
Entah kenapa, aku selalu diperlakukan seperti anak tiri oleh ibuku. Aku hanya terdiam didalam kamar sepulang dari rumah Budhe
"Aku beli ini tadi di pasar malam, baguskan? tadi dikasih uang Ibu buat beli jajan sekalian beli baju ini" Mbak Ria memamerkan baju yang baru ia beli, aku hanya menyahutinya dengan anggukan.
"Makanya bantuin Ibu biar dikasih uang dan dituruti apa yang kamu mau" tambah Mbak Ria
"Tapi aku kan sudah setrika baju, beberes rumah, sama cuci piring Mbak" jawabku dengan nada malas
"Itu bukan bantuin tapi itu memang tugas kamu, siapa suruh mau jadi anak bungsu ya sudah kerjakan semua itu. Kalau perlu nyuci baju sama belajar masak biar Ibu ga capek nyuci baju" ketus Mbak Ria
"Aku kan masih 8 tahun kenapa harus aku semua yang kerjakan, Mbak aja yang nyuci sama masak kan Mbak lebih tua daripada aku" protesku pada Mbak Ria.
Selama ini, dia pulang sekolah bantuin Ibu jualan sama Mas Edi, pulang jualan kalau tidak ada tugas dari sekolah dia main. Sedangkan yang beberes rumah, cuci piring, sama nyetrika itu dikasihkan ke aku oleh Ibu.
"Kamu tuh protes terus, kalo ga mau ya ga usah dikerjakan, tinggal saja di panti asuhan biar ga jadi beban Ibu dan Ayah" jawab Mbak Ria dengan nada tinggi.
"Ada apa ini kok ribut sudah malam gini" tanya Ayah yang sudah ada Ibu juga berdiri disamping beliau.
"Ini loh Pak, Gendis dikasih tau malah ngeyel terus" jawab Mbak Ria
"Kamu tuh kebiasaan ya, kalau dikasih tau yang lebih tua itu dengerin, ga usah banyak bantah, ga tau diri kamu itu" jawab ibu dengan nada tinggi.
Aku hanya diam menunduk tiba - tiba air mataku lolos melewati pipi.
"Dikasih tau malah nangis, bisanya cuman nangis terus" sahut ibu lagi. Mbak Ria hanya tersenyum sinis melihatku dimarahi ibu
"Sudah malam - malam kok malah ribut malu didengar tetangga" jawab ayah menghentikan perdebatan yang hanya menyalahkan aku tanpa tau kebenarannya.
Aku kembali ketempatku tidur aku biasa tidur dikamar Mas Edi, kalau sudah tertidur baru aku dipindah entah sama ayah ataupun mas Edi sendiri. Mas Edi pergi ke pengajian rutin yang selalu ia ikuti bersama para pemuda lain di kampungku. Tiap Sabtu malam itulah rutinitasnya, sedangkan tiap hari dia sibuk belajar maklumlah dia sudah kelas 3 SMK.
'Untung tadi ga ada Mas Edi, kalau ada pasti sudah ditampar mulut Mbak Ria' batinku.
Pernah suatu hari aku tidak sengaja menjatuhkan gelas, dan mbak Ria memakiku sampai nyuruh aku pergi dari rumah, serta tinggal di panti katanya biar tidak merugikan. Dan saat itu ada Mas Edi di rumah, dia yang mendengar kata - kata yang keluar dari Mbak Ria langsung menamparnya. Karena menurut Mas Edi secara tidak langsung mengajari aku sikap semena - mena.
Aku dan Mas Edi memang lebih sering berada di rumah Budhe daripada di rumah sendiri, jadi kita berdua selalu mendapat nasehat dan pelajaran dari Budhe.
"Dis,,,Gendis" suara Mas Udin terdengar memanggilku saat aku berada dikamar mandi
"Ada apa le ?" sahut ibuku dari dalam, sehingga masih terdengar olehku yang masih di kamar mandi
"Anu Lek, Umi mau ngajak Gendis ke pasar malam sekalian sama aku" jawab Mas Udin
"Gendis lagi ga enak badan le, badannya panas sama diare, daritadi bolak balik kekamar mandi" kebohongan ibuku kepada Mas Udin membuatku sedih
'Kenapa ibu bilang seperti itu, padahal aku sehat - sehat saja' batinku
Ya sekalipun kami tinggal di kampung, di kamar mandi kami memiliki toilet sendiri sekalipun itu bukan buatan dari pabrik. Karena ayahku takut terjadi kenapa - kenapa sama anaknya kalau mesti ke toilet umum malam - malam.
