AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
KESEDIHAN MAS EDI


__ADS_3

Entah kenapa, rasanya aku penasaran sekali dengan sikap Mbak Ria yang tiba - tiba ingin tau masalah keluarga Mbak Mumun. Biasanya dia tidak pernah peduli dengan segala hal yang menyangkut dengan keluarga Budhe. Karena baginya, yang penting Ibu sangat menyayanginya dan tidak menyukaiku. Dan masa bodoh dengan siapa - siapa yang menyayangiku. Tetapi tidak dengan belakangan ini, dia bukan peduli dengan keadaan Budhe. Melainkan dia sangat ingin tau keadaan rumah tangga Mbak Mumun. Setiap hari selalu menanyaiku tentang keluarga Mbak Mumun, yang inilah yang itulah sampai aku bingung mau menjawab apa.


"Kamu itu jangan bohong, pasti kamu tau kan perkembangan rumah tangga Mbak Mumun ?" tanya Mbak Ria mendesakku


"Aku harus jawab bagaimana lagi Mbak ? Aku beneran ga tau, sekalipun aku kesana bukan untuk mengurusi rumah tangga Mbak Mumun. Aku kesana untuk nemenin Budhe yang sakit. Coba Mbak tanya sendiri saja kepada Mbak Mumun, daripada maksa aku" sahutku


"Untuk apa kamu kesana, kalau tidak tau menau keadaan keluarga disana. Terlebih keadaan keluarga Mbak Mumun ?" ucapnya


"Aku kesana jenguk keadaan Budhe yang sakit - sakitan dan menaninya. Karena kalau siang, Pakdhe kerja dan Mas Udin pulang sekolah biasanya langsung latihan. Aku disana bukan bergosip atau mengurusi rumah tangga orang lain" sahutku kesal


"Awas kamu lihat saja nanti" ucapnya


'Hmmm, pasti mau ngadu yang tidak - tidak lagi kepada Ibu' batinku sambil melihat kearahnya pergi.


Selesai beberes, aku langsung mandi siap - siap mengaji. Aku sengaja tidak ke rumah Budhe hari ini. Karena aku membaca sikap Mbakku agak aneh, daripada aku nanti malah terkena masalah karena ulahnya. Saat aku pulang mengaji, aku dengar suara ribut Mbak Ria. Sepertinya berdebat dengan Ibu, entah tentang masalah apa.


"Kenapa sih harus punya aku Bu, Gendis kan juga punya ?" kata Mbak Ria


"Ga bakalan boleh sama Ayahmu kalo punya dia, dan lagi suratnya disimpan Ayahmu" ucap Ibuku


'Ada apa memangnya kenapa aku dibawa - bawa terus' batinku


"Lagian kenapa ga uang Mas saja ? Kenapa harus Ria ? yang mau kerja kan Mas, kenapa Ria yang repot" katanya dengan nada sewot


"Gaji Masmu selama ini diberikan kepada Ibu, dengan alasan untuk bayar sekolahmu dan Gendis. Tetapi Ibu tidak pernah membayarkan uang sekolah Gendis, dan yang membayarnya itu murni hasil kerja dari Ayahmu bukan gaji yang diberikan Masmu. Gaji Masmu seluruhnya cuman untuk sekolah dan jajanmu. Sedangkan gaji Ibu sendiri, Ibu ikutkan arisan" ucap Ibu


Saat aku masuk kamar, betapa terkejutnya aku tau Mas Edi ada di dalam saat kamar gelap. Mas Edi memberi aku isyarat untuk diam dan mendengarkan perdebatan Ibu dan Mbak Ria.


"Edi bilang, kalau kamu sendiri sudah dapat jatah darinya tiap gajian. Padahal gaji Masmu sudah diberikan kepada Ibu dan Ibu gunakan untuk keperluan kamu sendiri" sambung Ibu


"Tetapi bukan berarti kalung Ria untuk keperluannya Mas Edi Bu" sahutnya


"Kalau bukan kalung itu darimana lagi Ria ?" ucap Ibu


"Ibu kan bilang ikut arisan, ya itu sajalah Bu jangan kalung Ria" sahutnya


"Arisannya masih lama, nanti kalau Masmu sudah kerja di pabrik. Gaji yang Masmu beri pasti lebih besar, jadi Ibu bisa belikan kamu kalung yang lebih bagus sekalian sama gelang juga" ucap Ibu

__ADS_1


"Beneran Bu, memangnya sama Mas Edi bakalan diberikan semua gajinya ?" sahutnya


"Pastilah, dia kan rela bekerja demi membantu Ibu menyekolahkanmu dan Gendis. Tetapi Gendis kan ada Ayahnya, biar Ayahnya saja yang membiayai. Uang Edi hanya untuk biaya kamu" ucap Ibuku


Aku hanya menatap kakakku yang mulai sedih, kemudian dia keluar dan menyuruhku menyalakan lampu aku hanya diam menatapnya sedih.


