
Setelah aku mengalahkan Ziz dan menjadikannya salah satu Familiarku. Aku langsung mencari Lia beserta yang lainnya, termasuk kedua gadis Seraphim itu. Untuk Lia, aku tidak terlalu khawatir karena dia sebenarnya memang sudah kuat. Tapi... untuk Reiga dan yang lainnya, ketika aku menemukan mereka ... Mereka semua terluka parah karena serangan monster. Mungkin sudah sewajarnya, karena mereka berlari terlalu jauh dari hutan mati tersebut dan mendatangi hutang yang memiliki monster di dalamnya. Tapi untung saja tidak ada korban, selain para monster.
Setelah priest mereka menyembuhkan semua luka yang diterima anggota lainnya, kami kembali ke Guild untuk lebih amannya. Tentunya bersama dua gadis Seraphim itu.
Saat aku menanyakan nama kedua gadis Seraphim tersebut, mereka mengatakan bahwa meraka belum memiliki nama. Ketika seseorang menggunakan senjata yang merupakan Seraphim, maka sang pengguna akan menjadi majikan untuk seterusnya, sampai majikan tersebut tiada.
Jujur saja, mereka mengatakkan 'ketika menggunakan', tapi mereka memanggilku 'Master' bahkan saat belum menggunakan mereka. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan.
Selain itu, mereka mengatakan bahwa mereka bukanlah Seraphim yang menjadi senjata. Melainkan senjata yang menjadi Seraphim. Memangnya itu berbeda? Dan ketika aku bertanya bagaimana bisa mereka menjadi seperti itu, mereka menjawab bahwa mereka berdua adalah [Excalibur Fragment].
Entah aku harus senang atau tidak. Level petualangku sudah naik menjadi level empat, jadi aku bisa meningalkan kota ini dan berpindah ke kota lain. Salah satu dari Tiga Penguasa menjadi Familiarku, sekarang aku menjadi majikan dari dua [Excalibur Fragment]. Kalau tidak salah, pedang Excalibur itu adalahpedang yang dimiliki oleh Raja Arthur, benar? Seingatku, sih.
Sesampainya kami di Guild, aku bertanya kepada resepsionis mengenai kabar kelompok yang melakukan perburuan terhadap Behemoth. Dia mengatakan bahwa hampir seluruh petualang yang malakukan perburuan tewas. Aku tidak terlalu memikirkan Paman Zasaki karena memang dari awal aku tidak pernah mengenalnya, meski dia cukup membantuku.
Ziz mengatakan bahwa Behemoth tidak dapat dikalahkan meski jumlah yang menyerangnya banyak. Dia hanya bisa dikalahkan jika titik lemahnya terus diserang. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui titik lemah Behemoth, bahkan Ziz atau Leviathan sekalipun.
"Ngomong\-ngomong Master, Anda belum memberikan saya nama."
"Nama?"
"Iya. Saya yang belum pernah memiliki majikan, jadi belum memiliki nama. Tidak seperti Yuri yang sudah pernah diberikan nama."
Hoh... belum lama, tapi dia sudah mengenal Yuri? Yasudahlah... Nama, ya? Jadi itu sebabnya Yuri tidak pernah memintaku untuk memberikannya nama. Pada awalnya aku sedikit bingung karena Yuri tidak pernah memintaku memberikannya nama. Aku mengingat cerita yang pernah kubaca, jika ingin mengikat kontrak harus memberikan nama atau semacamnya. Apa sistem di dunia ini juga sama?
Jadi, di dunia ini, demonic beast atau Familiar sudah pernah diberikan nama, maka majikan mereka yang berikutnya tidak perlu memberikan nama. Tapi jika mereka belum pernah memiliki majikan seperti Ziz, secara otomatis mereka pasti meminta nama.
"Nama, ya? Bisakah kau memberikanku waktu? Aku akan berusaha untuk memberikan nama yang bagus!"
"Tentu, Master."
Dengan begini, aku harus memikirkan tiga nama. Untuk Ziz dan juga kedua gadis itu.
