AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
KESEDIHAN MAS EDI 2


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku juga tidak melihatnya entah kemana perginya Mas Edi. Aku baru semalam yang melihat kesedihan Mas Edi, biasanya dialah yang paling ceria. Sekalipun dia juga dianaktirikan oleh Ibu, tetapi dia yang mengajariku agar tetap ceria, sabar dan ikhlas menghadapi semuanya.


"Masmu berangkat pagi lagi hari ini ?" tanya Ayah kepadaku


"Ga tau Yah, sepertinya dari semalam Mas ga pulang" sahutku


"Tadi kamu ke rumah Budhemu, memang ga ketemu ?" tanya Ayahku lagi


"Ga, mungkin belum pulang dari masjid" sahutku


"Tumben anak itu" ada guratan khawatir di muka Ayah.


"Mungkin dia tidur di rumah temannya, sekalian pamitan kan mau kerja di pabrik" sahut Ibuku yang dari tadi mendengarkan


"Mas boleh kan ?" tanya Ibuku


"Ayah berangkat dulu, jangan sampai terlambat sekolah" kata Ayahku mengelus pucuk rambutku tanpa menjawab Ibuku.


'Kenapa lagi dengan Ayah dan Ibu ? Apa mereka bertengkar semalam ? Kok tumben Ayah tidak memperdulikan Ibu' batinku


"Mas, tunggu Mas" kejar Ibuku, tetapi Ayah seperti setengah berlari dan tidak memperdulikan teriakan Ibu.


"Heh, anak sialan ngapain kamu pagi - pagi ke rumah Budhemu hah ? Minta - minta kamu disana" bentak Ibuku


"Gendis tadi ke surau, jadi sekalian mampir. Soalnya Mas Edi biasanya bangunin ini malah ga pulang" sahutku takut


"Awas kamu, kalau sampai ada laporan kamu macem - macem " ucap Ibuku sambil meninggalkanku dan berangkat kerja.


Akupun bersiap berangkat ke sekolah, berhubung aku bangun lebih pagi dari biasanya aku sempatkan dulu untuk beberes. Saat tengah beberes, ada suara pintu dibuka aku langsung melihat kearah pintu ternyata Mas Edi pulang.


"Assalamu'alaikum" ucap Mas Edi


"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah ternyata Mas baik - baik saja. Mas dari mana saja kok ga pulang dari semalam, aku cari di rumah Budhe juga ga ada ?" tanyaku


"Mas di masjid semalam" sahutnya


"Berarti Mas semalam tidur di masjid?" tanyaku tetapi Mas Edi menggeleng

__ADS_1


"Terus" tanyaku penasaran karena tidak biasanya dia seperti ini


"Mas semalam tidur di rumah teman " sahutnya yang masih saja terlihat sedih


"Mas kenapa masih saja sedih ?" tanyaku


"Mas bingung dengan sikap Ibu, gaji Mas sudah Mas berikan semua kepada Inu untuk keperluan sekolahmu dan Ria. Mas cuman pegang ga seberapa, itupun kadang masih diminta Ibu alasan untuk sekolahmu kurang. Tetapi ternyata, uang yang Mas berikan hanya untuk Ria. Oadahal uang jajanmu dan uang jajan Ria dari Mas lebih banyak Ria. Mas pikir Ria sudah besar banyak keperluan, Mas rela tidak punya tabungan dan menghiraukan apa yang Mas inginkan. Hanya supaya adik - adik Mas tidak sampai bermasalah dalam hal pembayaran sekolah " sahutnya sedih bercampur kecewa


"Sudahlah Mas, Gendis gapapa yang penting Mas, Ibu, Ayah dan Mbak sehat selalu itu yang terpenting" sahutku


"Mas harap, suatu saat Ibu akan berubah dan tidak selalu menyakitimu" ucapnya


"Iya Mas, semoga saja" sahutku


"Siap - siap berangkat sekolah gih, sudah siang nanti kamu terlambat" ucapnya, aku hanya mengangguk saja


"Mas ga kerja hari ini ?" tanyaku


"Tidak, Mas mau menyiapkan berkas - berkas yang akan dibawa oleh teman Ibu. Semoga Mas diterima kerja di pabrik supaya bisa membantu menyekolahkanmu, sekalian Mas mau ke rumah Budhe" ucap mas Edi


"Ya sudah, Gendis mau berangkat sekolah dulu" imbuhku.


