AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
NYARIS


__ADS_3

Matahari terbit dengan cerianya, aku sudah berjanji dengan Budhe mau menemaninya jalan - jalan di pagi hari. Aku dari sebelum subuh sudah beberes rumah, agar tidak kena marah oleh Ibu. Saat aku menuju ke rumah Budhe, aku lihat Lek Abdul keluar dari rumah Budhe.


'Ish mau kemana itu orang, sepagi ini udah rapi kayak orang mau berangkat kerja. Padahal ini hari kan hari libur' batinku


"Assalamu'alaikum" ucapku


'Kok tumben sepi, apa di dapur ya' batinku, karena tidak ada sahutan saat masuk ke rumah Budhe


"Ih kamu itu, ngagetin aja" ucap Mas Udin terkejut. Saat aku tepuk pundaknya waktu baru keluar dari kamar mandi.


"Mas yang aneh, tiba - tiba kaget gitu kayak dipegang setan saja" sahutku sambil tertawa melihat ekspresi Mas Udin.


"Budhe kemana Mas ?" tanyaku


"Ada di dalam kamar" sahutnya, aku kemudian berlalu ke kamar Budhe.


"Budhe Pakdhe" ucapku sambil mencari.


'Kamar sepi gini bilang di kamar, gimana sih Mas Udin itu' batinku


"Ga ada ini Mas" ucapku


"Apanya ga ada" sahut suara dari arah pintu


"Eh Budhe dan Pakdhe, tadi kata Mas Udin Budhe di kamar Gendis cari ga ada. Memangnya Budhe sama Pakdhe dari mana ?" tanyaku


"Tadi habis salat di mushalla, Mas Udin tadi belum bangun jadi ga tau" sahut Budhe


"Budhe jadi mau ditemenin jalan pagi ?" tanyaku


"Iya jadi, sebentar Budhe ganti baju dulu" sahutnya sambil berlalu


"Apa Mas Udin jadi ikut nemenin juga ?" tanyaku


"Semalam bilang sama Budhe sih gitu, coba kamu tanyakan lagi" sahut Budhe


"Mas, jadi ikut jalan pagi ?" tanyaku kepada Mas Udin, yang kebetulan berpapasan di depan kamar Budhe


"Jadi dong, ini Mas mau ganti baju" sahutnya


"Pada mau kemana nih ?" tanya Mbak Mumun yang baru pulang belanja


"Nemenin Budhe jalan Mbak, biar ada gerak dan menghirup udara segar" sahutku


Aku berjalan di pinggir pematang sawah, sambil lompat - lompat kecil menikmati udara yang masih sangat bersih. Sedangkan Budhe dan Mas Udin, berjalan di jalan yang belum sama sekali terjamah yang namanya aspal. Begitu segar dan sejuk, terlebih masih belum dikotori oleh polusi yang berasal dari kendaraan bermotor. Sekalipun ada kendaraan bermotor, hanya satu dua sepeda motor yang lalu lalang. Sedangkan mobil, nyaris tak ada yang lewat.

__ADS_1


"Kamu tiap minggu pagi seperti ini Dis ?" tanya Mas Udin


"Ga, Gendis kesini kalau banyak teman. Tetapi kalau ga ada teman Gendis cuman lari pagi di area kompleks selatan" sahutku


"Kalau kesini ga ada temannya Gendis ga berani soalnya sepi" sambungku, Budhe dan Mas Udin cuman mengangguk - angguk.


"Memangnya kalau di kompleks selatan rame ya ?" tanya Mas Udin


"Ramelah, disana kan ada lapangan bolanya juga. Yang main juga anak sinian juga kok" sahutku


"Aku kalau ga ke kompleks selatan palingan ke alun - alun" sambungku


"Naik apa kesana ?" tanya Mas Udin


"Ya larilah, namanya juga olahraga" sahutku


"Emang ga capek ?" tanya Budhe


"Ga sih Budhe, soalnya sudah biasa. Kalau awal - awal sih kakiku terasa sakit, kalau jalan rasanya ga kuat tetapi lama - lama terbiasa juga" sahutku


"Oh, pantes dulu aku sering denger kamu dimarahi sama Mbah, jadi karena itu" ucap Mas Udin


"Galah, kalau pas dimarahi Mbah itu karena aku kesleo. Ga langsung minta pijet sampe bengkak banget" sahutku


"Ga, habis main kasti di sekolahan. Waktu lari terkilir ga tau kalau tanahnya berlubang hehehe" sahutku


"Ish, makanya kalau apa - apa itu hati - hati" ucap Mas Udin.


