Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 23 : Permintaan (Bagian 1)


__ADS_3

Barusan dia salah bicara, 'kan? Aku yakin dia pasti salah bicara. Menginginkanku?


"A, apa maksudmu?! Asal kau tahu saja, aku sudah memiliki pacar!"


Kenapa aku jadi salah tingkah!? Tenanglah diriku! Kau sudah memiliki Lia. Entah mengapa perkataannya berputa-putar di kepalaku!


"Aku menginginkan bantuanmu!"


Itu?! Ah... untunglah... Kupikir akan terjadi salah paham. Dengan begini aku bisa berpikir dengan jernih.


Lilith membutuhkan bantuanku? Meskipun dia mengetahui bahwa aku juga adalah Raja Iblis? Lagipula, mengapa dia meminta bantuanku, sedangkan dia sendiri cukup kuat?


"Mengapa kau menginginkan bantuanku?"


Aku memanggilnya dengan panggilan 'kau' meskipun dia adalah penguasa di daerah ini. Apa aku harus lebih sopan?


"Sebenarnya, 'pembasmian' terhadapku akan terjadi dalam waktu dekat."


Mendengar kata-katanya, membuatku sedikit memandangnya dengan tajam sambil mengerutkan kening. Aku sedikit ragu jika dia berbohong. Kurasa tidak mungkin untuknya bercanda jika melihat ekspresinya yang begitu serius.


"Aku mendengar bahwa ada seorang petualang muda yang jenius berada di kota Dusk. Dia mencapai level empat dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Itu sebabnya dua hari yang lalu kami melakukan perjalanan ke kota tersebut. Tapi, petualang tersebut sudah meninggalkan kota. Meskipun begitu, saya merasakan kekuatan yang jauh berada diatasku sedang menuju ke tempat ini. Jadi kupikir itu adalah dia."


Jenius?! Tidak, aku sama sekali tidak jenius. Bagaimana bisa orang jenius melupakan membeli kereta kuda saat ingin melakukan perjalanan jauh. Selain itu, bagaimana bisa dia yakin orang itu adalah aku?


"Apa kau mengira, bahwa orang itu adalah aku?"


"Kurasa begitu. Kudengar bahwa petualang itu mengalahkan Hydra, meskipun itu bukanlah Hydra dewasa. Setelah itu, dia membersihkan koloni goblin. Apa itu benar?"


Tunggu! Hydra itu belum dewasa!? Tingginya badannya sekitar 3 meter lho! Jika itu belum dewasa, bagaimana jika sudah dewasa nanti?! Kesimpulan yang pendek, tapi tidak salah.


"Ya, itu memang benar diriku."


"Ternyata benar! Tapi, kenapa seorang Raja Iblis bisa menjadi seorang petualang?"


aku mengabaikan pertanyaannya tapi justru memberikan dia pertanyaan.


"Bisa kau katakan? Bagaimana bisa kau mengetahui bahwa aku seorang Raja Iblis?"


"Meski aku melihatmu dengan wujud manusia, aku bisa melihat bayangan wujud lain yang berada dalam tubuh seseorang. Bisa dikatakan, aku melihat bayangan wujud seseorang di sebelah orang tersebut. Tapi... bagaimana bisa kau memiliki tiga wujud?"


Ti-...Tiga?! Bagaimana bisa?!


Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut. Lia dan yang lainnya juga ikut terkejut sambil memandangku, kemudian memandang Lilith. Bagaimana bisa aku memiliki tiga wujud?! Bahkan kertas yang memperlihatkan semua kemampuanku hanya menunjukkan ada dua perubahan, yaitu manusia dan Raja Iblis.

__ADS_1


"Bisa kau beritahu wujud seperti apa saja?"


"Yang pertama adalah wujud manusia, yang berada di sebelah kirimu adalah wujudmu dalam bentuk Raja Iblis, meski sepertinya belum tumbuh tanduk. Sedangkan yang berada di bagian kananmu... ah, lupakan! Tidak terlalu jelas. Mungkin aku hanya kelelahan saja, jadi lupakan!"


"Huh...?"


Apa itu benar atau tidak?! Sepertinya aku tidak bisa terlalu mempercayai perkataannya. Bagaimana bisa aku memiliki wujud lain selain manusia dan Raja Iblis. Itu tidak mungkin!


Setelah itu, salah satu pelayannya membawakanku makanan. Makanan itu sudah jelas sekali terlihat sangat mewah. Lilith menyuruh kami untuk menghabiskan semua makanan yang dihidangkan para pelayan itu satu demi satu. Tidak! Mana mungkin kami bisa menghabiskan semua makanan yang dihidangkan ini. Meski...Celin sepertinya bisa menghabiskan semuanya.


Semua yang dihidangkan itu, semuanya terlihat sangat lezat. Tapi aku hanya mengambil secukupnya. Ketika sudah merasa kenyang, aku menghentikan aktivitas makanku. Lia dan Celena juga begitu. Tapi Celin... aku menutup wajahku dari tatapan Lilith. Rasanya sungguh memalukan memiliki rekan seperti dia. Tapi mau bagaimana lagi?


