AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
APA YANG MEREKA LAKUKAN ?!?


__ADS_3

"Budhe kenapa lagi Mbak" tanyaku pada Mbak Mumun yang menangis


"Mbak ga tau Dis, tadi pas masuk tiba - tiba Umi sudah tergeletak seperti ini" sahutnya sambil menangis


"Orang rumah kemana semua Mbak, jam segini kok masih sepi" tanyaku bingung mau apa


"Udin sama Abi masih belum pulang, Ayah Ifa tadi sudah pulang mungkin ada di rumah sebelah" sahutnya.


Rumah Budhe dengan rumah mertua Mbak Mumun bersebelahan, jadi suami Mbak Mumun lebih sering ada disana kalau di rumah Budhe tidak ada orang.


"Gendis tolong carikan tukang becak, biar Umi bisa langsung dibawa ke klinik" perintah Mbak Mumun, aku langsung pergi tanpa menjawab.


Setiba di klinik, Mas Udin dan Pakdhe ternyata ikut menyusul. Katanya diberitahu sama suaminya Mbak Mumun kalau Budhe pingsan dan dibawa ke klinik. Aku melihat Mbak Mumun yang menggendong Ifa sambil menahan tangis, merasa bingung karena aku dan Mbak Mumun sama - sama tidak memberitahu suaminya. Sedangkan tadi pas berangkatpun tidak ada tetangga juga yang tau, karena kebanyakan dari mereka bekerja atau mungkin sedang tidur siang.


'Siapa yang memberitahu suami Mbak Mumun ya, kok dia yang ngasih tau Pakdhe kalau kita yang bawa Budhe ke klinik. Padahal aku ke rumah Budhepun ga ada orang ?' batinku heran.


Tak berapa lama, dokter memanggil Pakdhe untuk menjelaskan semuanya. Aku melihat Budhe masih terbaring di kasur klinik masih belum sadar. Disaat Pakdhe keluar dari ruangan dokter, Pakdhe marah kepada Mbak Mumun.


"Kamu bilang Umimu pingsan di depan kamar, kenapa kamu membohongi Abi hah ?" bentak Pakdhe kepada Mbak Mumun


"Maksud Abi apa ?" tanya balik Mbak Mumun, yang sama - sama bingung denganku


Ternyata kata dokter Budhe terbentur cukup keras, kemungkinan saat terpeleset di kamar mandi terbentur bak mandi, tembok atau kloset di bagian kepala. Maka dari itu harus dirujuk ke rumah sakit dan sekarang ambulans rumah sakit sedang menuju kesini.


"Bisa - bisanya kamu mengganti dulu baju Umimu, tanpa mengganti ********** yang basah. Dan bisa - bisanya kamu bilang Umimu pingsan didepan kamar " marah Pakdheku, Mbak Mumun masih bingung tidak mengerti.


"Tapi Pakdhe, pas Gendis nyampe rumah memang Budhe tergeletak di depan kamar bukan di kamar mandi. Waktu Gendis tanya kemana yang lain, Mbak Mumun bilang kalau Pakdhe dan Mas Udin belum pulang. Sedangkan suaminya mungkin di rumah ibunya, karena hanya ada Mbak Mumun yang sedang gendong Ifa yang Gendis lihat. Sepertinya tetangga sedang tidur siang, karena tidak ada orang sama sekali di luar" sahutku membela Mbak Mumun. Aku tidak tega melihat Mbak Mumun yang sedih dan bingung dengan amarah Pakdhe

__ADS_1


"Kamu ga bohong Dis ?" tanya Pakdhe kini dengan wajah yang bingung dan bertanya - tanya.


"Sumpah Pakdhe, malah aku lari - lari nyari becak buat bawa Budhe kesini. Lagian apa untungnya Gendis bohong" sahutku, aku cuman merasa ada yang aneh dengan suami Mbak Mumun tapi aku diam


"Kalau Gendis bohong, berartikan Gendis ga sayang sama Budhe, berartikan Gendis ingin Budhe ga sembuh - sembuh" tangisku, sambil melihat tubuh lemas Budhe yang tak kunjung sadar.