Kami duduk - duduk di bahu jembatan kecil, menikmati alam dan sejuknya udara pagi. Mas Udin terlihat sesekali melakukan pelenturan, dan Budhe hanya jalan di tempat melemaskan kaki. Tiba - tiba aku melihat sepasang manusia yang aku kenal.


'Aduh ngapain mereka lewat sini, semoga saja Mas Udin dan Budhe ga lihat' batinku


Saat aku melirik ke arah Budhe, ternyata beliau terlihat memperhatikan kedua orang itu. Sedangkan Mas Udin, sibuk dengan pelenturannya. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa memegangi pundak Budhe. Tiba - tiba Budhe menarikku agar berdiri disebelahnya, aku paham agar aku menutupi keberadaan mereka dari Mas Udin. Tetapi tenyata salah, mereka malah pergi dan melewati kami entah mereka sadar atau tidak.


"Loh itu bukannya Mas Abdul ya ?" tanya Mas Udin yang melihat mereka berlalu


"Mana Mas" tanyaku pura - pura tidak tahu


"Barusan yang lewat, tetapi sepertinya dengan perempuan lain" sahutnya


"Kamu salah lihat mungkin" sahut Budhe


"Ga Mi, baju, sepeda, dan mukanya sama" sahutnya


"Memang dealer dan toko baju punya 1 stok saja" sahut Budhe, aku tertawa mendengar ucapan Budhe

__ADS_1


"Iya Mas, kalau muka bisa saja mirip kan" tambahku


"Iya mungkin" sahut Mas Udin mengalah


"Ayo pulang, matahari sudah agak tinggi" ajak Budhe dan kami menuruti


"Masak sih aku salah lihat ?Aku yakin banget dia sama perempuan lain Mi" ucap Mas Udin tak percaya


"Apa benar kamu tidak melihatnya Dis ?" tanyanya padaku, aku kemudian menatap Budhe yang seolah bilang untuk dirahasiakan


"Nggak Mas, mungkin tadi kebetulan saja mirip" sahutku


"Ga mungkin Dis" sahutnya tak mau kalah


"Ya sudah, nanti nyampe rumah kita liat Mbakmu ada atau tidak. Kalau tidak ada, berarti benar dan mungkin ingin jalan - jalan berdua" sahut Budhe


"Perempuan itu bukan Mbak, Mi. Tetapi orang lain, dan ga bawa anak. Kalau memang itu mereka terus kenapa Ifa ga diajak ?" kekehnya


"Ya mungkin saja bersama Abimu" sahut Budhe meyakinkan


"Apa mereka mau main api dengan Abimu, menitipkan Ifa tetapi mereka malah asyik jalan - jalan" sahut Budhe


'Semoga aku tidak didesak terus - terusan sama Mas Udin' batinku


"Kamu yakin, ga lihat orang itu lewat" selidik Mas Udin


"Beneran Mas, Gendis ga lihat. Tadi Gendis sibuk bercanda dengan Budhe, iya kan Budhe" sabutku mencari pembelaan


"Sudahlah Ud, kamu cuman salah lihat saja. Kalau ada apa - apa dengan Mbakmu, pasti dia cerita" sahut Budhe


"Ga mungkin Mi, bahkan belum tentu juga Mbak tau kelakuan suaminya dibelakangnya" sahut Mas Udin


"Feeting perempuan itu tajam Ud, jangan meremehkan Mbakmu. Kalau misal suaminya ada apa - apa diluar pasti dia merasa" sahut Budhe


"Biar nanti Udin tanya pelan - pelan" sahut Mas Udin.


Sesampai di rumah, Budhe menyuruhku sarapan disana. Katanya pengen makan bareng aku, alasannya sudah lama tidak makan sama aku.


"Dis, rahasiakan ini semua dari Mas Udin, Pakdhe dan Mbak Mumun" ucap Budhe


"Sejak kapan Budhe tau hal ini ?" tanyaku


"Sejak sebelum Budhe sakit, tetapi suatu saat akan Budhe ungkap sendiri kelakuan mereka selama ini" tekat Budhe


"Kamu pasti tahu waktu bebenah tempo hari, kan. Saat Budhe masuk rumah sakit ?" ucap Budhe. Aku hanya mengangguk mengiyakan yang Budhe katakan

__ADS_1


__ADS_2