Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 22 : Keadaan Kerajaan Lilith


__ADS_3

Sebaiknya aku tidak membuang kesempatan ini. Selagi Lilith masih berada di luar kerajaannya, kami akan bergegas memeriksa keadaan kota sekaligus mencari informasi yang dibutuhkan.


"Baiklah! Lia, Celin, Celena. Kita akan berpencar untuk memeriksa keadaan kerajaan ini. Kalian hanya perlu memastikan keadaannya saja. Setelah itu kita akan berkumpul lagi di gerbang tadi dalam tiga jam dari sekarang. Celin, kuharap kau tidak akan memberikan masalah lagi."


"Yahaha... saya akan berusaha."


Entah kenapa aku jadi merasa tidak yakin dengannya. Kuharap aku bisa memegang kata-katanya. Dengan begini kami bisa menyusuri kerajaan yang besar ini lebih cepat, kuharap.


Celin memeriksa bagian timur, Celena bagian barat, Lia bagian selatan, sedangkan aku di bagian utara. Agar mempersingkat waktu, aku menggunakan kekuatan Yuri untuk berpindah tempat. Awalnya aku pergi ke salah satu atap rumah yang berada di sekitar, kemudian menghadap ke utara dan melakukan perpindahan.


Aku pergi ke bangunan yang tertinggi di bagian utara. Aku memilih tempat itu karena mudah untuk dilihat. Ini juga karena kekuatannya yang memiliki batas penglihatan. Tapi jujur saja, itu sudah lebih dari cukup.


Dengan mudah aku bisa melihat bagian utara, meski tidak semua titik. Karena sedikit kesulitan untuk melihat dari atas, aku memutuskan untuk turun di salah satu gang yang berada di sekitar dan memastikan bahwa tidak ada orang di sana. Ketika sudah yakin bahwa tidak ada orang, dengan cepat aku melakukan perpindahan ke gang tersebut dan langsung menghilangkan kekuatan milik Yuri.


Saat keluar dari gang tersebut, aku melihat banyak orang yang barlalu lalang. Sepertinya di kerajaan ini tidak hanya ada ras manusia. Aku melihat banyak ras demi-human. Meski di kota Dusk juga seperti ini, tapi kurasa tidak sebanyak ini.


Ini hanyalah bagian utara kerajaan. Aku tidak bisa membuang banyak waktu untuk melihat seluruh bagian kerajaan, meskipun aku ingin. Untuk sekarang lebih baik aku fokus terhadap informasi sekitar saja.


Saat mulai mengelilingi bagian utara dari kerajaan ini, aku sepertinya berada di sebuah tempat yang terlihat seperti tempat perdagangan. Awalnya aku mengira bahwa aku sedang tersesat, tapi jika diingat kembali, aku memang tidak mengetahui tempat ini, jadi mungkin wajar jika tersesat.


Jika dipikirkan kembali, di tempat ini banyak sekali orang. Tempat yang sempurna untuk mencari informasi. Sembari menyusuri tempat itu, aku menyempatkan untuk melihat sebuah pedagang yang menjual berbagai macam buah.


Penjual tersebut lelaki dengan umur yang sepertinya sudah berumur tiga puluh tahun atau bahkan lebih. Saat melihat berbagai buah yang dia jual, aku hanya mengenal beberapa buah, seperti apel, mangga, dan jeruk, sisanya adalah buah yang asli berasal dari dunia ini.


Aku mangangkat sebuah apel. Buah tersebut memiliki kualitas yang sangat bagus! Bahkan lebih bagus jika dibandingkan dengan apel yang berada di duniaku.


"Apa kau menyukai buah itu, anak muda?"


"Ah? Iya! Hanya saja... kualitasnya sangat bagus, bagaimana bisa?"


"Tentu saja! Tanah di sekitar kerajaan ini sangat subur. Selain itu, Ratu selalu mendukung para rakyatnya."


"Ra...tu...? Maksudnya mendukung?"


"Bagaimana mengatakannya, ya? Intinya dia itu baik, meskipun dia adalah Raja Iblis, tapi dia tidak seperti Raja Iblis kebanyakan. Hanya saja... kami sedikit takut jika kejadian yang pernah terjadi terhadap Raja Azazel akan menimpa Ratu juga."


Jadi Azazel sungguh terkenal, ya? Jika sudah mendengar dari salah satu rakyatnya, sepertinya aku akan percaya jika Lilith bukanlah Raja Iblis yang jahat. Tapi jika apa yang terjadi pada Azazel akan terulang kepada Lilith, pasti akan menakutkan. Bahkan untuk diriku. Tapi, tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Untuk sekarang, aku akan menganggapnya sebagai skenario terburuk yang akan terjadi dan sepertinya aku tidak perlu turun tangan terlebih dahulu untuk sekarang.


Saat aku ingin mengembalikan apel yang sedang kupegang, pria tersebut memberikannya dengan percuma. Aku menerimanya dengan senang hati. Aku tidak akan pernah memakan apel yang memiliki kualitas seperti ini jika di duniaku, apa aku bisa menganggapnya sebagai keberuntungan?


Saat aku mulai menggigit apel yang berada ditanganku, rasanya sangat manis dan penuh air. 'Luar biasa', itulah pikirku. Seingatku, Shin juga sangat menyukai apel. Sayang sekali dia tidak bisa merasakan apel ini.

__ADS_1


Entah mengapa, saat memakan apel tersebut, aku mengingat Shin dan semua kenanganku bersamanya. Seandainya aku bisa membawanya ke dunia ini. Apa mungkin dia akan senang? Entahlah...