Saat ambulans datang, aku ingin ikut menemani Budhe tetapi tidak diizinkan oleh Pakdhe. Dan diminta pulang untuk menyiapkan segala keperluan di rumah sakit. Mbak Mumun juga tidak bisa ikut, karena membawa Ifa takutnya kenapa - kenapa. Aku dan Mbak Mumun pulang naik becak, sesampai di rumah Budhe aku menyiapkan beberapa barang yang diperlukan di rumah sakit. Aku celingukan keluar kamar, karena seperti ada orang berbicara sesekali tertawa. Pikirku mungkin Mbak Mumun lagi menggoda Ifa yang sudah bangun, aku melanjutkan menyiapkan beberapa baju ganti, bantal dan selimut. Saat aku melewati kamar Mbak Mumun, ternyata Ifa masih tertidur dan Mbak Mumun sepertinya ikut tertidur karena kelelahan.


'Terus barusan suara orang tertawa dan berbicara siapa ?' batinku


Rasa penasaranku membesar ketika suara itu masih ada, aku mengintip dari jendela kamar Budhe. Ternyata apa yang aku lihat membuat aku terkejut dan tidak menyangka.


"Dis, keperluan Umi yang mau Mas bawa mana ?" tanya Mas Udin mengagetkanku


"Ah itu di depan Mas, sudah aku taruh di ruang tamu tinggal bawa saja" sahutku tersadar


"Kamu kenapa Dis ?" tanya Mas Udin menyelidik


"Gapapa Mas, Gendis ikut ya ke rumah sakit. Biar Mas ga kesulitan bawanya" pintaku kepada Mas Udin


"Iya ayo, sekalian bawa tikar juga buat alas" sahutnya


Aku dan Mas Udin naik angkutan umum menuju rumah sakit, di depan kami ada anak muda yang bercanda persis seperti waktu aku lihat dari kamar Budhe tadi. Sesampai di rumah sakit, aku berjalan mendahului Mas Udin yang membayar angkutan umum


"Dis, kamu kenapa daritadi ngelihatin orang yang lagi pacaran saja ?" tanya Mas Udin


"Gapapa Mas, Gendis ga ngelihatin kebetulan aja Gendis duduk di depan mereka" sahutku

__ADS_1


"Apa kamu kenal dengan yang cowok, atau yang cowok itu pacarmu ?" tanya Mas Udin


"Ish Mas Udin apaan sih, mana boleh masih kecil pacaran itukan dosa. Lagian kalo Gendis masih kecil sudah pacaran, yang ada Gendis mati di gantung sama Ibu" sahutku, sambil bergidik ngeri dan Mas Udin hanya mengangguk


"Terus kenapa tadi melihatnya seperti itu hayo " tanya Mas Udin lagi


"Ga ada apa apa Mas, Gendis cuman kebetulan berada di depan mereka. Jadi, ya seperti melihat mereka Mas" sahutku menutupi.


Memang, aku tidak pandai menutupi apapun di depan Mas Udin, Budhe, dan mas Edi. Tetapi, kalaupun aku mau berkata jujur, aku juga bingung mau bercerita seperti apa kepada Mas Udin dan lagi aku takut hanya salah lihat.


"Mas, kok Mas Udin tau kalau mereka pacaran, siapa tau mereka cuman teman atau saudara" tanyaku kepada Mas Udin


"Ya taulah Mas gitu loh" sahutnya


"Ish Mas kalau ditanya bukannya jawab yang bener malah gitu " sahutku kesal


"Apa mereka satu sekolahan dengan Mas ?" tanyaku


"Yang perempuan itu waktu SMP adik kelasnya Mas, makanya Mas tau" sahutnya


"Oh gitu, terus Mas tau darimana kalau mereka sekarang pacaran, bukannya saudara seperti kita" tanyaku menyelidik


"Ya taulah, kalau kakaknya si perempuan itu satu sekolahan sama Mas dan sering cerita - cerita gitu" sahutnya


"Ish kakak kok nyebarin aib adiknya, itu namanya kakak durhaka bukannya ngasih tau adiknya malah disebar - sebarin" sahutku ketus


"Gendis ingatkan, Umi kan pernah nasehatin kita kalau ada orang yang bercerita kepada kita, mungkin dia bukan menyebarkan aibnya sendiri. Mungkin dia meminta solusi dalam memecahkan sebuah masalah. Jadi, Gendis ga boleh su'udzon sama orang ya" nasehat Mas Udin, aku hanya mengangguk mengiyakan nasehatnya

__ADS_1


__ADS_2