AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
HANYA DO'A


__ADS_3

Setelah salat isya', aku pergi ke rumah Budhe. Aku lihat, Budhe jauh lebih kurus dari sebelumnya. Sedih rasanya melihat orang yang aku sayang begitu kurus, karena digerogoti penyakit paru - paru dan ginjal sekaligus.


"Assalamualaikum" ucapku saat masuk rumah Budhe


"Wa'alaikum salam, masuk Dis Budhe di kamar" sahut Pakdhe, yang sedang duduk - duduk di ruang tengah.


"Budhe udah makan dan minum obat ?" tanyaku sambil memijat kakinya


"Belum" sahut Budhe dengan nada sayu


"Kok belum Budhe, Gendis suapin ya" pintaku


"Ga usah nanti saja, Budhe tadi minta Mbak Mumun buatkan bubur, mungkin masih belum matang" sahut Budhe


"Gendis liatkan dulu ya ?" ucapku, Budhe hanya mengangguk menjawabnya


Saat berada di dapur, aku melihat Mbak Mumun yang perutnya sudah agak membesar karena hamil anak kedua terlihat sesenggukan.


"Ada apa Mbak ?" tanyaku mengagetkannya


"Ga ada apa - apa Dis, Mbak cuman sedih saja Budhemu belum juga mendingan" sahutnya


"Mbak yang sabar saja, Budhe pasti sembuh dan kita semua bisa seperti dulu lagi" ucapku menyemangati Mbak Mumun, dalam hati juga menyemangati diri sendiri. Siapa yang tidak sedih, melihat orang yang seperti ibu sendiri itu sakit parah.


"Iya kamu benar, yang Budhe butuhkan saat ini tak lain adalah doa dari kita semua" ucap Mbak Mumun, aku hanya mengangguk dan tersenyum melihat Mbak Mumun kembali semangat.

__ADS_1


Saat aku lihat bubur sudah matang, aku membawanya ke kamar Budhe dan menyuapinya. Ingin rasanya aku menangis, dulu saat aku sakit Budhe bolak balik ke rumah menjengukku. Membawakan aku berbagai macam makanan dan menyuapiku. Katanya biar aku makan banyak dan cepat sembuh, meskipun aku sakit tetap sendirian di rumah tanpa dijaga Ibu. Padahal, disaat aku sakit aku ingin ditemani oleh Ibu tetapi kenyataannya aku ditemani oleh Budhe. Aku menahan sesak didada, ingin rasanya menangis memeluk Budhe. Tetapi aku harus kuat, sekalipun usiaku masih kecil tetapi aku harus dewasa dengan semua yang terjadi.


"Kamu besok tidur disini ya Dis, Budhe kangen sama kamu. Sejak Budhe sakit kamu jarang kesini" ucap budhe sedih, ingin rasanya aku tumpahkan semua yang aku derita selama di rumah. Tetapi aku tidak ingin Budhe semakin banyak pikiran.


"Nanti Gendis ijin Ibu dulu ya Budhe, kalau dibolehin Gendis besok tidur disini" sahutku


"Biar Pakdhemu yang bilang ke Ibumu nanti, kalau kamu sendiri yang bilang pasti tidak dibolehkan" sahut Budhe, yang sudah hafal sifat Ibuku.


"Iya, tapi Budhe harus makan yang banyak. Supaya cepat sembuh dan bisa ngajarin Gendis ngaji lagi" sahutku sambil menyuapi Budhe.


Setelah selesai makan, Budhe minum obat dan bercerita sebentar. Beliau menjelaskan kepadaku tentang apa itu cuci darah dan bagaimana rasanya, setelah itu barulah beliau tidur. Saat aku mau pulang, aku berpapasan dengan suami Mbak Mumun, dia hanya menatap sinis dan bilang cari muka dengan suara yang pelan dan hanya aku yang mendengarnya. Aku tidak tau apa maksudnya, setelah aku pamitan pulang, Pakdhe mengantarkanku pulang untuk sekalian mengijinkanku. Pakdhe berbincang dengan Ibu dan Ayah sampai larut malam. Awalnya Ibuku melarangku untuk menginap takut merepotkan katanya, tetapi kemudian diperbolehkan. Entah jam berapa Pakdhe pulang, karena aku sudah lelap tertidur.