Setelah meninggalkan pedagang itu, aku melanjutkan untuk berkeliling. Yah, tapi sepertinya tidak perlu. Setelah mendengar perkataan pria tersebut, kurasa aku hanya perlu meninggalkan kerajaan ini dengan damai. Tapi jika dipikirkan, jika aku pergi, kemudian di kerajaan ini terjadi sesuatu terhadap Lilith. Aku tidak yakin dapat membantunya.


"Mohon tunggu sebentar!"


Aku mendengar sebuah suara dari arah belakangku. Awalnya aku berencana untuk tidak melihat ke belakang karena aku beranggapan bahwa mungkin dia hanyalah orang yang memanggil orang lain, bukan diriku. Tapi sekali lagi dia memanggil.


"Mohon tunggu sebentar. Pria yang menggunakan jubah hitam disana!"


Jubah hitam? Ketika aku melihat di sekitar... kurasa hanya aku yang mengenakan pakaian yang mirip dengan jubah berwarna hitam. Bukan jubah, hanya mirip saja.


Karena sadar, jika aku yang sepertinya dia panggil. Aku memutuskan untuk melihat orang yang memanggil tersebut. Seorang pria yang lebih tinggi dariku, mungkin umurnya lebih dari lima puluh tahun. Mengenakan pakaian serba hitam layaknya seorang *B*utler.


Ketika dia mulai berlari kecil menghampiriku, semua orang yang berada di sekitarnya memberikan jalan. Apakah dia adalah orang penting di kerajaan ini? Sampai semua orang menyingkir tanpa perintah. Saat dia berdiri tepat di depanku, aku bertanya kepadanya dengan nada sopan.


"Ada perlu apa dengan saya?"


"Tolong ikut dengan saya! Ini permintaan langsung dari Ratu."


'Langsung? Ratu?! Dari Lilith?! Kenapa dia masih tidak membiarkanku?!'


"Untuk apa?"


Teman?... Aku sadar bahwa hanya ada tiga orang yang kuajak kemari. Apa mungkin mereka tertangkap? Tanpa perlawanan? Kurasa tidak mungkin, tapi jika benar... Haahh... baru bertemu langsung main menggunakan sandra.


"Baiklah. Antar aku menemuinya!"


Sepertinya tidak ada pilihan lain.


***


"Masteour.... Makaunaoan disuini enuak..." – Celin (Sedang makan)


Melihatnya saja sudah membuat salah satu mataku berkedut. Bukankah aku menyuruhnya untuk memeriksa keadaan kerajaan ini. Aku yakin sudah meyuruhnya! Aku yakin!!! Apa pada saat itu aku salah berbicara?!


Sambil menghiraukan Celin, aku melihat kedua gadis yang berada di sebelahnya. Saat aku melihat mereka, kedua gadis tersebut menghentikan aktivitas mereka.


Mereka tidak lain adalah Lia dan Celena yang juga ikut makan. Setelah melihat itu, aku menundukkan kepala sambil menutup wajahku dengan telapak tanganku.


'Celin, kurasa itu bisa dimaklumi karena sikapnya yang memang begitu. Tapi mereka berdua?!'


Hah...

__ADS_1


"Bisa kalian jelaskan apa yang sedang kalian lakukan?"


Lia dan Celena tidak menjawab, malainkan mengalihkan pandangan mereka dariku. Sedangkan Celin... entah aku harus bersikap apa kepadanya.


"Owh...? Jadi kau sudah datang? Duduklah..."


Seorang gadis yang memiliki sepasang tanduk kecil di kedua sisi kepalanya, rambut merah dan mengenakan gaun mewah. Yang tidak lain adalah Lilith. Dia melewatiku begitu saja sambil menghampiri mereka bertiga.


"Apa yang kau tunggu? Kemarilah, duduk bersama kami!"


"Ah, ya..."


Aku mengikuti permintaannya dan duduk tepat di sebelah Lia. Saat aku memandang gadis yang berada di sebelahku, dia mengeluarkan suara 'Hii!!!' saat berpapasan denganku. Apa aku memberikan tatapan yang terlalu dingin dan menusuk? Biarlah.


"Kita harus bebicara nanti!"


"Ah...!! A, ah... Iya..."


Kenapa dia menjadi seperti itu? Tenanglah, aku tidak mungkin memarahimu, mungkin...?


Mengalihkan pandanganku dari Lia, aku melihat gadis yang sedang duduk dan berhadapan denganku. Dia menatapku dengan senyuman sambil menyandarkan kepalanya pada salah satu lengannya.


"Aneh..."


"Aneh?"


"Ya. Bagaimana bisa seorang Raja Iblis tidak memiliki tanduk?"


Ra-Raja Iblis?! Mungkinkah dia sudah mengetahuinya!?


Dengan cepat aku melihat ketiga gadis yang berjejer di bagian kiriku. Dengan cepat pula mereka menggelengkan kepala mereka secara serempak. Jika bukan mereka yang memberitahunya. Bagaimana bisa dia mengetahui bahwa aku adalah Raja Iblis?


"Aku mengetahuinya sendiri. Bukan dari mereka."


"Apa yang kau inginkan?"


Saat aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkan senyum tipis lalu menjawab pertanyaanku,


"Aku menginginkan dirimu."


"Huh?"


Tidak lain dan tidak bukan, aku hanya terdiam memandangnya dengan tatapan kosong dan kebingungan. Lalu seketika seisi ruangan menggema karena suara gadis-gadis yang berada d sebelahku.

__ADS_1


"""Hah?!!"""


__ADS_2