Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 21 : Perjalanan yang Sekaligus Pertemuan Pertama


__ADS_3

Setelah meninggalkan kota Dusk, aku dan Lia melakukan perjalanan ke arah kerajaan milik Raja Iblis Lilith. Setelah sehari setelah melakukan perjalanan, kami benar-benar menyesal karena tidak membeli ataupun menyewa kereta kuda.


Karena itu, perjalanan kami menjadi lebih lama dari yang kuharapkan. Betapa cerobohnya aku. Untung saja Lia membawa beberapa bahan makanan. Jadi dia bisa membuat makanan menggunakan sihirnya. Jika tidak... paastinya hanya aku yang akan mengeluh selama perjalanan ini. Meskipun ini juga termasuk salahku.


Tapi tetap saja... kenapa aku begitu ceroboh. Bahkan untuk hal sekecil ini. Mungkin kerajaan Raja Iblis yang terdekat adalah milik Lilith. Tapi itu hanyalah dipeta!! Sepertinya, semakin lama aku berada di dunia ini, aku semakin tidak bisa berpikir kritis lagi.


Hari kedua kami dalam perjalanan. Persedian bahan makanan kami semakin sedikit. Sepertinya akan lebih baik jika kami menemukan bantuan. Tapi itu hanya akan terjadi jika kami beruntung.


Selain itu, selama perjalanan kami. Tidak ada seorangpun yang melewati jalan yang sama. Meski ada beberapa orang yang menggunakan kereta kuda, tapi mereka semua berlawanan arah dengan kami.


Hari ketiga. Kami berempat benar-benar dalam masalah! Tidak hanya persedian makanan kami saja yang habis. Tapi selama perjalan kami dihari ketiga ini, Celin selalu saja mengeluh. Itu membuatku merasa tidak nyaman.


"Kenapa Master tidak membeli kereta kuda saja? Jika tetap begini, kapan kita akan sampainya?!"


"Berisik...!"


'Maaf saja akan kecerobohanku ini!'


Tapi kenapa jadi dia yang banyak bicara?! Aku tahu ini adalah salahku. Tapi seandainya saja nafsu makanmu itu tidak besar, mungkin kita masih akan memiliki persediaan makanan. Aku ingin mengatakkannya, tapi mungkin akan menyakiti perasaannya.


Saat aku melihat Lia yang sepertinya sudah mulai kelelahan, kurasa akan baik jika kami beristirahat terlebih dahulu. Saat itu, tidak jauh dari posisi kami aku melihat sebuah tempat yang terlihat cocok untuk beristirahat.


Rerumputan yang berada tepat di sebelah jalur setapak. Tidak terlalu rindang, tapi setidaknya bukanlah tempat yang kotor.


"Kita beristirahat terlebih dahulu?"


"Ya, sepertinya bagus!"


Hanya Celena yang menanggapi gagasanku. Sedangkan yang lainnya hanya mengangguk. Entah mereka terlalu kelelahan hingga tidak ingin berbicara, atau memang tidak ingin menanggapiku? Entahlah.


Di tempat itu aku segera merebahkan tubuhku sambil manatap langit. Cuacanya cerah dan ditambah sinar matahari yang terik.


"Seandainya cuacanya sedikit lebih berawan, itu akan seikit lebih nyaman."


Setidaknya tidak akan menjadi sepanas ini. Tapi... Pemandangan sekitar tidak terlalu buruk. Hamparan rerumputan dan desiran angin yang berhembus. Rasanya nyaman sekali.


"Master! saya merasakan kehadiran yang memiliki kekuatan besar!"


"Saya juga merasakan hal yang sama, Master!"


"Yang benar saja... sekarang?! Disaat aku sedang menikmati alam?!"


Mendengar peringatan yang dikatakan oleh Ziz dan Yuri, membuatku langsung terbangun dari posisiku yang sebelumnya tidur. Dengan segera aku langsung berdiri dan waspada. Saat melihat sekitar, aku tidak melihat apapun. Tapi dari kejauhan, aku hanya melihat sebuah kereta kuda yang mewah. Sepertinya milik bangsawan.


Kereta kuda tersebut mengarah pada arah yang juga kami tuju. Ketika kereta kuda tersebut semakin mendekat, semakin jelas. Kereta kuda tersebut benar-benar mewah jika dilihat dari luar. Ditarik oleh empat ekor kuda. Due ekor kuda berada didepan, dua ekor lagi berada dibelakangnya, setelah itu baru kereta yang mereka tarik.


"Ada apa, Rei?"


"Kalian semua, bersiaplah! Aku mendapatkan peringatan dari Ziz dan Yuri."


