Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 6 : Goblin dan Naik Level, Lagi


__ADS_3

Chapter 6, START!


Setelah bangun dari istirahat, ternyata hari masih siang dan aku tidak tahu ingin melakukan apa. Kurasa aku tidak perlu sarapan ataupun makan siang, karena sepertinya sebelumnya aku makan terlalu banyak sehingga masih tidak terlalu merasa lapar untuk saat ini.


Aku memutuskan untuk mengambil quest lagi untuk yang kedua kalinya pada hari ini. Ketika aku turun ke lantai satu, sepertinya para petualang lain sedang membicarakanku. Yah, itu hanya kesimpulanku saja karena mereka semua melihat ke arahku. Aku tidak terlalu memperdulikan mereka. Selain itu, aku tidak peduli apa yang sedang mereka bicarakan tentangku.


“Yo, Bocah!”


Aku mendengar suara pria yang memanggilku. Ketika aku mangarahkan pandanganku pada suara tersebut. Ternyata pria pertama yang kutemui ketika masuk ke dalam guild ini dalam posisi duduk di salah satu kursi kosong.


Aku mendatanginya sambil mengeluarkan sekeping koin emas yang aku dapatkan dari quest sebelumnya.


“Yo, Paman, maaf pada tentang apa yang kulakukan pada waktu itu.”


Aku meminta maaf kepadanya karena aku merasa terlalu berlebihan pada waktu itu.


“Apa yang kau katakan?”



“Aku benar-benar minta maaf, dan ini untuk yang waktu itu juga. Terimalah!”


Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengannya, dan juga aku mengembalikan uang yang pada saat itu aku pinjam. Aku tahu meski yang kuberikan itu sedikit terlalu banyak dari apa yang kuterima. Tapi aku memberikannya sebagai permintaanku.


Dia melihat koin emas yang kupegang kemudian menatapku.


“Apa kau yakin, Bocah? Bukankah ini terlalu banyak?”



“Terimalah! Ini sebagai permintaan maafku.”


Dia kemudian mengambil koin tersebut dengan sedikit ragu. Namun, setelah mengambil koin tersebut dia sedikit tersenyum dan berterima kasih kepadaku. Aku hanya membalas senyumannya.


Setelah itu, aku langsung duduk di kursi kosong yang berada di sebelahnya dan kembali melihat kembali para petualang yang lain. Seperti yang kuduga, mereka masih melihat ke arahku.


“Paman, apakah ada sesuatu di wajahku?”


Aku bertanya kepadanya tentang keadaan wajahku sambil menunjuk wajahku sendiri.


“Hm… yang kulihat dari wajah mu adalah wajah yang tampan, memangnya kenapa?”



“Ap-!! Aku sama sekali tidak senang!”


Apa yang dia katakan? Itu membuatku terkejut. Aku sama sekali tidak senang dipuji seorang pria berotot dengan umur… mungkin sekitar 30 tahun. Aku tidak ingin menanyakan umurnya dan hanya memperkirakannya saja. Aku lebih suka jika seorang gadis yang mengatakkan hal itu.


“Bukan itu maksudku! Kenapa mereka semua melihatku!?”



“Ah… itu maksudmu. Tentu saja karena kau adalah pemula yang mencapai level dua dalam waktu kurang dari satu hari setelah mendaftar menjadi petualang.”


Hah?! Apa maksudnya? Apa hanya dengan naik satu level bisa sehebat itu? Aku benar-benar masih kurang mengetahui tentang sistem dunia ini. Aku perlu lebih banyak informasi tentang dunia ini. Tapi mungkin lain kali saja.


Aku bertanya kembali kepada pria itu tentang apa hebatnya jika hanya naik satu level.


“Tentu saja orang itu sangat hebat, biasanya membutuhkan waktu satu tahun bahkan lebih. Aku saja membutuhkan waktu dua tahun.”


Yang benar saja. kenapa sangat lama? Apa mungkin karena membutuhkan latihan yang keras dan strategi yang bagus dalam pertarungan? Tapi sepertinya tidak hanya itu.


“Nah, Bocah, kalau boleh aku tahu, siapa namamu?”


Kenapa dia tiba-tiba menanyakan namaku? Yah, kurasa memang tidak nyaman jika memanggil seseorang tanpa mengetahui namanya. Tidak ada pilihan lain.


“Namaku Kanezuki Rei, panggil saja Rei.”



“Rei ya… Oh! Aku Zasaki!”


Entah mengapa aku benar-benar tertarik dengan dunia ini tanpa menghiraukan apa yang Paman Zasaki katakan, tapi untuk sekarang aku akan fokus untuk menaikkan levelku agar bisa pergi ke guild lain di luar kota ini.


