Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 12 : Demam?


__ADS_3

"B\-berat!"


Entah apa yang membuatku terbangun di tengah malam. Bagian atas tubuhku terasa berat. Ketika aku membuka mata untuk memastikan apa itu.


"L\-Lia?! Sedang apa kau?!"


Itu benar-benar membuatku terkejut! Kenapa dia berada di kamarku- itu tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah, kenapa dia berada diatasku!? Pada saat aku memperhatikan wajahnya, dia seperti menginginkan sesuatu dariku.


"Darah..."



"Hah!?"



"Aku membutuhkan darah."


D-darah? Apa harus malam ini? Aku memang mengatakan 'jika membutuhkan darah, datang saja padaku' tapi ini tiba-tiba sekali. Bagaimana ini...


"Aku sudah tidak tahan..."



"Jangan mengatakkannya dengan nada yang aneh!"


Ampun, dia mengatakan hal itu dengan nada yang aneh, tapi lucu. Aku sama sekali tidak pernah berada dalam situasi seperti ini- maksudku, mungkin tidak akan pernah! Aggghhhh!! Mau bagaimana lagi, jika memang dia membutuhkan darah, maka aku akan memberikannya. Selain itu, memang aku yang menyuruhnya, jadi aku harus melakukan apa yang pernah aku katakan.


Aku memiringkan baju bagian bahu kananku untuknya.


"Ini..."


Dia langsung mengigit bahu kananku. Itu sakit, tentu saja itu sakit. Tidak hanya merasakan sakit, tak lama setelah dia menggigit, aku merasakan rasa geli di sekitar leherku.


Apa ini!? Rasanya benar-benar geli. Aku sadar, ternyata di menjilatiku di bagian leher sebelum akhirnya mulai menghisap.


"Eh!? Tu\-tunggu! Jangan dihisap! Nanti meninggalkan bekas! A\-Ah...!"



"Heh? Apa tidak boleh?"



"Emh... Bukannnya tidak boleh... Tapi..."


Belum selesai aku menyelesaikan perkataanku, dia kembali menghisap leherku dititik yang sama. Itu sungguh menggelikan, tapi entah mengapa aku merasa senang. Sangat senang, gawat...!


Ah... tapi ini memalukan. Sungguh memalukan. Aku hanya bisa menutup wajahku yang memerah dengan tangan kiriku. Ini pertama kalinya aku mendapat perlakukan seperti ini, terlebih oleh seorang perempuan.


Setelah itu, dia mengeluarkan sihir pada lukaku dan membuat rasa sakitnya langsung menghilang. Apa mungkin sihir penyembuh? Meski luka tersebut telah disembuhkan, dia masih saja menjilat bagian yang berada di sekitar tempat dia menggigit tadi.


Dia mendekatkan wajahnya pada telingaku kemudian berbisik,


"Biarkan aku disini untuk sementara waktu...?"



"A... Ah... Baiklah, tapi jangan melakukan hal yang tidak\-tidak. Aku ingin kembali tidur..."


__ADS_1


"Baiklah."


Entah apa yang akan dia lakukan pada saat di kamar ini, tapi aku mempercayainya. Aku kembali menutup mata dengan Lia yang berada di atasku. Aku ingin tidur, aku ingin sekali tidur, tapi aku tidak bisa melakukannya! Aku selalu teringat hal yang baru saja terjadi!


Pagi harinya ketika aku terbangun, yah, aku tertidur karena terlalu lelah memikirkan hal itu. Setelah itu, aku memperhatikan sekitar dan tidak menemukan Lia. Kurasa dia sudah kembali ke kamarnya. Mengingat kejadian tadi malam, aku sempat berpikir bahwa itu adalah mimpi. Tapi sepertinya bukan. He-he-he...


Aku memutuskan untuk turun ke bawah. Ketika berada di bawah, aku melihat kelompok Reiga sedang berada di depan papan permintaan. Sepertinya mereka sedang memutuskan untuk mengambil quest. Tapi... sepertinya penampilan mereka sedikit berbeda.


