
"Sialan kalian!!" – Ziz
Dia- maksudku, makhluk itu terlihat sangat marah dan kesal. Apa mungkin karena serangan tiba-tiba dari kedua gadis tersebut?
Lagipula, kenapa mereka menyerang dengan tiba-tiba!? Selain itu, siapa mereka? Dan kenapa memanggilku dengan sebutan 'Master'? Sepertinya aku terlalu banyak bertanya dalam situasi ini.
"Yang menyerang itu mereka, bukan aku ataupun dia!"
Aku menjelaskan kepadanya sambil menunjuk diriku kemudian menunjuk Lia. Tapi sepertinya itu adalah hal yang tidak berguna. Ziz langsung menyerangku dengan menggunakan sayap kanan miliknya. Aku menghindari serangan itu dengan cara melompat ke belakang. Terdengar suara benturan yang cukup keras ketika sayapnya membentur tanah dan membuat kepulan debu yang tebal.
Uwahh... akan sangat berbahaya jika terkena serangan itu. Meskipun itu hanya kebasan sayap miliknya.
Aku langsung menarik pedang milikku. Biasanya, ketika aku menarik pedang tersebut keluar dari sarungnya, semua yang berada di sekitarku langsung menjadi lambat. Semua memang menjadi lambat, tapi tidak dengan Ziz.
"Apa yang terjadi?!!"
Ziz menyerangku kembali dengan sayap yang lain. Aku berusaha untuk menahannya, tapi seketika itu juga pedang tersebut langsung hancur dan membuat semua menjadi normal kembali.
Tepat setelah pedang tersebut hancur, aku langsung melompat kembali ke belakang sambil menjentikkan lidah dan meminta Lia untuk pergi menjauh.
Aku mendengar gadis yang mengenakan pakaian merah itu kembali memintaku untuk menggunakan mereka. Jujur saja aku tidak mengerti dengan kata 'menggunakan' itu. Apa maksudnya tubuh- ah tidak! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu disituasi seperti ini.
"Bisa kalian jelaskan secara singkat tentang maksud kalian itu!?"
Singkatnya, dia mengatakkan bahwa mereka adalah Seraphim yang berada di dalam kedua pisau belati yang terjatuh pada saat berlari untuk menjauhi Ziz bersama dengan Lia.
"Tapi bagaimana bisa?!"
"Benda itu hanyalah wadah untuk menyegel kami."
Jadi kedua belati itu hanyalah sebagai 'wadah'. Sedangkan mereka memiliki bentuk tubuh mereka sendiri? Sulit mempercayai mereka, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Selain itu, mana mungkin ada orang yang mencoba berbohong dikeadaan seperti ini, dan juga senjataku sekarang sudah hancur. Sepertinya aku memang harus membutuhkan bantuan mereka.
"Kalau begitu, tolong bantuannya!"
Aku mengatakkannya sambil berusaha menghindari serangan Ziz yang kembali datang.
Aku melihat mereka saling bergandengan, kemudian merentangkan tangan sambil bergumam seperti membaca sesuatu seperti mantra. Setelah itu, tubuh mereka berdua mengeluarkan cahaya yang berwarna silver- maksudku emas putih, eh, tunggu, apa itu putih?
Yah, intinya, kedua cahaya tersebut menghampiri kedua tanganku dan berubah menjadi dua bilah pedang. Pedang yang berwarna merah berada di tangan sebelah kanan, sedangkan pedang yang berada di tangan kiriku berwarna biru. Kedua pedang tersebut memiliki sebuah kristal transparan yang berada di antara bagian pegangan dan penghalang mata pedang.
"Master hanya perlu mengayunkan kami, sisanya serahkan saja pada kami!"
"Tunggu, siapa yang kalian panggil Master?!"
"Tentu saja itu adalah kau, Master."
Sulit membedakan mereka jika hanya dari suara yang keluar dari dua bilah pedang. Dan sebenarnya sejak kapan aku menjadi majikan mereka?! Tiba-tiba menyerang, kemudian mengakuiku sebagai majikan mereka. Jika kalian meminta pendapatku, tentu akan menganggap mereka sebagai orang yang mencurigakan! Tapi untuk sekarang, aku akan membutuhkan bantuan mereka.
Ketika Ziz kembali menyerang, aku melakukan teleportasi tepat ke belakang lehernya- ini cukup tinggi. Aku tidak mengincar bagian belakangnya, melainkan selaput salah satu sayapnya. Aku menebas selaput sayap miliknya dengan pedang yang berada di tangan kananku. Selaput tersebut robek dengan diikuti oleh semburan api yang dihasilkan oleh pedang tersebut.
__ADS_1
Ziz terdengar menjerit kesakitan, kemudian menyerang dengan menggunakan ekor miliknya. Panjang ekornya hampir 3/4 panjang tubuhnya. Dengan banyak duri berada di sekitar ujung ekornya, dia menyerangku dengan mengibaskan ujung ekornya tepat ke arahku dari kiri.
