AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
RUANG RINDU


__ADS_3

Saat pulang sekolah, tak biasanya Mbak Ria ada di rumah biasanya bantu Ibu jualan. Tetapi, Mas Edi yang sekarang sedang menjalani ujian tahap akhir di sekolahnya juga lebih sering belajar di rumah daripada bantuin Ibu. Aku malas menanyakan ke Mbak Ria kok tumben dia ada di rumah. Selama dia tidak mencari masalah denganku, semua baik - baik saja. Kami bertiga ada di ruang tamu untuk belajar, besok aku ada ulangan matematika. Jadi, aku coba kerjakan soal yang ada di buku pemberian Mas Edi


"Buku baru nih dapat dari mana uang ? kok cepet banget ?" tanya Mbak Ria dengan nada sinis


"Dibelikan sama Mas Edi Mbak, memang aku dapet dari mana uang setelah uangku Mbak curi" sahutku dengan nada kesal


"Oh, Mas lebih sayang ke Gendis ternyata, aku minta uang buat beli tas ga ada tapi bisa beliin Gendis buku" sahutnya dengan nada merajuk


"Gendis ngumpulin uang buat beli buku kamu ambil gitu aja, malah buat beli bedak dan ga kamu ganti. Tiba - tiba kamu minta uang buat beli tas ke Mas, kamu kan dapat jatah sendiri dari Ibu tiap hari lebih banyak daripada jatah Gendis. Wajarlah kalau Mas lebih baik buat buku Gendis daripada buat beli tas kamu, sedangkan tasmu masih layak pakai" sahut Mas Edi dengan nada sedikit menekan


"Mas selalu belain Gendis padahal dia adik yang tidak diharapakan kata Ibu" sahut Mbak Ria dengan nada makin kesal.


Hatiku terasa tercabik mendengar ucapan Mbak Ria


"Ria jaga ucapanmu, Gendis adikmu ga sepatutnya kamu ngomong seperti itu" bentak Mas Edi


"Memang kenyataannya begitu" sahut Mbak Ria, tidak memperdulikanku yang sedang menahan tangis.


"Aku pindah ke kamar saja" sahutku dengan sesak di dada.


Seakan memang tidak pernah dianggap di keluarga ini. Ibu dan Mbak Ria selalu berucap seolah aku bukan bagian dari keluarga ini. Mbak Ria dan Ibu selalu menganggap aku anak yang terpaksa mereka rawat yang bukan darah dagingnya. Dari cara memberi kasih sayang, memberi perhatian bahkan cara Ibu memberi materi selalu berat sebelah. Seakan aku hanya orang luar yang terpaksa mereka asuh, sekalipun aku masih umur 8 tahun tetapi sikap Ibu dan Mbak Ria begitu menyayat hatiku.


Setelah selesai belajar, aku pergi ke rumah Budhe. Sesampainya di rumah Budhe, aku bercerita semua tentang perlakuan Ibu dan Mbak Ria kepadaku, serta sikap Ayah dan Mas Edi yang terkadang seolah membenarkan sikap mereka terhadapku.


"Yang sabar dan ikhlas, hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia" sahut Budhe sembari mengusap kepalaku. Aku hanya bisa mengangguk dengan sesenggukan, ada rasa lega dihati setelah bercerita dengan Budhe.


Hanya di rumah Budhe aku merasakan kebahagiaan, mendapatkan kasih sayang dan mendapatkan banyak nasehat. Seandainya saat di rumah aku mendapatkan kasih sayang dan perhatian seperti ini, alangkah bahagianya aku.


'Ya Allah apakah aku bukan anak kandung orang tuaku? Kalau memang aku bukan anak kandung mereka dimana orang tuaku Ya Allah? Kenapa mereka meninggalkan aku dikeluarga ini?' batinku menangis

__ADS_1


'Aku harus sabar dan ikhlas, agar Allah memudahkan jalanku' batinku lagi.


Diusiaku yang masih kecil, aku dituntut untuk bersikap dewasa dan berhati lapang dengan semua perlakuan yang aku terima. Menurut Mbak Ria aku berlebihan, mungkin karena dia tidak tahu rasanya diperlakukan tidak adil oleh keluarga sendiri saat masih kecil.


