Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 19 : Pemandian


__ADS_3

"Uwahh!! Lezat! Ini sungguh lezat Kanezuki Rei" – Reiga



"Benar! Ini sangat lezat!" – Rots



"Bagaimana bisa menjadi lezat seperti ini?!" – Neil


Untunglah para lelaki menyukainya. Sepertinya para gadis juga menyukainya, meskipun mereka tidak memberikan komentar. Tapi jika dilihat dari wajah mereka yang terlihat berseri, itu membuatku beranggapan bahwa mereka menyukainya.


Entah aku harus menamakan apa makanan ini. Aku hanya mencampurkan bahan yang memiliki rasa khas dangan bahan lain untuk menciptakan rasa yang lain. Sejujurnya, sebelumnya aku tidak pernah memasak makanan ini.


Makanan yang kuhidangkan terlihat seperti 60% terdiri dari sayuran, sedangkan sisanya adalah daging. Kuharap bahan yang kugunakan tidak berbahaya bagi tubuh kami, itu saja.


"Ini adalah masakan yang dihidangkan langsung oleh seorang 'Raja'!"


Mendengar Reiga yang berkata seperti itu, yang lainnya hanya menganggukkan kepala mereka. Sebenarnya aku senang mendapat pujian seperti itu. Tapi, aku bukanlah raja, lebih tepatnya, belum. Biasanya raja harus memiliki istana, bukan? Sedangkan aku harus berpetualang. Apa mungkin aku bisa disebut raja? Yah... meskipun Raja Iblis itu juga menyandang sebagai raja.


"Kalian, jangan memanggilku seperti itu, tolong jaga rahasia ini. Selain itu, kurasa kalian tidak perlu terlalu formal."


Bahan makanan yang masih bagus, rumah yang terjaga, selain itu rumah ini memiliki pemandian pribadi. Siapa sebenarnya pemilik rumah ini? Aku yakin dia pasti orang yang sangat kaya atau berpengaruh. Jika tidak, mana mungkin dia bisa membangun rumah seperti ini.


Setelah selesai makan malam, kami memutuskan untuk pergi ke pemandian. Untung saja pemandian laki-laki dan perempuan terpisah oleh tembok yang terbuat dari bambu dan disusun dengan sangat rapi.


Anehnya lagi, pemandian di rumah ini terlihat hampir mirip dengan pemandian yang berada di duniaku. Dari arsitekturnya hingga bentuk pemandiannya.


Suara air mulai terdengar lembut setelah aku mulai menikmati waktu di dalam pemandian ini.


"Uwah... sejak kapan ya terakhir aku pergi ke pemandian, yah?" – Rei


Setelah aku memulai terlebih dahulu, mereka bertiga mulai merendam tubuhnya di dalam air.


"Hah... pemandian ini nyaman sekali..." – Reiga



"Benar... di kota tidak mungkin ada yang seperti ini..." – Neil



"Sungguh...!" – Rots


Mungkin terakhir kali aku pergi ke pemandian pada saat SMP kelas 3. Pada saat itu aku pergi berdua hanya dengan Ren. Mungkin pemandian ini tidak selengkap di duniaku, tapi suhu air di sini lebih nyaman.


Di lain sisi, kami bisa mendengar suara para gadis yang berada di sebelah. Mereka terdengar sudah menjadi sangat dekat. 'Dekat'? Mungkin dalam artian yang lain! Yang kudengar hanyalah suara-suara aneh!


"Tidak, Kakak jangan. Ah...!"



"Apa\-apaan ini! Kenapa adikku memiliki dada yang lebih besar!? Padahal aku adalah pecahan kedua, sedangkan kau yang terakhir! Kenapa dunia ini sungguh tidak adil!?"


Suara ini... Celin dan Celena!?


'Apa yang sedang mereka lakukan!?'


Kenapa suara Celena menjadi seperti itu?! Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Celin?! Aku ingin melihatnya secara langsung!


