AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
RAHASIAKU


__ADS_3

Sesampainya di ruangan Budhe, ternyata Budhe sudah siuman. Dan sudah ada suster juga disana yang mau menyuntikkan obat. Aku senang melihat Budhe sudah siuman dan tersenyum seperti itu.


"Kamu kenapa tiba - tiba pingsan ?" tanya Pakdhe yang ingin tahu sebenarnya, tanpa mengatakan apa yang diceritakan Mbak Mumun


"Aku ngisi kamar mandi karena mau mandi, pas nyampe kamar mandi tiba - tiba kepalaku berat dan tidak ingat apa - apa lagi" sahut Budhe, tetapi seperti ada yang disembunyikan.


"Kan aku sudah bilang berkali - kali, ga usah ikutan ngisi kamar mandi biar anak - anak yang ngisi" kata Pakdhe menahan emosi


"Aku ingin menggerakkan badanku biar cepat sembuhnya" sahut Budheku, dimatanya memang ada keinginan untuk sembuh.


"Nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit, biar Udin sama Gendis yang nemenin kamu jalan - jalan pagi" ucap Pakdhe dan aku mengiyakannya.


'Pasti ada sesuatu yang Budhe sembunyikan, biar nanti saja kalau pulang saja aku coba hati - hati bertanya sama Budhe' batinku


Pakdhe dan Mas Udin pamit mau ke masjid, aku yang menjaga Budhe sambil bercerita kesana kemari dan membuat Budhe tertawa.


"Besok Gendis kesini lagi apa tidak ?" tanya Budhe


"Ga tau Budhe. Kalau sama Ibu diizinin, besok waktu Mas Udin kesini Gendis ikut. Tetapi kalau ga diizinin nunggu Budhe pulang saja" sahutku sambil tersenyum lebar


"Ya sudah, kalau mau kesini izin dulu sama Ibu biar ga dimarahin. Dan jangan lupa salat, belajar sama mengajinya ya" nasehat Budhe


"Iya Budhe, Budhe ga usah kebanyakan mikir biar ga sakit. Kata guru Gendis, yang membuat manusia sakit itu bukan hanya pola makan tetapi yang paling parah itu adalah pikiran. Kalau kita terlalu lelah mikir, otak kita akan bekerja sangat keras dan mengganggu organ tubuh yang lain begitu katanya" sahutku dengan polos. Yang hanya disahuti dengan senyuman khas Budhe yang tulus dan penuh kasih sayang.


"Sebentar lagi Mas Udin selesai. Kamu pulang sama Mas Udin ya, soalnya Pakdhe mau nunggu dokter" ucap Budhe


"Tugas sekolahmu bagaimana Dis ? Apa sudah kamu selesaikan ?" imbuhnya


"Sudah Budhe, tadi sebelum ke rumah Budhe Gendis beberes rumah dulu. Sekalian ngerjakan tugas, nyampe rumah Budhe malah Budhe pingsan" sahutku sedih, mengingat waktu melihat Budhe sudah pingsan


"Iya tadi Budhe ga hati - hati, makanya terpeleset dan jatuh" sahutnya


"Budhe terpeleset ? bukannya tiba - tiba pingsan habis ngisi kamar mandi ya ?" selidikku heran, Budhe tiba - tiba bingung mau jawan apa.


"Assalamu'alaikum" kata Mas Udin dan Pakdhe serempak

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" sahut kami bersamaan. Terlihat wajah Budhe lega karena pertanyaanku tak terjawab


"Ayo Dis, kita pulang" sahut Mas Udin dan aku mengiyakannya


"Gendis pulang dulu ya Budhe, cepet sembuh biar cepet pulang abis itu Gendis temenin Budhe mau jalan - jalan ke sawah atau ke pesisir" ucapku bersemangat


"Iya, lusa Budhe pulang. Minggu pagi kita jalan - jalan" sahut Budhe ga kalah bersemangat daripada aku


"Ya sudah hati - hati pulangnya " sambungnya, aku dan Mas Udin mencium punggung tangan Budhe dan Pakdhe.