Aku kemudian bertanya kepada Paman Zasaki, apakah di sekitar sini ada seperti sarang monster atau bos monster. Katanya, di sekitar bagian barat kota terdapat sarang goblin, dan mereka memiliki seorang raja. Jika di bagian barat kota, berarti tidak jauh dari goa tempat aku membunuh Hydra.


Aku bertanya pada paman Zasaki tentang quest untuk membasmi sarang mereka. Namun sepertinya tidak ada. Jika memang tidak ada, berarti aku akan melakukan perburuan. Sesuatu seperti pembasmian yang tidak ada dalam papan permintaan.


Aku berdiri dari tempat dudukku dan memutuskan untuk membasmi sarang mereka.

__ADS_1


“Apa kau akan pergi sendirian?”


“Tentu saja.”



“Bagaimana jika kau membentuk kelompok terlebih dahulu? Karena aku yakin mereka sangat banyak!”



“Tidak perlu, aku sendiri sudah cukup!”


Maaf, bukannya aku menolak untuk bertarung bersama, tapi aku tidak ingin orang-orang yang berada di sekitarku terluka, meskipun orang itu tidak aku kenal. Meski begitu, aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkan mereka. Tapi, aku harus melakukannya untuk segera menaikkan levelku dengan cepat. Yah, jika aku tidak mampu menghadapi mereka, tentu saja aku akan melarikan diri.


Aku langsung berlari meninggalkan guild dan langsung menuju ke arah barat kota.



Aku berjalan mengelilingi hutan, tapi belum menemukan apapun. Bukankah seharusnya di sekitar sini? Tak lama kemudian aku keluar dari hutan dan melihat hutan lain di seberang jurang. Ketika aku melihat kedalam jurang tersebut, ternyata itu adalah sarang mereka.



“Wahh!! Sungai goblin!”


Yang kulihat di bawah situ hanyalah goblin yang lalu-lalang. Tanpa pikir panjang, aku langsung mencari jalan untuk turun ke bawah sana dengan cara mengikuti tepi jurang tersebut. Ternyata ada sebuah jalan yang mengarah langsung ke bawah tebing.


Jika aku menikuti jalan ini… aku memang akan ke bawah tebing. Tapi aku harus menghadapi semua goblin itu untuk mencapai ujungnya yang mungkin di situlah raja mereka. Aku mengatakan ‘mungkin’ karena aku sebenarnya juga tidak yakin.


Sesampainya di bawah, aku langsung bertemu dengan beberapa goblin. Sepertinya mereka terkejut dan langsung mengeluarkan senjata milik mereka, namun entah mengapa goblin yang berada di belakang mereka juga ikut mengeluarkan senjata, bahkan goblin yang yang lain juga!


Oi, oi! Padahal aku hanya sendiri, tapi kenapa mereka semua mengeluarkan senjatanya? Ya sudahlah, saatnya pembersihan. Aku sedikit melontarkan senyumanku pada mereka.


Setelah itu mereka menyerangku secara bersamaan. Tepat pada saat goblin yang berada di paling depan hendak menebasku, aku langsung menarik pedang mlikku keluar. Seperti biasa, ketika aku menarik pedangku keluar, semua yang berada di sekitarku langsung menjadi lambat.


“Maaf ya, para goblin!”


Aku langsung menebas mereka satu persatu. Aku menebas bagian tubuh, kepala, dan bagian lainnya tanpa harus memastikan untuk kedua kalinya.


Mungkin sekitar 15 menit aku terus mengayunkan pedang milikku untuk menebas mereka semua. Hingga akhirnya, aku berada didepan goa yang memiliki pintu gerbang dan terbuat dari banyak tulang. Apakah ini tulang manusia atau tulang hewan? Yah, intinya, pintu itu terbuat dari banyak tumpukan tulang.


Setelah aku merasa telah menebas mereka semua, aku langsung menyarungkan kembali pedang milikku dan melihat kembali ke belakangku. Semua goblin tersebut langsung tergeletak tanpa nyawa. Ada yang terbelah menjadi dua, dan ada juga yang kepalanya terlepas dari tubuhnya, dan masih banyak keadaan yang tak pantas untuk dijelaskan.


‘Yah, yang penting mereka semua tidak ada yang selamat.’


Saat aku membuka gerbang tersebut, ternyata lumayan ringan, tidak seperti yang kuduga. Yang kulihat di dalam hanyalah sebuah batu yang diukir seperti singgasana, dan seekor goblin yang sangat gemuk duduk diatasnya. Ruangannya sungguh kosong seperti tidak ada apapun selain singgasana yang terbuat dari batu itu.


