AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
DUNIAKU SERASA MENDUNG


__ADS_3

Seperti tersambar petir di siang hari, itulah yang terjadi padaku saat mendengar teriakan Mbak Mumun sepupuku dan melihat Budhe tergeletak tak sadarkan diri. Selesai salat ashar Budhe tiba - tiba tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke klinik. Sesampai di klinik, ternyata harus di rujuk ke rumah sakit, kakiku terasa lemas tak berdaya melihat itu semua. Satu - satunya orang yang menyayangiku dengan tulus, yang selalu memberiku kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan dari seorang Ibu, jatuh sakit.


'Ya Allah, aku ikhlas menggantikan Budhe. Bahkan aku ikhlas menukar nyawaku untuk Budhe, asal aku bisa melihat Budhe sehat kembali. Hanya dari beliau aku mendapatkan kasih sayang seorang Ibu' batinku yang sedari tadi tak kuasa menahan tangis.


"Sabar ya, Budhe pasti sembuh" ucap Mas Edi menguatkanku.


"Kok Gendis nangis disini ? ayo ikut Pakdhe liat Budhe, Alhamdulillah Budhe sudah sadar" kata Pakdhe yang sudah ada disampingku sambil mengusap air mataku


"Boleh Pakdhe ?" tanyaku


"Boleh dong, tapi ga boleh nangis ya di depan Budhe" sahut Pakdhe dan aku hanya menjawab dengan anggukan


Sesampai di kamar rawat, Budhe yang ditemani Mbak Mumun dan Mas Udin tersenyum melihatku bersama Pakdhe.


"Sini Dis duduk dekat Budhe" katanya dengan nada agak berat


"Budhe cepet sembuh ya, biar cepet pulang dan ngajarin Gendis masak" sahutku dengan menahan air mata agar tidak keluar


"Iya, doain Budhe cepet sembuh ya" sahut Budhe


"Pasti" jawabku tegas


Setelah bercanda ringan dengan Budhe, aku pamit pulang bersama Pakdhe. Sekalian Pakdhe mau ambil barang untuk keperluan Budhe selama di rumah sakit.


"Belajar yang rajin ya, supaya dapet rangking" kata Budhe saat aku pamit pulang


"Iya Budhe cepet sembuh, biar Gendis ada yang nemenin" sahutku yang tanpa sadar menitikkan air mata lagi.


Seandainya boleh memilih, aku lebih memilih mengambil alih sakitnya Budhe karena tanpa Budhe aku tidak pernah terurus


"Kamu itu darimana saja" bentak Ibu saat aku baru masuk rumah

__ADS_1


"Dari rumah sakit nemenin Budhe" sahutku sambil menunduk


"Kamu kira rumah sakit itu arena bermain anak - anak, seenaknya saja anak seusia kamu ada di rumah sakit" bentak Ibuku lagi


"Tadi Budhe pingsan, aku ikut waktu dibawa kesana" sahutku dengan ketakutan


"Dasar anak ga tau diri, Budhemu bukan malah tambah sembuh kalau dijaga sama anak ga tau diuntung sepertimu. Yang ada Budhemu nanti tambah parah" bentak Ibuku dan berhasil membuat aku menangis


"Nangis saja bisamu" bentak Ibuku, dengan menghempasku sampai terjatuh ke kursi. Untung ada kursi kalau tidak, pasti badanku sudah terjatuh terkena tembok.


Sakit yang aku rasakan saat melihat Budhe terbaring di rumah sakit, lebih sakit daripada perlakuan kasar ibuku. Aku sudah terbiasa diperlakukan kasar, baik itu secara fisik maupun batin. Tetapi kalau dari Budheku aku terbiasa mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan, sehingga membuat aku sangat amat terpukul melihat keadaannya karena takut sampai kehilangan. Entah akan seperti apa aku, kalau tidak ada Budhe yang selalu mengingatkan saat aku salah, mengajarikan segala hal yang benar dan salah, serta memberiku kasih sayang yang entah kelak aku bisa membalasnya atau tidak.


Seminggu sudah Budhe berada di rumah sakit, aku hanya mengunjunginya waktu itu saja. Karena takut kena marah oleh Ibu, dan lagi karena aku masih kecil belum boleh mengunjungi orang sakit.