Sepulang sekolah, aku lihat rumah sepi entah kemana Mas Edi dan Mbak Ria. Ah, mungkin Mas Edi masih di rumah Budhe tadi kan bilangnya mau kesana. Aku menyelesaikan tugas sekolahku, dan segera beberes setelah itu aku berencana ke rumah Budhe. Setelah selesai beberes, aku lihat Mbak Ria pulang dan seenaknya menaruh sepatu dan tasnya kemudian pergi ke kamarnya. Aku tak memperdulikan, malah aku biarkan agar Ibu tahu dan menegurnya. Yah, hitung - hitung itu pelajaran tempo hari mengadukanku yang tidak - tidak. Setelah selesai semua, aku pergi ke rumah Budhe dan sekali lagi aku terkejut saat tau Mas Edi tidak di rumah Budhe.


"Assalamu'alaikum" ucapku


"Wa'alaikumsalam, eh Gendis kok baru muncul" sahut suami Mbak Mumun yang sedang berada di ruang tamu bersama Mbak Mumun dan Ifa


'Tumben nih orang' batinku


"Iya Lek, kemarin - kemarin banyak tugas rumah. Budhe ada Mbak ?" sahutku


"Ada Dis di kamar" sahut Mbak Mumun, akupun langsung melangkah ke dalam


"Budhe sehat" ucapku kepada Budhe yang sedang bersama Pakdhe.


"Ish, anak bandel kenapa baru muncul ?" sahut Pakdhe, Budhe yang senyum - senyum melihat aku pura - pura dimarahi oleh Pakdhe

__ADS_1


"Ngapunten Pakdhe, Gendis baru muncul karena banyak tugas rumah akhir - akhir ini" sahutku berlagak seperti di film - film kerajaan


"Gimana Masmu Dis ?" tanya Budhe, aku hanya menjawab dengan mengangkat kedua tanganku


"Suami Mbak Mumun tumben Dhe tiba - tiba jawab salamku. Biasanya cuek kalau ditanyapun malah hanya berpaling muka, ini malah tanya - tanya aku" ucapku kepada apakdhe dan Budhe


"Masak sih" sahut Pakdhe seolah tak percaya, begitu juga dengan Budhe.


"Beneran tuh orangnya ada di ruang tamu bareng Mbak Mumun dan Ifa" sahutku


"Ya mungkin di sudah tobat" sahut Mas Udin yang tiba - tiba nimbrung


"Memangnya kenapa harus tobat ? Apa dia ada salah sama kalian ?" tanya Pakdhe yang membuat kami bingung menjawabnya


"Ga ada Bi, cuman Udin bercanda saja soalnya dia kan seperti anti sama Gendis" sahut Mas Udin menutupi


'Apa Mas Udin tau sesuatu ya lagi ya ?' batinku


"Ya sudah, Abi pergi dulu ada urusan dengan teman mungkin nanti pulang agak malam" sahut Pakdhe


"Ati - ati Dhe" sahutku sambil mencium punggung tangannya dan beliau pergi


"Masmu ada masalah apa sih Dis, kok tadi kesini sampai mau nangis katanya Ibumu dan Ria buat dia kecewa. Cerita ga jelas tiba - tiba dia pergi ngeloyong lagi. Disuruh makan malah bilang nanti saja, ada apa sebenarnya ?" tanya Budhe


Akhirnya aku ceritakan semua kepada Budhe, yang juga khawatir dengan Mas Edi. Sudah 2 hari dia murung sendiri tidak seperti biasanya. Tidurpun sampai di rumah temannya saking kecewanya dia terhadap sikap Ibu.


"Gendis khawatir Mas sakit Budhe, ga biasanya Mas seperti ini" sahutku


"Biar nanti Budhe coba nasehati Masmu" sahut Budhe, aku hanya mengangguk


"Dan kamu Udin, kenapa tadi bilang seperti itu di depan Abimu" tanya Budhe kepada Mas Udin


"Udin sudah tau semua Mi, perselingkuhan antara suami Mbak dan Bu Fatima. Udin juga tahu sendiri, kalau suaminya Mbak ngomporin Lek agar Gendis tidak kesini dan skandalnya tertutupi. Termasuk pertengkaran Mas Edi dan suaminya Mbak. Bahkan sampai mengancam Ria, waktu Ria memergokinya keluar dengan perempuan lain" sahut Mas Udin


"Maksudnya, Lek Abdul punya selingkuhan lain selain Bu Fatima" sahutku terkejut


"Ssstttt" sahut Budhe dan Mas Udin serempak

__ADS_1


__ADS_2