AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
LAGI DAN LAGI


__ADS_3

Aku selalu heran dengan Mbak Ria, dia selalu seolah bersikap baik didepan Ayah. Tetapi kalau dibelakang Ayah dan di depan Ibu dia selalu menunjukkan aslinya, yaitu selalu memojokkan dan membuat aku dimarahi habis - habisan oleh Ibu.


"Sudah pulang Ri ?" tanya Ibu yang baru saja masuk rumah


"Iya Bu, tadi cuman diajak teman - teman nonton bioskop" sahutnya dengan manis


"Masmu mana Ri ?" tanya Ibu padahal aku ada disana tetapi seolah tidak terlihat


"Barusan keluar, katanya mau ke rumah Budhe" sahutnya, aku hanya terdiam sambil memasukkan buku dalam tas untuk besok.


"Gendis, ambilkan Ibu air sana" bentak Ibu kepadaku, aku langsung berdiri dan menuju ke dapur


'Kapan Ibu akan bernada lembut kepadaku, saat bicara ataupun menyuruhku seperti beliau berbicara kepada Mbak Ria dan Mas Edi' batinku sambil menahan sesak didada


"Kemana Ibu Mbak ?" tanyaku kepada Mbak Ria, karena saat aku kembali Ibu tidak ada di ruang tamu.


"Ga tau" sahut Mbak Ria, kemudian aku taruh minuman yang Ibu minta di meja.


'Mungkin Ibu lagi ke toko sebelah' pikirku


"Mana minuman yang Ibu minta" bentak Ibu keluar dari kamar.


"Gendis taruh meja Bu, tadi Gendis pikir Ibu ke toko sebelah" sahutku polos.


"Apa kamu bisu, tidak bisa tanya sama Mbakmu kemana Ibu hah" bentak Ibu lebih keras.


"Tadi sudah tanya, tetapi katanya ga tau Ibu kemana" sahutku dengan nada ketakutan.


"Bohong Bu, Gendis tidak tanya ke Ria" sahutnya


"Kamu berani membohongi Ibu hah, dan mengadu domba Mbakmu. Dasar anak ga tau diuntung, anak si**an bukannya minta maaf malah mengadu domba" bentak Ibu dengan mendorong tubuhku yang duduk dibawah. Saat aku melihat ke arah Mbak Ria, dia tersenyum puas.


"Kalau kamu tidak suka Ibu suruh ambil air, dan tidak suka dengan Mbakmu pergi kamu dari sini. Ibu tidak butuh anak sepertimu" sambung Ibu dengan menunjuk arah luar, aku hanya diam menangis


"Pergi sana, dasar anak ga tau diri" hardik Ibu

__ADS_1


"Ada apa ini ?" tanya Ayah yang baru saja masuk rumah bersama Mas Edi


"Ini anak ga tau diri ini, aku suruh ambil minum ga mau malah mengadu domba aku sama Ria" sahut Ibu


"Apa bener Gendis ?" tanya Ayah kepadaku yang hanya sesenggukan


"Aku tadi pulang minta abilkan air putih ke Gendis, lalu aku masuk kamar buat ganti baju. Sekalian mau rebahan karena capek, malah airnya di taruh meja ga dianter ke kamar. Padahal aku bilang ke Ria suruh Gendis antar airnya ke kamar, eh malah bilang katanya Ria bilang ga tau aku kemana" jelaskan Ibu


"Benar Gendis ?" tanya Ayah, aku hanya diam sambil menangis.


"Jawab, apa kamu sudah bisu ? sampai tidak mau menjawab pertanyaan Ayahmu hah, dasar anak ga tau diuntung" bentak Ibu lagi sambil mendorongku hingga terjatuh.


