
Makhluk itu berhenti terbang dan mendarat tepat di depan kami. Dia memiliki mulut dengan bentuk paruh panjang yang dipenuhi dengan gigi yang tajam dan bergerigi. Berdiri dengan kedua kaki miliknya sambil disangga dengan kedua sayapnya yang besar. Sepanjang tepi semua sayapnya, aku melihat dia memiliki semacam duri yang berjejer dan terlihat seperti tulang.
Dengan tubuhnya yang sangat besar, dia dengan mudah merobohkan pohon yang berada di sekitarnya.
Dan matanya yang terlihat seperti reptil pada umumnya berwarna merah. Dia menatapku dengan tajam. Aku yakin dia hanya menatapku dan menghiraukan yang lainnya.
"Kalian semua, LARI!!!"
Tanpa pikir panjang, aku langsung menyuruh semuanya untuk pergi dari tempat ini secepatnya, tapi mereka sama sekali tidak mendengarkanku. Saat aku berpaling dan melihat mereka, ekspresi yang ketakutan terpampang jelas di wajah mereka dengan diikuti dengan gemetar tubuh yang hebat.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! CEPAT PERGI DARI SINI!!"
Aku berteriak dengan keras untuk menyadarkan mereka semua dari rasa takut yang menghantui mereka. Dengan suara yang keras juga, aku menyuruh mereka melarikan diri untuk yang kedua kalinya. Mereka berlima berlarian tak tentu arah untuk menyelamatkan diri sambil berteriak.
"Master, makhluk itu... makhluk itu tidak lain adalah... Sang Penguasa Langit, Ziz!!"
"Ap\-?!"
'Woi, woi, woi!! Apa kau serius?! Yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah salah satu dari Tiga Penguasa?! Mana mungkin aku bisa menghadapinya!'
Jika itu benar, sebaiknya Lia juga harus melarikan diri.
"Lia! Sebaiknya kau juga pergi dari sini!"
"Tidak! Aku akan tetap bersamamu!!"
"Apa yang kau katakan?! Cepat per\-..."
"Tidak!!"
"Tch. Kalau begitu ikuti aku!!"
Kenapa dia sangat keras kepala?! Aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun sekarang. Untuk sekarang lebih baik untuk melarikan diri terlebih dahulu.
Aku menggenggam tangan Lia, kemudian berlari lebih jauh ke dalam hutan. Makhluk itu tidak mengejar kami, apakah dia kesulitan karena ukuran tubuhnya? Meski begitu, aku sempat melihatnya masih menatapku dengan tajam. Gawat!!
Lama kami berlari, tapi tak kunjung keluar dari hutan tersebut.
"Ya ampun...Sebenarnya, SEBERAPA LUAS HUTAN INI...?!"
Saat kami berhenti sebentar, setidaknya untuk mengambil nafas, Lia tiba-tiba terjatuh dengan posisi berlutut dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Aku juga ikut berlutut untuk mengetahui keadaannya.
"Apa kau baik\-baik saja?"
__ADS_1
"Hah... Hah... Hanya kelelahan..."
Untuk mejaga jarak dari makhluk itu, aku memutuskan tetap berlari. Tapi karena keadaan Lia yang sedang kelelahan, aku memutuskan untuk menggendongnya.
"Huh!! Aaa..."
"Diamlah! Kita harus segera pergi dari sini!"
Aku langsung mengangkatnya kemudian menggendongnya layaknya seorang puteri.
'Jika saja keadaanya tidak seperti ini, aku pasti sudah menikmati suasana seperti ini.'
Aku tetap berlari bagaimanapun caranya. Ketika aku sudah mulai merasa kelelahan, pada saat yang sama kami menemukan rumah besar yang sepertinya sudah lama ditinggalkan. Aku langsung membawa Lia masuk ke dalam rumah tersebut tanpa mengetuk atau memastikan apakah ada orang atau tidak di dalamnya.
'Aneh' itulah kata yang pertama kali keluar di kepalaku. Bagaimana bisa di hutan yang sangat luas dan bahkan tidak ada kehidupan ini terdapat rumah yang sangat besar. Terlebih di dalam rumah tersebut terlihat sangat terawat sekali. Bahkan seperti masih ada penghuninya.
Untuk sekarang, aku berpikir bahwa tempat ini akan menjadi tempat persembunyian yang bagus, 'kan? Meski tempat ini terlalu mencolok dari luar. Setidaknya, kami akan bersembunyi untuk sementara di sini.
Aku membawa Lia ke sofa yang panjang. Sedangkan aku duduk disebelahkannya. Tiba-tiba dia menarik pakaianku dengan pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf... Maaf... Maaf... Maaf..."
Dia menangis sambil meminta maaf padaku. Kenapa dia menangis? Dia sama sekali tidak berbuat jahat, bukan?
"Kenapa? Kau tidak melakukan apapun yang salah..."
Aku memeluknya sambil bertanya kenapa dia menagis. Jawabannya adalah karena tidak bisa membantuku dan hanya bisa membuatku kerepotan. Aku berusaha untuk menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahannya, itu hanya karena aku yang kurang kuat. Selain itu, siapapun pasti tidak bisa berpikir dengan jelas jika melihat makhluk seperti itu.
Setelah menenangkannya, aku sadar bahwa ada hal yang menghilang. Dua bilah pisau belati yang berada di belakangku menghilang. Apa terjatuh pada saat aku berlari? Ya ampun... padahal aku belum sama sekali menggunakannya. Sejujurnya aku ingin mengetahui tentang kedua belati itu.
Tapi jika sudah terjatuh... kemungkinan besar akan diambil oleh monster yang menemukannya. Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin karena di hutan ini tidak ada sama sekali monster, kecuali makhluk yang bernama Ziz itu.
