
Namaku Gendis, aku berasal dari kampung yang tak jauh dari kota di daerah Jawa. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Sejak kecil aku tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang orang tua karena mereka terlalu sibuk bekerja. Pernah suatu hari aku merindukan kasih sayang mereka, tetapi budheku (kakak sepupu dari ibuku) yang selalu menasehatiku agar selalu bersabar dan ikhlas. Ya, budhekulah yang selalu memberi kasih sayang, perhatian, dan nasehat kepadaku layaknya seorang ibu, yang tak pernah aku dapatkan dari ibuku sendiri. Suatu hari saat pulang dari mengaji aku melihat teman - teman seusiaku membawa kembang kapas. Ya maklumlah jaman dulu dikampung kembang kapas tersedia kalau ada pasar malam, itupun hanya ada selama beberapa hari saja dan tidak setiap bulan ada.
"Budhe aku lihat Wawan pegang kembang kapas apa ada pasar malam ya ?" tanyaku kepada Budhe, saat Budhe sambil menggendong keponakanku yang masih bayi.
"Iya baru kemarin yang buka di lapangan bola kayaknya cuman 5 hari saja" jawab Mbak Mumun anak dari budheku, yang dari tadi sibuk melipat baju.
Aku terdiam sibuk dengan pikiranku antara ingin pergi kesana atau tidak, karena jarang - jarang ada pasar malam. Tetapi mana mungkin orang tuaku ada waktu dan uang, sekalipun hanya beli kembang kapas atau hanya naik biang lala. Aku hanya terdiam, karena hanya untuk beli jajanan saja aku harus bantu - bantu dulu dirumah Budhe ataupun di rumah guru mengajiku. Upah yang aku dapatpun tak seberapa hanya Rp. 2000-, dan yang aku kerjakanpun tidak banyak, kadang disuruh ke pasar atau hanya sekedar minta dikerok itupun tidak setiap hari. Tetapi aku senang karena bisa beli jajan ataupun aku masukkan dalam celengan.
"Kamu pengen kesana yaaa" goda Mas Udin anak bungsu budheku ketika melihat aku hanya diam.
"Pengen sih Mas tapi mana mungkin ibu sama ayah mengajakku kesana kan mereka kerja Mas" jawabku sambil memainkan mainan keponakanku
"Pasar malamnya sampe hari Senin kok, kan bisa ngajak pas hari Sabtu atau ga pas Minggunya" sahut Mas Udin.
"Mana mau Mas pasti jawabannya ga ada uang" jawabku dengan nada sedih dan menghembuskan nafas panjang
"Aku pulang dulu ya Budhe, mau bersih - bersih rumah sama mau siap - siap ngaji" aku berdiri untuk pulang, rumahku hanya berjarak 4 rumah dari rumah Budhe.
Di kampungku satu blok masih saudara semua, entah itu dari nenek ataupun dari kakek. Sekalipun aku punya 2 orang kakak, tetapi untuk urusan bersih - bersih rumah, setrika baju, dan cuci piring itu kerjaan aku. Sedangkan yang cuci baju itu ibuku, kata kakak perempuanku dia sudah bosan beberes toh sudah ada aku, alasannya biar ada gunanya dan tidak manja. Sedangkan kakak perempuan dan kakak laki - lakiku bantu kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku bekerja disalah satu koperasi swasta sebagai cleaning service sambil berjualan.
__ADS_1
Sesampai di rumah aku menyalakan radio sambil beberes rumah agar tidak merasa kesepian. Setelah beberes aku belajar sebentar sambil menunggu adzan maghrib untuk berangkat mengaji. Pasar malam terlupakan dalam ingatanku, aku hanya tidak ingin memaksakan yang tidak dapat diwujudkan oleh kedua orang tuaku. Dalam pikiranku hanya tertanam bagaimana caranya aku harus jadi orang sukses, agar kelak orang tuaku bisa pensiun dan menikmati hari tuanya.
Hari Sabtu sudah tiba, biasanya orang tuaku pulang cepat dan bisa makan malam bersama. Karena kesibukan mereka tiap hari, kami sekeluarga tak pernah berkumpul, kecuali Sabtu malam dan hari Minggu. Makan malam sudah tersedia sekalipun hanya sederhana, tetapi sangat membahagiakan buat aku.
