
'Apa aku harus bercerita kepada Mas Edi ?Apa dia akan percaya dengan ceritaku ?Apa nanti Mas Edi ga berfikir aku memfitnah orang ?' batinku bingung
"Dis, kok malah melamun" tanyanya
"Anu Mas, kalau aku cerita apa Mas Edi bisa pegang rahasia ? Karena Gendis takut Gendis salah paham tetapi Gendis juga bingung" sahutku
"Iya, Mas janji" sahut Mas Edi
"Besok saja Gendis ceritanya, soalnya ada Mbak dan lagi takutnya Ibu sama Ayah bangun bisa - bisa Gendis kena marah" sahutku takut - takut
"Ya sudah, kalau itu mau Gendis sekarang tidur dulu udah malam" sahutnya
"Iya, selamat malam Mas" ucapku
"Selamat malam Dis, jangan lupa baca doa" sahut Mas Edi
"Kamu nanti ga usah ke rumah Budhemu lagi, kasian dia masih sakit malah selalu kamu repotkan" bentak Ibuku pagi - pagi, sebelum beliau berangkat kerja
"Tetapi Budhe minta Gendis kesana buat nemenin Budhe" sahutku
"Pokoknya kalau sampai Ibu tau kamu ke rumah Budhe, lihat saja apa yang akan Ibu lakukan" ancam Ibu, aku hanya terdiam
"Ada apa pagi - pagi sudah ribut ?" tanya Ayah
"Itu anakmu dikasih tau malah ngeyel, memang dasar anak ga tau diri, ga tau diuntung. Tau gitu dulu pas lahir aku buang, bisanya cuman merepotkan saja" ucap Ibu, aku hanya menangis mendengarnya
"Kamu itu kenapa sih, selalu saja bersikap seperti itu pada Gendis padahal dia juga anak kandungmu" sahut Ayah
"Karena dia anak yang tidak pernah aku harapkan, yang bisanya hanya merepotkan dan buat orang susah" sahut Ibu dengan nada tinggi
"Hati - hati kalau ngomong karena kamu adalah Ibunya" sahut ayah
"Aku tidak pedul, dan tidak akan pernah peduli apa yang akan terjadi padanya nanti" sahut Ibu sembari pergi bekerja, meninggalkan aku yang merasakan sakit
'Kenapa lagi ini Ya Allah, padahal baru dapat 3 hari Ibu tidak menghina serta melarangku ke rumah Budhe. Sekarang malah seperti ini lagi malah Ayah dan Ibu jadi bertengkar' batinku
__ADS_1
Sepulang sekolah aku tidak ke rumah Budhe lagi karena ancaman Ibu tadi pagi. Keluarga Budhe sudah hafal dengan sikap Ibu kepadaku. Jadi, disaat aku tidak kesana mereka sudah paham karena pastinya aku tidak diizinkan. Setelah beberes rumah dan mengerjakan tugas sekolah, aku ingin membeli sesuatu di warung. Saat melewati rumah kosong samping gang jalan menuju warung, betapa terkejutnya aku lagi - lagi aku melihat pemandangan itu
'Apa mereka tidak malu kalau ketahuan orang lain ? Ah sudahlah, nanti juga kalau sudah ketahuan warga dan kesurupan demit yang ada di rumah kosong itu juga tau rasa' batinku bergidik ngeri
Sore menjelang, aku duduk di kursi kayu sambil belajar tiba - tiba ada suara orang masuk. Ternyata Masku sudah pulang dengan wajah kusut.