Aku juga tidak mungkin mencarinya jika wilayah ini masih dijaga Ziz. Tapi... jika aku bisa menjadikan Ziz sebagai Familiar milikku-... sepertinya itu mustahil. Jika tidak salah, jika berhasil menundukkan Tiga Penguasa, maka sang pengguna bisa mengontrol semua demonic beast. Ini kesempatan yang bagus, tapi resikonya sangat besar.
Jika sudah mendapatkan satu penguasa saja...
"Hah... Kenapa tantangannya sangat sulit? Selain itu resikonya terlalu besar!"
"Ada apa, Rei?"
"Tidak. Aku hanya membayangkan jika aku bisa mendapatkan\- setidaknya salah satu dari tiga penguasa. Begitulah..."
"Jangan bercanda! Aku tidak ingin kehilanganmu!"
Aku juga... tapi jika aku bisa menjadikannya milikku, akan lebih mudah untuk mengalahkan semua musuhku. Mungkin, jika mengetahui aku memiliki salah satu dari Tiga Penguasa, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menantangku.
__ADS_1
'Maafkan aku Lia, aku memang manusia yang keras kepala dan juga selalu egois. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi lebih jauh lagi.'
"Tapi, jika itu adalah pilihanmu, kau pasti akan melakukannya, bukan? Meskipun aku melarangmu, kau pasti tetap bersikeras. Baiklah, tapi setidaknya tetaplah hidup!"
Heh?! Kenapa dia berubah pikiran? Aku baru saja berniat untuk melepaskannya! Kembalikan niat bertarungku! Tapi aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku melemparkan senyuman padanya kemudian memeluknya dengan erat, dan mengucapkan terimakasih. Dia juga membalas pelukanku dan tersenyum.
***
Setelah itu, kami berencana untuk melakukan serangan kepada Ziz. Ketika keluar dari rumah tersebut, aku kembali menggendong Lia. Kami kembali ke tempat pada saat kami melihat Ziz dengan menggunkan kekuatan Yuri sambil melakukan perpindahan beberapa kali agar lebih cepat.
Tidak lama setelah itu, aku sudah bisa melihat Ziz yang sepertinya sudah menunggu kami. Dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya tadi, kurasa dia sungguh menungguku. Untuk kali ini, aku membuang rasa takutku. Setelah menurunkan Lia, aku maju beberapa langkah kedepan.
"Kenapa kau kembali?"
"K\-kau bisa berbicara?!"
Aku sungguh terkejut. Dia bisa berbicara seperti Yuri. Jika suara Yuri terdengar seperi suara wanita yang menenangkan, Ziz terdengar seperti suara lelaki yang sangat gagah.
"Jika kau bisa berbicara maka akan lebih mudah. Singkatnya, aku ingin kau menjadi milikku!"
Aku mengatakannya sambil tersenyum, melihat, dan juga menunjuknya. Mendengar yang kukatakan, dia terdengar seperti sedang tertawa. Sebuah tawa yang menyindir.
"Menjadikanku milikmu? Sepertinya kau terlalu meremehkanku, manusia!"
'Maaf, bukan itu maksudku. Aku sendiri saja tidak yakin bisa melawanmu.'
"Tidak! Aku sama sekali tidak pernah meremehkan siapapun! Tapi, sebelum itu... Bisakah kau tidak menyerang gadis itu? Ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu!"
Aku mengatakkan itu sambil menunjuk Lia yang berada di belakangku.
"Hm... baiklah. Kau bisa menggunakan senjata apapun! Tapi jangan sampai gadis yang berada di sana mengganggu kita. Aku memang merasakan kau itu kuat, tapi jangan sombong dulu, manusia! Aku juga sudah lama tidak bersenang\-senang dengan orang yang kuat."
Aku mengabaikan kalimat terakhir miliknya, sungguh kuabaikan karena itu tidak penting. Tepat sebelum kami memulai pertempuran, semburan api dan sebuah bongkahan es besar tiba-tiba menyerang tepat ke arah Ziz. Ketika aku melihat ke arah Lia, dia menggelengkan kepala dengan panik. Itu berarti bukan Lia yang mengeluarkan sihir itu. Tapi siapa?
Saat aku memikirkan itu, sebuah suara datang dari belakang Lia. Suara seorang perempuan. Tapi ketika aku mengalihkan pandanganku padanya, dia-... Tidak, mereka adalah dua orang gadis.
"Master, biarkan kami membantumu!"
"M\-master?! Siapa yang kalian maksud itu?"
Apa maksudnya? Kedua gadis tersebut mengenakan pakaian yang terlihat seperti zirah yang sangat minim dan ringan, terlebih pakaian mereka sangat serasi. Hanya saja, warnanya yang berbeda.
Gadis yang memanggilku, pakaiannya berwarna merah, serasi dengan warna matanya dan armor berwarna coklat, dengan rambut pendek bermodel ponytail. Sedangkan perempuan di sebelahnya mengenakan pakaian berwarna biru laut, memiliki mata berwarna biru langit dan warna armornya adalah hijau, ditambah rambutnya yang panjang hingga pinggang dan terurai. Kedua gadis itu memiliki warna rambut seperti emas putih.
Selain itu, apa maksudnya dengan 'Master'? jika dia memang benar memanggilku begitu, sejak kapan aku membuat kontrak dengannya?
""Kalau begitu Master, jadikan kami sebagai senjatamu!""
"Hah?!"
__ADS_1
Aku semakin bingung mendengar mereka berdua mengatakan hal yang sama secara bersamaan. Ini pasti akan menjadi masalahku yang baru!