AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
TERIMA KASIH


__ADS_3

Setiap 2 hari sekali, Budhe selalu membuat lagi karena rentan waktu itu pasti esnya sudah habis. Selain jual es, Budhe dan Mbak Mumun sering terima pesanan tumpeng, kue tart ataupun buah tangan untuk iring - iringan lamaran.


"Besok bantuin Budhe buat pesanan ya" pinta Budhe kepadaku


"Pesanan apa Budhe" tanyaku


"Mbak Mumun dapat pesanan, teman suaminya lusa lamaran minta buatin kue tart, nanas dari kecap, sama 1 set tempat tidur dari gula" sahut Budhe menjelaskan pesanannya


"Oke, besok pulang sekolah aku langsung kesini" jawabku dengan penuh semangat


"Aku pulang dulu ya Budhe udah malam besok juga sekolah" pamitku ke Budhe sambil meletakkan panci yang sudah aku cuci


"Iya besok jangan lupa ya" imbuh Budhe


"Siap bos" sahutku sambil hormat ala - ala upacara


"Ini uang jajan buat besok di sekolah" sembari Budhe memberiku uang Rp5000,-


"Makasih Budhe" sahutku


Rasanya sudah terlupakan kejadian siang tadi, dengan bahagia aku simpan di saku celana uang pemberian Budhe. Sesampainya di rumah aku dipanggil Ayah untuk ikut duduk di ruang tamu.


"Gendis sini duduk sini dulu" perintah Ayahku dengan nada lembut


"Ada apa Yah ?" tanyaku penuh tanda tanya, aku pikir Ayah membelikan aku kue karena setauku tadi abis maghrib keluar


"Ini buat kamu" ucap Ayah sambil memberikan aku celengan berbentuk ayam yang terbuat dari tembikar


"Beneran Yah" tanyaku memastikan


"Iya kalo terbuat dari tembikar gini celenganmu ga bakalan di potong, sekalipun dipecahkan pasti ketahuan langsung" sahut Ayah menjelaskan


"Terima kasih Yah, nanti aku taruh di bawah kasur saja, kalau di atas lemari takutnya jatuh kena kepala" sahutku dengan semangat, hanya disahuti anggukan dari Ayah tanda membenarkan tindakanku.


Setelah di kamar Mas Edi, aku langsung meletakkannya di bawah kasur.

__ADS_1


"Apa itu ?" tanya Mas Edi menghentikan kegiatan belajarnya


"Celengan ayam dibelikan Ayah, kata Ayah biar ga ada yang ngerusak celenganku lagi kalo dipecahkan juga ketahuan" jawabku sambil tersenyum bahagia


"Bahagia bener" tanya Mas Edi selidik


"Iya dong tadi aku bantuin Budhe dikasih Rp5000, besok disuruh bantuin buat pesanan. Sekalipun besok ga dikasih uang gapapa yang penting besok aku bisa nyicipin kue tart" sahutku dengan senyum - senyum ala anak - anak


"Jangan terlalu banyak manis nanti giginya ompong" sahut Mas Edi


"Kalau abis makan manis - manis, jangan lupa gosok gigi biar ga sakit gigi iya kan Mas" sahutku dengan tersenyum


"Pinter adek Mas sekarang, udah sana siapin buku buat besok sekolah" perintah Mas Edi


"Iya Mas" sahutku sembari bergegas menyiapkan buku buat besok


Sepulang sekolah aku langsung ke rumah Budhe sesuai janjiku kemarin kepada Budhe.


"Assalamu'alaikum Budhe" aku langsung menuju ke dapur tempat Budhe berada


"Wa'alaikumsalam kok sudah pulang, baru juga jam 10 biasanya nanti abis dhuhur ?" tanya Budhe heran melihatku sudah ganti baju


"Budhe buat apa ?" tambahku


"Ini nyiapin buat kue, liat obat kuenya takut ada yang sudah kadaluarsa kan bahaya" jawab Budhe sembari mengecek botol - botol kecil, entah botol apa saja tetapi yang aku tahu juga ada botol pewarna makanan.


Aku pindah ke ruang tamu, disana ada Mbak Mumun sedang menimbang gula dan tepung untuk takaran kue.