"Loh Mbak Ria kemana mas?" tanyaku kepada Mas Edi kakak pertamaku, saat aku menyadari kakak keduaku tidak bersama kami
"Keluar, tadi katanya sih mau ke pasar malam bersama teman - temannya di lapangan" jawab Mas Edi yang duduk disampingku. Aku hanya terdiam bersedih, aku juga ingin pergi kesana tapi apa dayaku. Aku tidak pernah berani meminta hal itu karena pasti ditentang oleh ibuku dengan alasan tidak punya uang.
"Iya tadi sore mbakmu minta uang dan pamit mau ke pasar malam bareng teman - temannya. Kasian mbakmu tiap hari bantuin ibu, tidak pernah kemana - mana ya sesekali keluar gapapalah toh dekat ini juga" jawab ibuku sambil membawakan teh hangat untuk ayahku
"Kok aku ga diajak aku kan juga pengen kesana" jawabku sedih
"Kamu masih kecil sedangkan mbakmu pergi sama teman - temannya nanti malah ngerepotin yang ada" jawab ketus ibuku tanpa memperdulikan perasaanku.
"Sudah kapan - kapan aja kesana sama Ayah, besok Ayah ada acara pengajian jadi ga bisa bawa kamu main ke pasar malam" jawab ayahku.
Aku hanya diam tanpa protes, ayahku memang selalu adil memperlakukan kami, tidak seperti ibuku yang hanya mengutamakan kakak perempuanku.
"Anak itu jangan terlalu dimanja biar ga ngelunjak mumpung masih kecil" ketus ibuku pada ayahku. Terasa panas mataku saat mendengar ucapan ibuku.
__ADS_1
"Wajar Bu aku memanjakan Gendis dia masih kecil. Ibu harusnya bersikap adil bukan malah pilih kasih. Ria sudah dewasa dia juga sering ke pasar malam apalagi dulu saat ada Kakek Neneknya" jawab ayahku mengingatkan ibuku
"Kasian Ria kalau hanya dirumah apalagi ini sabtu malam. Lagian aku hanya mengikuti nasehat mendiang ibuku dulu untuk selalu memperhatikan Ria" jawab ibuku sambil berkaca - kaca.
Kata budhe nenekku meninggal saat aku berusia 1 bulan di kandungan ibuku
"Ya maksudnya itu bukan hanya Ria tapi anak - anak" jawab ayahku jengah mendengar ucapan ibu yang selalu tebang pilih.
"Ya anakku kan hanya Edi dan Ria sedangkan Gendis, hanya anak yang tak diharapkan" jawaban ibu berhasil membuat bulir air mataku melewati pipi. Mas Edi yang ada disebelahku hanya mengelus punggungku agar aku tenang.
"Aku mau kerumah budhe main sama mas Udin" pamitku kepada orang rumah sambil menahan tangis. Mas Edi hanya menangguk saat aku pamit kerumah budhe
"Tuh liat anakmu dikasih tau malah asal pergi saja" ketus ibuku seolah tak suka melahirkan aku.
'Tuhan kenapa aku dilahirkan kalau aku tidak diharapkan' batinku sembari berjalan.
Memang selalu ada drama seperti itu, kalau aku yang menginginkan pasti ibuku menentang, tetapi aku harus selalu menuruti keinginan Ibu dan Mbak Ria. Tebang pilih yang ditunjukkan ibuku sangat terlihat bahkan tetanggapun sudah tidak heran lagi.
"Kenapa?" tanya Budhe saat aku duduk disampingnya karena terlihat sedih
__ADS_1
"Kenapa selalu bilang seolah aku bukan anak kandung? Aku tidak pernah minta dilahirkan tetapi selalu saja seperti ini" pecah tangisku dipangkuan Budhe
"Sudah yang sabar saja, besok Budhe sama Mas Udin mau ke pasar malam, Gendis mau ikut ga?" Tanya budheku sembari menenangkanku, dan aku hanya mengangguk antara sedih dan senang