Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 5 : Penghasilan Pertama dan Naik Level


__ADS_3

“U-un…He?… Uwaaa!!! Aku kesiangan!! Gawat, gawat, gawat!!”


Sepertinya aku terlambat! Gawat, aku bisa terlambat pergi ke sekolah!


Ketika aku membuka mataku, aku sadar bahwa aku sudah bukan di dunia asalku. Aku bangun dari tempat tidur kemudian berdiri.


“Ah… aku lupa. Aku sudah bukan dari dunia asalku lagi.”


Aku masih merasa mengantuk meskipun telah bangun terlalu siang.


“Ah… apa sebaiknya hari ini aku mengambil quest tersulit di tempat ini?”


Aku keluar dari kamar dan langsung menuruni tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu. Ketika aku mulai mendekati papan yang menyediakan quest sambil membersihkan mata, aku melihat kelompok milik Reiga yang sepertinya sedang mencoba untuk mengambil quest yang sesuai dengan mereka.


“Yo! Apakah kalian ingin mengambil quest?”


Mereka berempat langsung melihatku secara bersamaan dan Reiga lah yang menjawab pertanyaanku.


“Ah… Kanezuki Rei, ya. kami sedang mencari quest yang sesuai bagi kami. Apakah kamu juga ingin mengambil sebuah quest juga?”


Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan sepertinya Reiga tesenyum tipis. Jika aku mengikuti instingku, sepertinya aku tahu apa yang akan dikatakan berikutnya.


“Kebetulan sekali, maukah kamu membentuk kelompok dengan kami?”


Sudah kuduga. Yah, bukannya buruk untuk menerima tawaran tersebut. Tapi aku ingin mengambil quest terberat yang ada di Guild ini. Aku juga tidak ingin membahayakan mereka.


“Terima kasih atas tawarannya. Tapi, hari ini aku ingin mencoba mengambil quest untukku sendiri. Maaf ya…”


Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa membahayakan kalian semua.


“Begitu, ya. Baiklah, aku tidak akan memaksa.”


Aku hanya menunjukkan senyum tipis. Ketika aku mencoba memandang Lia, gadis tersebut mengalihkan pandangannya dariku. Ada apa?


Setelah itu, aku mencoba mencari quest yang kucari. Sambil melihat kesana-sini di sekitar papan permintaan, ternyata mereka telah memutuskan untuk mengambil quest paling rendah. Mungkin karena sisanya cukup sulit bagi mereka.


“Kalau begitu, kami akan berangkat terlebih dahulu, Kanezuki Rei!”



“Ah, ya… berhati-hatilah!”


Aku mencoba untuk melihat kembali Lia, namun dia tetap mengalihkan pandangannya dariku. Itu benar-benar membuatku terganggu. Apakah aku pernah berbuat salah kepadanya?


Aku kembali melihat papan permintaan, tidak lama kemudian aku menemukan sebuah quest untuk petualang kelas satu. Di situ tertulis bahwa permintaannya adalah harus membunuh seekor Hydra di bagian barat kota dan harus mengambil cakar dan taring miliknya.


'Hydra ya? Hewan mitologi yang jika salah satu kepalanya dipenggal, maka akan tumbuh dua kepala lagi. Selain itu, aku tidak bisa menghancurkan kepalanya karena aku membutuhkan taringnya.'

__ADS_1


Meski begitu, upahnya lumayan… Mungkin? Di sini tertulis 12 keping koin emas. Aku tidak tahu di dunia ini satu koin emas seharga berapa perak, dan satu koin perak barapa koin tembaga.


Lalu entah bagaimana aku seperti endapatkan sebuah ide yag datang begitu saja. Setelah itu aku menyobek kertas quest tersebut dan membawanya ke resepsionis. Respon yang kudapatkan adalah dia yang sangat terkejut dan menanyakan bahwa apakah aku yakin ingin mengambil quest ini? Tentu saja aku yakin.


Dia memintaku untuk memperlihatkan kartu guild milikku. Pada saat aku telah memperlihatkannya, dia seperti mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti stempel pada umumnya dan menekan stempel tersebut pada kartu milikku. Jujur saja aku tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan karena seperti tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, dia memberikan kartu milikku kembali dan mempersilakanku untuk mulai melakukan misi.



Sesampainya aku di bagian barat kota. Yang kutemukan hanyalah goa yang lumayan besar, dan sepertinya di dalam sana cukup gelap. Ah, bukan sepertinya. Tapi memang sangat gelap.



“Apakah tempatnya di sini?”