"Hm...?"


Ah! Sekarang peralatan mereka semua sudah jauh lebih baik. Aku senang jika dapat membantu mereka. Aku mendatangi mereka sambil menyapa dan ternyata benar, mereka ingin mengambil sebuah quest.


"Apakah Kanezuki Rei juga ingin mengambil quest?"



"Um... kurasa aku tidak akan mengambil quest hari ini."



"Jadi begitu, ya."


Ya, hari ini aku tidak ingin mengambil quest. Aku ingin berlatih bersama Yuri saja. Aku akan berusaha untuk bisa menguasainya agar bisa melakukan teleportasi. Jika aku sudah bisa melakukannya, itu akan sangat berguna saat pertarungan.


"Kalau begitu, kami pergi dulu."



"Ya, kalian berhati\-hatilah."


Setelah mereka meninggalkan Guild, aku baru sadar bahwa aku tidak melihat Paman Zasaki belakangan ini. Aku penasaran, dia pergi ke mana ya.


Aku memutuskan untuk bertanya pada resepsionis di Guild. Dia bilang beberapa hari yang lalu Paman Zasaki bersama dengan 205 orang petualang dari berbagai Guild lain, pergi melakukan perburuan di daerah yang disebut 'Death Spot'.


Ketika aku bertanya kembali tentang apa yang berada di daerah tersebut, dia mengatakan bahwa itu adalah daerah yang ditinggali Behemoth.


Kalau tidak salah, Yuri pernah mengatakkan bahwa Behemoth adalah Penguasa Daratan, salah satu dari Tiga Penguasa. Apa mereka bisa melakukannya? Aku tidak yakin mereka bisa melakukannya, tapi biarlah. Sekarang aku lebih baik berlatih dengan Yuri.


***


Aku berlatih hingga hari menjelang malam.


"Yuri, hari ini cukup sampai disini saja."


Dalam sekejap, kekuatan Yuri yang berada di kedua kakiku langsung menghilang.


"Aneh, padahal aku berlatih seharian, tapi kenapa aku tidak merasakan lelah? Bukankah seharusnnya aku merasa lelah setelah menggunakan banyak sihir?"



"Mungkin karena kapasitas sihir Master yang besar?"


Ah... aku tidak tahu tentang itu. Yah, itu hanya kemungkinan saja. Selain itu, apa semua latihan itu juga dapat mempengaruhi stamina? Tidak, tunggu dulu... selama ini aku hanya berlatih dengan menggunakan sihir, aku hampir sama sekali tidak latihan fisik. Apakah itu akan baik-baik saja?


Untuk berjaga-jaga, lebih baik aku juga melakukan latihan fisik.


"Master, jika ingin mengalahkan Raja Iblis lain, Master harus menemukan senjata suci atau Seraphim."


Heh?! Kenapa Yuri tiba-tiba membahas tentang senjata? Bukankah senjata yang ada saja sudah hebat?


"Jika hanya menggunakan senjata yang saya buat, itu tidak akan berguna melawan Raja Iblis. Tidak seperti senjata suci maupun Seraphim."

__ADS_1



"Senjata suci? Apa maksudmu seperti Excalibur?"


"Excalibur? Ah ya seperti itu, tapi saya pernah mendengar bahwa Excalibur telah hancur dan terpecah menjadi tiga bagian, mereka dipanggil Fragment. Selain Excalibur ada senjata lain seperti 'Longinus' yang dimiliki oleh Raja Iblis Satan, 'Shekina', panah cahaya yang keberadaanya tidak diketahui, 'Durandall' yang dimiliki oleh Pahlawan R, dan masih banyak lagi."


Senjata suci, ya? Sepertinya akan sangat sulit meski hanya untuk mendapatkan salah satunya. Untuk sementara, aku akan menggunakan yang ada saja terlebih dahulu. Jika ada kesempatan bertemu atau menemukan senjata suci, aku tidak akan melepaskan kesempatan itu.


