
'Sudah aku duga, pasti ini kerjaan Lek Abdul' batinku kesal
"Dis, kamu kenapa ?" panggil Mas Udin yang melihatku nampak kesal
"Kenapa ya Mas, Lek Abdul seperti tidak suka kalau aku ke rumah ini. Apa dia menyembunyikan sesuatu dan takut aku mengetahuinya ? Sampai dia menyuruh Ibu untuk tidak memperbolehkanku kesini" sahutku kesal
"Mas juga ga tau, Mas juga bingung dengan sikapnya. Setiap kali Ifa sakit, dia tidak mau ngantar Mbak Mumun ke klinik. Dia lebih memilih di rumah Ibunya. Padahal, seharusnya dia sebagai Ayahnya khawatir dengan keadaan putrinya. Ini malah ga sama sekali, Selalu saja ada alasan entah itu sakit, ada kerjaan dan banyak lagi alasannya. Mas jadi curiga dengan sikapnya" ucapnya
'Kalau dia ngantar Ifa ke klinik, dia ga bisa berduaan dengan Bu Fatima Mas. Kapan lagi dia bisa berduaan, selain waktu Mbak Mumun ga ada di rumah' batinku geram
"Lebih baik Mas selidiki saja dia, kalau sampai dia ketauan berulah. Aku laporkan kepada Abi, biar diusir dia" ucapnya
"Caranya ?" tanyaku
"Mas akan pantau gerak geriknya kalau Mbak Mumun tidak ada di rumah. Soalnya, kalau Mbak Mumun ga ada di rumah dia selalu ikutan ga di rumah. Alasannya makan di rumah Ibunya, padahal Mbak Mumun selalu masak" ucapnya, aku mengangguk menyetujuinya
'Semoga Mas Udin mengetahui sendiri apa yang aku dan Budhe lihat' batinku
"Gendis pulang dulu ya Mas, mau beberes rumah terus siap - siap ngaji" pamitku
"Ya sudah kalau gitu, kamu ga pamit ke Umi sama Abi ?" tanyanya
"Pakdhe sama Budhe kayaknya tidur Mas" sahutku
"Terima kasih ya Dis, bantuannya" ucapnya
"Sama - sama" sahutku sambil melangkah pulang.
Saat tiba di rumah aku terkejut melihat Mbak Ria sudah pulang.
'Aduh kok Mbak Ria tumben sudah pulang ? Kalau dia sampai mengadu sama Ibu, pasti Ibu akan marah besar. Rumah belum di beresin aku malah ke rumah Budhe, bisa - bisa aku dihukum' batinku
"Kamu darimana Dis ?" tanya Mbak Ria
"Dari rumah Budhe, Mbak" sahutku
"Memang Budhe kambuh lagi sakitnya ?" tanyanya
"Ga cuman pengen main saja sama Ifa, sekalian lihat kondisi Budhe" sahutku
"Kamu sudah makan" tanyanya
"Sudah tadi" sahutku
'Untung Mbak masih bersikap baik, semoga dia dan pacarnya berjodoh agar selalu bersikap baik seperti ini. Dan semoga Mbak tidak bercerita kepada Ibu kalau aku ke rumah Budhe' batinku
"Kamu mau ngapain Dis ?" tanyanya pada saat melihatku mengambil sapu
__ADS_1
"Mau beberes rumah bentar lagi ashar" sahutku
"Nanti Mbak bantuin lipat baju saja" ucapnya
'Tumben !!! tetapi tak apalah, jadikan bisa ringan pekerjaanku' batinku
"Memang Mbak ga sibuk ?" tanyaku ragu
"Sibuk apa memangnya ?" tanyanya balik
"Ya mungkin saja Mbak banyak tugas, atau Mbak mau kerja kelompok" sahutku hati - hati takutnya salah ucap
"Ga ada, kalau kamu sedang banyak tugas kerjakan dulu saja biar nanti Mbak yang beberes" sahutnya
"Tugas Gendis sudah selesai daritadi" sahutku
'Padahal kesempatan emas biar ga beberes rumah, tetapi daripada ini cuman prank seperti dulu. Yang ada aku dimarahi habis - habisan oleh Ibu' batinku
Flashback
"Kalau kamu sibuk belajar karena ulangan besok, biar Mbak saja yang beberes rumah" ucap Mbak Ria
"Mbak beneran mau bantuin Gendis" sahutku gembira
"Iya, nanti Mbak yang beberes sudah sana belajar saja" ucapnya
"Ria bantuin Ibu kupas bawang" ucap Ibuku saat pulang kerja. Sambil membawa barang belanjaan yang isinya bahan - bahan untuk jualan besok.
