AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
BINGUNG ?!?!?


__ADS_3

'Kalau yang keluar laki - laki, lantas kenapa Mbak Ria tadi menangis ? Sepertinya tadi tidak ada suara orang bertengkar ? Apa mungkin aku salah dengar, ya ?' batinku


"Dis, kamu sudah dari tadi pulangnya ?" tanya Mbakku


"Lumayan tadi sih Mbak" sahutku


"Jangan bilang - bilang siapapun tentang apa yang kamu lihat barusan" ucapnya


"Lagian Mbak kenapa berani bawa teman laki - laki masuk kamar ? kalau ketahuan gimana ?" sahutku


"Ga bakalan ada yang tahu, kecuali kamu yang mengadu" sahutnya ketus


"Dan kalau sampai kamu mengadu lihat saja nanti" imbuhnya


"Kalau ada tetangga yang mengadu gimana coba ? Misalnya, ketahuan sama Lek Abdul dan dia mengadu sama Ibu" pancingku penasaran dengan ancaman Lek Abdul kepadanya.


"Kalau dia berani macam - macam denganku, aku adukan kepada Pakdhe" sahutnya sambil berjalan ke kamar.


'Apa mungkin Lek Abdul memergoki Mbak Ria pacaran ? Tetapi kalau tadi dia berani ngomong gitu ngapain dia nangis - nangis ? Aku jadi penasaran' batinku


"Assalamu'alaikum" ucap Mas Edi yang baru pulang


"Wa'alaikumsalam" sahutku


"Kenapa Dis, kok kayak orang bingung ?" tanya Mas Edi


"Gapapa Mas, ini lagi ngerjakan tugas saja" sahutku menutupi


"Ya sudah, di teliti lagi biar bagus nilainya" ucap Mas Edi


Setelah selesai membereskan tugas dan menyiapkan keperluan sekolah, aku lihat Mas Edi belum tidur. Dia masih membaca dan sepertinya sedang menghitung juga.


"Sedang apa Mas ?" tanyaku


"Oh, ini lagi iseng - iseng saja buat nambah ilmu" sahutnya


"Apa itu, oh primbon ternyata" sahutku setelah tau apa yang dibaca Mas Edi


"Mas mau jadi peramal juga ya" godaku


"Ish, ya nggaklah. Mas cuman iseng saja sembari mengisi waktu biar mengantuk" sahutnya


"Biar ngantuk ya dibuat rebahan Mas, nanti juga tidur sendiri" sahutku


"Dis besok kamu ke rumah Budhe jam berapa ?" tanya Mas Edi


"Selesai beberes Mas, kalau ga beberes dulu bisa - bisa Ibu marah" sahutku

__ADS_1


"Kan Ibu kerja ?" ucapnya


"Ibu memang kerja Mas, tetapi kan ada mata - mata Ibu" sahutku


"Lek Abdul ?" ucapnya


"Ish, dia kan bukan mata - mata Ibu, tapi tukang fitnah biar aku ga dibolehin ke rumah Budhe" sahutku


"Terus, siapa ?" tanyanya


"Hmmm, siapa lagi kalau bukan Mbak Ria. Aku salah dikit ngadu, begini ngadu, selalu ngadu biar aku kena marah" sahutku kesal


"Itu namanya bukan mata - mata, Dis. Tapi tukang ngadu" ucap Mas Edi yang membuat kami tertawa.


"Mas sudah ada panggilan ?" tanyaku


"Belum, berkasnya baru tadi yang selesai. Tadi sama Ibu sudah dianter ke rumah temannya. Mungkin baru besok sama orangnya dibawa. Kan ga mungkin langsung dipanggil, mungkin ya semingguan baru ada panggilan" sahutnya


"Mas apa sudah pamitan di tempat Mas kerja kemarin ?" tanyaku


"Belumlah, kalau sudah ada panggilan kerja baru Mas bakalan pamitan. Cari kerja susah Dis, sudah punya kerja sekalipun hanya serabutan sudah Alhamdulillah. Daripada nganggur ga ada penghasilan" sahutnya


"Apa Mas ga dimarahi oleh juragannya Mas ? Kan Mas udah 2 hari ini ga kerja" tanyaku


"Mas sudah ijinlah, kita kalau punya itikad baik pasti dihargai sekalipun bawahan. Makanya nanti kalau Mas sudah panggilan kerja mau pamit baik - baik, biar kalau Mas butuh kerjaan ga susah" sahutnya


"Ya ga gitu juga, nasib semua orang kan seperti roda. Kadang diatas kadang juga dibawah, sama halnya buruh pabrik. Kalau pabrik sedang banyak pesanan ya lancar, tetapi kalau sepi ya siap - siap banyak PHK" sahutnya menjelaskan


