AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
TERNYATA SALAH


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar berniat untuk belajar karena tidak ada kegiatan lagi. Sejak Budhe sakit, aku lebih sering ada di rumah. Dulu saat Budhe sehat, ada saja yang aku lakukan entah itu membantu membuat bingkisan, membuat es, ataupun membuat catering.


"Sudah pulang ?" tanya Mas Edi


"Iya baru saja" sahutku


"Mas kemarin lihat Lek Abdul di sebuah toko bersama dengan perempuan lain" ucap Mas Edi


"Terus" sahutku


"Mas tidak tau dia siapa, karena Mas kehilangan jejaknya. Tetapi saat keluar toko, mereka berjalan biasa saja tidak ada yang aneh Mas rasa itu temannya" ucapnya aku hanya mengangguk


"Tetapi Mas akan coba selidiki lagi" imbuhnya


"Tadi pagi Gendis, Mas Udin dan Budhe juga lihat Lek Abdul di daerah sawah sana. Gendis pikir hanya Gendis yang lihat, ternyata Budhe juga lihat. Setelah itu, Budhe narik Gendis biar menutupi pandangan Mas Udin dari mereka. Ternyata malah mereka lewat depan kami, sepertinya Lek Abdul ga sadar kalau ada kami. Mas Udin lihat dan menunjuk ke arah mereka, aku diberi isyarat oleh Budhe untuk menyangkal. Tetapi Mas Udin kekeh ga salah lihat setau dia Lek Abdul sama perempuan lain" ceritaku


"Berarti Budhe tau tentang Lek Abdul ? Terus siapa yang bersama Lek Abdul ?" tanyanya


"Iya, Lek Abdul bareng Bu Fatima. Tadi pas di rumah Budhe, Budhe menyuruhku merahasiakannya dari Mas Udin dan Pakdhe" sahutku


"Gendis bingung, kenapa Budhe malah membiarkan saja ? Terus gimana caranya Gendis merahasiakan dari Mas Udin, pastinya dia bakalan memastikan Gendis kalau tadi ga salah lihat" imbuhku


"Cerita apa sih kok serius banget ?" tanya Mbak Ria nimbrung


"Cuman cerita masalah di sekolah Gendis" sahut Mas Edi menutupi


"Oh, kirain lagi cerita apaan" ucap Mbak Ria


"Ada apa Ri, kok tumben masuk kamar Mas ?" tanya Mas Edi


"Ria mau ajak Gendis ke toko kain Mas" sahutnya


"Tumben ga bareng teman - temanmu ?" tanya Mas Edi yang sama herannya denganku


"Gapapa pengen aja, ayo Dis" ajaknya


"Tapi Gendis habis jalan pagi, pakek baju gini apa ga masalah ?" tanyaku yang masih pakek baju olah raga. Kalau bolak balik ganti baju pastinya dimarahi Ibu


"Gapapa, orang ke pasar saja beli kain" sahutnya


"Ya sudah ayo" ucapku


"Hati - hati dijalan Ri, jaga Gendis" nasehat Mas Edi


"Iya Mas, tenang saja" ucapnya


Saat perjalanan ke pasar, Mbak Ria banyak menanyaiku tentang keadaan Budhe. Dan tanya masalah keluarga Mbak Mumun, dan sedikit curiga dengan pertanyaan Mbak Ria. Hal yang ditanyakan malah bagaimana rumah tangga Mbak Mumun ? Apa Mbak Mumun dan Lek Abdul akur ? Dan masih banyak lagi. Aku hanya menyuruhnya bertanya langsung kepada Mbak Mumun, karena aku memang tidak tau menahu masalah keluarga Mbak Mumun. Mbak Ria juga banyak menawariku jajanan ini itu, terapi aku menolak dengan alasan kenyang. Bukan karena apa, tetapi aku belum bisa percaya penuh dengannya meski dia sudah baik kepadaku. Setelah pulang dari pasar, aku langsung beberes rumah khawatir malah dimarahi lagi sama Ibu.


"Kamu sudah pulang Ri ?" tanya Ibu sambil memasuki kamar Mbak Ria


"Sudah baru saja" sahutnya

__ADS_1


"Jadi beli kain seperti apa ?" tanya Ibu


"Ini Bu" sahutnya sambil menunjukkan


"Bagus, cocok sama warna kulitmu" ucap Ibu


"Besok antarkan saja ke langganan Ibu, jahitannya bagus orangnya juga ahli" ucap Ibuku


"Rencananya tadi mau langsung kesana, tetapi Gendis ga ingetin Ria buat bawa" sahutnya


'Tadikan bilangnya cuman minta temenin beli kain' batinku


"Kembaliannya masih ada ?" tanya Ibu


"Sudah habis buat jajan tadi" sahutnya


"Ibu kan sudah bilang ga usah ajak anak itu, bisanya cuman jajan ngabisin uang dasar anak tidak tau diri" marah Ibu tetapi Mbak Ria hanya diam saja tanpa memberi penjelasan


"Gendis Gendiiiiiiiiisssss" teriak Ibu


"Iya Bu" sahutku


"Kenapa kamu minta jajan segala sama Mbakmu, hah !!! Udah untung kamu diajak jalan - jalan sama Mbakmu ini malah ngabisin uang. Kamu kira cari uang itu tinggal nadah, sana cari uang di lampu merah sana. Buat ganti uang Mbakmu yang kamu habiskan" bentak Ibuku, aku hanya bisa menangis atas ucapan Ibu. Tetapi aku melihat Mbak Ria diam saja tanpa mengatakan yang sebenarnya