"Oh begitu ya Lek kalo gitu aku pulang dulu lek" pamit Mas Udin, ingin rasanya aku berteriak agar Mas Udin tidak meninggalkan aku.
Sekeluarnya aku dari kamar mandi gagang kemocenglah yang mendarat di kedua kakiku.
"Kenapa kamu minta ke budhemu buat ke pasar malam, dasar ga tau diri bikin malu orang tua" marah ibuku kepadaku
"Aku diajak umi bukan aku yang minta ke umi" jawabku ke ibu sambil menahan kaki
"Selalu aja bantah" sahut ibu, dengan satu sabetan mendarat dipunggungku. Aku hanya menahan rasa sakit dengan tangisan.
"Sudah sudah" bentak ayahku melerai aksi ibuku
__ADS_1
"Liat anakmu yang selalu kamu manjakan ga tau diri ga tau malu" sungut ibuku
Aku hanya diam sambil menahan perih akibat sabetan kemoceng. Aku sering berfikir 'Apakah aku anak tiri? Kenapa aku sering diperlakukan seolah aku anak tiri? Kalau memang aku bukan anak kandung siapa ibuku?' Selalu hal itu yang hadir dipikiranku saat aku mengalami ketidakadilan dari ibuku.
Aku tidak tahu penyebab ibu seperti tidak suka padaku, bahkan selalu mengutamakan Mbak Ria. Dari kasih sayang, keperluan sekolah, bahkan uang jajan kami yang utama adalah Mbak Ria. Sempat aku berfikir untuk membantu menjajakan es milik Budhe, agar punya uang jajan dan kebutuhan sekolah, tetapi tidak diijinkan sama Budhe bahkan Mas Edi sempat marah.
"Tugas kamu hanya belajar bukan bekerja, kalau Ibu tahu kamu pasti kena marah" ucapan Mas Edi saat tau niatku menjajakan es milik Budhe.
Suatu hari, aku ingin membeli buku soal - soal kata guruku harganya sekitar Rp 25.000,- dan itu kumpulan soal dari kelas 1 sampai kelas 6 untuk semua mata pelajaran. Dimasa itu, uang segitu sangatlah besar, aku berfikir sejenak demi menambah pengetahuan dan meningkatkan nilai tak masalah bagiku. Mungkin uang yang aku tabung cukup, syukur - syukur kalo lebih jadi bisa membeli buku TTS untuk mengisi waktu daripada bosan. Sesampai di rumah, aku ambil celenganku yang aku taruh d iatas lemari, betapa terkejutnya aku melihat celenganku ada yang memotong. Semua keluargaku tau kalau celengan itu punyaku, yang aku isi dari sisa uang saku serta hasil membantu budhe ataupun orang lain. Aku lari ke dapur di dapur ada Ibu dan ayahku.
