AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
PERTENGKARAN IBU DAN AYAH


__ADS_3

"Kenapa ucapanmu selalu seperti itu ?" tanya Ayahku


"Karena memang kenyataannya seperti itu kan. Aku tidak pernah mengharapkan Gendis lahir, sejak aku mengandung dia aku sudah tidak suka hanya kamu yang mempertahankannya. Bahkan saat dia mau aku buang ke panti, kamu malah melarangku dan berjanji membantuku mengurusnya seperti dulu mengurus Ria dan Edi" sahut Ibuku


"Aku bukan tidak mau membantu, tetapi aku harus bekerja untuk kalian semua" sahut Ayahku


"Setidaknya kamu benar - benar memenuhi, bukan aku malah yang kamu ajak kerja" sahut Ibuku


"Aku tidak pernah menyuruhmu bekerja, malah kamu yang ingin bekerja alasannya suntuk di rumah. Aku hanya menyuruhmu tinggal di rumah, ajari anak - anak yang benar bukan membeda - bedakan" ucap Ayahku


"Kalau aku kamu suruh menyayangi Gendis seperti aku menyayangi Edi dan Ria, jangan harap aku mampu. Karena dia bukan anak yang aku harapkan" sahut Ibuku yang kemudian berlalu masuk kamar


"Ini semua salahmu, kamu selalu saja membuat Ayah dan Ibu bertengkar. Benar kata Ibu, lebih baik aku tidak memberimu hati karena kamu hanya memanfaatkan saja. Dasar anak tidak pernah tau cara berterima kasih" ucap Mbak Ria kepadaku


"Cukup Ria, bukan Gendis penyebabnya tetapi kamu. Kalau kamu bisa jujur, maka Ayah dan Ibu tak akan pernah bertengkar. Dari dulu kamu selalu membenci Gendis dan selalu saja membuat ulah dengan cara memfitnah Gendis yang tidak - tidak" sahut Mas Edi


"Kenapa Mas selalu membelanya yang jelas - jelas salah ?" sahut Mbak Ria


"Mas tidak membela siapapun, Mas hanya menyalahkan yang salah. Kamu bilang Gendis yang menghabiskan uangnya untuk jajan, padahal pastinya kamu simpan sendiri kan uang itu. Mas hafal betul dengan kamu, kamu bisa membohongi Ibu tetapi tidak bisa membohongi Mas" ucap Mas Edi


"Terserah, aku mau seperti apa terhadap anak tak tau diri ini. Dan itu juga bukan urusan Mas" bentak Mbak Ria kepada Mas Edi yang kemudian masuk kamar.


Aku hanya diam di dalam kamar sesenggukan, melihat semuanya rasanya ingin pergi tetapi tidak tau pergi kemana. Rumah Budhe tempat biasanya aku menenangkan diripun tidak mungkin karena Budhe sedang sakit. Yang ada aku hanya menambah parah Budhe karena memikirkan aku.


"Sudah Dis, jangan nangis lagi" ucap Mas Edi sambil memelukku


"Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa sampai Mbakmu bilang seperti itu ?" tanyanya


"Aku ga tau Mas, aku juga bingung padahal tadi selama perjalanan baik - baik saja" sahutku


"Cuman tadi Mbak Ria bertanya masalah kesehatan Budhe dan masalah rumah tangga Mbak Mumun. Dia maksa aku jawab, tetapi aku tetap diam karena aku memang tidak tau. Sekalipun misalnya aku tau, tidak mungkin aku memberitahunya" imbuhku


"Ada apa sebenarnya ?" bingung Mas Edi

__ADS_1


"Ya sudah, nanti Mas akan cari tau sekarang kamu mandi siap - siap mengaji" ucap Mas Edi aku hanya menurutinya


Rasa takut ketika melewati kamar Ibu dan Ayah menghampiriku, takut Ibu masih marah dan memukulku lagi. Di saat mereka bertengkar, selalu saja pelampiasan Ibuku adalah aku. Setelah selesai bertengkar, Ibu hanya berada di dalam kamar. Sedangkan Ayah pergi, biasanya ke rumah sepupu yang ada di kampung sebelah. Katanya sih mendinginkan pikiran biar tidak berlarut katanya.


Sepulang mengaji, aku langsung masuk kamar dan belajar di kamar. Takut Ibu masih marah, aku yang biasanya belajar di ruang tamu memilih belajar di kamar.


