
Aku bingung harus bagaimana, disatu sisi aku takut ancaman Mbak tetapi disisi lain aku juga takut dosa. Kalau Mbak sudah mengancam pasti Ibulah yang akan menghukumku. Mbak selalu bisa memutarbalikkan fakta agar aku dihukum oleh Ibu. Akupun berangkat ke sekolah dengan perasaan bingung.
'Ini semua gara - gara teman Mbak Ria, ngapain masuk kamar ? Dan lagi, ngapain juga Mbak Ria nutup pintu ? Ah sudahlah' batinku
Sepulang sekolah aku langsung beberes rumah, kebetulan hari ini tidak ada tugas rumah. Setelah selesai semua, aku pergi ke rumah Budhe.
"Assalamu'alaikum" ucapku
"Wa'alaikumsalam" sahut Mbak Mumun yang sedang bermain dengan Ifa
"Budhe kemana Mbak ?" tanyaku
"Ada di kamar Dis, masuk saja" sahutnya, akupun menuju kamar Budhe
"Budhe lagi apa ?" tanyaku kepada Budhe
"Ga lagi ngapain, Dis. Barusan cuman dari dapur lihat kentang" sahut Budhe
"Jadi bikin donut dulu ?" tanyaku
"Iya, sama mau buat isinya pastel nanti malam" sahut Budhe
"Gendis bantuin ngupas buat isian pastelnya ya" imbuh Budhe
"Oke" sahutku sembari berjalan ke dapur di belakang Budhe
"Budhe apa ga capek ngerjakan sendiri ?" tanyaku
"Galah, nanti kan juga dibantu Mbak Mumun untuk mengolah sama gorengnya" sahut Budhe
"Terus Ifa sapa yang pegang ?" tanyaku
"Nanti biar dijaga Ayahnya" sahut Budhe
"Memangnya mau, Budhe ?" tanyaku meyakinkan
"Ya harus maulah, ini juga kan sekalian acara selamatan 4bulanan anaknya" sahut Budhe
"Oh, pantesan di kasih kue juga" sahutku
"Kalau sudah dikupas di rendam ya Dis biar ga hitam" ucap Budhe
"Itu kentangnya sudah dikupas apa belum Dhe ?" tanyaku
"Belum, nanti kalau sudah matang dikupas baru dihaluskan. Soalnya itu kentang kecil bukan kentang yang besar" sahut Budhe
Aku melanjutkan acara kupas - kupas, tiba - tiba terdengar suara orang bicara di depan. Setelah selesai mengupas semua bahan isi, aku baru ke depan. Ternyata Bulek ada di ruang tamu bersama Budhe dan sudah mau pulang.
__ADS_1
"Budhe itu sudah selesai di kupas semua" ucapku
"Ayo ngupas kentang sama Budhe, pasti kentangnya sudah matang" sahut Budhe
"Mbak Mumun kemana Budhe ?" tanyaku karena tidak melihatnya
"Barusan masuk kamar nemenin Ifa tidur" sahut Budhe
"Tadi kamu sebelum kesini sudah mengerjakan tugas, Dis ?" tanya Budhe
"Gendis ga ada tugas rumah hari ini, Dhe. Tadi pulang sekolah langsung beberes rumah biar Ibu ga marah" sahutku
"Ibumu kan kerja, mana bisa tau ?" tanya Budhe
"Bisalah, Ibu memang kerja tapi Mbakkan ada di rumah" sahutku
"Maksudmu, Mbakmu ngadu kepada Ibumu ?" tanya Budhe
"Iyalah Budhe, siapa lagi yang sukanya ngadu ke Ibu selain Mbak" sahutku
"Katanya Mbakmu sempet bersikap manis ke kamu ?" ucap Budhe
"Iya, tetapi cuman bertahan cuman 2 hari saja" sahutku
"Kok bisa gitu ?" heran Budhe
"Kamu itu ada aja, mana ada manusia kemasukan malaikat. Yang ada itu manusia kemasukan setan" sahut Mas Udin yang tiba - tiba nimbrung
"Ih, ga ada salam main nyelonong aja" sahutku
"Sudah tadi sebelum masuk rumah, tetapi ga ada yang jawab malah di dapur semua" sahutnya
"Wa'alaikumsalam" sahutku
"Telat, udah dari tadi salamnya" sahutnya
"Yang penting kan di jawab" sahutku, kamipun tertawa bersama
"Makan dulu sana, Din" ucap Budhe
"Iya Mi, ini mau makan. Kamu sudah makan Dis ?" sahut Mas Udin