"Nanti di rumah Budhe jangan merepotkan siapapun, kasian Budhe dan Mbak Mumun sudah sakit malah direpotkan sama anak tak tau diri seperti kamu, paham" bentak Ibuku padaku, saat aku baru bangun


"Iya" jawabku sambil menunduk


"Gendis, rapat di sekolahmu nanti jam berapa ?" tanya Ayahku yang siap - siap mau kerja


"Jam 9 yah" sahutku, Ayahku hanya mengangguk


Setiap ada rapat di sekolahku selalu ayahku yang hadir, Ibuku tidak pernah mau hadir katanya tidak penting. Tetapi kalau rapat di sekolah kakak - kakakku, Ibuku yang selalu hadir. Ayahku tidak diperbolehkan hadir, katanya itu kewajiban seorang Ibu. Pernah saat Ibu yang hadir, rapat baru dimulai Ibuku pulang alasannya tidak penting. Padahal pembahasannya tentang kurikulum baru yang mengharuskan siswa harus aktif.


"Ayah nanti datangkan ?" tanyaku


"Iya, nanti Ayah datang" sahutnya

__ADS_1


"Buat apa sih datang ke acara ga penting dan ga jelas, mending jaga warung sekarang. Edi sudah kerja, Ria juga sering belajar kelompok" sahut ibuku sinis


"Nanti rapatnya penting, karena membahas tentang penilaian anak" sahut Ayahku, aku hanya diam menyimak Ibu dan Ayahku yang sudah mau berangkat kerja.


"Bersihin rumah, jangan mentang - mentang kamu mau nginap di rumah Budhemu kamu tidak bersih - bersih" bentak Ibu lagi, aku hanya mengangguk mengiyakan perintah Ibuku.


"Jangan lupa salatnya ya, Ayah berangkat dulu" ucap Ayah, berpamitan mau berangkat. Berbeda dengan Ibuku yang langsung pergi tanpa menghiraukan aku.


Setelah Ayah dan Ibu berangkat, aku lihat Mbak Ria masih tidur mungkin dia lagi kedatangan tamu bulanan. Aku bergegas mandi untuk salat, saat keluar dari kamar mandi aku lihat Masku sudah pulang dari masjid.


"Mas tumben sarapan duluan ?" tanyaku saat keluar kamar mau sarapan


"Iya, disuruh berangkat pagi hari ini kerjanya karena mau ngirim barang" sahutnya


"Oh, hati - hati kerjanya Mas. Jangan lupa berdoa biar ga di ganggu setan kerjanya" sahutku, sembari memeragakan bertanduk kepada Masku dan kitapun tertawa bersama


"Apa sih, pagi - pagi sudah berisik saja" sahut Mbak Ria yang baru keluar dari kamar, dia mau mandi dan kamipun langsung diam.


"Tumben, Mas masih pagi udah mau berangkat" timpalnya lagi


"Iya, soalnya Mas mau ngirim barang. Kalian berangkatnya hati - hati, Mas berangkat dulu, assalamu'alaikum" pamitnya


"Wa'alaikumsalam" sahut kami bersamaan.


Suasana kembali hening, aku menyelesaikan makanku dan Mbak Ria selesai mandi langsung sarapan. Suasana dingin, itulah yang terjadi kalau aku bersama Mbak berbeda kalau bersama Mas. Masku mau bercanda dan bercerita denganku, begitu juga dengan aku berbeda kalau dengan Mbak Ria. Kalau aku bercerita dengan dia, dia selalu menyuruh aku diam karena itu berisik. Mbak Riapun hanya disaat butuh saja baru bicara dengan Mas Edi, misal minta uang ataupun minta antar kemana - mana. Entah kenapa dia seperti itu, padahal dulu kata tetangga di sekitar rumah, dimana ada Mas Edi disana ada Mbak Ria. Setelah mereka dewasa, malah kadang bertengkar dan kadang perang dingin tanpa sebab yang pasti.

__ADS_1


Sepulang sekolah, aku membereskan rumah dan mencuci piring setelah itu aku langsung mengerjakan tugas sekolah. Aku selalu dibiasakan mengerjakan tugas sekolah saat itu juga oleh Ayah, supaya tidak lupa. Setelah selesai, aku ke rumah Budhe dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui kalau Budhe pingsan.


__ADS_2