AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
SKANDAL


__ADS_3

"Ria kamu ini kenapa ?" tanya Ibu yang melihat Mbak Ria senyum - senyum sendiri


"Gapapa, memangnya kenapa Bu ?" sahutnya


"Ibu perhatikan, kamu daritadi senyum - senyum sendiri ada apa ?" tanyanya


Mbak Ria bercerita semua kepada Ibu, yang ternyata dia sedang jatuh cinta. Dengan menggebu - gebu, Mbakku menceritakan dari awal mereka berkenalan sampai dia jadian.


'Pantas saja aneh ternyata lagi kasmaran' batinku


Mas Edi yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti, kenapa Mbak Ria berubah seperti itu.


"Kamu jangan pacaran dulu, sekolah yang bener. Setelah lulus, mikirin kuliah kamu harus sekolah yang tinggi agar jadi orang sukses. Karena hanya kamulah satu - satunya harapan Ibu" ucap Ibuku menasehati Mbak Ria, tetapi membuat wajah Mas Edi berubah sedih.


"Anak Ibu kan ga cuman aku, ada Mas dan Gendis. Kenapa harus aku yang satu - satunya harapan Ibu ?" tanya Mbak Ria dengan wajah kecewa


"Karena Mas Edi memilih bekerja untuk membantu biaya sekolahmu dan anak tidak tau diuntung itu. Sedangkan kamu, satu - satunya kesayangan Ibu" ucap Ibuku.


Aku yang mendengarnya hanya bisa diam, menangispun untuk apa. Bahkan, namaku saja hanya disebut sebagai anak tidak tau diuntung atau anak tidak tau diri. Hanya 2 nama itu yang Ibu sebutkan saat membicarakanku. Hanya satu pintaku kepada Allah, semoga Ibu dibukakan hatinya untuk menyayangiku, seperti Ibu menyayangi kakak - kakakku.


Keesokan harinya, aku berniat mengunjungi Budhe. Aku ingin tau gimana kondisi Budheku, karena ada rasa khawatir di hatiku.


"Assalamu'alaikum" ucapku


'Kok sepi, kemana semua ini orangnya kok tumben - tumbenan sepi. Biasanya kalo keluar pintu di kunci' batinku bingung saat masuk rumah Budhe.


"Budhe, Mas Udin, Mbak Mun" panggilku, jam segini Pakdhe pasti belum pulang.


Saat aku menuju ke dapur, ternyata Budhe berdiri disana seperti orang menahan marah.


'Kenapa Budhe kok malah diam disana ?' batinku penasaran. Betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang sangat amat tidak pantas dari sana.


"Budhe" sapaku lirih, sambil memegang pelan bahunya agar tidak terkejut.


Budhe menatapku pelan, dan melihat lagi ke arah adegan itu seolah menyuruhku melihatnya juga. Adegan yang sangat tidak pantas di lihat olehku, dan tidak pantas dilakukan oleh siapapun. Bahkan, pasangan suami istripun tidak sepatutnya melakukan hal seperti itu di ruangan terbuka. Ya, Budhe melihat menantu dan bu Fatima sedang melakukan penyatuan.


"Budhe ayo di kamar saja" ajakku, Budhe hanya mengangguk dan melangkah masuk.


"Budhe sudah makan ?" tanyaku


"Belum, tadi Budhe mau ambil makan tetapi... " Budhe diam dan berubah menjadi sedih


"Gendis ambilkan ya" ucapku sambil menuju dapur. Aku mencari - cari sesuatu agar aku bisa melempar kamar mandi itu, yang tanpa atap dan hanya menggunakan pintu dari seng.

__ADS_1


'Ah pakek itu saja' batinku, sambil memungut biji salak disamping kompor. Setelah selesai mengambilkan makan siang Budhe.


PRANG


Orang yang lagi di dalampun langsung terkejut, akupun langsung menunduk agar tidak ketahuan.


'Rasain' batinku menahan tawa dan sambil berjalan menunduk


Sesampai di kamar Budhe, aku masih senyum - senyum menahan tawa membayangkan ekspresi mereka.


"Kenapa Dis ?" tanya Budhe heran melihatku. Akupun menceritakan kejadian yang terjadi saat aku ke dapur, Budhe yang mendengarnya tidak kuasa menahan tawa.


