
Malam itu kami memutuskan untuk meninggalkan kota keesokannya. Tapi sebelum itu, ada masalah yang harus kuselesaikan.
"Uwah...!! Kanezuki Rei, kenapa dengan lehermu?!"
Yah... aku sudah pernah mengatakan pada Lia untuk tidak menghisap bagian leher, karena pasti akan berbekas. Terlebih di tempat yang bisa dilihat oleh banyak orang.
"Master... mungkinkah... itu... he\-hehe..."
"Hentikan itu, Celin. Jangan berpikir yang tidak\-tidak!"
Tidak, kenapa kau menunjukkan senyuman menjijikan itu?! Aku yakin dia pasti sudah salah paham. Meskipun begitu, kenapa Celin memiliki sifat yang berbeda dari Celena? Apakah semua [Excalibur Fragment] memiliki sifat yang berbeda? Kalau begitu, Pecahan pertama bersifat seperti apa, yah?
Aku tidak bisa membayangkan jika Pecahan pertama juga memiliki sifat sepertinya. Semoga saja tidak. Tapi... bagaimana bisa mereka berdua tetap bersama, sedangkan terpisah dengan yang tertua. Mungkin aku akan menanyakan ini lain kali.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke kota. Tapi tetaplah berhati\-hati, karena sekarang aku tidak bisa membantu kalian."
"Heh?! Gunakan saja kami, Master!"
"Itu benar, Master. Lagipula, mulai sekarang kami akan bersamamu!"
"Bukan begitu, aku hanya ingin mereka tetap berkembang!"
Aku menolak tawaran Celena dan Celin. Tentu saja aku akan membantu mereka jika kami berhadapan dengan musuh yang kuat. Tapi jika masih monster level rendah, kurasa mereka masih bisa untuk menghadapinya. Dab juga mereka sudah mencapai level dua.
Setelah membicarakan beberapa hal, kami keluar dari rumah tersebut. Pada akhirnya aku tidak mengetahui apa atau siapa yang sebenarnya menjaga rumah tersebut. Apakah hantu? Kurasa tidak. Tidak....lebih baik sungguh bukan hantu meskipun aku tidak terlalu mempercayai hal semacam itu.
Saat perjalanan kembali ke kota, kami masih bertemu dengan beberapa monster, tapi tidak sebanyak pada saat pertama kali kami datang ke sini. Jadi itu membuat kami sedikit lebih mudah untuk mencapai kota.
Selain jumlah monster yang semakin sedikit. Item yang mereka bawa, kebanyakan sudah bukan barang berharga lagi. Dari senjata mereka hingga bagian yang lain. Sepertinya mereka sekarang sedang dalam kesulitan. Meskipun ini semua terjadi karenaku.
Sesampainya kami di Guild, aku melihat beberapa anggota kelompok Paman Zasaki. Tapi... Sepertinya mereka kehilangan beberapa anggota, mungkin Paman juga termasuk karena aku tidak melihatnya. Tidak hanya mereka, petualang yang lainnya juga terlihat sangat murung.
"Apa mungkin perburuannya sudah selesai?"
Sepertinya korban yang jatuh cukup banyak. Setidaknya mereka harus bersyukur karena masih bisa bertahan hidup. Aku memberanikan bertanya kepada salah satu petualang wanita yang mengikuti perburuan.
"Apa yang terjadi pada saat perburuan?"
"Huh... kami tidak menyangka jika Behemoth sekuat itu. Bahkan pada awal pertempuran, kami sudah kehilangan banyak rekan. Tidak hanya itu, kami juga pada saat itu sudah pasrah terhadap keadaan. Untung saja sebuah keajaiban terjadi...!"
"Keajaiban?"
"Ya, kami tidak menyangka bahwa seseorang yang mendapat julukan 'Pahlawan R' datang dan menyelamatkan kami. Meski dia tidak membunuh Behemoth, setidaknya kami bisa selamat... Selain itu... teman\-temanku yang berharga... sudah...!"
Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, kemudian menangis. Mungkin saja jika Pahlawan itu tidak datang, mereka mungkin sudah... yah...
