Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 4 : Kota Pertama


__ADS_3

Pada saat perjalanan, Reiga memberitahuku bahwa nama kota tersebut adalah Dusk. Entah mengapa kota tersebut diberi nama Dusk. Yah, itu bukan urusanku. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah mencari tempat makan! Aku benar-benar sangat kelaparan.



"Eng... apa kalian tahu dimana tempat untuk makan?"


Mereka melihatku dengan tatapan bingung, kemudian tertawa. Jujur saja itu sedikit membuatku merasa terganggu. Untuk apa tertawa? Apakah lucu melihat orang yang sedang kelaparan gara-gara seseorang membawamu ke dunia lain tanpa persiapan apapun.


"Kalau tidak salah di sekitar kota ada semacam toko yang menyediakan makanan. Bersabarlah sedikit lagi, ya?"


Aku serasa ingin menagis. Azazel sialan! Dia memanggilku keDunia ini tanpa membiarkanku untuk sarapan, sial!


Sesampainya tepat didepan gerbang kota, aku melihat ada dua penjaga dengan perlengkapan lengkap. Mereka terlihat sangat gagah. Ketika kami ingin memasuki kota, kedua penjaga tersebut menghalangi jalan kemudian menyuruh kami untuk menunjukkan tanda pengenal. Mereka berempat mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti kartu. Apa itu tanda pengenalnya?


Jika benar, aku sungguh berada didalam posisi yang berbahaya karena tidak memiliki tanda pengenal itu. Apa yang sebaiknya dilakukan?


"Um... bagaimana saya bisa masuk? Saya tidak memiliki tanda pengenal seperti mereka"


Aku berbicara sedikit sopan. Setidaknya cara ini lebih baik daripada menanyakannya secara kasar. Setelah itu, mereka memberitahuku, bahwa jika tidak memiliki tanda pengenal maka orang tersebut tidak diperbolehkan masuk. Namun mereka bisa masuk jika membayar.


"Membayar? Berapa banyak?"



"Sekitar 3 koin perak!"


Benar-benar Dunia Parallel. jika benar menggunakan perak, aku tidak memilikinya. Tunggu, apa benar aku tidak memilikinya? Entah bagaimana, tiba-tiba aku teringat dengan batu kristal yang kudapatkan dari kotak tadi. Dengan cepat aku mengeluarkan satu batu tersebut dari kantong yang aku gantungkan di bagian kanan pinggangku.


"Apa ini cukup?"


Setelah aku memperlihatkan batu tersebut, mereka sangat terkejut. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun mereka langsung membiarkanku masuk tanpa harus membayar. Aku jadi benar-benar tidak habis pikir.


Yah, karena mereka membiarkanku masuk tanpa membayar, aku tidak bisa menolaknya karena aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Namun, pada saat aku berjalan menjauhi kedua penjaga tersebut, aku mendengar mereka bergumam tentang sesuatu, tapi itu bukanlah urusanku. Selain itu, aku tidak mendengarnya.


Aku tidak terlalu memikirkan tentang hal itu dan langsung berlari kearah mereka berempat yang meninggalkanku, bahkan mereka tidak menyadariku yang tertinggal.


"Oi...! Tunggu!"


Mereka berhenti sejenak dan baru sadar bahwa aku tertinggal.


"Bisakah kalian langsung menunjukkan tempat untuk mencari makanan?"



"Sepertinya kau benar-benar kelaparan ya? Kalau begitu ikuti saja jalan ini, nanti dibagian kiri jalan jika kau melihat tirai berwarna putih, di situ tempatnya!"


Reiga menunjuk sebuah jalan yang mengarah ke timur laut. Tanpa belama-lama lagi, aku hanya mengucapkan terima kasih kepada mereka dan langsung berlari mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh Reiga tanpa melihat lagi ke belakang.


Pada saat aku sedang berlari, aku melihat bangunan yang ditutupi oleh tirai putih, mungkinkah itu tempatnya?.


Aku langsung masuk kedalam tempat tersebut dan mencium aroma yang sangat aku kenal, Ini... mungkinkah? Tidak salah lagi! ... Ramen! Aku langsung memesan makanan yang tersedia. Pada saat telah dihidangkan, yang kulihat bukanlah ramen yang kukenal, meski tampilannya hampir sama. Apakah ini ramen versi Dunia Parallel? Yah, meskipun pada akhirnya tetap kuhabiskan.


Pada saat ingin membayar semuanya, aku kembali menunjukkan batu yang sama ketika aku ingin masuk ke dalam kota ini. Dan seperti yang kuduga, penjual tersebut membiarkan aku memakan makanan tersebut dengan gratis. Jujur saja aku tidak mengerti tentang batu yang sedang aku pegang tersebut. Tapi sepertinya, aku bisa memanfaatkannya.


Setelah keluar dari tempat tersebut, aku mulai memikirkan hal yang macam-macam dengan batu itu. Entah mangapa hal itu membuatku mulai tersenyum sendiri, atau mungkin lebih tepatnya, menyeringai.


"Hihi..."