"Tumben belajar di kamar ?" tanya Mas Edi


"Takut Ibu masih marah" sahutku


"Yang sabar ya, pasti suatu saat Ibu akan berubah menyayangi kamu seperti yang kamu harapkan" ucap Mas Edi sambil mengelus kepalaku


"Iya, semoga saja hari itu akan segera datang" ucapku


"Ed, Edi" panggil Ibuku


"Ya Bu" sahut Mas Edi


"Udah, cepat samperin Mas. Daripada nanti Mas dimarahin Ibu juga" ucapku, kemudian Mas Edi beranjak keluar kamar menemui Ibu.


"Apa kamu mau kerja di pabrik ?" tanya Ibu


"Mau Bu, tapi susah. Edi sudah nyoba naruh lamaran di pabrik - pabrik tetapi belum juga ada panggilan" sahut Mas Edi


"Ya sudah, besok Ibu coba ke teman Ibu. siapa tau bisa membantu ?" sahut Ibuku


"Beneran Bu" tanyanya


"Iya, tapi dengan syarat kalau memang di terima di pabrik jangan mempermalukan Ibu" sahut Ibu


"Iya Bu" sahut Mas Edi


"Ya sudah, Ibu mau istirahat dulu. Ibu capek, mungkin Ayahmu malam ini nginap lagi di rumah Pakdhemu" ucap Ibuku

__ADS_1


"Iya, nanti biar Edi kunci" sahut Mas Edi.


Ibu kembali masuk kamarnya, begitu juga Mas Edi. Aku yang mendengar percakapan Ibu dan Mas Edi ikut senang. Seandainya hubunganku dengan Ibu sebaik hubungan Ibu dengan Mas Edi dan Mbak Ria, pasti menyengkan. Tetapi, nyatanya aku harus bersabar mendapatkan nasib yang berbeda dengan yang lain.


"Kamu denger apa kata Ibu Dis ?' tanyanya, aku hanya mengangguk


"Semoga saja ya Dis, Mas bisa masuk pabrik. Biar bisa bantu biaya sekolah kamu sampai lulus" imbuhnya


"Iya Mas, semoga saja" sahutku


"Ya sudah, kamu lanjutkan saja belajarmu" ucapnya.


Entah kenapa ada rasa takut Mas Edi akan berubah, karena di rumah ini yang bersikap baik kepadaku hanya Mas Edi dan Ayah. Tetapi, akhir - akhir ini Ayah sering pulang tengah malam untuk berdagang keliling juga. Katanya, biaya Mbak Ria tambah besar belum lagi biaya untukku. Itu sebabnya Ayah memutuskan untuk berdagang keliling juga.


Keesokan harinya, Ayah pulang saat subuh. Setelah menunaikan ibadah, beliau langsung berangkat tanpa menunggu Ibu. Aku merasa bersalah kepada Ibu dan Ayah, sekalipun itu bukan kesalahanku tetap aku merasa bersalah. Karena tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ikut Mbak Ria. Sekalipun dijelaskan juga tidak mungkin Ibu mau mendengarkan aku. Yang hanya mendengarkanku pasti Ayah saja dan itu akan memperparah mereka bertengkar.


"Ayah berangkat dulu ya Dis, uang jajanmu ada di tempat biasa. Belajarlah yang rajin" ucap Ayahku


"Ayah ga makan dulu ?" tanyaku


"Sudah tadi di rumah Pakdhe" sahut beliau


"Kamu nanti jangan lupa sarapan ya" imbuh Ayahku


Setelah Ayah berangkat, Ibu keluar dengan beberapa barang yang akan dibawanya. Aku dan Mas Edi duduk sambil sarapan.


"Ibu mungkin nanti akan pulang larut" ucap Ibu kepada Mas Edi


"Nanti Ibu akan langsung ke rumah teman Ibu. Kalau minggu atau hari lain takutnya sudah terisi. Nanti pulang kerja, cek semua bahan untuk besok. Dan nanti jangan ikut - ikutan yang tidak seharusnya. Semoga nanti lekas di terima kerjanya" ucap Ibuku kepada Mas Edi


"Iya Bu, semoga saja diterima. Agar bisa bantu keuangan di rumah" sahut Mas Edi


"Kamu jangan lupa beberes rumah, paham" bentak Ibuku dan aku hanya mengangguk

__ADS_1


__ADS_2