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apa sebaiknya aku harus mendapatkan Behemoth secepatnya? Mungkin akan lebih mudah jika Ziz ikut membantu. Tapi jika memang harus menyerang titik lemahnya... sepertinya itu akan sangat sulit.
__ADS_1
Saat mengalahkan Ziz, aku tidak perlu mengetahui titik lemahnya, atau memang dia tidak memiliki titik lemah. Behemoth memiliki titik lemah, tapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan Leviathan...
"Heh!? Leviathan. Ziz, apakah Leviathan memiliki titik lemah?"
"Leviathan? Mengenai hal itu, saya kurang mengetahuinya Master. Dan juga, sudah lebih dari 10.000 tahun kami tidak bertemu."
Ap-!? Sebenarnya mereka ini sudah hidup berapa lama?! Apa mungkin mereka ini makhluk yang abadi? Tapi jika mengikuti hukum alam, untuk mencapai ukuran tubuh seperti itu... sepertinya ribuan tahun itu memang memungkinkan.
Apakah ada makhluk yang seperti mereka atau bahkan melebihi mereka...? Sepertinya jika memang ada, pasti itu adalah mimpi buruk! Bukan, tapi mimpi terburuk! Semoga saja tidak ada, ya, semoga saja.
Untuk sekarang, tujuanku yang berikutnya adalah Kerajaan Lilith. Tapi sepertinya aku membutuhkan peta untuk mencapai kerajaan tersebut.
"Lia, apa kau memiliki peta?"
"Peta? Ah... aku memiliki satu di kamar."
Untunglah...masalah terselesaikan.
"Kalau begitu semuanya, aku pergi dulu. Untuk kalian berdua tolong, jangan membuat masalah!"
Aku memperingatkan Celin dan Celena. Mungkin aku bisa mempercaya Celena, karena dia bersikap lebih dewasa. Tidak seperti kakaknya yang selalu birsikap seperti anak kecil. Meski begitu, mereka tetap Senjata Suci... dan juga manis. Ah, sepertinya bagian terakhir itu tidak perlu.
Tunggu, 'Senjata Suci'?! Apakah Celin bisa dikatakan 'suci' jika dia memiliki sifat seperti itu?! Sepertinya tidak mungkin, ya... tapi bagaimana pun dia tetap Senjata Suci. Ah sudahlah, aku jadi kebingungan.
"Dimengerti, Master!"
"Baiklah, Master."
Tapi itu hanya sebuah peta. Kenapa dia menyembunyikannya di bawah tempat tidur? bukankah itu sedikit berlebihan hanya untuk sebuah peta. Apa mungkin peta itu berharga? Misalnya seperti pemberian orang tuanya, mungkin?
"Maaf jika sudah sangat lusuh. Aku benar\-benar menjaganya karena tidak ingin membeli peta lagi. Karena harganya yang cukup mahal."
'Itukah alasannya? Sungguh mengejutkan!'
Tapi bagaimana bisa, peta yang biasanya dimiliki banyak orang untuk mengetahui dunia bisa menjadi mahal?
"Tidak apa\-apa. Yang penting masih bisa digunakan."
Aku mengambil peta tersebut dari tangan Lia dan melihatnya untuk beberapa saat. Mungkin peta ini sudah lusuh, tapi masih bisa dibaca dengan jelas.
"Emh... ternyata benar. Kerajaan Raja Iblis terdekat disini adalah Lilith... di lain sisi, kerajaan Raja Iblis Da...gon? Jarak dari Kerajaan Lilith tidak terlalu jauh, tapi... Lia, Raja Iblis Dagon itu seperti apa?"
"Raja Iblis Dagon, ya...? Aku kurang mengetahui tentangnya. Tapi aku tidak pernah mendengar hal baik tentangnya"
"Hmm... baiklah."
Aku memberikan kembali peta tersebut kepada Lia dan memberitahukannya bahwa peta itu akan menjadi satu-satunya pemandu kami. Jika saja aku memiliki smartphone untuk melihat peta atau kompas untuk melihat arah mata angin. Tapi sepertinya itu tidak akan bekerja di dunia ini, selain kompas, kurasa?