Baiklah, sekarang aku sudah berada dilevel empat setelah mengalahkan Ziz. Tujuan berikutnya adalah kota milik Raja Iblis Lilith. Apa benar dia Raja Iblis yang baik? Entahlah... Bagaimanapun, jika dia tidak seperti yang dikatakan orang-orang, terpaksa aku harus melawannya atau bahkan membunuhnya. Tapi sepertinya akan sangat sulit jika banyak rakyat yang terlibat.
Selain itu, jika aku bisa membuatnya berpihak kepadaku, bukankah itu lebih baik?
Untuk sekarang, aku harus mendapatkan informasi tentang Lilith beserta Raja Iblis yang lain. Aku harus mendapatkan informasi dari sifat hingga senjata yang mereka gunakan, intinya aku harus mendapatkan semua informasinya. Tapi pertanyaannya adalah, 'bagaimana?'.
Yah, karena hari masih siang, kurasa waktu yang tepat untuk berkeliling di kota. Aku akan sekalian mangajak Lia, begitulah pikirku. Tapi sepertinya tidak bisa. Dia masih terlihat sangat kelelahan, jadi mungkin lain kali saja untuk mengajaknya berkeliling.
Saat aku sudah sampai di kota dan mecoba untuk berkeliling, aku sadar bahwa kota ini cukup aman. Apa mungkin karena yang memimpin kota ini? Yah, pemimpin di sini bukanlah seorang raja seperti yang kubayangkan, melainkan seseorang seperti wali kota. Tapi jika melihat keadaan kota ini, sepertinya akan lebih baik jika tetap seperti ini atau lebih maju. Bagaimana tidak? Menurutku, ini sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Sambil menyusuri jalan kota ini, aku melihat banyak pedagang yang menjajakan makanan. Tidak sedikit makanan disini yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak sedikit juga toko yang menjual senjata. Tapi sepertinya aku sudah tidak terlalu membutuhkan senjata yang dijual di sini. Mungkin kedua gadis itu bersedia jika aku meminta bantuan dari mereka.
Aku juga melihat banyak toko baju. Aku menghampiri salah satu toko tersebut. Aku sadar ada sebuah baju yang tidak asing dimataku. Tunggu! Bukankah itu bajuku yang kuletakan di kotak yang kutemukan dibawah pohon besar itu? Kenapa ada ditoko ini?!
Ah... aku ingat! Aku lupa mengubur kembali kotak tersebut dan meskipun beberapa kali datang ke tempat yang sama, aku tidak menyadari bahwa kotak itu sudah menghilang. Betapa cerobohnya aku. Tapi sudahlah, lagipula aku tidak memerlukan baju itu lagi. Tapi mungkin aku membutuhkan baju ganti. Apa perlu aku membeli beberapa? Sepertinya nanti saja.
Aku menikmati suasana ini dan tanpa kusadari hari sudah mulai sore. Saat aku memutuskan untuk kembali ke Guild, di tengah perjalanan aku menemukan sebuah toko yang menjual berbagai aksesoris seperti jepit rambur, kalung, cincin, dan semacamnya.
Apa sebaiknya aku membelikan sesuatu untuk Lia, ya? Tapi aku tidak terlalu mengetahui hal yang disukainya meskipun kami berpacaran. Aku sungguh payah! Meski begitu, aku tetap ingin membelikannya sesuatu.
"Itu terlihat sangat bagus..."
Setelah memutuskan, aku membeli sebuah jepit rambut yang berbentuk bulan sabit dan sepasang anting yang berbentuk bintang. Kuharap dia senang dengan ini. Yah, aku hanya mengambilnya secara acak tanpa berpikir panjang.
Sesampainya aku di Guild, aku menanyakan Lia kepada Reiga yang berada di salah satu meja bersama dengan kelompok miliknya. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak melihat Lia. Mungkin dia masih ada di kamarnya. Aku pergi kekamarnya dan tidak lupa untuk mengetuk terlebih dahulu.
"Lia... apa kau didalam?"
"Iya, masuklah!"
