AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
SALAHKU APA?!?


__ADS_3

Di minggu pagi, aku selalu bangun lebih awal. Beberes rumah dan sebagainya, karena tiap pagi aku selalu menyempatkan lari pagi. Sekalipun hanya mengitari jalan desa yang masih hijau dan beraromakan daun padi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Disaat anak - anak seusiaku diajak orang tuanya berwisata ke kota, aku hanya mampu menikmati hijaunya sawah di kampungku. Disaat sore tiba, biasanya aku diajak ke daerah pesisir oleh Mas Edi, yang tidak jauh dari kampungku walau hanya sekedar makan jagung rebus. Tetapi sejak Mas Edi bekerja, aku merasa kasihan kalau minta jalan - jalan sore, biarlah hari liburnya dia jadikan hari istirahatnya.


"Gendis sana ganti baju" tiba - tiba Mas Edi menyuruhku untuk ganti baju


"Ada apa memangnya Mas ? tanyaku heran


"Ayo ikut Mas" sahut Mas Edi


"Mau kemana memangnya Mas ?" tanyaku penasaran


"Beliin yang kamu mau, Mas kemarin gajian" sahutnya dengan raut wajah bahagia


"Sama Mbak Ria juga kan ?" tanyaku lagi karena kalau pergi bertiga pasti seru


"Tidak, tadi Mbakmu minta uang dan ga mau ikut, katanya mau pergi sama teman - temannya" sahutnya


"Kok Mbak Ria ga pernah mau kalau diajak pergi bareng bertiga ya Mas? apa aku memang merepotkan seperti yang dikatakan Ibu? " tanyaku


"Hais... Kenapa malah mikir gitu sih, udah sana ganti baju. Mas mau mandi dan salat dulu kamu sudah salat kan ?" sahutnya dan aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya


"Ibu, Ayah aku mau keluar dulu sama Gendis, mau jalan - jalan" pamit Mas Edi kepada kedua orang tuaku


"Mau kemana Ed ?" tanya Ayah


"Ke pasar Yah, pengen beliin apa yang Gendis mau kemarin habis gajian" sahut Mas Edi


"Hati - hati Ed, biasanya jam segini pasar ramai. Gendis juga jangan jauh - jauh dari Mas Edi biar ga hilang" nasehat Ayah


"Iya Yah " sahut kami bersamaan


"Lagian kamu ngapain sih ngajak Gendis, yang ada nanti malah ngerepotin kamu" sahut Ibuku yang baru keluar dari kamar mandi


"Aku pengen nyenengin Gendis Bu, kasian dia hanya bisa liat temannya saja" sahut Mas Edi dan hatikupun mulai sedih.


"Itu sudah takdir dia, daripada dipakai yang tidak bermanfaat dengan anak tidak tau diri, itu lebih baik kasihkan ke Ria saja dia pasti lebih butuh" sahut Ibuku. Lagi - lagi ucapannya mampu membuat hatiku terasa sakit

__ADS_1


"Ria tadi minta uangnya Bu, ga mau diajak keluar sama - sama" sahut Mas Edi menjelaskan


"Iyalah dia ga mau, daripada nanti malah ngerepotin" sahut Ibuku, aku hanya menunduk merasakan sakit hati


"Lagian kamu ngapain ngajak ke pasar anak ga tau diri itu" sambung Ibuku


"Bu tolong jaga ucapan Ibu, Gendis itu anak Ibu juga. Setiap yang Ibu ucapkan itu adalah sebuah do'a kasian Gendis" sanggah Ayahku dan Ibuku langsung masuk kamar meninggalkan kami


"Gendis ga usah diambil hati ya, mungkin Ibumu kelelahan itu sebabnya Ibumu bicaranya sering ngelantur" ucap Ayahku menenangkanku


"Ayo Gendis kita jalan - jalan" sambung Mas Edi dan aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya


Sepanjang perjalanan aku hanya diam, pikiranku kemana - mana


'Kenapa Ibu sebegitu tidak menyukaiku apa salahku ?' batinku sambil menahan airmata agar tak jatuh


"Sabar ya Gendis, suatu saat pasti Ibu akan sangat menyayangimu seperti Budhe menyayangimu" ucap Mas Edi


"Iya" sahutku yang sedari tadi terdiam.