Aku hanya bergumam pada diriku sendiri, kemudian memasuki goa tersebut. Di dalamnya benar-benar gelap seperti yang terlihat dari luat. Aku berpikir ini adalah kesempatan bagus untuk mencoba salah satu elemen yang kumiliki. Karena aku tidak menguasai cahaya, aku hanya bisa menggunakan api sebagai penerangan.


Aku mencoba menutup mata, kemudian mengambil nafas panjang untuk mengonsentrasikan pikiranku, kemudian aku mengucapkan ‘datanglah api’. Secara ajaib, sebuah kobaran api yang…… tidak terlalu besar muncul di hadapanku.


Aku benar-benar merasa seperti orang yang sangat beruntung. Karena aku bisa menguasai lima elemen tanpa harus berlatih. Yah, meskipun nantinya aku harus belajar untuk menggunakan matra untuk masing-masing elemen. Tapi, apa aku harus melakukannya?


Maksudku, apakah sihir memerlukan rapalan? Berdasarkan ingatan Azazel, jenis-jenis dengan kategori diameter besar membutuhkan rapalan yang tidak singkat. Kurasa jika hanya sekedar menggunakan radius kecil tidak memerlukan rapalan.


Sambil memikirkan itu, aku menyusuri goa tersebut dengan tangan kananku selalu siap untuk menarik pedang dari sarungnya. Aku sangat berhati-hati karena mungkin di goa ini terdapat jebakan ataupun monster yang mungkin sangat berbahaya.


Tidak lama kemudian, aku mulai merasakan hawa yang rasanya sangat menekan di bagian dada. Apa-apaan ini? Dadaku benar-benar terasa sangat sesak. Ketika aku terlalu fokus pada perasaan aneh ini. Tanah di sekitarku mulai bergetar. Seperti sesuatu yang besar sedang menghampiriku.


Ketika makhluk itu berada tepat di hadapanku, aku benar-benar terkejut. Karena yang kulihat tepat di depan mataku adalah sosok seperti seekor naga dengan tujuh kepala dan kulit yang berwarna hitam pekat yang terlihat sangat licin. Tingginya mungkin hampir 3 meter, tidak termasuk tinggi kepala.


Aku merasakan sesuatu yang berbahaya. Dan benar saja, salah satu kepala makhluk tersebut langsung menyerangku. Tepat sebelum kepala tersebut menghantamku, aku telah menarik pedang milikku keluar dari sarungnya. Tentu saja waktu kembali seperti diperlambat.


“Jadi ini yang namanya Hydra, ya? Sedikit berbeda dari gambaran yang ada di duniaku, yah, hanya sedikit berbeda. Yang jelas dan sama hanya dari kata menyeramkan.”


Aku berusaha menenangkan diriku dengan cara mengambil nafas panjang dan kemudian mulai melakukan rencana yang terpikirkan pada saat masih berada di dalam guild.


Aku mulai berlari, kemudian meloncat ke salah satu kepala Hydra yang paling rendah untuk menjadikannya pijakan. Saat aku berada di atasnya, aku langsung mengincar bagian punggung Hydra tersebut.


“Haaaa!!!”


Aku menancapkan pedang milikku tepat di bagian punggung Hydra tersebut. Ini tidak perlu memerlukan tenaga lebih untukku entah bagaimana itu dapat terjadi. Kemudian berkonsentrasi penuh untuk menuangkan elemen api pada pedang milikku.


“Masih kurang! Lebih banyak lagi!!”


Aku benar-benar menuangkan banyak sihir terhadap pedang milikku. Kemudian mengaktifkan sihir api. Aku dapat melihat bagian dalam tubuh Hydra tersebut menyala bagaikan api dari luar.


Setelah beberapa lama, api yang berada di dalam tubuh Hydra tersebut mulai padam, dan aku meloncat turun dari punggungnya, kemudian menyarungkan pedang milikku kembali. Sontak, itu membuat Hydra yang tadinya bergerak lambat langsung merasa kesakitan karena bagian dalam tubuhnya terbakar dan langsung terjatuh. Apa dia sudah mati?


“Wah… tadi itu sungguh menakutkan!”

__ADS_1


Aku sadar kenapa Hydra menjadi buruan kelas satu. Mungkin karena untuk mengalahkannya membutuhkan banyak orang dilihat dari jumlah kepalanya yang merepotkan. Tapi tidak akan sulit jika kita bisa memanipulasi waktu seperti diriku.


Setelah itu aku langsung mengambil bagian cakar dan taringnya untuk diserahkan kepada guild. Setelah aku mengambil semuanya, aku segera kembali ke kota. Ketika aku ingin memasuki kota, aku melihat kelompok Reiga yang tampaknya mereka terlihat sangat kelelahan. Aku menunggu mereka yang berjalan seperti hampir kehilangan keseimbangan tepat di depan Gerbang Barat.