Goblin tersebut memiliki tinggi hampir tiga meter dan mengenakan kalung yang sepertinya terbuat dari tengkorak manusia dengan sebuah pedang yang sangat besar berada di sampingnya.


“Yo! Apakah kau rajanya!?”


Mendengar teriakanku, sepertinya dia cukup terkejut. Atau lebih tepatnya sangat ketakutan. Apa mungkin karena aku telah membunuh semua koloni miliknya, atau mungkin… yah, aku tidak bisa memikirkan kemungkinan yang lainnya.


Dia bangun dari singgasana miliknya dan langsung mengambil pedang besar tersebut, apa mungkin itu talwar?


Sebenarnya aku mengharapkan dia akan menghadapiku secara langsung. Tapi ternyata dia mencoba untuk melarikan diri. Raja apa ini?! Selain itu, apa dia sungguh seorang ‘Raja’?


Aku kembali menarik pedang milikku, setelah mendekatinya aku langsung memotong kedua kaki dan tangannya. Lalu menyarungkan kembali pedang milikku.


Seperti yang diharapkan, kedua kaki dan tangannya terlepas dari tubuhnya dan dia pun terjatuh. Sedangkan pedang besarnya juga terjatuh dan menghasilkan suara yang sangat nyaring dan menggema di dalam goa kecil ini.


“Apakah sakit?”


Meski aku tidak menanyakan hal itu padanya, sudah terlihat dari ekspresi wajahnya yang jelek. Gawat, entah kenapa aku mulai menikmati hal ini. Sebelum aku mulai menjadi seseorang yang menikmati kesakitan makhluk lain, aku langsung mencoba menggunakan salah satu sihir milikku.


Aku memfokuskan pikiranku untuk menciptakan sebuah tonjolan tanah yang tajam untuk membunuhnya. Ternyata tanah yang kuharapkan langsung tercipta dan menancapnya dari bawah. Dan sudah pasti itu akan membuatnya mati.


Tak lama kemudian aku merasakan kartu guild milikku mulai bersinar. Aku mengeluarkannya dari saku celanaku, ternyata aku sudah naik menjadi level tiga. Sebuah kata muncul di bawah tulisan title.


“ ‘*Goblin Slayer*’? Apa ini? Julukan yang tidak terlalu bagus. Yah, lebih baik aku memeriksa semua item yang ada disini!”


Untuk sekarang, aku sepertinya benar-benar beruntung. Aku menemukan 5 koin emas pada raja goblin, dan sekitar 193 koin emas dari goblin-goblin yang telah aku bunuh sebelumnya. Untung saja aku menemukan sebuah katong yang lumayan besar untuk meletakkan semua koin emas yang kutemukan. Sebenarnya masih banyak koin tembaga dan perak yang tidak kuambil, justru sangat banyak. Tapi aku hanya memilih koin emasnya saja. Dan juga aku membawa pedang besar milik raja goblin tersebut, untuk kujual tentunya. Jika bisa. Kuharap.


Setelah itu aku memutuskan untuk langsung kembali ke guild.


Jujur saja, pada saat perjalanan ke guild, semua penduduk kota seperti memberikan tatapan yang memiliki arti ‘apa-apaan orang itu?’. Yah, aku tidak menyalahkan mereka karena aku memang membawa sebuah kantong yang lumayan besar yang isinya hanyalah koin emas dan menyeret sebuah pedang yang sangat besar. Ahh…!! Benar-benar memalukan!


Sesampainya di guild, aku membuka pintu dengan cara menendangnya. Cara itu cukup membuatku mendapat perhatian semua orang yang berada di guild, dan tatapan mereka lebih menusuk dari pada penduduk kota.


Aku langsung menuju ke meja resepsionis, kemudian menjatuhkan pedang besar tersebut.

__ADS_1


“Aku ingin menjual pedang ini!”


Agh… aku benar-benar kelelahan! Tidak hanya ukurannya yang besar, namun juga sangat berat, sialan!


“Da-dari mana Anda mendapatkan pedang ini?”


Kenapa dia masih menanyakannya? Kenapa tidak langsung dihitung saja? Aku tidak ingin membuang waktuku lebih lama lagi.


“Aku mendapatkannya setelah mengalahkan raja goblin, memangnya kenapa?”



“Ra-Raja goblin?!”


Kenapa dia terkejut?! Apa aku salah bicara?


