Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 25 : Menunggu


__ADS_3

Sehari setelah kami melakukan persiapan- jika itu bisa dikatakan sebagai 'persiapan'. Bahkan sebelum matahari terbit sepenuhnya, kami semua telah berada di atas bukit di mana tempat tersebut akan dilalui Dagon beserta pasukannya. Tempat yang berada di depan kami adalah sebuah padang landai yang lumayan luas. Sedangkan di bagian belakang adalah kerajaan Lilith.


Padang yang landai tersebut akan menjadi tempat yang sangat bagus. Tidak hanya landai, padang tersebut juga tertutup oleh beberapa bukit. Jadi tidak akan menimbulkan kecurigaan atau kepanikan terhadap kerajaan milik Lilith jika terjadi sesuatu seperti ledakan dari [Antimatter].


Meski sudah memiliki rencana tersendiri, kami tidak mengetahui kapan tepatnya Dagon dan pasukannya akan sampai kemari. Itu sebabnya kami sudah berkumpul di atas salah satu bukit tersebut.


'Tapi tetap saja. Apakah harus berada disini sebelum matahari terbit sepenuhnya?'


"Nah... Bolehkah aku memejamkan mataku?"


Aku bertanya pada Lilith dan dia tidak memperbolehkanku untuk memejamkan mata walau hanya sebentar.


"Jangan sampai itu terjadi!"


"Heh...?!"


Kira-kira, kami harus berada di sini untuk berapa lama? Aku tidak akan tahan jika masih mengantuk begini. Aku ingin mencuci muka menggunakan air dingin- Itu benar juga! Aku bisa menyuruh Celena untuk mengeluarkannya.


"Celena, apa kau bisa mengeluarkan air?"


"Air? ... Apa seperti ini, Master?"


Dia mengangkat tangannya ke depan tubuhnya. Kemudian sebuah pancuran air keluar dari salah satu jarinya. Itu menjadi seperti sebuah sumber air. Tapi entah kenapa itu terlihat lucu.


"Wah... benar-benar keluar!"


Setelah itu, aku membaringkan kepalaku tepat di bawah air tersebut jatuh. Wah... seperti air terjun mini- terlalu mini.


"Ini nikmat... Tapi, bisakah kau turunkan suhunya?"


"Baiklah."


Ini sungguh seperti air terjun sungguhan. Hanya saja terbuat dari sihir. Jika dia bisa menurunkan sedikit suhunya, maka-...


"Tung-!! AAAAA!!!!! Celena! Itu telalu DINGIN!!"


Secara refleks aku langsung bangun dari posisiku. Air yang dibuatnya menjadi benar-benar dingin. Aku mengira dia akan mengeluarkan air yang sejuk. Tapi yang dia keluarkan adalah air yang dinginnya seperti es- bukan! Itu bukan es lagi! Aku yakin suhunya berada dibawah nol derajat.


"Maafkan saya, Master...!"


"Tidak. Tenang saja! Aku tidak apa-apa."


Meski begitu. Aku merasa wajahku menjadi putih karena suhunya, seperti orang yang sudah mati saja. Aku yakin ini karena suhunya yang terlalu dingin.

__ADS_1


Menurutku, itu bukanlah apa-apa. Tapi, ada sebuah hal yang membuatku terganggu. Saat aku melihat Celin dan Lilith, mereka berdua terlihat sangat berusaha keras untuk menutup tawa mereka. Itu membuatku kesal. Rasanya, aku ingin membalas mereka, tapi bagaimana?


Yah, sekarang bukanlah waktunya untuk bercanda. Sebentar lagi, kami akan menghadapi perang yang sesungguhnya. Ini adalah pertarungan besar pertamaku. Jujur saja aku tidak terlalu tahu harus berbuat apa. Selain itu, ada perasaan takut berada di dalam diriku. Tapi, aku hanya harus mengeluarkan semua yang kubisa, 'kan?


Tapi tetap saja. Itu membuatku sedikit kesal.


"Apa yang lucu?"


"Tidak! Bukan apa-apa! Ya, 'kan?"


"Iya. Bukan apa-apa, Master! Bu-!"


Sepertinya Celin sudah sedikit sombong. Memangnya apa yang ingin dia sombongkan dengan dada seperti papan cucian itu?! Tunggu, apa aku harus mengatakkan itu? Sepertinya harus! Ya, harus!


"Celin... sepertinya tadi kau sedikit tertawa. Apa kau mulai sombong? Memangnya apa yang bisa kau sombongkan? Dadamu saja seperti papan!"