"Dis Budhe hari ini boleh pulang" kata Mas Udin saat melihatku pulang sekolah


"Iyakah ?" tanyaku meyakinkan


"Iya, ini Mas pulang sambil membawa pulang beberapa perlengkapan yang tidak dibutuhkan lagi biar nanti ga banyak - banyak" sahut Mas Udin


"Iya aku ganti baju dulu" sahutku, kemudian berlari menuju rumah untuk ganti pakaian


Sore menjelang ternyata benar Budhe pulang, aku senang terlebih saat melihat Budhe lebih segar daripada saat awal masuk rumah sakit.


"Budhe Gendis kangen" kupeluk wanita yang seusia Ibuku itu


"Budhe juga kangen keponakan Budhe yang cantik ini" sahut Budhe


"Sehat selalu ya Budhe, jangan sakit lagi Gendis kesepian ga ada Budhe" kataku sambil menahan sedih


"Do'akan Budhe selalu ya" sahutnya sambil mengelus rambutku dan aku hanya mengangguk.

__ADS_1


Ada yang aneh dari mata Budhe, saat minta didoakan seolah tatapan Budhe ada yang ditutupi dari aku. Tetapi aku tidak berani banyak bertanya, karena Budhe baru pulang. Sekalipun aku bertanya pada Pakdhe atau Mbak Mumun, mereka pasti bilang aku masih kecil belum saatnya tahu.


Jam menunjukkan kalau hari sudah malam tetapi aku belum juga tertidur, tiba - tiba terlintas dipikiranku kalau seandainya kehilangan Budhe. Pikiran itu segera aku hempaskan, karena aku berharap Budhe selalu sehat. Agar kelak aku bisa membahagiakannya disamping membahagiakan orang tuaku. Tanpa orang tuaku aku tidak akan ada di dunia ini dan tanpa Budhe, aku tidak akan mendapatkan sebuah kasih sayang yang tulus. Banyak pelajaran yang aku terima dari Budhe dan Pakdhe, yang bahkan tidak pernah aku dapatkan dari orang tuaku sendiri.


"Gendis, do'akan Budhe agar selalu sehat ya" ucap Budheku saat aku berkunjung ke rumahnya


"Iya Budhe, Gendis selalu mendoakan Ayah, Ibu, Budhe, dan Pakdhe agar selalu sehat dan Gendis bisa membahagiakan kalian semua" sahutku sembari memeluknya dengan erat


"Terima kasih ya, Budhe mau siap - siap dulu" sahut Budhe sambil masuk kamar


"Memang Budhe mau kemana ?" tanyaku heran


"Mau ke klinik, jadwalnya kontrol dan semoga hasilnya baik" timpal Budhe


" Aamiin " sahutku sambil mengusapkan tangan ke muka


"Gendis pulang dulu ya Budhe" sambungku


"Iya, belajar yang pinter ya, jangan lupa salat dan mengajinya" sahut Budhe, aku hanya mengangguk dan berlalu pergi sembari mengucap salam.


Kalau Budhe keluar, sedangkan di rumah hanya ada Mbak Mumun dan suaminya, aku selalu langsung pulang. Entah kenapa tatapan suami Mbak Mumun seolah tak menyukaiku. Tetapi, kalau tidak ada suami Mbak Mumun, meskipun tidak ada Budhe aku tidak langsung pulang, melainkan membantu Mbak Mumun menjaga dan merawat anaknya takut - takut Mbak Mumun mau ke kamar mandi ataupun mau makan.


Waktu aku mau pulang, aku liat Mas Udin sudah pulang sekolah.


"Gendis mau kemana ?" tanya Mas Udin


"Mau pulang Mas, Budhe katanya mau ke klinik ada jadwal kontrol" sahutku


"Oh iya, sekarang memang jadwalnya umi kontrol" timpalnya


"Gendis pamit pulang ya Mas, Assalamu'alaikum " pamitku kepada Mas Udin

__ADS_1


"Iya, wa'alaikumsalam" sahutnya


Sesampai di rumah aku langsung beberes rumah, Mas Edi belum pulang kerja dan Mbak Ria baru saja keluar, katanya mau kerumah temannya mau kerja kelompok


__ADS_2