Mendengar apa yang kukatakan, mereka bertiga melihat ke arah yang juga kulihat.


Apa aku harus meminta tumpangan pada pemilik kereta tersebut? Tapi, aku harus waspada. Mungkin saja pemiliknya bukanlah orang biasa, jika mengingat yang dikatakan oleh Ziz dan Yuri.

__ADS_1


Sepertinya aku harus membiarkannya kali ini. Mungkin saja pemiliknya berbahaya. Selain itu, mana mungkin ada bangsawan yang akan menerima orang asing. Aku akan membiarkannya lewat.


Saat kereta tersebut lewat tepat dihadapan kami, aku benar-benar membiarkannya pergi. Tapi tiba-tiba saja itu berhenti. Saat kereta tersebut berhenti tepat di hadapan kami, tentu saja itu sudah membuatku sangat waspada akan hal yang akan terjadi.


Saat salah satu pintu kereta tersebut mulai terbuka, semakin waspada diriku. Setelah itu sebuah kaki yang mengenakan sepatu high heel berwarna merah mulai keluar, kulitnya berwarna putih cerah dan bersih. Diikuti gaun berwarna merah dan sangat mewah. Seorang perempuan yang bagaikan seorang puteri dari dunia fantasi keluar dari dalam kereta itu. Yah, meskipun ini memang dunia fantasi.


Dengan mata yang berwarna merah delima, rambut yang berwana merah terang. Jika dilihat dari perawakannya, mungkin dia seumuran denganku. Berwajah cantik, dan...sangat mempesona. Meski begitu, aku sadar akan suatu hal yang aneh, yaitu dia memiliki sepasang tanduk kecil di kedua sisi kepalanya.


Dia mendekatiku dengan beberapa langkah anggun. Saat itu juga aku yakin bahwa dia pasti puteri dari suatu kerajaan.


"Apa kalian petualang?"


"A-Ah... ya... kami petualang."


"Kalian ingin pergi kemana?"


"Ke arah kerajaan Lilith yang berada di arah sana."


Aku mengatakkan itu sambil menunjuk arah yang sedang kami tuju. Dia sedikit tersenyum tipis sambil sedikit memiringkan kepalanya.


"Apa yang ingin kalian lakukan dikerajaanku...?"


"Ah... kami ingi-!!!"


'Kerajaannya? Mungkinkah dia ini?!'


Ketika aku melihat ketiga gadis yang berada di belakangku, mereka semua terlihat membeku! Ini-... ini sama seperti kekuatan milik Yuri! Gawat!


Ketika aku kembali menghadap gadis yang berada di depanku, dia sudah berada tepat dihadapan sambil memegang wajahku menggunakan kedua tangannya.


"Aku Tanya sekali lagi... apa yang ingin kalian lakukan dikerajaanku?"


Dia bertanya dengan nada yang halus namun dingin.


Sial! Aku tidak bisa menghindar jika begini. Apa aku harus mengatakannya? Tidak! Tapi, jika aku memberikan perlawanan. Sudah pasti aku akan langsung diserangnya jika dalam jarak ini.


Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Tekanannya sangat berat. Aku harus mengelabuinya!


"Ka... kami ingin mencoba mengambil quest di kerajaan tersebut. Apa itu salah?"


"Heh... sayangnya di kerajaanku tidak ada yang namanya Guild. Semua petualang tahu akan hal itu."


Haaaahh!!? Serius?! Aku tidak mengetahuinya!!! Bagaimana bisa tidak ada Guild di sana?


'Ah, aku lupa. Itu adalah kerajaan seorang Raja Iblis. Tidak mungkin perkumpulan petualang yang seharusnya membunuh Raja Iblis untuk menjadi Pahlawan ada di dalam kerajaannya!!!'


"A, aku tidak mengetahui jika disana tidak ada Guild!"


"Bisa kau katakan langsung? Apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau hanya petualang biasa, Pahlawan, ataukah... Raja Iblis?"


Tidak, tidak, tidak. Kanapa tatapannya jadi begitu kejam?!! Memang benar jika aku adalah Raja Iblis. Tapi aku tidak mungkin mengatakkannya. Sial...!!! Aku tidak tahu harus mengatakan apa!?


Wajahnya terlalu dekat!! Selain itu, kenapa dia tidak melepaskan tangannya dari wajahku?! Kondisi ini membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih. Sepertinya aku harus memberikan perlawanan.

__ADS_1


"Baiklah... bisa kau lepaskan wajahku terlebih dahulu?"


Setelah dia melepaskan wajahku, suasana menjadi sedikit lebih aman, pikirku. Tapi, inilah saat yang tepat!.


"Yuri!! Buat waktu menjadi lebih lambat dari miliknya!"