Tanpa kusadari, para laki-laki sudah membentuk barisan di belakang tembok yang memisahkan kami. Tentu tanpa diriku. Apa mereka berniat untuk mengintip?! Kupikir Reiga akan bersikap lebih dewasa, tapi sepertinya tidak! Ini berbahaya!


"Kalian! Apa yang sedang kalian lakukan?!"



"Pekerjaan lelaki!"


Reiga menjawabnya dengan wajah penuh semangat dan keyakinan. Kau seharusnya tidak menunjukkan wajah seperti itu!!!

__ADS_1


"Bagaimana itu bisa menjadi pekerjaan lelaki?!"



"Ayolah, Kanezuki Rei. Apa kau tidak ingin melihat tubuh Lia?"



"L\-... Lia?!"


Memang benar aku tidak pernah melihat tubuhnya! ... tidak, tidak, tidak ... meski begitu, aku tidak akan membiarkan mereka melihat para gadis! Sungguh bejat!!


Aku menghampiri mereka dan berencana untuk menyuruh mereka berhenti. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak lain adalah suara Lia.


"Aah... tidak, Celin, hentikan! Kyaaa!!"



"Apa\-apaan kalian semua?! Kenapa hanya aku yang menjadi seperti 'ini'! Ini sebagai balasannya!"



"Ba\-Balasan?! Aku tidak pernah melakukan apapun yang membuatmu marah, bukan?! Ah.. tidak, hentikan, ah... tidak, jangan! Kya..!!!"


Apa? Apa-apaan suara Lia?! Kenapa suaranya menjadi begitu?


"Heh!? Kanezuki Rei! Hidungmu!"


Mendengar Reiga yang sedikit mengecilkan suara sambil menunjuk wajahku, aku langsung memperhatikan bagian tempat dia menunjuknya. Tanpa kusadari setetes darah mengalir keluar dari hidungku.


Tidak mungkin aku mimisan hanya karena ini. Ini tidak normal! Dengan segera aku langsung membersihkan hidungku.


Tapi para lelaki yang lain tetap mencoba untuk mengintip. Mereka menopang tubuh mereka pada dinding bambu itu dan menempelkan telinga mereka. Setelah membersihkan hidungku dari mimisan yang baru saja kualami, aku langsung mendekati mereka.


Aku mendorong Rots ke depan untuk membuatnya menyingkir, itulah pikirku. Tapi sepertinya aku mendorongnya terlalu kuat, sehingga membuatnya menabrak tembok bambu itu. Sebenarnya aku berencana untuk membuat mereka menjauh dari situ.Tapi rencana itu gagal besar.


Bukannya menghentikan apa yang akan mereka lakukan, aku malah membuat dinding bambu tersebut roboh tepat ke arah pemandian perempuan. Seketika itu, Rots, Reiga, dan Neils jatuh ke dalam air. Sedangkan aku masih dalam posisi berdiri.


.........


..................


"""""**Kyaaaaaaaaaaaa**!!!!!!!!!!"""""


Teriak para gadis menggema di seluruh sudut rumah. Meski hanya sebentar, aku yakin telah melihat pemandangan yang sangat indah. Sebelum akhirnta Celena melontarkan sebuah balok es tepat ke arahku dan membuatku pingsan.


***


Ketika aku terbangun. Aku melihat wajah Lia berada di atasku sambil tersenyum.


Dari posisi dan tekstur yang berada tepat di bawah kepalaku terasa sangat lebut dan nyaman. Ini... Tidak salah lagi! Bantalan paha yang melegendaris itu!


Aku langsung bangun dengan terkejut.


"Ini.... Yang lainnya dimana?"


Aku sadar bahwa aku berada di salah satu kamar yang berada di lantai dua. Ini adalah kamar terakhir, kamar yang memiliki satu buah tempat tidur, meski ukurannya lumayan besar.