Saat malam datang, aku hanya terdiam melihat Ibu dan Mbak Ria bercanda. Bahkan aku sendiri lupa kapan aku terakhir bercanda dengan Ibu. Tetapi sudahlah semua harus aku ikhlaskan, daripada membuatku merasa tertekan dan membuat aku bertambah berdosa kepada orang yang sudah merawat aku dari bayi.


Hari demi hari berlalu dengan cepat, Mas Edi disibukkan dengan ujian kelulusan


"Doakan Mas biar cepat lulus dan langsung dapat kerjaan ya" pinta Mas Edi padaku dan aku hanya mengangguk mengiyakan.


Dia tidak ada keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, alasannya faktor ekonomi keluarga dan alasan kedua ingin bantu orang tua cari uang untuk sekolahku dan Mbak Ria.


Setelah ujian selesai, Mas Edi lebih sering ada di rumah. Dia membantuku membersihkan rumah dikala pagi hari, sebelum berangkat membantu Ibu dan Ayah berjualan. Jika sore sudah dia sudah ada di rumah, terkadang membantu membersihkan rumah juga. Keesokan harinya, ada tetangga yang menawarkan Mas Edi pekerjaan serabutan. Besok pagi bisa langsung kesana, sembari mengisi waktu sambil menunggu ijazah keluar. Dia berangkat dengan hati senang, disaat aku bertanya tentang pekerjaan serabutan ternyata pekerjaannya bisa apa saja bisa kuli bangunan, kuli panggul, buat peti kemas untuk buah dll. Aku kagum dengan semangatnya bekerja, sekalipun dia belum pernah bekerja seperti itu. Semangat bekerjanya besar, katanya apapun pekerjaannya selagi itu halal dan diridhai Allah semua akan dimudahkan Keinginannya hanya ingin melihat adik - adiknya lulus sekolah, kalau bisa sampai perguruan tinggi biar dapat pekerjaan yang mapan. Tetapi dalam benakku, tidak ada keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Kasian Ayah dan Kakakku, takutnya keberatan biaya untuk menyekolahkanku tinggi - tinggi. Dilihat dari segi manapun, aku tidak mungkin dibolehkan sekolah ke perguruan tinggi oleh Ibu dan Mbak Ria. Mereka sudah mengatakan itu saat Mas Edi bilang ingin bekerja untuk membantu biaya sekolahku dan Mbak Ria. Hanya Mbak Ria yang boleh melanjutkan ke perguruan tinggi dengan hasil keringat orang tuaku dan bantuan dari Mas Edi. Sedangkan aku cukup SMA saja, kalau mau kuliah harus sambil bekerja. Aku hanya diam mendengar keputusan Ibu, sedangkan Ayah tidak pernah menyanggah keputusan Ibuku. Saat ujian selesai dan nilaiku bagus, diluar dugaan aku diberi hadiah kalung oleh Ayah, katanya biar aku tambah semangat belajarnya. Ibu menatap aku dengan tatapan sinis dan penuh amarah, aku hanya berfikir apa salahku padahal aku tidak minta apapun kepada Ayahku. Aku hanya bisa tertunduk diam saat melihat kearah Ibuku antara takut dan bingung.


"Kenapa hanya Gendis yang dibelikan kalung? kenapa Ria tidak dibelikan juga ?" tanya Ibuku dengan tatapan tidak suka ke arahku


"Ayah buka saja kalungnya takutnya nanti hilang, atau ga berikan ke Mbak Ria saja gapapa aku ga pakek kalung" pintaku kepada Ayah. Aku takut terjadi pertengkaran antara Ayah dan Ibu hanya karena sebuah hadiah kalung.


"Sudah gapapa ini Ayah kasih perekat biar ga gampang lepas" bimbing Ayahku kepadaku, kemudian memberi perekat pada pengait kalung yang aku pakai.


"Tapi Yah, aku rasanya ga pantes pakai kalung aneh rasanya" alasanku kepada Ayah agar kalungnya dilepas. Tatapan Ibu kepadaku masih tatapan tidak suka.