"Oh ya... apa aku harus memanggilmu 'yang mulia'?"


"Lilith saja."


Baiklah itu akan terdengar lebih baik daripada aku hanya memanggilnya dengan sebutan 'Kau'.


"Baiklah, Lilith, mengenai permintaanmu tadi. Tentang pembasmian itu. Maksudnya bagaimana? Bisa kau jelaskan lebih lanjut?"


"Ah! Mengenai itu. Saya ingin meminta bantuan kalian sebagai petualang. Maukah kalian membantuku untuk menggagalkan rencana pembasmian yang akan dilakukan terhadap kerajaan ini?"


Pembasmian, ya? Jika menerima permintaannya, mungkin saja aku akan langsung bertemu dengan salah satu Raja Iblis lain yang kemungkinan aliansi Astaroth, Lucifer, atau Satan. Tapi akan gawat jika yang menyerang lebih dari satu Raja Iblis. Aku mungkin bisa mengalahkan mereka jika menggunakan salah satu kemampuan skill milikku. Tapi aku tidak bisa menggunakannya jika pertarungannya terjadi di dalam kota.


Dan juga pasti akan jatuh banyak korban jika benar-benar pertarungannya terjadi di dalam kota. Untuk bisa meminimalisir korban...tidak, itu bukanlah yang terpenting. Yang terpenting sekarang adalah siapa lawannya, bagaimana kemampuan bertarung dan kekuatan lawan. Untuk sekarang, kurasa itu adalah yang terpenting.


"Sepertinya, yang akan melakukan penyerangan adalah Raja Iblis Dagon, dibawah keputusan aliansi Raja Iblis Astaroth. Selain itu, penyerangannya akan terjadi besok!"


"HAH!!? Ceroboh sekali! Jika begini, waktu kita tidak banyak!!"


Aku membentak dan memukul meja makan dengan kuat.


Apa dia sedang bertaruh atau apa? Jika dia mengetahui waktu penyerangan, mengapa tidak mendatangi kami lebih cepat?! Jika sudah begini, tidak ada waktu untuk menyusun strategi. Bahkan persiapan pasukan saja tidak mungkin sempat! Apa yang harus kulakukan dalam keadaan seperti ini?!


Sepertinya sudah tidak ada pilihan lain! Mau tidak mau, aku harus mengambil resiko yang sangat besar. Tapi sebelum itu...


"Lilith, jawab aku! Mana yang lebih penting. Rakyatmu? Atau dirimu?"


"Rei..."


Aku menghalau Lia yang sepertinya ingin bicara. Aku bisa mendengarkannya nanti, untuk sekarang, aku membutuhkan jawaban langsung dari Lilith.


"Itu adalah pertanyaan bodoh. Tentu saja rakyatku!"

__ADS_1


"Kau yakin?"


Dia mengangguk sekali. Sebuah jawaban yang tidak memiliki sebuah keraguan sama sekali di dalamnya. Jika itu memang pilihannya, maka aku bisa menjalankan rencanaku.


"Rei... apa rencanamu?"


Mendengar pertanyaan Lia, aku menatap gadis tersebut.


"Kita berlima akan menghadang mereka semua besok!"


"Hanya itu?"


"Hanya itu!"


Rencana yang sempuran! Kita hanya perlu menghadang mereka semua, dan tidak melibatkan rakyat kerajaan ini. Meskipun sang raja harus turun tangan.


"Tunggu! Mana bisa itu disebut rencana! Itu sama saja dengan bunuh diri!"


Mendengar Lilith yang sepertinya tidak terlalu puas. Wajar saja dia tidak terdengar puas, tapi aku tidak akan memberitahunya tentang kartu AS milikku! Yah, ini hanya untuk skenario terburuk yang mungkin akan terjadi.


"Sudahlah! Lakukan saja untuk besok! Sekarang, bisakah kau membawakanku semua informasi tentang Dagon?"


"Baiklah!"


Setelah itu, Lilith pergi meninggalkan ruangan dengan ditemani beberapa pelayan miliknya. Sekarang, apa yang harus kulakukan?


"Rei... sepertinya aku tidak bisa terlalu membantu besok."


"Lia tidak perlu bertarung, Lia cukup memberikan bantuan dari belakang, ya?"


Kanapa dia menjadi seperti ini? Meskipun dia termasuk orang yang pemalu, biasanya dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Tapi ada apa dengannya yang sekarang?


"Aku akan berusaha..."


Ya! Seperti itu!


"Celin, Celena, mohon bantuannya untuk besok!"


"Ya! Master!"


"Baiklah Master."


"Ziz, Yuri, kalian juga!"

__ADS_1


"Serahkan pada saya Master!"


"Ya, Master!"


__ADS_2