"Sudah, tadi sebelum kesini" sahutku
"Kentang yang sudah dikupas sambil di haluskan aja Dis" ucap Budhe
"Nanti kalau sudah selesai makan, Mas bantuin halusin kentangnya" sahut Mas Udin
__ADS_1
"Memangnya Mas Udin ga latihan hari ini ?" tanyaku
"Libur, latihannya diganti besok" sahutnya
"Masmu jadi melamar di pabrik, Dis ?" tanya Budhe
"Jadi Budhe, kemarin katanya berkasnya sudah Ibu berikan ke temannya" sahutku
"Sekarang apa masih kerja serabutan ?" tanya Budhe lagi
"Masih Budhe, kata Mas sih selagi belum ada panggilan kerja Mas masih mau tetap kerja disana. Baru kalau sudah dapat panggilan, Mas mau pamitan baik - baik. Biar kalau misal Mas butuh kerjaan lagi ga susah" sahutku
"Tuh Din, dengerin. Kerja dimanapun, kita harus bisa membawa diri jadi orang lain segan sama kita. Cari kerja itu susah, kalau kita kerja seenaknya sendiri mana ada orang mau mempekerjakan" sahut Budhe menasehati Mas Udin
"Benar apa kata Edi, cari dulu yang lebih baik jangan asal berhenti. Nanti kalau misal nemu yang lebih baik, tinggal pamitan baik - baik dari tempat yang lama" sambung Budhe
"Nanti Udin mau jadi juragan saja, biar bisa mempekerjakan orang yang membutuhkan" sahut Mas Udin
"Aamiin" sahutku dan Budhe serempak
"Dis, Budhe mau tanya tapi kamu harus jawab jujur" pinta Budhe
'Aduh masalah apalagi ini' batinku
"Mau tanya apa Budhe ?" sahutku
"Apa benar, kemarin ada teman laki - laki Mbakmu yang ke rumah ?" tanya Budhe
'Tuh kan masalah itu lagi, aku harus jawab bagaimana ?' batinku sedih
"Dis" ucap Budhe yang diperhatikan Mas Udin
"Pasti Gendis bingung mau jawab apa, iya kan Dis" tebak Mas Udin
"Budhe tau dari siapa ?" tanyaku
"Bulekmu tadi kesini, cerita sama Budhe. Dia minta Budhe menasehati Mbakmu. Budhe tadi bilang ke Bulekmu, kalau kamu atau Edi Budhe bisa. Tetapi kalau Ria, Budhe ga bisa karena Ria ga seperti kamu dan Edi" jelas Budhe
"Terus Bulek cerita apalagi Budhe ?" tanyaku
"Kemarin katanya teman laki - laki Mbakmu ke rumah sebelum Ibumu keluar, setelah agak lama baru Ibumu keluar. Mungkin selang setengah jaman, Bulekmu melihat teman laki - lakinya masuk kamar setelah itu pintu depan ditutup oleh Mbakmu. Yang buka pintu bukan Mbakmu, tetapi kamu waktu pulang ngaji. Setelah itu, baru teman laki - lakinya pulang. Apa benar yang diceritakan oleh Bulekmu itu ?" tanya Budhe
"Gendis sebenarnya ga tau Budhe apa yang terjadi. Yang Gendis tau, waktu Gendis pulang ngaji ada suara orang nangis dari kamar Mbak. Gendis biarkan saja ga memperdulikan itu, toh kadang Mbak suka ketawa sendiri di dalam kamar. Waktu Gendis mau belajar, tiba - tiba ada teman laki - laki Mbak keluar dari kamar barengan sama Mbak. Setelah itu temannya pulang, hanya itu yang Gendis tau" sahutku
"Tadi pagi Mas juga tanya hal yang sama ke Gendis, katanya Bulek yang cerita. Tetapi tadi Gendis ga jawab pertanyaan Mas, baru ke Budhe ini Gendis yang cerita. Gendis takut Budhe, soalnya diancam kalau sampai bilang - bilang masalah ini. Budhe tau sendiri kalau Mbak sudah ngancam pasti ngadunya yang tidak - tidak kepada Ibu" sambungku
"Hmmm, ya sudah yang penting kamu tidak boleh meniru perbuatan Mbakmu. Karena itu termasuk perbuatan setan, kamu juga Din" ucap Budhe menasehati kami, kami hanya mengangguk paham.
__ADS_1