'Apa yang di sembunyikan Budhe ? Kenapa Budhe berbohong ? pasti ada sesuatu yang salah. Apa Budhe memergoki suami mbak Mumun? Tetapi siapa yang mengganti baju Budhe dan kenapa diganti ?' batinku bingung


"Kamu kenapa Dis kok melamun dari tadi ?" tanya Mas Udin


"Gendis ga melamun Mas" sahutku


"Kalau ga melamun coba Mas tanya, Mas tadi ngomong apa sama kamu ?" tanyanya


"Emang Mas daritadi ngomong apa ?" tanyaku balik sambil senyum - senyum


"Tadi bilang ga ngelamun, tapi Mas tanya malah ga tau" imbuhnya sambil cemberut


"Maaf Mas, makan bakso saja ya hihihi" sahutku polos


"Kamu mikirin apa sih Dis ?" tanya Mas Udin menyelidik


"Aku bingung sama Budhe Mas, tadi pas di rumah ketemu pingsan di depan kamar, pas ditanya Pakdhe katanya tiba - tiba pingsan setelah ngisi kamar mandi, tetapi pas aku tanya katanya terpeleset mana coba yang bener ?" tanyaku kepada Mas Udin


"Sepertinya ada yang Umi sembunyikan, dan bisa jadi karena terlalu mikirin hal itu Umi jadi sakit seperti ini" sahutnya sambil menerawang


"Sepertinya iya, ya sudah nanti kita cari tahu sendiri saja Mas seperti di film - film detektif itu" sahutku


"Kamu itu sekolah yang bener, itu urusan orang dewasa anak kecil ga boleh ikut - ikut" ucapnya


"Tetapi Gendis penasaran Mas soalnya ... " sahutku tanpa melanjutkan takutnya yang aku katakan salah

__ADS_1


"Udah ga usah kebanyakan mikir ayo pulang, biar ga terlalu malam nyampe dirumah" ajak Mas Udin.


Dua hari Budhe di rawat di rumah sakit, dan Mas Udin bilang hari ini Budhe pulang. Jadi, aku dimintai tolong membersihkan kamar Budhe. Karena Ifa demam, jadi Mbak Mumun tidak bisa melakukannya. Setelah pulang sekolah, aku mengerjakan tugas sekolah dulu baru beberes rumah. Setelah selesai, barulah aku ke rumah Budhe karena kata Mbak Mumun Budhe pulang sore. Sesampai di rumah Budhe, ternyata sepi Mbak Mumun tidur dengan Ifa entah suami Mbak Mumun kemana padahal sepedanya ada. Saat aku masuk kamar Budhe, ada suara aneh perempuan seperti mengerang kesakitan dan ada suara laki - laki.


'Astaghfirullah' batinku


Aku bingung melihat apa yang aku lihat, sebentar lagi Budhe pulang dan Mbak Mumun tidur.


'Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah apa aku bangunkan Mbak Mumun saja? Ah tidak bisa - bisa Mbak Mumun masuk rumah sakit, tetapi kalau sampai Budhe melihat gimana? Aku jatuhkan kaleng itu saja' batinku saat melihat kaleng biskuit di meja


PRAAANGG


"Gendis apa itu kamu" sahut Mbak Mumun yang terbangun karena suara kaleng yang sengaja aku jatuhkan. Saat aku melihat ke arah mereka ternyata sudah tidak ada


"Iya Mbak ini Gendis" sahutku


"Ada apa ? Apa yang jatuh ?" tanyanya yang ternyata sudah ada di depanku


"Maaf Mbak jadi membangunkan Mbak, ini kalengnya ga sengaja Gendis senggol" sahutku sambil mengambil kaleng biskuit dan menempatkannya kembali


"Apa sudah selesai beberes kamar Umi, Dis ?" tanyanya


"Sudah Mbak tinggal nyapu saja" sahutku


"Ga usah di sapu gapapa Dis, kamu pasti capek habis beberes di rumahmu" sahutnya


"Gapapa Mbak sekalian, pasti habis ini ada tamu ga enak kalau rumahnya kelihatan kotor" sahutku


"Makasih ya Dis udah bantuin Mbak, Ifa juga masih demam makanya Mbak ga bisa beberes" sahutnya


"Gapapa Mbak kan keluarga disini juga keluarga Gendis, Gendis mau bersihin rumah dulu takutnya Budhe dateng" sahutku dan mbak Mumun hanya mengangguk


"Kamu ga kelihatan Ayahnya Ifa, Dis ?" tanyanya


"Ga Mbak, tadi Gendis kesini sepi. Aku lihat Mbak juga tidur tadi" sahutku

__ADS_1


'Maaf Mbak, Gendis ga berani jujur takut Mbak sakit' batinku


__ADS_2