"HAH!!? Siapa yang seperti papan? Justru ini adalah bentuk yang terbaik! Tidak mengganggu disaat ada pertarungan! Ya, ini adalah yang terbaik!"


"Apa kau yakin? 'Rata'?"


"Jangan memanggilku Rata!! Aku tidak rata!! Meskipun kau adalah majikanku sekalipun, aku tidak ingin mendengar hal itu! Hanya saja... hanya saja..."


"'Hanya saja'? Hanya saja... rata?"


"Hah! Itu sama saja deng-...Aw, aw, aw, aw...Sakit, sakit!!!"


Tiba-tiba Lia menutup kedua mataku dengan tangannya dari belakangku. Jika hanya ditutup saja tidak apa-apa. Tapi dia menutupnya sambil menekan mataku dengan kuat. Itu membuat kedua mataku sakit!


Setelah itu, dia membalikkan badanku dengan cepat sambil memegang erat pakaian bagian bawah leherku. Saat aku menatap matanya, itu sangat, sangat...sangat dingin dan menusuk. Jujur itu membuatku merinding ketakutan! Tolong aku!! Siapa saja tolong aku!!!


"Rei... apakah kau masih ingin melanjutkan omonganmu tadi?"


"Heh?! Ah- tidak!! Maafkan hamba!"


"Bagus!"


Matanya menunjukkan kegelapan. Ya, kegelapan dalam dirinya! Aku tahu jika dia memiliki elemen kegelapan, tapi ini sampai membuatku tidak bisa berbuat apapun ketika menatap matanya secara langsung.


'Dia masih belum melepaskan pegangannya! Bagaimana ini!!? Matanya semakin menusuk! TOLONG!!!!'


"Heh... ternyata ada seorang Raja Iblis yang takut pada seorang perempuan, ya?"


"Lilith, bisakah kau diam sebentar?!"

__ADS_1


Aku menyuruhnya untuk bisa menutup mulutnya. Aku tidak bisa membalas Lilith, karena aku sendiri belum bisa melepaskan diri dalam masalah ini!


'Apakah dia akan membunuhku? Tidak akan, 'kan? Tidak! Dari tatapannya sudah jelas dia akan membunuhku!'


"Lia...?"


Dengan nada yang rendah dan gemetar, aku memberanikan diri untuk menyadarkannya.


"Iya?"


Nadanya sangat datar ketika menjawabku! Bagaimana ini?


"Bisakah sekarang pegangannya dilepaskan?"


"Ya, tentu! Tapi hanya dengan satu syarat!"


"Syarat?"


"Ya. Setelah pertempuran ini selesai. Aku ingin kau melakukan apapun yang kumau!"


Ap-?! Kenapa syaratnya sangat sulit? Dia tidak akan meminta untuk mengakhiri hubungan ini, 'kan?!


Tapi, ini adalah kesalahanku karena telah memutuskan pilihan yang salah untuk membalas Celin. Aku akan menerima semua hukuman yang akan dia berikan. Tapi kuharap dia tidak mengakhiri hubungan kami. Semoga saja!


"Ba, baiklah..."


"Baguslah kalau begitu! Janji, ya?"


Heh?! Karakternya kembali seperti biasanya. Sepertinya dia sudah tenang.


"Iya, aku berjanji."


"Yeeyy!! Berhasil!!"


Sepertinya dia sudah terlihat sena-!! Tunggu! Barusan dia bilang 'berhasil'?! Apa tadi itu dia sedang berakting? Hah!!!? Bagaimana bisa dia berakting seperti itu!? Itu sangat terlihat natural. Aku yakin, bahkan aktris dari Ho*ly*o*d akan kalah dengannya jika saling beradu akting.


"Nah, kau tidak akan meminta untuk mengakhiri hubungan kita bukan?"


"Hn?? Untuk apa aku melakukan itu?"


Sepertinya aku bisa sedikit tenang sekarang. Setidaknya, apa yang kutakutkan tidak akan terjadi. Tapi aku juga masih berharap bahwa permintaannya bukanlah permintaan atapun hukuman yang aneh-aneh. Yah, jika hukumannya untuk memperdalam ikatanku dengannya, maka dengan senang hati akan kuterima.


Saat itu, sambil kami berjaga. Setiap waktu dipenuhi dengan canda dan tawa. Meskipun, sepertinya aku dan Celin sedikit- maksudku, selalu berbeda pendapat. Tapi tidak sampai menimbulkan pertengkaran. Kami tetap menganggap itu sebagai candaan.

__ADS_1


__ADS_2