"Eh Gendis sini bantuin Mbak, tolong potong kertas - kertas ini" perintah Mbak Mumun kepadaku, sambil menunjukkan kertas yang akan aku potong


"Loh kertas rotinya kok dipotong, mau dibuat apa ?" tanyaku heran


"Mau dibuat alasnya roti kukus nanti" sahut Mbak Mumun


"Kata Budhe cuman buat kue tart kok ini ada roti kukus juga ?" tanyaku penasaran

__ADS_1


"Iya buat sumbangan saja, lagian Mbak juga diajak. Besok acaranya siang, kalo buatnya besok pagi takutnya malah terburu - buru" jawab Mbak Mumun, aku hanya mengangguk mendengar penjelasan Mbak Mumun


Ya hari - hariku aku isi dengan membantu mereka, orang - orang yang selalu memberiku kasih sayang lebih daripada keluargaku sendiri. Di rumah Budhe, aku selalu membantu disuruh ataupun tidak, diberi uang ataupun tidak aku tidak pernah mempermasalahkannya. Karena di rumah Budhelah aku merasakan kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah aku dapatkan.


Tak terasa haripun sudah sore, kue tart sudah keluar dari oven dan pesanan yang lain juga sudah selesai dikemas.


"Budhe Gendis pulang dulu ya, mau beberes rumah sama angkat jemuran nanti kalau selesai Gendis kesini lagi" pamitku kepada Budhe


"Pulang ngaji aja Dis kamu kesininya, setelah beberes kamu belajar dulu aja biar nanti malam kamu ga ngantuk waktu belajar" saran Budhe kepadaku


"Iya Budhe, kalau gitu Gendis pulang dulu, assalamu'alaikum" pamitku


" Wa'alaikumsalam " sahut Budhe dan Mbak Mumun.


Setelah selesai membantu membuat pesanan aku langsung pulang. Dalam hati aku sangat bahagia karena dengan membantu Budhe, siapa tau aku bisa jadi juragan catering. Karena dari mulai belanja, meracik, membuat, dan menghiasinya aku dapat ilmu.


'Sekalipun tidak sekolah, kalau ada niat belajar pasti bisa' itulah yang selalu Budhe dan Pakdhe ajarkan.


Dan tujuanku adalah mewujudkan itu agar bisa membahagiakan orang tua. Terkadang hati ini sering sedih dan merasa hampa, haus akan kasih sayang dari orang tua kandung. Sekalipun Ibu selalu menganaktirikan aku, tetapi Ayah sangat menyayangiku, sekalipun tidak pernah diperlihatkan didepan Ibu dan Mbak Ria entah kenapa ?.


"Gendis sini" suara Mas Edi memanggilku


"Ada apa Mas ?" tanyaku


"Ini Mas belikan buat kamu, yang rajin biar apa yang kamu cita - citakan tercapai" ucap Mas Edi sembari memberikan bungkusan plastik hitam.


"Apa ini Mas" tanyaku masih heran dengan bungkusan itu.


"Aku ga mau barang yang diberikan kepadaku hasil mas minta ke Ibu. Aku ga mau Mas dimarahi Ibu hanya karena memberikan aku sesuatu yang belum tentu bermanfaat buat aku." tegasku pada laki laki yang terpaut jauh usianya dari aku.


"Mas ga minta ke Ibu, itu murni tabungan Mas sendiri" sahut Mas Edi jujur


Akupun membuka bungkusan dari Mas Edi, ternyata isinya buku yang ingin aku beli dari uang celenganku yang diambil Mbak Ria. Entah sudah 1 minggu ini dia menghindar dari aku, setelah aku pinta uangku yang diucapkan pinjam di depan Ayah, Ibu dan Mas Edi.


"Terima kasih banyak ya Mas" pelukku kepada kakakku itu

__ADS_1


"Sama - sama yang rajin ya belajarnya" senyumnya yang aku sambut dengan anggukan


Aku heran dengan mbakku, dia selalu bersikap seolah tidak menyukaiku, dan ingin aku selalu dimarahi Ibu. Padahal, kalau dia ketahuan olehku melakukan kesalahan aku selalu menutupinya, beda dengan dia yang selalu membuat aku salah dimata Ibu agar dimarahi habis - habisan.


__ADS_2