"Bu, yah, ada yang tau ga siapa yang motong celenganku ?" tanyaku pada mereka sambil menunjukkan celenganku yang sudah terpotong
"Nggak" jawab mereka serempak
"Apa ga kamu potong sendiri terus kamu lupa" jawab ibuku sambil motong bawang
"Nggak malah rencananya mau aku buka hari ini, karena mau aku belikan buku latihan soal, ttapi kok malah ada yang motong" jawabku dengan nada sedih
"Coba tanya kakakmu, siapa tau salah satu dari mereka" sahut ayahku
"Ga mungkinlah, mereka kan dapet jatah tiap abis bantuin kita jualan yah" sahut ibuku dengan nada sinis menatapku
"Iya aku coba tanya mereka dulu" sahutku masih dengan nada sedih dan mata yang mengembun
"Mas apa mas tau siapa yang merusak celenganku ?" tanyaku pada mas Edi saat berada di kamarnya
"Memangnya kenapa sama celenganmu ?" tanya balik Mas Edi kepadaku dengan nada heran
"Aku tadi rencananya mau beli buku, pas ambil celengan ternyata sudah ada yang merusaknya" sahutku yang masih sedih, tanpa aku sadari embun di mataku sudah terjatuh ke pipi
"Mas ga tau coba tanya Mbak Ria" sahut mas Edi
"Taulah" sahut Mbak Ria santai
"Siapa mbak" dengan cepat aku menyeka airmataku
"Aku" sahutan Mbak Ria kali ini membuat aku marah
"Mbak, aku itu nyelengi buat beli buku bukan buat Mbak ambil. Kalau Mbak mau punya uang minta sama Ibu dan Ayah bukan ngambil celenganku" marahku kepada Mbak Ria karena dengan entengnya dia ambil uangku
"Apa salahnya berbagi kepada kakak sendiri" jawabnya masih santai
"Bukan masalah berbagi, aku dapet uang itu ga cuma - cuma tetapi aku bantuin Budhe buat es untuk dijual abis itu sama Budhe aku dikasih upah. Aku juga dapat upah dari Mbak Mumun abis mijetin Mbak Mumun. Aku dapet uang dari tenagaku, bukan asal minta uang sama Ayah dan Ibu. Sekarang malah Mbak ambil seenaknya seperti pencuri, padahal uang itu mau aku buat beli buku" marahku sudah tak tertahan kepada Mbak Ria dengan airmata yang tak mau berhenti keluar
"Ada apa ini" tanya ayahku
"Yah Mbak yang motong celenganku dan ngambil semua isinya" jawabku dengan sesenggukan
"Apa benar yang dikatakan Gendis, Ria" tanya Ayahku pada Mbak Ria
"Iya Yah lagian apa salahnya kalo berbagi sih, cuman Rp 50.000,- aja ini ga sampe sejuta" jawab Mbak Ria seolah tak berdosa
"Mbak kan bisa minta ke ibu, uang segitu banyak buat aku, berbeda dengan Mbak yang selalu dikasih uang banyak sama Ibu" jawabku dengan sesenggukan
"Kenapa kamu ambil uang Gendis ?" tanya ibu pada Mbak Ria
"Bedakku habis, makanya aku pinjem uang Gendis buat membelinya, minta Ibu katanya Ibu ga ada uang" jawabnya dengan nada masih santai
"Bukan berarti Mbak ambil uangku gitu aja tanpa bilang ke aku, uang itu aku kumpulkan buat beli buku malah Mbak ambil seperti pencuri" jawabku dengan nada tinggi, karena tak kuasa mendengar bahwa uangku digunakan untuk membeli
__ADS_1
bedaknya
PLAK
Tamparan Ibu mendarat tepat dipipiku, terasa panas dan pedih hanya reflek memegang pipi sambil menangis yang aku bisa
"Mbakmu kan bilang pinjam kenapa kamu bilang mbakmu mencuri" bentak ibuku
"Mbak ga bilang sama aku kalo mau pakek uangku, padahal uang itu buat beli buku bukan buat beli jajan ataupun bedak" sahutku masih tak terima dengan perlakuan Mbak Ria
"Ibu selalu saja membela Mbak Ria sekalipun dia salah" tambahku lagi, selalu aku yang salah sekalipun saat itu Mbak Ria yang salah
"Kamu jadi anak ga tau diri, malah sekarang bantah orang tua. Ga tau diuntung, itu kan uang juga dari Ibu buat jajan kamu, apa salahnya mbakmu pakek uang itu juga toh dari Ibu juga" bentak ibu seolah membenarkan sikap Mbak Ria. Aku melirik Mbak Ria dia tersenyum puas karena dibela Ibu
"Aku tiap hari hanya dkasih 2000 sama ibu, sedangkan Mbak Ria 5000 belum lagi kalau bantuin Ibu selalu dikasih 15000. Itu uang aku kumpulin dari bantu - bantu Budhe buat es sama mijitin Mbak Mumun" jawabku karena masih kesal
PLAK
Lagi - lagi tamparan mendarat mulus dipipiku, Ayah dan Mas Edi hanya diam seolah membenarkan semua yang aku terima.