Aku merasa bahwa orang-orang yang melewatiku memberikan tatapan yang aneh. Mungkin karena perilakuku? Ya, aku yakin karena perilakuku.


"Ehem. Sekarang, apa aku harus mencari penginapan, atau semacamnya?"


Ketika aku sedang dalam perjalanan untuk mencari tempat penginapan, aku melihat semacam bangunan yang lumayan besar. Diatasnya terpampang sebuah tulisan besar dengan bacaan 'Guild'. Mungkinkan itu Guild? Guild yang ada didalam game?


Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memasuki bangunan tersebut.


Ketika aku telah memasuki bangunan tersebut, atmosfer-nya sangat berbeda! Ada berbagai ras di dalam sini. Bagian dalamnya terlihat seperti bar. Ada sebuah tempat yang terlihat seperti tempat pendaftaran. Di sebelahnya ada tangga yang kemungkinan menghubungkan lantai dua dan lantai ini.


Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu pria yang tidak jauh dari tempatku berada.

__ADS_1


"Eng... permisi..."


Orang tersebut memiliki postur tubuh yang besar dan juga otot lengannya yang.... Wow! Dia memiliki bekas luka di wajahnya, dan juga kumis yang hebat. Ketika dia melihat kearahku, aku merasa seperti dia akan melakukan sesuatu terhadapku. Terlihat sungguh berbahaya!


"Apa yang kau inginkan, bocah?"



"Hm..."


Aku sedikit terkejut karena nadanya cukup ramah. Dia juga sedikit menunjukkan senyum kepadaku, sepertinya dia orang yang baik.


"Apakah tempat ini yang dinamakan Guild?"


Setelah aku bertanya seperti itu, tiba-tiba ekspresi yang tadi dia tunjukkan berubah menjadi bengis dan tajam.


"Ya. Tapi ini bukanlah tempat untuk seorang anak kecil!!"


Nadanya juga menjadi tinggi. Aku hanya bisa menunjukkan senyum masam.


'Huah...aku merasa bodoh karena terlalu cepat menilai pria ini!'


Sepertinya aku memiliki sebuah ide untuk sedikit menjahili orang ini. Aku langsung menunjukkan wajah serius yang sekaligus mengintimidasi.


"Hah?! Siapa yang kau panggil bocah, kakek tua?!"


Pria tersebut langsung bereaksi dan bangun dari tempat duduknya dengan ekspresi sangat marah. Gawat! Apa aku terlalu berlebihan?


"Siapa yang kau panggil kakek, bocah tengik!!"


Entah mengapa orang-orang yang duduk satu meja dengan pria itu juga ikut berdiri. kenapa kalian juga terpancing? Sungguh merepotkan!


Dengan terpaksa aku mengeluarkan pedang milikku dari sarungnya. Waktu berjalan sangat lambat, seperti rencanaku. Yah, aku hanya menggores wajahnya dengan pedang itu tepat di bekas luka miliknya kemudian menyarungkannya kembali.


"Aduh!"


Aku hampir tertawa karena wajahnya menunjukkan ekspresi yang hampir menangis. Teman-temanya juga terkejut karena pria tersebut tiba-tiba terluka. Yah, ini hanya sekedar peringatan. Aku tidak akan melakukan hal yang lebih dari ini.


Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil memegang wajahnya yang terluka.


"Ngomong-ngomong, berapa harga untuk mendaftar di Guild ini?"



"Ha-hanya 2 koin perak."



"He... 2 koin perak ya? Aku tidak memiliki uang, bagaimana, ya?"


Aku mengatakan hal tersebut sambil melihat pria tersebut dengan wajah memelas. Yah, aku berharap jika dia akan membantuku. Dan, itu sesuai dengan harapanku. Dia mengerti maksudku dan benar-benar membantuku untuk masalah itu. Terlebih, dia juga menjelaskan hal yang perlu diketahui untuk para petualang pemula.


Dia menjelaskan bahwa kartu member akan yang kudapat dari Guild tidak boleh sampai hilang. Ada beberapa tingkatan untuk para petualang. Namun, tingkatan tersebut hanya akan meningkat jika aku meningkatkan level yang berada di kartu milikku. Semakin sulit quest yang akan diambil, maka penghargaan yang akan diberikan akan semakin banyak. Tidak ada batasan untuk mengambil jenis quest. Itu artinya, meskipun levelku masih level paling rendah, aku tetap bisa mengambil quest dengal level tinggi. Betapa beruntungnya aku.


Yah, meski begitu. Ada kemungkinan jika pemula yang mengambil quest berlevel tinggi mati saat melakukannya. Lalu Guild harus mengganti rugi atas quest yang telah diambil kepada orang yang mengajukan.


Semakin tinggi level yang kumiliki, aku akan bisa mengambil quest dari berbagai macam Guild di luar kota. Ini adalah kesempatan bagus untuk tetap menyembunyikan identitasku sebagai Raja Iblis. Kurang lebih penjelasannya seperti itu.


"Terima kasih karena telah membantuku dan juga telah memberikan informasi tersebut. Aku akan mengganti uangnya besok. Oh ya, apakah disekitar sini ada tempat penginapan?"



