapa aku bisa beranggapan bahwa di sini aku akan menemukan 'dunia' yang kuinginkan? Betapa bodohnya diriku.


Meski begitu, di dunia ini aku bisa mendapatkan teman. Aku menemukan cinta pertamaku. Aku juga bisa berjuang untuk kehidupan orang lain. Tapi apakah itu bisa dikatakan 'dunia'?


"Rei...?"


"Hn?"


Suara Lia menyadarkanku. Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting. Sampai-sampai aku tidak menyadari Lia sudah berada di depanku.


Dia menarik wajahku tepat ke wajahnya, dan menempelkan hidungnya pada hidungku sambil menutup mata. Jujur saja itu membuatku terkejut. Bagaimana bisa Lia menjadi seagresif ini?!


"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Aku ada di sini, bersamamu..."


Dia benar. Untuk apa aku memikirkan hal yang tidak perlu?

__ADS_1


"Ya... kau benar. Maaf..."


__ADS_2