"Ap—!!"


Seketika itu, kekuatan milik Yuri langsung keluar tanpa harus mengatakan hal lain. Gadis itu juga menjadi melambat. Hanya aku dan para Familiarku yang bisa bertahan.


Yah, biarlah. Dengan begini aku bisa membawa mereka kabur. Setidaknya untuk menghindari seseorang yang menyebut dirinya Lilith itu. Meskipun dia tidak menyebut dirinya begitu. Ini hanyalah kesimpulanku pribadi.


Aku membawa Lia, Celin, dan Celena sekaligus. Mungkin karena waktu yang seakan terhenti itu, membuat berat tubuh mereka seringan kertas. Itu sebabnya aku dapat membawa mereka bertiga sekaligus. Aku tetap membawa mereka pergi ke arah Kerajaan Lilith. Dan juga, jangan tanya aku bagaimana bias mengangkat mereka bertiga.


Mungkin ini terdengar keras kepala. Meski aku tidak dapat berbuat apa-apa, aku tetap ingin memastikan kerajaannya dengan mata dan kepalaku sendiri.


Ternyata kerajaan tersebut tidak terlalu jauh dari posisi kami yang sebelumnya. Itu sangat membantuku. Jika tidak, mungkin saja aku akan kelelahan jika terus berlari. Dengan menggunakan kemampuan teleportasi milik Yuri, aku langsung berpindah tepat di depan gerbang kerajaan tersebut.


Tapi pasti akan menimbulkan masalah jika kami tiba-tiba terlihat oleh penjaga yang berada di sekitar gerbang. Penjaganya memiliki persenjataan lengkap.


Terlebih, kota ini memiliki tembok yag bahkan lebih tinggi jika dibanding dengan tembok yang mengelilingi kota Dusk. Mungkin lebih baik aku membawa meraka ke atas tembok tersebut.


Aku melakukan perpindahan tepat ke atas tembok tersebut. Untung saja tidak ada penjaga yang sedang berjaga di atas tembok yang kudatangi. Karena sudah memastikan sekitar yang aman, aku menyuruh Yuri untuk menghentikan kekuatannya itu.


Saat keadaan sekitar kembali normal, Celin, Celena, dan Lia dan yang lainnya terlihat sangat kebingungan.


"Master, dimana kita?"


"Kenapa kita berada disini, Master?"


"Rei...?"


Sepertinya sudah wajar jika mereka kebingungan. Selain itu, sepertinya mereka juga tidak mengetahui jika kami bertemu dengan Lilith. Tapi apa benar dia itu Lilith?


"Aku akan menceritakan kepada kalian nanti. Untuk sekarang, Ziz, siapa tadi itu?"


"Tidak diragukan lagi, dia adalah Raja iblis!"


Jadi benar-benar Lilith?! Sepertinya pilihan yang tepat untuk melarikan diri. Tapi sedang apa dia berada diluar kerajaannya? Apa dia tidak terlalu memikirkan keadaan kerajaannya? Sepertinya dia bukan raja yang baik. Tunggu, meski dia bergelar Raja Iblis, tapi dia itu perempuan. Apa sebaiknya aku memanggil Ratu? Atau Raja?


"Siapa kalian?!"


Ada sebuah suara yang sepertinya diarahkan kepada kami. Ketika aku melihat ke arah datangnya suara tersebut, dua orang penjaga dengan persenjataan lengkap sedang menghunuskan senjata mereka pada kami.


"Gawat! Yuri...!"


"Baik, Master."


Sekali lagi aku menggunakan perlambatan waktu milik Yuri dan membawa mereka bertiga pergi ke salah satu gang yang berada di tengah kota. Saat itu juga aku sadar bahwa kota ini besar.


Setelah menghentikan kekuatan milik Yuri. Sekali lagi, mereka bertiga terlihat kebingungan. Sudah kubilang bahwa itu wajar. Meski waktu yang kulalui seperti normal, bagi mereka semua itu terjadi dalam sekejap. Jadi wajar saja jika mereka terlihat kebingungan.


"Rei, bisakah sekarang kau jelaskan?"

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaan Lia, aku menjelaskan kepada mereka bahwa kami sempat bertemu dengan Lilith. Dia memiliki kekuatan yang sama seperti Yuri, mungkin juga berbeda, entahlah. Tapi intinya itu adalah kekuatan yang memperlambat waktu, kecuali pengguna. Atau mempercepat waktu milik pengguna. Kupikir itu sama saja.


Meskipun dia seorang perempuan, sepertinya dia cukup kuat. Tapi itu tidak terlalu penting jika kami tidak harus bertarung.


__ADS_2