Setelah itu dia memintaku mengeluarkan kartu Guild milikku, lagi.


“Na-naik level lagi?!”



‘‘‘‘‘HAH!!!’’’’’


Semua orang yang berada di dalam guild mengeluarkan suara yang menggema sampai ke sudut ruangan. Kenapa malah satu guild yang rebut, sih?!


“Ba-baiklah akan segera kami taksir pedangnya.”



“Oh! Dan juga… apakah ada nilai yang lebih tinggi dari emas?”


Aku menanyakan itu karena akan sangat merepotkan jika membawa seluruh uang milikku dengan kantong ini.


“Ada. Jika diatas emas, berarti platinum, mithril, kemudian orichalcum.”


Apa itu?! Sudahlah, untuk sekarang yang penting aku tidak perlu membawa semua emas ini.


“Platinum bernilai berapa emas?”


Jujur saja aku akan belajar tentang dunia baruku setelah ini!


“Platinum bernilai sepuluh koin emas, mithril sepuluh platinum, sedangkan orichalcum sepuluh mithril. Kami tidak memiliki orichalcum karena sangat jarang ada yang memiliki itu selain bangsawan, jadi di guild tidak menyediakan.”


Aku meletakkan kantong tersebut diatas meja resepsionis tersebut sehingga menghasilhan suara koin yang saling bergesekkan.


“Aku ingin menukarkan 198 koin emas ini dengan dua mithril, ini dua koin emas yang kurang.”


Aku sambil mengeluarkan dua koin emas yang kudapatkan dari membunuh Hydra.


“Ap-! … Ba-baiklah… mohon tunggu sebentar.”


Aku mendatangi paman Zasaki yang sepertinya dari tadi tidak keluar dari guild ini, kemudian duduk di sebelahnya.


“Hah… lelahnya!”



“R-Rei, sebenarnya kau ini siapa? Bagaimana bisa pemula naik dua level dalam satu hari?!”


Ah… dia menunjukkan wajah terkejut lagi… aku tidak tau harus mangatakkan apa. Pokoknya aku harus menjaga identitasku terlebih dahulu untuk sekarang.


“Aku hanyalah seorang bocah yang kebetulan lewat dan membutuhkan uang. Itu saja.”


Tidak lama setelah itu aku melihat Reiga yang turun dari lantai dua, dan segera memanggilnya. Ketika dia telah berada di depanku, aku memberitahunya sesuatu dengan cara membisikkannya. Aku memberitahu bahwa masih banyak barang yang tidak kuambil di jurang bagian barat kota, aku menyuruhnya untuk membawa kelompok miliknya.


Mendengar apa yang kuberitahu, dia langsung mengajak seluruh anggotanya untuk mengambil semua barang yang berada di sana.


“Sepertinya kau kelelahan. Kenapa kau tidak mencoba untuk memesan makanan, Rei?”


Hn…? Jadi tempat ini menyediakan makanan? Jujur saja aku baru mengetahuinya. Karena aku juga mulai merasa lapar, aku memesan makanan dan minuman untuk satu orang.


Setelah pesananku diantarkan, ternyata sang resepsionis sendiri yang mengantarkannya sendiri. Dia bilang ini adalah hadiah karena telah mengalahkan goblin yang selalu mengganggu kota. Tidak hanya itu, awalnya uangku hanya akan menjadi dua koin mithril, sekarang menjadi tiga koin.


Dia bilang juga bahwa itu adalah hadiah. Dia juga mengatakkan bahwa pedang besar tersebut tidak bisa mereka taksir, aku tidak menanyakan alasannya. Karena hal itu, aku memberikan pedang tersebut kepada paman Zasaki dan dia sangat senang menerimanya, meski awalnya seperti ragu-ragu.


Aku melihat ke arah para petualang lain, sepertinya mereka sangat iri. Ah… lagipula aku sedang memiliki banyak uang, jadi aku akan mentraktir mereka semua untuk malam ini.


“Semuanya! Malam ini aku yang akan membayar semuanya!! Jadi minum, dan makanlah sepuasnya!!!”

__ADS_1


Setelah aku mengatakkan itu, yang kudengar hanyalah teriakan mereka yang terdengar ‘Ooouuuu!!’ dengan sangat senang.


Aku harap Reiga dan kelompoknya baik-baik saja. Lagipula ini sudah hampir malam. Tunggu, kenapa aku terlalu mengkhawatirkan mereka semua? Aku tahu jika mereka semua masih pemula, tapi, aku tidak boleh mengkhawatirkan mereka sampai begitu. Jika terus begini, mereka tidak akan berkembang.


__ADS_2