"Mau Gendis masakkan air panas Mas ?" tanyaku menawari Masku
"Ga usah Dis, Mas mandi air dingin saja. Mas minta tolong, nanti pulang kamu mengaji sekalian belikan Mas jamu ya. Badan Mas pegal - pegal, tadi banyak yang harus di kemas besok mau kirim" ucap Masku
"Oh ya, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari Mas Dis ? Kenapa kamu hanya diam saja seperti orang kebingungan ?" tanya Mas Edi saat selesai mandi dan salat
"Gendis bingung Mas, mau cerita takutnya disangka fitnah karena Gendis cuman anak kecil" sahutku sedih
"Memangnya ada apa ? Apa ada orang yang menjahatimu ?" tanyanya selidik
"Sebenarnya bukan Gendis Mas, tetapi Mbak Mumun dan Budhe" sahutku
"Maksudmu ?" tanyanya
"Aku takut yang membuat Ibu marah tadi pagi sampai ga ngizinin Gendis ke rumah Budhe itu ulah hasutan Lek Abdul. Tetapi Gendis juga takut yang Gendis fikirkan itu fitnah" sahutku sedih
"Nanti biar Mas yang cari tahu, kamu lebih baik jangan cerita ke Mbak Mumun" ucapnya
"Kalau Mbak Mumun pastilah Mas, tetapi aku ga bisa bohong terus - terusan sama Mas Udin, Budhe dan Pakdhe. Mereka pasti tau aku menyembunyikan sesuatu" sahutku frustasi
"Kalau kamu mau cerita ke Udin gapapa, mungkin dia bisa membantu Mas mencari tahu juga. Kalau Budhe, Mas punya firasat sudah tahu. Tetapi kalau Pakdhe, lebih baik jangan cerita kepada Pakdhe takut terjadi sesuatu" ucapnya, akupun mengetahui maksud dari perkataan Mas Edi
"Ya sudah tidak perlu terlalu dipikirkan lagi, lebih baik kamu selesaikan belajarmu. Mas mau ke rumah Budhe dulu" ucapnya sambil meninggalkanku
'Apa aku tanya Budhe saja ya masalah Lek Abdul ? Siapa tau firasat Mas benar ?' batinku termenung
Sorepun tiba, aku melihat Mbak Ria pulang dengan wajah ceria. Dan tumben - tumbennya sambil bersenandung. Ah mungkin lagi kasmaran, seperti kata Mas tadi. Tiba - tiba aku bergidik mengingat kelakuan antara Lek Abdul dan Bu Fatima tempo hari.
"Kamu udah mandi Dis, hmmm Mbak minta tolong ya belikan mi instan di warung" pinta Mbak Ria sambil senyum - senyum
__ADS_1
'Tumben Mbak Ria berkata manis apa dia sakit ?' batinku keheranan melihat tingkahnya
"Kok diam Dis, apa kamu tidak mau karena Mbak selalu jahat ?" tanyanya dengan nada manja
"Ga Mbak Gendis mau" sahutku sambil menerima uang darinya
'Sepertinya Mbakku kesurupan setan baik hati, biarlah seperti itu setidaknya dia tidak membentakku semena - mena' batinku senyum - senyum melihat tingkah mbakku
"Dis mau kemana ?" tanya Mas Edi saat melihatku menuju ke warung
"Ke warung Mas, disuruh Mbak Ria beli mi. Eh Mas, apa Mbak Ria salah makan ya ?" tanyaku heran
"Memangnya kenapa ?" tanyanya
"Tadi senyum - senyum sendiri, terus nyuruh aku dengan nada yang lembut ga ada ketus - ketusnya sama sekali" sahutku, Mas Edi yang mendengar ceritaku mengernyitkan dahi tidak percaya.
"Apa jangan - jangan Mbak Ria kesurupan pas pulang sekolah barusan ?" tanyaku yang masih bingung dengan sikap Mbak Ria
"Ih kamu itu, biar Mas liat Mas malah penasaran" sahutnya
"Iya aku mau beli mi dulu" akupun meninggalkan Mas Edi yang terlihat belum percaya dengan ucapanku. Saat aku pulang, ternyata Mas Edi sudah ada di rumah
"Mbak ini mi-nya" ucapku ke Mbak Ria
"Terima kasih, kamu sudah makan ?" tanyanya, yang membuat aku dan Mas Edi saling pandang heran
"Sudah Mbak" sahutku
'Ya allah apa Mbakku tadi salah makan waktu jajan di sekolahnya ya ?' batinku masih heran
"Ria kamu gapapa ?" tanya Mas Edi keheranan
"Gapapa Mas, emang ada yang salah ya ?" sahutnya
"Apa kamu salah makan atau tersendak cilok waktu disekolah ?" tanya Mas Edi membuatku menahan tawa, khawatir Mbak Ria kembali seperti biasanya lagi kalau aku tertawa.
__ADS_1
"Ish mas ini, apaan sih orang Ria gapapa malah dikira tersendak cilok di sekolah" sahutnya manyun sambil menuju ke dapur. Aku dan Mas Edi heran sekaligus tidak percaya akan perubahannya. Memang tidak aku pungkiri, kalau perubahan Mbak Ria yang seperti ini yang aku inginkan. Tetapi untuk saat ini hal ini terlalu cepat bagiku.