"Loh kok kamu yang beberes, memangnya anak tidak tau diri itu kemana ?" tanya Ibuku menahan marah
"Dia belajar makanya aku yang beberes, soalnya rumah berantakan dan kotor aku tidak betah" sahutnya
"Gendiiiiissss" panggil Ibuku dengan nada marah
"Ada apa Bu" sahutku
"Dasar anak tidak tau diri, sudah tau beberes rumah adalah tugasmu. Kenapa kamu malah tidak mau beberes rumah, sampai Mbakmu yang mengerjakannya hah ?! Apa kamu sudah ingin pergi dari sini, sampai - sampai tidak mau mengerjakan apa - apa ?!" ucap Ibuku marah
"Tadi Mbak yang nyuruh Gendis belajar, katanya biar Mbak saja yang beberes rumah" sahutku
"Bohong Bu" sahut Mbak Ria
"Kamu sudah salah malah menjadikan orang lain kambing hitam, dasar anak tidak tau diuntung" geram Ibuku
PLAK
PLAK
__ADS_1
Dua kali tamparan waktu itu sudah cukup membuatku jera. Lain kali, tidak akan pernah lagi aku mau dibantu Mbak Ria. Dia seperti tebu, yang hanya manis di awal tetapi menyakitkan diakhir. Sekalipun dua hari ini dia bersikap manis, tetapi tidak ada salahnya aku berantisipasi. Takutnya, tiba - tiba saja sikapnya kembali lagi seperti dulu. Yang suka mengadu domba aku dan Ibu, sehingga Ibu kasar terhadapku
"Dis ini bagus ga" kata Mbak Ria, sambil menunjukkan sebuah majalah yang bergambarkan baju kepadaku
"Buat siapa Mbak ?" tanyaku
"Buat akulah" sahutnya
"Ga cocok warnanya, kalau buat Mbak lebih bagus yang merah" sahutku
"Aku suka modelnya, kalau yang merah aku ga suka modelnya" sahutku
'Mbak Ria sebenarnya sedang kasmaran apa habis kebentur ya kepalanya? Tumben dia cerita dan tanya masalah baju kepadaku' batinku heran
"Beli kain yang cocok sama Mbak aja, habis itu tinggal cari model yang Mbak sukai" saranku asal
"Kamu bener juga terima kasih ya" sahutnya tersenyum manis sambil memelukku
'Ya Allah kalau memang kepala Mbak Ria habis terbentur sesuatu, jangan biarkan dia sembuh ya Allah biar dia seperti ini terus kepada hamba' batinku berdo'a
"Ya sudah, besok kamu ikut Mbak ya ke toko kain. Mbak mau cari model baju yang bagus dulu" sahutnya kegirangan
"Iya Mbak" sahutku ragu sambil menyelesaikan menyapu
'Apa aku mimpi ya ?' batinku belum percaya
Sepulang mengaji, aku lihat Mbak Ria masih sibuk buka - buka majalah yang tadi sore ditunjukkan kepadaku.
Setelah mengucapkan salam, akupun tidak berani bertegur sapa dengannya khawatir yang terjadi tadi sore cuman mimpi.
"Ria, kamu sedang lihat apa. Daritadi Ibu perhatikan kamu buka - buka majalah itu terus" tanya Ibu yang kemudian duduk di kursi samping Mbak Ria
"Ria sedang nyari model baju yang bagus Bu" sahutnya
"Untuk apa ?" tanya Ibu
"Untuk Ria pakek pas acara perpisahan Bu" sahutnya
"Kenapa ga beli baju jadinya saja ?" tanya Ibu lagi
"Tadinya mau beli jadinya, tetapi kata Gendis warnanya ga cocok sama Ria. Sekalipun ada yang cocok modelnya, tetapi Ria ga suka" sahutnya
"Kamu itu percaya saja sama anak itu, dia mana tau tentang model baju. Yang dia tau hanya merepotkan orang saja, coba sini Ibu lihat" ucap Ibuku
"Ish, Ibu ini jangan selalu kayak gitu sama Gendis kasihan dia Nu" sahutnya
"Ngapain kamu ikut bela dia, seperti Mas dan Ayahmu ?" tatap Ibu sinis
__ADS_1
"Diakan Adikku juga Bu" sahutnya santai
'Tumben, Mbak Ria membelaku' batinku, yang mendengar percakapan Ibu dan Mbak Ria dari kamar Mas Edi