Secara refleks aku langsung menahan serangan tersebut dengan pedang yang berada di tangan kiriku. Karena serangan itu, aku terlempar dan jatuh dengan keras ke tanah. Itu sungguh menyakitkan! Tapi, aku tidak mendapat luka yang berarti. Bagaimana jika aku masih manusia biasa? Apa mungkin aku akan langsung mati?
Aku sadar, ekor miliknya juga terkena sedikit goresan dari pedang yang berada di tangan kiriku pada saat menahannya. Meski hanya sebuah goresan, itu sudah membuat ujung ekor miliknya membeku dengan cepat dan kemudian hancur. Pecahan es itu jatuh ke atas tanah dengan sangat keras.
Sadar akan berbahayanya kedua pedang yang kupegang. Ziz mulai mengambil beberapa langkah kebelakang.
"Manusia sialan! Selama ini aku tidak pernah mengalami luka separah ini. Kali ini aku tidak akan menahan diri lagi! Aku akan memusnahkan kalian sekaligus!"
"Huh!? Bukankah ini baru dimulai? Dan dia langsung ingin menghancurkan kami?"
Setelah mengatakan itu, Ziz membuka kedua rahangnya. Aku sempat berpikir tentang apa yang akan dia lakukan, tapi setelah mendengar apa yang baru saja dia katakan, aku merasa itu akan menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Atau bahkan mematikan.
Setelah membuka kedua rahangnya, dia terlihat seperti tidak bergerak sama sekali. Pada saat itu, aku melihat banyak cahaya yang muncul dari seluruh tubuhnya. Semua cahaya itu berkumpul menjadi satu tepat di depan mulutnya. Kumpulan cahaya tersebut menjadi gumpalan yang besar, kemudian mulai mengecil.
Aku sudah merasa bahwa itu akan sangat-sangat berbahaya. Disaat yang bersamaan, sebuah sambaran petir berwarna biru turun dari langit dan menyambar Ziz tepat di bagian wajah, setelah terkena petir tersebut, Ziz sedikit tersentak dan kumpulan cahaya yang telah mengecil tersebut terlempar seperti sedang ditembakkan oleh Ziz. Hanya saja, arah dari cahaya tersebut menjauh dari kami. Aku yakin jalurnya berubah karena serangan petir tersebut.
Kumpulan cahaya tersebut jatuh tepat di gunung yang berada jauh di arah selatan kami. Sebuah gunung yang cukup besar itu seketika menghilang karena ledakan yang dihasilkan oleh kumpulan cahaya itu.
Sebuah ledakan yang sangat besar. Mungkin ledakannya hampir sama dengan sebuah ledakan bom nuklir, atau mungkin lebih kuat? Bahkan dari jarak yang sangat jauh, kami masih bisa merasakan hentakan anginnya.
"Yang benar saja!! Apakah itu adalah bom bijuu?!"
Author note : yang nonton anime Naruto pasti tau lah :v
Yang benar saja! Jika tidak karena petir tersebut, kami pasti sudah mati!
"Master! Jika tetap begini, Master dan yang lainnya akan mati. Saya hanya bisa melakukan serangan seperti tadi."
"SIALAN!!! Kali ini aku tidak akan meleset untuk kedua kalinya!!"
"Untuk kedua kalinya?!"
Apa dia akan melakukan serangan itu lagi?! Jangan bercanda! Aku langsung menyuruh Lia untuk pergi. Setelah itu, aku menyuruh kedua Seraphim yang menjadi senjataku untuk kembali ke bentuk manusia kembali dan menyuruh mereka untuk pergi.
"Tidak, kami tidak akan meninggalkan Master!"
"Itu benar! Jika master sampai mati disini\-..."
"Tenang saja! Aku tidak akan mati di sini. Masih belum saatnya aku untuk mati di sini. Karena masih ada seseorang yang menungguku. Mungkin."
Aku memberitahu mereka sambil melemparkan senyumku, kemudian aku kembali melihat ke arah Ziz yang mulai kembali ke posisi seperti pada saat dia ingin mengumpulkan kumpulan cahaya seperti tadi.
"... Jadi, aku tidak akan mati di sini!"
Ya, jika Ziz menggunakan ledakan. Maka aku juga akan menggunakan itu. Aku menyuruh mereka untuk pergi sekali lagi.
__ADS_1
Setelah mereka pergi, aku juga meminta Yuri untuk menghilangkan kekuatannya. Dengan begitu, aku tidak perlu menghawatirkan apapun. Karena aku akan menggunakan itu, lebih baik aku mengurangi kekuatannya agar tidak membunuh Ziz. Inginnya sih begitu... tapi aku tidak yakin bisa mengurangi kekuatannya. Tapi aku ingin memilikinya.
Setelah Ziz mengumpulkan cahaya tersebut...
"Huh? ... Uh... Eng... Bukankah itu sedikit lebih besar? Tunggu...!!"