Setelah itu, aku menyuruh Lia untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa. Karena kami akan memulai perjalanan mulai hari ini.
Setelah menyuruhnya untuk merapihkan barang yang akan dia bawa, aku turun ke lantai satu sambil menunggunya hingga siap. Mungkin ini juga adalah perpisahan terhadap Reiga dan yang lainnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Lia turun dari lantai dua menggunakan tas di punggungnya. Tas tersebut berukuran sedang. Yang membuatku bingung, adalah isi tasnya. Apakah isinya ada barang lain atau hanya pakaian miliknya? Yah... kurasa itu bukanlah hal penting untuk memikirkannya.
Setelah Lia menghampiriku, kami pergi ke resepsionis dan mengucapkan terima kasih untuk kamar gratisnya. Selain itu, kami memberitahunya bahwa kami akan pergi ke Guild di kota lain.
"Guild di kota lain? Tapi, apa kalian mengetahui persyaratannya?"
"Ya. Sang petualang harus berada dilevel empat atau lebih. Sedangkan jika berkelompok, setidaknya harus setengah anggota sudah berada dilevel tersebut, bukan?"
"Ya, itu benar. Apakah kalian memenuhi syarat?"
Mendengar pertanyaannya itu, aku langsung menunjukkan gelang pengenal dengan bangga.
"Le\-le\-level emp\-...."
"Ssstt...!!"
Dia hampir saja berteriak. Sama seperti sebelumnya.
Setelah itu, dia memintaku untuk mengulurkan gelang tersebut. Saat aku mengulurkan tangan, dia memberikan semacam stempel di atas gelang tersebut dan langsung mengeluarkan lingkaran sihir, kemudian menghilang. Tapi di gelang milikku, tepatnya di tempat title, terdapat gambar baru. Gambar tersebut terlihat seperti dua buah pedang yang saling menyilang.
"Apa ini?"
"Ini adalah tanda bahwa kau adalah 'Petualang Bebas'. Dengan ini, kalian bisa pergi ke kota lain."
"Begitu ya... terimakasih!"
Setelah itu kami meninggalkannya. Tapi, tepat sebelum kami keluar dari Guild, Reiga memanggil kami. Mendengar itu, kami berhenti dan melihat ke arahnya.
"Ini adalah perpisahan, ya...?"
Mendengar itu... aku berjalan ke depannya sambil menepuk salah satu bahunya.
"Perpisahan? Mana mungkin! Ini bukanlah perpisahan. Melainkan sebuah perjalanan baru bagi kami dan kalian. Mulai sekarang, kalian harus terus berjuang sendiri. Sebagai ketua, kau tidak boleh meninggalkan teman\-temanmu apapun yang terjadi!"
"Itu benar, Reiga. Ini bukanlah perpisahan. Mungkin... suatu hari nanti kita akan bertemu kembali!"
Lia juga mengucapkan hal yang hampir sama denganku kepadanya.
"Itu benar juga. Kalau begitu, sebaiknya kalian berhati\-hati! Perjalanan kalian mungkin akan sulit untuk kedepannya. Tapi Kanezu\-... ah, Rei. Kuharap kalian bisa membebaskan dunia ini."
"Owh... Tentu! Selain itu... baru kali ini kau memanggilku begitu. Kuharap tetap begitu!"
Setelah mengatakan itu, kami semua tertawa kecil bersama.
"Celin, Celena. Ayo...!"
Setelah memanggil mereka berdua. Kami meninggalkan mereka yang berada di dalam Guild. Tentu ini bukanlah perpisahan. Tapi aku tidak yakin kapan lagi akan bertemu lagi dengan mereka. Berbeda dari sebelum aku dipanggil ke dunia ini yang mana aku bahkan tidak memberi kabar sama sekali terhadap Shin.
__ADS_1
'Tapi ini adalah jalan yang kuambil. Jadi, aku tidak akan menyesalinya.'