Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 13 : Jawaban dan Ajakan


__ADS_3

Hari ini aku kembali berlatih kembali dengan Yuri, hanya saja kali ini aku ditemani oleh Lia. Keadaan tubuhnya sudah membaik daripada tadi malam. Jujur saja aku tidak pernah memikirkan bahwa dia akan terkena demam. Maksudku, bukankah dia memiliki sihir penyembuh dari elemen cahaya? Apa tidak bisa digunakan pada tubuhnya sendiri?


Untuk latihan kali ini tidak berbeda dari latihan yang biasanya, yaitu latihan mengontrol sihir. Yah, meskipun pada itu juga sering ditemani oleh Lia. Kali ini latihan untuk membiasakan diri dengan kekuatan Yuri. Semakin lama menggunakannya, aku semakin mahir untuk mengendalikannya.


Tak lama setelah itu Yuri mengatakan bahwa aku akan berhasil untuk melakukan perpindahan tempat hanya dengan memikirkannya. Aku meyebutnya 'teleportasi'. Meski aku tidak mengetahui apa alasan dia bisa seyakin itu.


Untuk percobaan pertama, aku mencoba untuk memikirkan Lia, tepatnya bagian belakang Lia. Aku mencoba untuk ke belakang Lia karena dia sedang berdiri mangawasi latihanku. Terlebih, tidak ada sesuatu di belakangnya jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Seketika itu juga, aku langsung berada di belakang Lia. Hanya saja posisiku membelakanginya.


"Hm? Apakah aku juga harus membayangkan posisiku juga?"



"Sepertinya begitu, Master."



"Baiklah, aku akan mencobanya sekali lagi."


Aku mencoba memikirkan goa saat aku mengalahkan Hydra beberapa hari lalu, namun tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa tidak terjadi apa\-apa?"



"Master hanya bisa melakukan perpindahan tempat pada tempat yang bisa Master lihat."


Jadi, ada batasannya, ya? Kalau begitu, aku mencoba melihat dinding kota dan membayangkan aku sedang berada di salah satu pilarnya. Karena aku berlatih tidak jauh dari kota, jadi aku masih bisa melihat dinding kota dari tempatku berada.


"Apakah berhasil?"



"Ya, Master!"


Aku benar-benar berada di atas salah satu pilar dinding kota yang besar hanya dengan sekejap mata. Mungkin kekuatan ini ada batasannya, tapi jika di dalam pertarungan, setidaknya bisa membantu penyerangan dan juga jika sudah terlalu terdesak bisa digunakan untuk melarikan diri. Itulah pikirku, tapi jika batasannya adalah apa yang kulihat, apakah aku juga bisa melakukan teleportasi dari tanah ke udara dan sebaliknya?


Setelah itu, aku mencoba kembali melakukan teleportasi ke belakang Lia, hanya saja sekarang aku juga memikirkan posisi yang benar, yaitu menghadap ke punggungnya


Dari sini, aku bisa melihat Lia yang juga melihatku. Aku melambaikan tangan dan dia juga melakukan hal yang sama. Itu sudah jelas bahwa dia bisa melihatku. Aku melakukan teleportasi ke belakangnya dan hal itu membuatnya terkejut karena posisiku.

__ADS_1


"Huh?! R\-Rei?! Apa yang kaulakukan?!"


Apa karena posisiku yang berada di belakangnya sambil melingkarkan kedua tangannku di sekitar lehernya? Sejujurnya, itu membuatku malu, tapi ada yang ingin aku sampaikan padanya. Aku mendekatkan wajahku ke telinganya dan membisikan sesuatu.


"Aku juga."


Aku yakin akan suatu hal. Apa yang aku dengar pada tengah malam itu, bukanlah mimpi. Aku yakin itu adalah suara milik Lia.


"A\-a\-a\-a\-apa maksudmu?!"


Wajahnya ketika tersipu malu benar-benar manis. Apalagi sekarang dia seperti mencoba menutup-nutupi perasaanya. Kau mungkin hebat mengetahui kebohongan, tapi kau lemah jika untuk berbohong.


"Emh... kalau kau tidak mengerti maksudku, kau bisa melupakannya."



"Huh!? Ah, maksudku... tunggu dulu! Ehh... ini terlalu mendadak! Aku tidak bisa memikirkan apapun!"


Kenapa tidak jujur saja? Sudah terlihat jelas di wajahmu itu, dasar...


"...a\-a\-..."



Apakah dia ingin mengucapkan sesuatu? Apa maksud 'a' tersebut? Aku tidak akan mengerti jika kau hanya mengucapkan satu huruf.


"... aku... ju\-... ga..."


Akhirnya jujur juga! Kenapa kau membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkannya? Akan lebih mudah jika kau langsung mengutarakannya saja, 'kan?


"Jadi, yang mengucapkan 'itu' pada saat aku tidur, adalah kau?"