Tidak... itu sedikit lebih besar dari yang sebelumnya?! Gawat! Jika itu meledak di sini, mungkin wilayah ini akan menghilang seluruhnya. Cahaya yang telah dia kumpulkan besarnya seperti bola baseball. Tapi aku tidak perlu mengeluarkan itu sampai sebesar itu, cukup sebesar kelereng saja sepertinya sudah cukup, mungkin?
Yah, aku hanya mengetahuinya dari teori saja dan tidak pernah melihatnya. Selain itu, itu hanyalah 'teori' dan bukanlah 'fakta'.
"Baiklah!! Kemarilah kau, Ziz!!"
[Antimatter]
Aku mengatupkan kedua tangan, kemudian membuka kembali dengan menggunakan [Antimatter]. Dengan begitu, sebuah kumpulan energi sebesar bola kelereng kecil berwarna hitam dengan serpihan cahaya berwarna putih dan angin yang berputar di sekirnya muncul tepat di tengah-tengah kedua tanganku.
"Aku membutuhkan yang sedikit lebih besar. Konsenterasi..."
Tak lama jemuduan, [Antimatter] yang berada di depanku sedikit membesar. Ya, hanya sedikit.
"Sepertinya begini sudah cukup!"
Saat aku melihat Ziz, sepertinya dia juga telah siap dengan bola energinya. Jujur saja, aku tidak terlalu yakin dengan cara ini. Tapi jika tidak kulakukan, wilayah ini pasti akan menghilang!
"Menghilanglah Kau... Bocah...!!!"
Tepat setelah dia mengatakan itu, dia melontarkan bola energi miknya tepat ke arahku. Pada saat yang sama aku mengarahkan [Antimatter] milikku tepat ke arah bola energi miliknya yang telah dilontarkan. [Antimatter]-ku dan bola energi milik Ziz saling bertabrakan tepat di tengah jarak antara kami.
Terpaan angin yang besar dapat kurasakan di sekitar. Meski ukuran [Antimatter] milikku terbilang lebih kecil ukurannya dari bola energi milik Ziz. Aku yakin, meski hanya dengan ukuran itu pasti bisa mengalahkannya. Pengetahuan adalah segalanya bagiku!
Ini semua hanya pengetahuan yang kudapat dari membaca buku di perpustakaan sekolah. Sebuah buku yang membitahukan tentang fenomena-fenomena yang sebenarnya hanya sebuah teori. Tapi di dunia ini, aku bisa menggunakan pengetahuan itu dan mempraktikannya
Tak lama kemudian, bola energi milik Ziz terdorong mundur oleh [Antimatter]. Terus terdorong dan akhirnya menabrak Ziz. Kedua energi tersebut tidak langsung meledak, melainkan mendorong Ziz menjauh, lumayan jauh ... kemudian meledak.
Sebuah ledakan yang bahkan tiga kali lebih besar daripada bola energi milik Ziz. Ledakan tersebut bahkan sampai membuatku terlempar hanya karena anginnya dan membenturkanku pada sebuah pohon besar yang berada jauh di belakangku.
Aku melindungi wajahku dengan kedua lenganku untuk bertahan sekaligus untuk menghindari jika terdapat bebatuan yang juga ikut terhempas. Karena ledakan itu juga, pohon-pohon besar bahkan ikut roboh karena efek ledakan itu. Tidak membutuhkan waktu lama, kemudian bekas ledakan itu menghilang.
Aku bangun dari posisiku dan langsung mendatangi tempat ledakan itu terjadi dengan cepat menggunakan kekuatan Yuri. Sesampainya aku di sana, aku melihat sebuah kawah yang... besar! Aku lupa memikirkan akibatnya jika [Antimatter] sampai meledak. Ziz terletak di tengah kawah dengan kondisi yang benar-benar parah, tapi dia masih hidup.
"Besarnya... lubangnya besar..."
Ketika aku mendekatinya, dia melihatku dan langsung memintaku untuk menjadi majikannya. Awalnya dia menanyakan namaku, tentu aku langsung memberitahunya.
"Mulai sekarang... Aku... Sang Penguasa Langit... Ziz... bersumpah untuk... melayanimu... Master..."
"Jangan banyak bicara, cepat saja, kemudian sembuhkan lukamu itu!"
Dengan begitu, Ziz, Sang Penguasa Langit dari Tiga Penguasa, menjadi milikku. Tentu aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai senjata, sama seperti Yuri. Mereka semua adalah teman bagiku. Ziz langsung menjadi kumpulan cahaya kemudian masuk kedalam tubuhku.
"Kau akan baik\-baik saja kan, Ziz?"
__ADS_1
"Iya... Mungkin membutuhkan waktu.... Tapi jika saya mengkonsumsi kekuatan sihir Master, saya akan... baik\-baik saja..."
Kalau begitu baguslah... Akan sia-sia jika Ziz sampai mati karena ulahku sendiri. Jika sudah begini, aku akan mencari mereka bertiga, kemudian kembali mencari Reiga dan yang lainnya. Kuharap mereka semua baik-baik saja.