"Makanya kita jadi orang ga boleh sombong dan takabur. Karena, apa yang kita miliki itu hanyalah titipan. Kalau Allah sudah mengambil apa yang dititipkan kepada kita ya selesai sudah. Nanti diakhirat, kita juga dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah dititipkan kepada kita" tambahnya menasehatiku


"Seperti uang ya Mas" sahutku


"Ga hanya uang tetapi semuanya yang kita miliki. Uang, rumah, baju, kendaraan dan anggota tubuh kita. Apa kita menjaga, merawat, dan menggunakan untuk akhirat juga atau hanya untuk kepentingan dunia" jelasnya


"Makanya, kita harus berhati - hati dalam melakukan sesuatu. Sesuai dengan ajaran agama atau tidak" imbuhnya


"Sudah malam, tidur sana. Besok biar ga telat bangunnya dan ga terlambat ke sekolah" ucapnya


"Iya, Gendis juga udah ngantuk" sahutku, yang kemudian tidur


Pagi sudah menyingsing, aku lihat Ibu dan Ayah sedang bersiap mau berangkat. Mas Edi belum pulang dari masjid, Mbak Ria terlihat masih tidur.


"Mana Mas" pinta Ibu kepada Ayah


"Aku kan sudah bilang tidak. Kalau dia memang niat bantu Edi bekerja, seharusnya dia tidak meminta imbalan seperti itu. Dan lagi selama ini hanya itu yang bisa aku berikan kepada Gendis. Kenapa ga punya Ria saja ? selama ini berkali - kali aku membelikan Ria selalu kamu jual dengan alasan ini itu. Kenapa untuk hal ini punya Gendis yang harus dijual ? Dan lagi kenapa kamu tidak simpankan uang gaji Edi yang selama ini diberikan kepadamu ? Jangan kamu pikir selama ini aku tidak tau kemana uang gaji Edi. Sudahlah, aku mau kerja pagi - pagi tidak usah ngajak bertengkar saja" sahut Ayah


'Ada apa lagi sebenarnya, kok Ayah begitu marah kepada Ibu' batinku

__ADS_1


"Dis, Ayah berangkat kerja ya. Nanti jangan sampai lupa bayar uang sekolahnya. Sudah Ayah masukkan tasmu." ucap Ayah


"Iya Yah, Ayah hati - hati berangkat kerjanya" sahutku


"Iya, Assalamualaikum" ucap ayah


"Wa'alaikumsalam" sahutku


Suasana rumah menjadi sepi, Ayah dan Ibu sudah berangkat. Aku segera sarapan dan siap - siap untuk ke sekolah.


"Assalamu'alaikum" ucap Mas Edi yang baru pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam" sahutku


"Ibu dan Ayah sudah berangkat ya Dis ?" tanya Mas Edi


"Sudah Mas" sahutku


"Mbakmu kemana, kok sepi ?" tanyanya


"Masih tidur Mas" sahutnya


"Kamu tau, Mbakmu kemarin ada temannya laki - laki kesini ?" tanya Mas Edi yang membuat aku bingung harus jawab apa


"Kata siapa Mas ?" tanyaku


"Kata Bulek, beliau katanya lihat Mbakmu nutup pintu waktu ada teman laki - lakinya. Bener itu Dis ?" tanyanya balik


"Gendis ga tau Mas, Gendis kan ngaji. Memangnya jam berapa Bulek yang lihat Mbak nutup pintu ?" tanyaku


"Mas ga tanya, tetapi katanya teman laki - laki Mbakmu itu pulang pas kamu pulang ngaji" ucapnya


"Gendis ga tau Mas, Gendis juga ga liat teman laki - laki Mbak Ria. Coba saja Mas tanya sendiri kepada Mbak" sahutku berbohong


"Iya, nanti Mas akan tanyakan. Kalau memang benar ada teman laki - laki Mbakmu, kenapa harus ditutup juga pintunya ?" sahutnya


"Mungkin Bulek salah liat Mas ?" ucapku


"Ga mungkinlah, masak iya Bulek salah lihat" sahutnya


"Mungkin saja Mas, namanya juga manusia" sahutku meyakinkan Mas Edi agar tidak curiga aku menyembunyikan kebenarannya.


"Biar nanti Mas tanya Mbakmu langsung saja" sahutnya


"Kamu beneran ga tau ?" selidiknya


"Menutupi kesalahan orang yang salah itu dosa loh Dis. Di akhirat dimintai pertanggungjawaban juga" ucapnya sembari meninggalkanku yang ketakutan

__ADS_1


__ADS_2