"Ah, kalau penginapan, Guild ini juga menyewakan beberapa kamar. Mungkin kau bisa menginap disini. Lagipula, penginapan untuk para pemula gratis."



"Wah! Terima kasih!"


Aku langsung menghampiri resepsionis penjaga Guild tersebut dan bertanya apakah masih ada kamar kosong untuk pemula. Karena resepsionis tersebut adalah perempuan, aku berusaha untuk sesopan mungkin. Setelah dia memeriksa dibagian lantai atas dan kembali dia memberitahuku bahwa ternyata masih ada kamar yang kosong. Itu sudah cukup bagiku karena hari sudah menjelang malam.

__ADS_1


Tapi sebelum itu, tentu aku harus endaftarkan diriku dulu sebagai petualang dengan uang yang dipinjamkan oleh orang tadi.


Setelah pendaftaran selesai, aku mendapatkan kartu. Sepertinya penjelasan pria tadi benar. Setelah semua itu selesai, aku mulai menaiki tangga untuk mencapai lantai dua bangunan tersebut. Terdapat sebuah lorong meski tidak terlalu besar. Seseorang yang tidak asing bagiku keluar dari salah satu kamar. Itu... bukankah dia Lia?


Gadis itu bertatapan denganku dan menjadi sedikit terkejut


"Eh!? Kanezuki Rei?!"


Dia masih saja terlalu formal. Aku mendekatinya sambil tersenyum,


"Rei."



"Huh?"



"Panggil saja Rei!"


Setelah aku menyuruhnya untuk memanggilku dengan nama depan, dia malah menundukkan kepalanya. Memangnya ada apa. Apakah sesulit itu untuk memanggil namaku?


"Ta-tapi..."


Apa jangan-jangan dia ini tipe dandere? Wah... wajahnya menjadi sangat manis. Tapi aku tidak bisa langsung menganggapnya dandere, karena aku juga baru mengenalnya. Mungkin saja dia ini kuudere, tsundere, atau mungkinkah, yandere? Yah, kurasa yang terakhir itu tidak mungkin.


"Tidak apa-apa. Jangan terlalu formal."



"Ba-baiklah... R-Rei..."


Dia mengatakkan itu sambil mengangkat kepalanya, namun wajahnya benar-benar memerah! Ahh!! Dia benar-benar manis sekali! Apakah seseorang yang tidak pernah memiliki pacar sama sekali dapat melihat pemandangan ini? Tidak! Ini adalah keajaiban!


"Apakah kau....tidak, apakah kalian semua pemula?"



"Ah, benar! Kami semua baru memulainya dari dua hari yang lalu."


Hehh... pantas saja gerakan mereka pada saat bertarung masih terlihat sangat kaku. Yah, meskipun aku tidak berhak berkata seperti itu. Lagipula, aku bahkan lebih pemula dari mereka.


"Apakah kamu juga pemula?"


Mendengar pertanyaannya yang diucapkan dengan nada yang sangat pelan tersebut, aku hanya bisa menjawabnya dengan jujur. Aku mengatakan bahwa aku adalah seorang pemula yang bahkan baru mendaftar tadi. Namun ketika Lia mendengar penjelasanku, dia sepertinya sangat terkejut.


"Kamu pemula? Dengan kekuatan seperti itu?"


Kekuatan seperti itu? Aah... tentang pada saat aku menolong mereka? Yah... itu sih kekuatan yang dihasilkan pedang ini. Aku tidak mungkin menjelaskan kepadanya bahwa aku adalah Raja Iblis. Selain itu, bagaimana cara pedang ini mengeluarkan kekuatannya?


Tunggu, bukankah itu aku sama saja dengan karakter yang baru mulai langsung hebat? Aku merasa bersalah kepada semua orang yang sudah berusaha keras. Aku saja baru sadar jika aku berbuat curang di dunia ini. Tapi, apa benar aku berbuat curang? Yah, kurasa tidak! Karena aku tidak ingin disebut cheater di dunia ini.


Tapi, untuk menutupi identitasku, untuk sekarang aku terpaksa harus membohonginya.


"Yah... dari dulu aku sudah berlatih dengan sangat keras hanya untuk hari ini"


'Maaf. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku...! Kenapa aku harus membohongi gadis yang cantik dan polos seperti ini!?'


Aku hanya bisa bergumam didalam hati dengan rasa bersalah. Setelah itu aku berusaha menutup pembicaraan ini


"Maaf ya Lia, aku akan pergi ke kamar terlebih dahulu."


Mendengar itu, Lia seperti tersentak dan mengangguk sekali.


"I-iya... selamat malam."



"Selamat malam."

__ADS_1


Setelah itu aku meninggalkan Lia dan pergi ke kamar untuk istirahat. Sesampainya aku di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku. Meski tempat tidur di sini tidak seperti tempat tidur yang ada di duniaku, aku sudah tidak terlalu memikirkan hal tersebut lagi. Karena aku harus berusaha tetap bertahan hidup untuk membebaskan dunia ini.


Aku mulai memejamkan mata dan tidak lama kemudian aku tertidur.


__ADS_2