"Ada apa Bu ?" tanya Mas Edi yang baru masuk rumah


"lni Adikmu, diajak sama Ria ke pasar karena kasihan malah menghabiskan uang dasar tidak tau diri" ucap Ibu


"Kamu sudah tau anak tidak tau diri ini salah, masih saja dibela" sahut Ibu


"Edi tidak membela, tetapi meluruskan seolah Gendis yang minta ikut. Padahal Gendis yang dipaksa ikut oleh Ria" ucapnya


"Ria apa benar Gendis yang menghabiskan sisa uang yang Ibu berikan ?" tanya Mas Edi


"Apaan sih Mas, kalau memang ga percaya sama Ria ya sudah ga usah pakek bentak - bentak gitu" sewot Mbak Ria


"Mas tanya ga bentak, kamu tinggal jawab saja" sahut Mas Edi


"Kamu apa - apaan sih Ed, kok seperti itu kepada Adikmu sendiri ?" bentak Ibu


"Bu Edi ga bentak Ria, Edi cuman ingin Ria jujur bukan hanya selalu menyalahkan Gendis. Ria dan Gendis sama - sama Adikku. Bukankah mereka sama - sama lahir dari rahim Ibu ? Malah Ibu yang selalu membedakan mereka" sahut Mas Edi


"Dengarkan Ibu ya Ed, Ibu tidak suka dengan sikap kamu kepada Ria. Ria Adikmu dan Gendis, Ibu rasa anak tidak tau diri itu tidak perlu kamu bela mati - matian. Karena dia hanya anak yang tidak diharapkan camkan itu" ucap Ibu


"Ada apa ini, kenapa selalu seperti ini yang aku dengar" sahut Ayahku yang baru datang


"Untuk apa aku menjelaskan lagi, bukankah kamu sudah mendengarnya" ucap Ibuku


Aku langsung masuk kamar menutup telingaku, pastinya mereka akan bertengkar dan akulah yang menjadi bahannya.


FLASHBACK

__ADS_1


"Ibu pastelnya diambil Gendis Bu, lihat itu padahal Ria pengen pastel" rengek Mbak Ria


"Ya sudah, nanti Ibu belikan" sahut Ibu


"Ga mau, Ria maunya yang itu Bu" rengeknya


"Tadi Ria sudah bilang sama Gendis, kalau itu buat Ria malah Gendis makan" tambahnya


"Gendis kenapa pastel Mbakmu kamu makan ?" tanya Ibu


"Tadi kata Mbak Ria, Gendis pastelnya saja terus Mbak Ria ambil donut" sahutku


"Bohong Bu, dia tadi minta donut setelah donutnya habis dia malah makan pastelnya Ria" sahut Mbak Ria


"Tadi kan donutnya di makan Mbak Ria" sahutku


"Lihat Bu, Gendis sekarang sudah bisa mengarang cerita. Padahal dia yang makan donutnya, setelah habis malah makan pastel Ria" rengek Mbak Ria


"Gendis kenapa kamu nakal sekarang ? Sudah untung kamu Ibu rawat, malah nakal seperti ini kamu. Apa kamu tidak bisa bersikap baik hah ?" marah Ibu


"Tetapi ini Gendis ga bohong Bu" sahutku


"Kamu itu ya dasar anak tidak tau diri, kamu itu sudah untung kami besarkan. Dasar anak tidak tau terima kasih" bentak Ibu


"Ada apa ini ?" tanya Ayahku yang baru masuk rumah bersama Mas Edi


"Ini lihat, apa yang dilakukan Gendis. Dia serakah, tidak tau terima kasih, tidak tau diri, tidak tau diuntung sudah dibesarkan malah serakah. Lihat, Ria dibuat nangis karena donut dan pastelnya dimakan sendiri sama Gendis. Tadi sudah ditawari, dia memilih donut dan Ria memilih pastel malah setelah donutnya habis makan pastel milik Ria. Apa itu bukan serakah namanya ? Eh, ini malah dia tidak mengakui salahnya, apa itu namanya kalau tidak tau diri" sahut Ibuku


"Hanya masalah makanan sikapmu sama anakmu seperti itu ?" ucap Ayahku


"Dia bukan anakku, aku tidak sudi memiliki anak tidak tau diri, serakah, dan tidak diuntung seperti dia" ucap Ibuku


"Tetapi Gendis tidak bohong Bu, tadi Edi lihat sendiri Ria makan donut di teras" sahut Mas Edi


"Kamu ya, apa kamu diberi makan sama anak serakah itu ? sampai membantunya menyalahkan Ria" ucap Ibu


"Edi ga membela, tetapi Edi mengatakan apa yang Edi lihat Bu" sahut Mas Edi


"Itu masalah makanan, kenapa harus seheboh ini ? Dia juga anakmu, kenapa kamu sangat membedakan ?" ucap Ayah


"Aku tidak sudi memiliki anak seperti dia, dan lagi aku nyesel mengandung dan melahirkan dia" sahut Ibuku


"Bu kamu keterlaluan sekali ngomongnya, apa seperti itu cara ngomong seorang Ibu ?" sahut ayahku


"Aku sudah bilang, dia bukan anakku aku tidak sudi punya anak seperti dia. Salahmu dulu memaksaku mengandung lagi" sahut Ibuku


"Kamu..." bentak Ayah kemudian meninggalkan Ibu


"Lihat itu, karena ulahmu Ibu dan Ayah bertengkar" ucap Mbak Ria


"Sudah Ri, ini semua karena kamu bukan salah Ria" sahut Mas Edi, sambil memelukku yang masih sesenggukan

__ADS_1


FLASHOFF


__ADS_2