Apa sebaiknya aku membantu mereka? Pada saat mereka berada di depanku, mereka langsung menjatuhkan diri mereka dengan nafas yang terengah-engah.


“Apa kalian baik-baik saja?”


Meskipun aku tahu jika melihat keadaan mereka yang seperti itu, tentu saja mereka terlihat seperti sudah melalui hal yang berat.


Dengan nafas yang masih terengah-engah, Reiga mencoba untuk berdiri dan mengajak mereka berempat untuk pergi kembali ke guild, namun sepertinya Lia masih terlihat sangat kelelahan.


“Tu-tunggu dulu…”


Mereka bertiga hanya bisa melihat Lia yang masih terlalu kelelahan. Ya… karena dia adalah gadis, aku menawarkan bantuan tentunya. Aku mendekati Lia dan membelakanginya, kemudian merendahkan tubuh.


"Naiklah!”


Sepertinya dia belum terbiasa dengan diriku. Karena pada saat aku menawarkan bantuan, dia tetap mengalihkan pandangannya terhadapku.


“Kalau tidak mau, ya sudah…”


Ketika aku ingin berdiri, tiba-tiba dia menahanku dengan memegangi jubahku. Itu sontak membuatku melihat kepadanya. Ah… jadi begitu. Sepertinya dia hanya malu.


Aku kembali merendahkan badan lagi dan menyuruhnya untuk naik. Setelah aku memintanya, dia merebahkan tubuhnya pada punggungku. Aku berdiri dengan posisi menggendong Lia dipunggungku, kemudian mulai berjalan kembali dengan Reiga dan yang lainnya berada di posisi depan.


Tu-tunggu! Sensasi macam apa ini?! Ada sesuatu yang mengganjal.


‘I-…Ini… mungkinkah?! Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikiran kotor!!’


Pada saat perjalanan, aku bertanya kepada Lia tentang quest yang mereka ambil. Ternyata mereka mengambil quest untuk mengantarkan suatu barang, namun mereka bertemu dengan sekelompok Lizardman dan akhirnya mereka gagal mengantarkan barang tersebut, kemudian memutuskan kembali ke kota.


Aku juga menanyakan kepadanya alasan mengapa dia menghindariku. Namun dia hanya menundukkan kepala dan wajahnya memerah. Setelah itu aku tidak menanyakan tentang hal tersebut kembali. Tanpa sadar, ternyata kami telah berada di depan guild.


Setelah kami memasuki guild, aku langsung membawa Lia ke kamar miliknya dan langsung merebahkannya. Untuk sesaat, aku berpikir kalau miliknya lumayan besar. Itu membuatku………. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari punyanya tersebut.


Aku langsung keluar dari kamar Lia dan menutup pintu kamar miliknya. Setelah itu aku langsung turun kembali dan menyerahkan bagian-bagian Hydra yang kudapatkan kepada resepsionis.


Sepertinya dia menunjukkan wajah terkejut… tidak, dia benar-benar terkejut, apa sebenarnya kau menginginkan aku mati?


Aku memberikan bagian tubuh Hydra tersebut dan dia memastikan bahwa itu adalah bagian tubuh Hydra yang sungguhan. Memangnya dia pikir aku menipunya? Setelah itu dia memintaku untuk menunjukkan kembali kartu guild milikku dan melakukan hal yang sama pada saat aku menyerahkan quest tersebut. Namun yang berbeda adalah munculnya semacam lingkaran sihir di atas kartu milikku.


Setelah dia mengembalikan kartu milikku, aku sadar bahwa level kartu milikku telah meningkat drastis! Awalnya aku masih level satu, sekarang aku telah mencapai level… dua? Apa hanya satu level? Bukankah terlalu rendah? Jika di dalam game, mengalahkan moster yang kuat akan membuatmu naik beberapa level sekaligus. Kurasa, sistem di dunia ini tidak seperti game. Yah, kehidupan bukanlah permainan, aku tahu itu.


Tidak lama setelah itu, sang resepsionis memberikan imbalan sebesar 12 koin emas. Aku mengambil koin tersebut dan ingin kembali ke kamar. Namun ketika aku melihat ke belakang, para petualang yang lain melihatku dengan tatapan takjub. Apa?! Apa sekeren itu meski hanya naik satu level? Ini tidak menyenangkan. Selain itu, apa aku tidak akan mendapat barang lain seperti buku sihir, mungkin?


“Apa yang kalian lihat?”

__ADS_1


Aku menanyakan itu. Namun mereka semua langsung mengalihkan pandangan mereka dariku. Yah, aku juga tidak berharap banyak dari mereka. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung kembali ke kamar dan istirahat kembali.


__ADS_2