"Siapa ?" tanya Ibuku dari kamar Mbak Ria setelah tau lampu kamar nyala


"Aku" sahutku


"Ya sudah besok kita bicara lagi, Ibu mau istirahat" ucap Ibu kepada Mbak Ria.


Selesai belajar, aku masuk kamar dan jam sudah menunjukkan jam 21.00, tetapi aku belum melihat Mas Edi pulang. Biasanya kalau tidak ada acara rutinan, dia ada dirumah. Karena yang kami dengar tadi dia malah tidak pulang dan terlihat sedih.


'Kemana Mas Edi, kok tumben ga pulang. Padahal biasanya pulang, apa di rumah Budhe ya?' batinku


Setelah beberapa lama terdengar suara pintu dibuka, ternyata bukan Mas Edi melainkan Ayah yang pulang.


"Kemana Masmu Dis ?" tanya Ayah


"Ga tau, mungkin ke rumah Budhe Yah. Ayah mau Gendis panggilkan Mas ?" sahutku


"Sudah Yah, baru saja" sahutku


"Cepat tidur, besok sekolah" ucap Ayahku


"Iya Yah, ini juga Gendis mau tidur" sahutku


'Kemana ya Mas Edi ? Jam segini belum pulang, apa Mas Edi tidur di rumah Budhe ya' batinku yang belum bisa tidur


"Kamu belum tidur Dis ?" tanya Ayah yang melihatku mau merebahkan tubuh


"Belum Yah, Gendis ga bisa tidur tadi masih baca - baca sebentar" sahutku


"Masmu kemana ya Dis ?" tanya Ayah


"Ga tau Yah, Gendis pulang ngaji Mas belum pulang" bohongku

__ADS_1


"Apa ada pengajian baru ya yang Masmu ikuti" ucap Ayah


"Mungkin saja Yah, atau mungkin juga Mas tidur di rumah Budhe" sahutku menenangkan


"Iya mungkin, ya sudah tidur sana" ucap Ayahku, aku hanya mengangguk mengiyakannya.


Suara orang mengaji menggema, menandakan sebentar lagi subuh. Aku tidak menemukannya di kamar dan di rumah. Aku cemas, biasanya sekalipun tidur di rumah Budhe, subuh Mas pulang membangunkanku baru berangkat ke masjid.


'Mas kemana ya ? Ah lebih baik aku ke surau saja nanti pulangnya aku mampir ke rumah Budhe memastikan Mas ada disana atau tidak' batinku


Aku segera beranjak mandi dan berangkat ke surau, berharap bertemu kakak laki - lakiku yang semalam terlihat sedih.


"Assalamu'alaikum Budhe" ucapku


"Wa'alaikumsalam, tumben pagi - pagi kesini Dis" sahut Budhe


"Ga apa - apa Budhe, pingin ke surau aja hehehe..." ucapku sambil celingukan


"Nyari siapa Dis ?" tanya Budhe bingung melihat gelagatku


"Ga ada Budhe, kok tumben masih jam segini apa sepi Mas Udin masih tidur Budhe ?" bohongku, karena khawatir Mas Edi tidak ada di sana.


"Cari siapa Dis ?" tanya Budhe lagi, karena memang aku yang tidak bisa berbohong.


"Mas Edi dari semalam ga pulang Budhe" sahutku sedih


"Gendis takut kenapa - kenapa, karena saat keluar Mas Edi terlihat sedih banget Budhe" sambungku


"Ada masalah apa memangnya ?" tanya Budhe lagi


"Gendis tidak tau Budhe, karena ini baru pertama kali Mas ga pulang rumah" sahutku


"Biasanya paling malem jam 22.00 Mas udah pulang, sekalipun tidur disini pasti subuh pulang ke rumah bangunin Gendis habis itu mandi baru berangkat ke masjid" sahutku


"Ya sudah, Gendis sekarang pulang saja nanti pasti Mas Edi pulang" ucap Budhe


"Ya sudah Budhe, Gendis pulang dulu, Assalamu'alaikum" ucapku sambil melangkahkan kaki

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" sahutnya


__ADS_2