Sepertinya aku sudah menentukan bagaimana perjalananku akan dimulai. Pertama, aku akan menaklukkan 'sesuatu' yang berada di hutan bagian barat. Kemudian aku akan pergi ke Kerajaan Lilith. Jika beruntung, aku akan mencoba mencari ras Seraphim atau senjata suci.


"Tunggu! Apa tidak masalah jika aku memiliki senjata suci? Bukankah aku adalah Raja Iblis? Yang kuketahui, Raja Iblis itu memiliki kekuatan yang tidak murni, jadi, apa aku akan baik\-baik saja memilikinya?"



"Saya rasa itu tidak masalah. Memang tidak ada yang tahu begaimana itu bisa terjadi, tapi Raja Iblis Satan mampu memiliki salah satunya dan dia masih baik\-baik saja."



"Ah... Begitu? Yah, aku akan memikirkan hal itu lain kali. Untuk sekarang, aku ingin kembali ke Guild saja."


Setelah sampai di Guild, aku tidak melihat Lia. Apakah dia masih berada di kamar seharian? Meskipun aku melihat kelompok Reiga. Sepertinya mereka baik-baik saja. Apa mungkin karena senjata dan perlengkapan mereka yang sudah lebih baik?


Apa sebaiknya aku pegi ke kamar Lia? Kurasa sebaiknya seperti itu, tapi untuk kali ini aku akan mengetuk pintu. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali seperti sebelumnya.


Ketika aku telah berada di depan kamarnya, aku mengetuk sambil memanggil namanya. Tapi tidak ada jawaban. Aku kembali mengetuk, tapi tetap tidak ada jawaban. Sepertinya sudah tidak ada cara lain.


Aku membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, berharap untuk tidak mengejutkannya. Tapi apa yang kulihat adalah Lia yang sedang terbaring di atas tempat tidur miliknya. Dia terlihat lemas, ada apa dengannya? Aku menutup pintu kamarnya, kemudian mendekatinya secara perlahan.


"Apa kau baik\-baik saja?"



"Ah... Rei, ya? Aku... aku baik\-baik saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan."


Mana mungkin aku percaya dengan kata-katanya setelah melihat tubuhnya terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan lemas seperti ini. Aku menyentuh dahinya dengan punggung telapak tanganku untuk memastikannya. Ternyata dia demam dan tubuhnya sangat panas.


"Apanya yang baik\-baik saja! Tubuhmu sungguh panas!"



"Sudah kukatakan, aku baik\-baik saj\-..."



"Apa yang kau katakan!! Jangan berbohong! Jika kau ingin membuatku agar tidak khawatir, bukan begini caranya! Kenapa kau berbohong!?"


Aku membentaknya. Dia hanya bisa memalingkan wajahnya dariku. Apakah aku terlalu keras padanya?


"Ma\-maaf... aku tidak berencana untuk marah, hanya saja..."



"Tidak, aku yang harusnya meminta maaf karena telah membohongimu. Maaf..."


Hah... kenapa situasinya malah jadi canggung begini... seharusnya aku menghiburnya, bukan malah membentaknya.


Aku memutuskan untuk menemaninya malam ini. Aku mengambil kursi yang berada tidak jauh dari pintu kamar, kemudian meletakkannya di samping tempat tidur Lia. Aku duduk di kursi tersebut sambil memegang tangannya. Setelah agak lama, tanpa sadar aku tertidur sambil memegang tangannya. Sungguh memalukan!


Dalam tidurku, aku yakin mendengar suatu kata yang terdengar seperti 'Aku menyukaimu', dan ketika aku terbangun dipagi harinya, aku hanya merasa bahwa itu adalah mimpi.


"Itu...hanya mimpi, 'kan?"

__ADS_1


Ketika sadar, aku melihat Lia yang masih tertidur. Sepertinya demamnya sudah turun. Melihatnya yang masih tertidur, aku berpikir bahwa dia sungguh manis ketika tidur. Itu benar-benar membuatku tenang, sekaligus senang.


__ADS_2