"Berani kamu bantah Ibu dan perhitungan dengan mbakmu dasar anak ga tau diri" bentak ibuku dengan nada tinggi
"Sudah sudah Gendis sana masuk kamar" sela Ayah dan menyuruhku masuk kamar
Aku masih menangis sesenggukan dan aku dengar dari dalam kamar ayah memarahi Mbak Ria tetapi Ibu terdengar masih membelanya hingga Ayah dan Ibu bersitegang. Aku lelah dengan sikap Mbak Ria yang selalu seenaknya sendiri padaku, tetapi selalu dibela ibu. Tak terasa sudah menjelang malam ternyata aku ketiduran saat menangis. Aku menuju ke kamar mandi, untuk kemudian menunaikan solat maghrib, dengan sisa sesenggukan dan mata yang masih sembab, kupaksakan untuk mandi biar terasa segar. Saat keluar, aku berpapasan dengan Mbak Ria rasa amarah kembali hadir karena sikapnya yang seenaknya sendiri.
"Ganti uangku besok" jawabku ketus tak peduli dia lebih tua daripada aku
"Enak aja minta sana ke Ibu kalau berani" jawabnya sengit
"Kamu yang ambil uangku Mbak dan bilang ke semua orang rumah hanya minjem ya kembalikanlah besok aku mau beli buku" jawabku dengan tegas
"Aku ga mau tau pokok besok uangku harus kembali" tambahku
"Minta saja sama Ibu aku ga punya uang" jawabnya ketus sembari melangkah ke kamar mandi.
Ingin rasanya aku dorong biar dia terjatuh dan stroke seperti tetanggaku, sikapnya yang mentang - mentang disayang Ibu jadi seenaknya sendiri.
Sudah 2 hari aku tidak ke rumah budhe setelah Mas Udin menyusul aku kerumah. Setelah solat maghrib aku putuskan kesana, toh pastinya Budhe sudah diberitahu Mas Edi tentang apa yang terjadi di rumah. Ya Mas Edi memang sering bercerita sama Budhe terlebih dengan ketidaksukaan Mas Edi terhadap Mbak Ria, dia selalu bersikap mentang - mentang karena dibela dan terlalu dimanjakan Ibu. Kami padahal bertiga, tetapi yang selalu dibela dan dimanjakan oleh Ibu hanya Mbak Ria dengan alasan yang tidak masuk akal menurutku. Sesampainya di rumah Budhe aku langsung ke dapur biasanya jam segini Budhe buat es.
"Assalamualaikum Budhe" jawabku sambil tersenyum sekalipun mataku masih sembab
"Wa'alaikumsalam, eh Gendis sini masuk nak" jawab Budhe yang selalu ceria. Aku langsung duduk disampingnya sambil mengambil plastik pembungkus es
"Sabar ya nak, kalau sabar dan ikhlas menerima semuanya pasti diberi ganti yang jauh lebih baik sama gusti Allah" nasehatnya sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang, dan aku hanya tersenyum menanggapinya sambil menahan airmata.
'Gusti andai aku bisa memilih aku lebih ingin menjadi anak Budhe saja daripada anak ibuku yang selalu membeda - bedakan aku' batinku sambil menahan airmata agar tak jatuh
"Budhe ga buat es roti" kualihkan pembicaraan agar tidak menangis lagi.
"Nggak es rotinya masih ada, besok aja buatnya. Budhe pikir kamu ga kesini Budhe ga ada yang bantuin kalo buat es roti, makanya Budhe cuman buat es ini" sahut Budhe dengan nada manja
"Maaf Budhe, Gendis ga kesini kemarin soalnya takut budhe tengkar sama Ibu. Nanti dikira Gendis cerita macem - macem sama Budhe" jawabku dengan nada menyesal, karena budheku sering dituduh membiarkan aku cerita macam - macam. Padahal yang sering cerita Mas Edi aku malah lebih suka diam sambil bantu - bantu Budhe
"Ga papa ibumu cuman salah paham ga usah dipikirkan" sahut Budhe dengan nada penuh kasih sayang
"Kamu sudah makan?" tanya Budhe
"Nanti makan dirumah saja Budhe, kasihan Ayah tadi sudah masak mubadzir kalau ga dimakan" jawabku sambil mengisi plastik pembungkus es. Es lilin Budhe sangat laku di semua kalangan, selain menggunakan gula asli esnya juga lembut
__ADS_1