Dia menundukkan wajahnya yang menjadi sangat merah kemudian mengangguk sekali. Aku senang jika dia bisa jujur padaku, dan terlebih pada dirinya sendiri.


"Kalau begitu, jawabanku adalah, 'aku juga'."


Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku mengungkapkan perasaanku pada seorang perempuan. Aku merasakan perasaan malu yang luar biasa, namun dilain sisi aku merasa bahagia. Apakah ini perasaanku yang sebenarnya? Sungguh, perasaanku pada saat itu menjadi campur aduk. Tanpa kusadari, wajahku ternyata juga memerah dari tadi.


Aku memberikan diri untuk bertanya satu hal padanya. Yah, ini adalah pertenyaan yang sering di gunakan pada saat situasi seperti ini.


"Lia... Maukah kau jadi... Pacarku?"

__ADS_1


Mendengar itu, Lia seperti meledak, atau lebih tepatnya juga tersentak. Wajahnya menjadi lebih merah daripada sebelumnya. Dia pasti merasa malu! Aku juga merasa malu kau tahu!?


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah membalikkan badan, kemudian memelukku. Hal itu membuatku terkejut! Tapi, aku sepertinya tidak perlu membutuhkan jawabannya. Karena aku tahu jawabannya hanya dari detak jantungnya. Benar-benar berdegup kencang!


'Ah...!! Gawat...!! Sejujurnya, terlalu terpaku pada detak jantunganya. Tapi, ada apa dengan sensasi lembut ini!!!'


Karena aku telah mendapatkan jawaban tersebut, aku juga memeluknya dengan erat.


'Ahh...!!!'


"I\-Ini pertama kalinya aku berpacaran. Jadi, mohon dukungannya untuk kedepan, ya?"



"A\-Aku juga, Lia..."


***


Setelah itu, kami kembali ke Guild dan membicarakan banyak hal di kamar Lia. Tunggu!! Kami tidak melakukan apapun! Ya, kami tidak melakukan apapun!! Ini karena aku sudah pernah menceritakan semua tentang diriku, kali ini dia yang memberitahuku semua tentangnya.


Ternyata di dunia ini ras- maksudku, perorangan yang disebut 'Half' atau yang hanya 'setengah-setangah' sangat tidak diterima. Mereka dianggap sebagai pengganggu keseimbangan dunia karena terkadang, mereka akan memiliki dua kemampuan dari dua ras yang dimiliki kedua orang tuanya. Bahkan ada juga ras yang langsung membunuh mereka karena beranggapan bahwa mereka tidak murni.


Lia juga mengatakan bahwa dia diusir dari desanya dikarenakan hal tersebut. Jujur, itu membuatku sedikit geram. Memangnya apa salahnya jika mereka itu Half atau bukan? Mereka juga merupakan bagian dari ras mereka, meski hanya setengah.


"Bisa kita lupakan hal itu? Sejujurnya mendengar itu, sedikit membuatku merasa tidak nyaman. Ah! Ngomong\-ngomong... Umurmu sekarang berapa?"


Sebenarnya, menanyakan umur seorang perempuan itu sangat tidak sopan. Ya, aku tahu itu, meski aku tidak tahu alasannya. Tapi itu membuatku sangat penasaran karena dia itu juga termasuk Elf.


"Heh? Tidak sopan menanyakan umur seorang perempuan tahu!"



"Ah, maaf!"


'Sudah kuduga.'


Karena mungkin tidak lama lagi aku akan meninggalkan kota Dusk. Bukankah lebih baik jika Lia juga menaikkan level miliknya? Tapi ketika aku menanyakan itu kepadanya, dia berkata bahwa akan lebih baik jika dia tetap berada dilevelnya yang sekarang, yaitu satu. Untuk berjaga-jaga, itu yang dia katakan, tapi untuk berjaga-jaga dari apa?


Dia juga mengatakan bahwa jika ingin meninggalkan kota, setidaknya separuh dari anggota kelompok harus berada pada level empat atau lebih.


Jika untuk menaikkan level empat, aku sudah mengetahuinya. Tapi, jika memiliki kelompok, maka setengah anggota dari kelompok harus berada di level tersebut, aku baru mengetahuinya.

__ADS_1


Jadi, jika kami ingin meninggalkan kota, setidaknya aku harus menaikkan levelku sekali lagi. Yah, lagipula aku akan mencoba mengalahkan 'sesuatu' yang berada di hutan bagian barat sesuai yang dikatakan Yuri. Kuharap itu akan menaikkan level milikku.


Mungkin ini hanya ego milikku, tapi aku ingin Lia menemaniku untuk menaklukkan hutan bagian barat besok, dan dia menerimanya dengan senang, terlebih... dengan sangat mudah. Sejujurnya itu juga membuatku senang, tapi bukankah ini... ah, tidak, tidak jadi.


__ADS_2