FLASHBACK


"Budhe kata Mbak Mumun Budhe kemarin cuci darah ya, cuci darah itu seperti apa Budhe? Masak sabunnya dimasukkan ke dalam darah Budhe? Terus bilasnya gimana? "tanyaku ke Budhe yang tidak paham apa itu cuci darah


"Doakan saja Budhe kembali sehat seperti dulu" senyumnya


"Mas,Mas tau ga Budhe sakit apa ?" tanyaku memecah keheningan, karena didalam angkot cuman ada beberapa orang saja


"Ga tau kenapa memangnya ?" tanya balik Mas Edi


"Waktu itu Mbak Mumun bilang Budhe mau cuci darah memangnya cuci darah itu seperti apa sih mas? masukin sabunnya gimana? terus bilasnya gimana ?" tanyaku pada Mas Edi, membuat penumpang angkot yang lain menahan tawa mendengar pertanyaanku


"Gendis, cuci darah itu bukan berarti darahnya dicuci pakek sabun kamu itu ada ada saja" tawa Mas Edi


"Terus cuci darah itu bagaimana kalau ga pakek sabun ?" tanyaku

__ADS_1


"Cuci darah itu berarti darah yang ada ditubuh kita kotor dan harus diganti dengan darah yang baru. Caranya, darah yang ada ditubuh kita dikeluarkan digantikan dengan darah yang baru bukan dicuci pakek sabun" jelas Mas Edi


"Kalau darahnya dikeluarkan berarti kehabisan darah ? Kalau kehabisan darah, jantung ga bisa mompa kalau jantung ga bisa mompa darah kan bisa mati" sahutku dengan nada yang masih bingung


"Sekolah yang pinter biar jadi dokter, terus tau apa itu cuci darah dan seperti apa prosesnya" sahut mas Edi sambil senyum - senyum, melihatku yang masih kebingungan.


Sesampai di pasar, aku tidak memilih atau membeli apa - apa aku hanya melihat - lihat kebingungan baru kali ini aku ke pasar berdua dengan Mas Edi. Biasanya kalau tidak ikut Ayah, ya ikut Budhe beli bahan - bahan untuk catering.


"Kamu mau beli apa Dis ?" tanya Mas Edi yang melihat aku tidak berhenti di kedai manapun yang kita lewati


" Gendis bingung Mas" sahutku


"Kenapa ?" jawab Mas Edi


"Bingung mau beli apa" sahutku


"Apa yang Gendis inginkan pasti Mas belikan" sahutnya


"Hmmm.... Gendis beli itu aja" tunjukku ke penjual kembang gula


"Apalagi ?" tanya Mas Edi


"Pulang aja" jawabku, Mas Edi malah bingung melihatku


Saat perjalanan pulang, Mas Edi bertanya kenapa tidak membeli yang lain. Saat Mas Edi tau apa yang aku ingin, Mas Edi malah terdiam. Iya, yang aku inginkan saat ini adalah Ibu menyayangiku seperti menyayangi Mas Edi dan Mbak Ria serta kesembuhan Budhe. Aku tau, tidak akan ada yang mampu memberikan keinginanku itu kecuali kuasa Allah. Tetapi aku yakin, suatu saat itu pasti akan terwujud. Sesampai di rumah aku langsung masuk kamar untuk ganti baju


"Hebat ya kamu bisa jalan - jalan sekarang" sinis Mbak Ria


"Kata Mas Edi tadi Mbak keluar sama teman - temannya " sahutku


"Lebih baik aku keluar dengan teman - temanku daripada direpoti bocah tidak tau diri seperti kamu" sinis Mbak Ria


"Ada apa Dis ?" tanya Ayah yang melihat aku dimarahi Mbak Ria


" Ga ada apa - apa yah, cuman tanya Gendis tadi beli apa ke pasar" sahutnya berbohong tetapi tangannya memperlihatkan tinjunya kepadaku

__ADS_1


__ADS_2