Ternyata dia benar-benar masih ada di dalam kamarnya. Dia sedang duduk di atas kursi dan sambil melihat keluar jendela. Ketika aku bertanya tentang apa yang sedang dia lakukan, dia hanya menjawab untuk melihat bintang. Yah, lagipula ini sudah mulai malam.
"Bintang?"
'Dulu' sebuah kata yang membuatku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Sebuah kata yang membuatku tidak ingin jauh darinya. Dan sebuah kata yang membuatku tidak ingin membuatnya sendirian lagi.
Entah kenapa, aku mendatanginya dan langsung melingkarkan kedua tanganku di sekitar lehernya. Aku tidak ingin membuatnya merasa kehilangan lagi. Aku akan tetap bersamanya mulai sekarang. Mungkin umurku tidak akan sepanjang umurnya, tapi setidaknya aku akan melindunginya selama yang kubisa.
"Eh!? Eh....!? Kenapa tiba\-tiba?!"
"Mulai sekarang, aku tidak akan membuatmu sendirian lagi. Entah kau elf, vampir, ataupun keduanya, aku tidak peduli lagi. Yang kuinginkan hanyalah bersamamu, itu saja. Boleh, kan?"
"Uh... um... Iya..."
Sepertinya kata-kataku membuat rasa canggungnya terhadapku menghilang. Salah satu tangannya memegang lenganku yang sedang melingkar di sekitar lehernya.
"Oh ya! Aku ingin memberikanmu sesuatu!"
__ADS_1
"Memberikan sesuatu?"
Aku mengambil jepit rambut dan sepasang anting yang kubeli di kota tadi dari salah satu kantong bajuku.
"Kau menyukai bintang, ya kan? Kalau begitu, ini untukmu."
Aku mengatakannya sambil membuka tanganku padanya. Dia melihat telapak tangan kananku yang di atasnya terdapat sebuah jepit rambut dan sepasang anting. Entah itu membuatnya senang atau tidak. Tapi tak lama setelah dia melihat kedua benda itu, dia melihat kearahku dengan air mata yang tak dapat terbendung lagi kemudian memelukku.
"O\-oi! Kenapa kau menangis!?"
"Siapa yang menangis?"
Tidak, sudah jelas kau itu menangis. Tapi kurasa itu bukanlah air mata kesedihan. Sambil membalas pelukannya, aku menjawab pernyataannya itu.
"Iya, iya. Kau tidak menangis. Dasar cengeng..."
Meski dia tidak menjawab pertanyaanku, dia mangangguk di dalam pelukku. Melihat seseorang yang kusayang senang, itu sudah cukup bagiku untuk merasakan kebahagian.
Setelah itu, Lia memintaku untuk memasangkan jepit rambut tersebut. Sedangkan untuk antingnya, dia memasangnya sendiri.
"Bagaimana? Apakah cocok?"
"Untuk apa kau bertanya? Tentu saja cocok. Itu membuatmu menjadi sangat cantik!"
Wajahnya memerah, sungguh merah. Apa karena kata-kataku? Ah, sial, aku juga ikut memerah!
Pada malam itu kami tidur bersama. Tunggu! Jangan berpikir yang macam-macam!! Tidak terjadi apa-apa diantara kami, sungguh!! Ya, tidak terjadi apa-apa.
Paginya, kami berkumpul di lantai satu bersama dengan yang lainnya. Sebentar, aku baru sadar, kemana perginya kedua gadis Seraphim itu? Apa mereka tersesat di kota? Mereka tidur di mana tadi malam? Bagaimana bisa aku melupakan mereka?! Ahhh...!!!
Selain itu, aku merasa bahwa Lia memberikan tatapan yang menusuk.
"L\-Lia... ada apa?"
"Pengecut!"
"Heh...?!! Kenapa?? Apa aku berbuat salah?"
Sebenarnya aku tahu dimana kesalahanku. Bukannya aku tidak 'ingin'! Aku tidak bisa! Apa hanya karena hal kecil seperti itu kau marah kepadaku?!
__ADS_1