"Udah gapapa nanti juga terbiasa" sahut Ayahku meyakinkanku


"Dasar anak ga tau diri, sudah baik aku besarkan sampai sekarang kenapa kamu ga mati saja ?" ketus Ibuku. Ucapan Ibu akhirnya membuat airmata yang sedari tadi aku tahan lolos dengan sempurna melewati pipiku.


"Kamu itu kenapa selalu bicara seperti itu seolah Gendis bukan anak kandungmu hah ?" bentak Ayah dengan memelukku erat


"Aku tidak suka kehadirannya, sejak dia aku kandung sejak itu juga orang tuaku meninggal dan dia hanya...... Ah sudahlah, yang jelas dia anak ga tau diuntung. Masih bagus aku rawat sampai saat ini malah belagak minta kalung segala ga tau diri" bentak Ibu kepadaku yang menangis dipelukan Ayah.

__ADS_1


"Tambah lama kamu ngomong ngaco, itu semua takdir bukan karena Gendis" sahut Ayahku sambil menenagkanku


"Ah sudahlah" sahut Ibuku dengan nada kesal sembari pergi keluar


"Ayah apa aku bukan anak kandung kalian ?" pecah tangisku. Aku tak kuasa mendengar ucapan Ibu, seolah hanya menganggapku anak pungut yang tidak tau cara berterima kasih.


"Kamu anak Ayah dan Ibu, mungkin Ibumu kecapek'an maka dari itu ngomongnya ngelantur. Dulu, saat kamu dikandungan Ibumu, Nenekmu meninggal karena sakit. Dan saat kamu umur 1 bulan, Kakekmu kecelakaan saat mau ke pasar. Mungkin itu membuat Ibumu terpukul, kamu yang sabar saja ya Ibumu pasti berubah" sahut Ayah menenangkanku.


Entah begitu bencinya Ibu kepadaku, sampai beliau selalu tega mengucapkan kata - kata itu. Padahal, kata - kata seperti itu selalu menyakitiku dan seolah itu cara terbaik baginya agar bisa membuat beliau lega. Aku tidak pernah marah kepada beliau, sekalipun selalu menyakitiku dengan cara yang membuat mentalku down. Bahkan disaat mengaji, aku selalu melamun tidak jelas karena perlakuan yang aku dapat. Itu semua selalu membuat aku berfikir kemana - mana.


'Ya Allah beri aku kesabaran dan tumbuhkan kasih sayang dihati Ibu untukku' batinku seraya meneteskan airmata


"Kamu kenapa lagi nak kok nangis ?" tanya Budhe melihat aku menangis tanpa sebab


"Gapapa Budhe cuman keinget Ibu aja" sahutku


"Kenapa Ibumu ?" tanya Budhe penasaran


"Kangen aja Budhe, sudah lama sekali ga pernah main sama Ibu seperti Mbak Mumun bercanda dengan Ifa" sahutku sambil melihat kearah Mbak Mumun


"Sabar ya, pasti suatu saat akan terjadi. Yang penting, Gendis jangan sampai putus doain Ibu dan Ayah" nasehat Budhe


Liburan sekolah hanya aku gunakan untuk bantuin Budhe, dan bantuin tetanggaku yang butuh bantuan. Terutama yang punya usaha seperti membuat kue, kerupuk, ataupun catering lainnya.


Lumayanlah buat ngisi liburan, karena mengajak keluargaku liburan seperti ke pantai ataupun sekedar piknik seperti yang lain itu tidak mungkin. Kalau bantu - bantu usaha catering, aku selalu dapat uang sekalipun tidak banyak tetapi cukup buat uang jajan dan mengisi kegiatan liburan. Selain bantu - bantu usaha catering, aku juga bantu - bantu di usaha pernak pernik seperti pembuatan tas atau dompet. Sekalipun hanya bantu memberi hiasan pada proses finishing, tetapi ilmu yang di dapat sangat bermanfaat.


'Terkadang kita dapat ilmu bukan hanya dari sekolah, melainkan dari lingkungan sekitar juga' itu yang sering guru agamaku ucapkan, agar kita selalu semangat belajarnya.


Aku ingin menjadi orang sukses, agar suatu saat Ibu dan kakak perempuanku menyayangiku hanya itulah cita - citaku.

__ADS_1


__ADS_2