Aku juga sadar, bahwa hanya sebuah handuk yang berukuran sedang membalut di bagian itu. Dengan segera, aku langsung mengenakan baju. Tentu aku menyuruh Lia agar tidak melihat ke arahku untuk sementara.


"Yang lainnya sudah berada di kamar masing\-masing. Kebetulan jumlah tempat tidurnya sesuai dengan jumlah kita."



"Begitu, ya? Syukurlah... Lalu, kenapa kau berada di kamar ini?"



"Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku akan tidur denganmu."

__ADS_1



"Hah?! Apa aku tidak salah dengar?! Tidur denganku?!"


Kenapa dia ingin tidur denganku?! Selain itu, bukankah lebih baik jika aku tidur di lantai bawah saja?! Tapi dia tidak memperbolehkanku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menyerah pada keinginanku.


Akhirnya kami tidur bersama. Tapi... belum sempat aku memejamkan mata, dia langsung menindihku.


"L\-Lia...!? Apa yang ingin kau lakukan?!"



"Aku haus ... berikan aku darahmu!"



"Lagi?!"


Kenapa sekarang dia sudah haus kembali? Bukankah beberapa hari lalu dia sudah mengambil darahku?


Ketika aku bertanya tentang berapa lama dia bisa bertahan setelah meminum darah. Dia mengatakan bisa bertahan sampai satu bulan. Tapi kenapa jika denganku hanya beberapa hari?!


"Selama ini, bagaimana kau meminum darah jika sedang merasa haus?"



"Aku biasanya pergi ke kota untuk mencari orang yang sedang berjalan sendirian di tengah malam. Kemudian menggunakan sihir untuk membuatnya pingsan, setelah puas, aku menyembuhkan lukanya. Jadi tidak akan ada masalah."


'Bukankah itu namanya kejahatan? Itu jelas kriminal!'


"Jadi, kenapa jika denganku hanya bertahan beberapa hari?"



"Manis! Karena darahmu manis! Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah tau jika darahmu itu manis, sebab itu aku manjadi ketagihan!"



"Tolong jangan membuatnya menjadi bertambah parah dengan suaramu itu..."


Apa karena hanya itu alasannya? Apa karena hanya darahku? Tapi apa boleh buat jika dia yang memintanya.


Aku kembali membuka bajuku dan menjadi tekanjang dada. Sambil kembali merebahkan tubuhku, aku mempersilahkannya untuk mengambil darahku.


Ketika dia mulai menggigit, rasa sakitnya tetap kurasakan. Seperti sebelumnya, dia juga mulai menjilat dan menghisap bagian daerah leherku. Rasanya sangat geli sampai membuatku merinding. Setelah itu, dia menyembuhkan luka tersebut sambil membersihkan darah yang masih tersisa.


Setelah dia selesai, aku kembali memakai pakaianku. Kami tidur sembari saling berhadapan dan bergandengan tangan.


"Apa kau tidak ingin menyerangku?"



"Hey, seorang gadis tidak seharusnya mengatakan itu. Sekarang aku ingin memperkuat hubungan kita terlebih dahulu. Belum saatnya untuk itu. Lagipula, aku takut untuk melakukannya sekarang. Aku takut akan bertemu denganmu lagi jika itu kulakukan sekarang. Tidak hanya itu, aku juga taku jika tidak bisa berhenti. Jadi... maaf! Mungkin kau akan menganggapku sebagai pengecut, tapi aku ingin memperdalam ikatan kita terlebih dahulu. Apa itu salah?"



"Tidak, aku yang minta maaf. Sekarang aku tahu, bahwa kamu bukanlah lelaki seperti itu. Sebenarnya aku hanya berencana untuk mengetahui sampai mana keseriusanmu. Ini berarti kamu benar\-benar ingin melindungiku, 'kan?"



"Tentu saja! Bukan 'laki\-laki' jika tidak bisa melindungi orang yang dikasihinya!"



"Aku sangat senang! Terimakasih!"



"Oh ya, bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin kubicarakan."

__ADS_1



"Baiklah."


__ADS_2