"Gendis sudah tanya mbak Ria Yah, Ibu kemana tapi Mbak bilang ga tau. Gendis pikir ibu ke toko, itu sebabnya airnya Gendis taruh meja Gendis karena ga tau kalau Ibu ada dikamar" sahutku yang masih sesenggukan


"Bohong Yah, Ria tadi sudah bilang kalau Ibu di kamar bukan bilang ga tau" sahut Mbak Ria tambah memojokkanku


"Dasar anak ga tau diri, anak ga tau diuntung, anak si**an bukannya jujur malah berbohong kamu ya" bentak Ibu sambil memukulku dengan buku, aku hanya diam dan menangis


"Pergi kamu, aku ga sudi liat kamu" bentak Ibu


"Aku ga yakin Ria jujur Bu ?" sahut Mas Edi sambil menatap Mbakku tajam, dan berhasil membuat Mbakku menunduk takut


"Bela saja terus adikmu itu, nanti kalau dia salah jalan jangan salahkan Ibu. Karena itu kesalahanmu dan Ayahmu yang terlalu memanjakannya" bentak Ibuku dan langsung masuk ke kamar yang diikuti oleh Ayah


"Ria, apa benar yang dikatakan Gendis ?" tanya Mas Edi dengan tatapan penuh selidik.


"Itulah akibatnya kalau berani berusaha merebut kasih sayang orang rumah" sahut Mbak Ria dengan nada sinis


"Ini masih awal, ingat itu Gendis !" sambungnya, aku hanya terdiam mendengar ucapannya


"Gendis tidak merebut kasih sayang siapapun, bahkan dia berhak mendapatkan kasih sayang semua orang" sahut Mas Edi


"Terserah Mas, yang jelas aku tidak suka dia merebut kasih sayang orang yang ada di rumah ini, karena itu semua milikku" sahutnya dengan nada sinis ke arahku dan masuk kamar.


'Apa salahku ? Apa aku tidak berhak mendapatkan kasih sayang semua orang ? bahkan dari dirinya dan juga Ibu' batinku sambil menangis dipelukan Mas Edi

__ADS_1


Hanya menangis yang bisa aku lakukan, saat mendapat perlakuan kasar dari Ibu dan sikap sinis dari Mbakku. Aku menangis hingga tertidur di kamar, dan saat terbangun ternyata sudah hampir maghrib.


"Wah tuan putri baru bangun nih" sinis Mbak Ria, aku hanya diam meninggalkannya


Selesai mandi, aku tiduran di kamar mataku sembab parah karena menangis tadi. Aku memutuskan tidak mengaji, karena mataku yang sembab parah belum tentu juga besok hilang sembabnya.


"Waw, hebat ya tuan putri sekarang, bangun maghrib tidak mau beberes dan bahkan sekarang tidak mau mengaji. Sudah siap ga tumpangan untuk masuk surga ? apa sudah malas ya sehingga memilih masuk neraka saja ?" ucapnya


"Apa sih mau Mbak sebenarnya" sahutku


"Pergi dari rumah ini, karena aku tidak suka kamu merebut semua dariku." sahutnya dengan nada penuh amarah


"Aku tidak merebut apapun dari Mbak, aku hanya ingin kasih sayang Ibu dan Mbak seperti kasih sayang Mas Edi dan Ayah" sahutku


"Jangan mimpi, itu semua milikku" sahut Mbak Ria


"Kenapa Mbak Ria tidak bisa menyayangiku, seperti Mas Edi menyayangiku ?" tanyaku


"Karena aku tidak menyukaimu sejak kamu lahir" sahutnya dengan nada membenci


"Aku tidak minta dilahirkan, kalau harus selalu dibenci seperti ini" sahutku


"Dasar bocah ga tau diri" bentak Mbak Ria


"Ada apa Ri ?" tanya Mas Edi


"Bukan urusan Mas Edi" sahut Mbak Ria dan masuk ke kamarnya


'Kenapa Mbak Ria dan Ibu sangat membenciku? kalau alasan Mbak Ria aku merebut semua kasih sayang orang di rumah, terus alasan ibu membenciku apa?' tanyaku dalam hati


"Jangan kebanyakan melamun maghrib - maghrib, salat sana" ucap Mas Edi, aku mengangguk mengiyakan perintah Mas Edi.


"Kamu dicari Budhe, sebaiknya abis salat kesana" sambungnya


Sudah seminggu aku tidak ke rumah Budhe, mungkin karena Budhe merindukanku juga. Oleh sebab itu beliau meminta Mas Edi agar aku kesana.k

__ADS_1


__ADS_2