"Kamu usil sekali Dis" ucap Budhe


"Habisnya kesel Gendis Budhe, mereka itu selalu ga tau tempat. Heran, padahal sudah tua tetapi kok seperti hilang akalnya" sahutku


"Kalau sudah kerasukan setan, ya seperti itu nak tidak peduli sekitar dan sudah tertutup akalnya" ucap Budhe lembut


"Makanya, kamu jaga salatmu dan jangan asal sembarangan salat, agar kelakuanmu terjaga. Sekalipun orang itu berilmu tinggi, tetapi niatnya tidak bersungguh - sungguh pasti kelakuannya juga tidak terjaga. Karena fikirannya diliputi oleh godaan setan" ucap Budhe


"Budhe udah berapa lama tadi berdiri di dapur ?" tanyaku


"Cuman sebentar terus kamu datang" sahutnya


"Budhe kaget dan rasanya tidak kuat berjalan" sahutnya sedih


"Apa mereka juga yang membuat Budhe masuk rumah sakit tempo hari ?" tanyaku memberanikan diri, Budhe hanya diam dan makan akupun tidak memaksa Budhe bercerita.


"Mbak Mumun kemana Budhe ? Kok rumah sepi tadi pas Gendis masuk " tanyaku


"Mbakmu ke klinik, diantar Mas Udin memeriksakan Ifa, badannya panas " sahutnya, aku kembali ke belakang mengambil sapu mau bersihin rumah budhe


"Mau kemana Dis ?" tanya budhe


"Mau ambil sapu, biar Mbak Mumun nanti pulang dari klinik rumah sudah bersih. Kasian Mbak Mumun, pastinya Ifa ga mau ditinggal kalau lagi sakit" sahutku


"Kamu jangan cerita ke Mbakmu ataupun ke Pakdhe ya kejadian tadi, kasian mbakmu sudah banyak pikiran. Takutnya malah ikutan sakit juga, seperti Budhe dan kalau Pakdhemu juga tau pastinya dia bakalan marah besar" ucap Budhe agar aku merahasiakan


"Tetapi Budhe, kalau misal suatu saat Pakdhe tau sendiri dan menanyakannya ke Budhe atau Gendis gimana ?" tanyaku


"Nanti Budhe atur" sahutnya


Tiap kali Ifa sakit, pasti Mbak Mumun tidak tidur. Dulu, waktu Budhe sehat selalu gantian dengan Budhe. Sejak Budhe sakit, Mbak Mumun selalu begadang sendirian. Sekalipun Budhe terjaga, tetapi beliau hanya menemani Mbak Mumun saja karena Budhe juga butuh istirahat. Untuk bersih - bersih rumah, biasanya nunggu Ifa bisa di taruh. Terkadang Mas Udin, itupun kalau Mas Udin tidak ada kegiatan lagi. Entah apa alasan suami Mbak Mumun tidak pernah mau mengantarkannya kalau ke klinik.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Mbak Mumun dan Mas Udin


"Wa'alaikumsalam" sahutku


"Eh Gendis, udah daritadi ?" tanya Mbak Mumun,


"Iya Mbak" sahutku, kemudian Mbak Mumun langsung masuk kamarnya


"Kamu ga kelihatan ayahnya Ifa Dis ?" tanya mbak Mumun


"Ga Mbak, tadi Gendis kesini rumah sepi cuman ada Budhe di dapur mau ambil makan" ucapku


"Oh, mungkin di rumah mertua" ucapnya


"Tadi katanya Mas ga enak badan ke Mbak, kok malah ga ada di rumah" sahut Mas Udin


"Mungkin minta pijetin ke ibunya Din, kan ga mungkin minta pijet sama Mbak. Disaat Ifa sakit seperti ini" sahut Mbak Mumun


'Kasian Mbak Mumun, dibohongi terus - terusan sama suaminya. Sayang, tadi Budhe tidak membolehkanku cerita kejadian tadi pada Mbak Mumun' batinku


"Dis kalau sudah selesai nyapu, Mbak minta tolong belikan pisang ya" ucapnya


"Iya Mbak" sahutku


'Mbak, kalau saja Mbak tau kelakukan suamimu. Apa kamu mau bersabar dan menerima suamimu itu ?' batinku


"Kamu kemarin kenapa tidak kesini Dis ?" tanya Mas Udin


"Gendis banyak tugas Mas" sahutku asal


"Apa sekarang kamu tidak ada tugas" tanyanya


"Ga ada Mas" sahutku


"Dis, apa kamu menyembunyikan sesuatu ?" tanya Mas Udin kepadaku, saat aku berada di dapur mau mencuci piring.


"Ga ada Mas, memangnya kenapa ?" tanyaku was - was


"Aku dengar Lek Abdul bicara sama Ibumu. Dia tidak memperbolehkan kamu kesini" ucapnya


"Kapan Mas ?" tanyaku


"2 hari yang lalu waktu Ibumu pulang setelah jenguk Umi" ucapnya

__ADS_1


__ADS_2