AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

AKU TAK SEPERTI YANG TERLIHAT
RAHASIA MBAK RIA


__ADS_3

"Kok bisa sampe ketemu sama Mbak" heranku


"Ga tau, katanya sih ketemu pas waktu Mbakmu keluar dari toko baju" sahut Mas Udin


"Kapan memangnya Mas ?" tanyaku


"Kemarin lusa kejadiannya" sahut Mas Udin


"Pantas saja Mas kelihatan sedih campur kecewa setelah dengar percakapan Mbak dan Ibu" sahutku


"Memangnya Masmu tau sendiri ?" tanya Budhe


"Iya Budhe, waktu aku pulang ngaji, Mas ada dikamar tapi lampu kamar ga dinyalakan. Pas aku mau nyalakan, Mas ga ngebolehin. Karena Mas dengerin percakapan Ibu sama Mbak. Sepertinya Mas dengerin dari awal tapi entah apa yang dibicarakan. Yang aku dengar, cuman masalah uang gaji Mas dipakek buat keperluan Mbak saja. Padahal Mas inginnya itu untuk keperluanku dan Mbak, biar meringankan biaya ekonomi keluarga. Tetapi nyatanya malah selalu kurang, dan selalu minta lagi sama Mas. Begitu kata Mas kemarin" sahutku


"Kasihan Masmu, dia ingin kamu kuliah dari hasil kerjanya karena Ibumu tidak mau membiayai kuliahmu. Masmu rela langsung kerja agar kamu sama seperti Mbakmu. Karena Masmu berfikir, Ibumu tidak akan pernah berubah" sahut Budhe


"Padahal Gendis gapapa sekalipun ga kuliah, Gendis ingin kerja kasian Ayah. Kalaupun Gendis kuliah, Gendis ingin kuliah dari hasil kerja Gendis sendiri" sahutku Budhe yang hanya tersenyum mendengar penuturanku


"Suatu saat, pasti kamu menjadi orang sukses. Sekalipun kamu masih kecil, tetapi sikap dewasamu dan ketegaranmu sudah nampak" sahut Budhe sembari mengusap kepalaku


"Bener Mi, kalau misal Udin ada di posisi Gendis, pastinya Udin sudah berontak dari dulu. Tetapi Gendis beda, dia diam saja sekalipun Ria selalu membuatnya dimarahi. Bahkan sampai dihukum oleh Ibunya karena hal yang tidak dia lakukan" sahut Mas Udin


"Gendis hanya berharap, dengan Gendis mengalah seperti ini suatu saat Ibu mau menerima Gendis Mas" sahutku


"Kamu sudah makan Dis" sahut Budhe memotong agar aku tidak terlalu sedih


"Sudah Budhe, tadi pulang sekolah" sahutku


"Lusa disini ditempati pengajian rutinan Dis, kamu mau kan bantuin Budhe?" ucap Budhe


"Memangnya mau dikasih makan apa Dhe ?" tanyaku


"Rencananya mau buat sop daging, tadi Pakdhemu dikasih iga sapi oleh temannya" sahutnya


"Dan lagi, Budhe ingin ngasih kue kepada yang mengaji" ucap Budhe menambahkan

__ADS_1


"Kue apa Budhe ?" tanyaku


"Mungkin bolu sama pastel, makanya kamu bantuin ya" ucap Budhe


"Oke, kalau begitu pulang sekolah Gendis akan langsung kesini buat bantuin" sahutku


"Besok sore mungkin Budhe mau buat pastelnya atau buat bolunya dulu, biar ga lama - lama" sahut Budhe


"Ya sudah, besok Gendis kesini. Nanti Gendis bantuin sampai selesai, biar Budhe ga terlalu capek juga " sahutku


"Gendis mau pulang dulu Budhe, mau siap - siap ngaji dan siapa tau Mas sudah pulang " ucapku


"Ya sudah sana, nanti kalau Masmu pulang bilang dicari Budhe. Dan bilang sama Budhe disuruh kesini gitu ya" sahut Budhe


"Siap Budhe, tugas dilaksanakan" sahutku sambil berpamitan


Sesampai di rumah, ternyata Mas Edi sudah pulang aku segera mandi terlebih dahulu supaya. Saat selesai mandi dan salat ashar, ternyata Mas Edi sudah masuk ke kamar.


"Mas, tadi ditanyain Buudhe. Nanti sama Budhe nanti di suruh kesana" ucapku


"Mas, kemarin lusa habis tengkar sama Lek Abdul ya ?" tanyaku hati - hati


"Kamu tau dari siapa ?" Mas Edi tanya balik


"Dari Mas Udin, waktu Gendis ke rumah Budhe ada Lek Abdul. Dia tiba - tiba ramah sama Gendis, entah itu beneran apa hanya karena ada Mbak Mumun. Pas waktu aku cerita ke Budhe dan Mas Udin, barulah Mas Udin cerita kalau Mas habis bertengkar" sahutku


"Iya, Mas memang bertengkar sama Lek Abdul gara - garanya dia ngancam - ngancam Mbakmu. Mas pas lewat dan Mas dengar Lek Abdul ngancam - ngancam Mbakmu. Bahkan ngatain kamu katanya tukang minta - minta ke Budhe. Mas ga tau kenapa Lek Abdul sampai ngancam Mbakmu, sampai Mbakmu nangis - nangis seperti orang ketakutan. Mas hanya dengar ancamannya saja, tetapi kalau kamu dikatain tukang minta - minta itu di depan Mas langsung " sahutnya sambil menghembuskan nafas berat


"Terus" sahutku penasaran


"Waktu Mas tanya Mbakmu kenapa, apa yang terjadi ternyata Mbakmu melihat Lek Abdul lagi bermesraan dengan perempuan seusia Mbakmu. Mbakmu katanya habis belanja, karena diberi uang banyak oleh Ibu. Sepertinya itu gajian yang Mas berikan untuk bantu biaya sekolah kalian, tetapi malah digunakan Makmu untuk belanja" sahutnya dengan nada kecewa


"Sudah Mas, Gendis gapapa yang penting Mas jaga kesehatan dan jangan lupa istirahat. Mas pasti 2 hari ini tidurnya ga nyenyak ?" sahutku


"Iya, Mas kepikiran sama sikap Ibu. Kenapa yang dipikirkan hanya Ria padahal anaknya bukan hanya Ria. Dan menginginkan Mas masuk pabrik hanya agar Ria bisa Mas kuliahkan di tempat yang bagus. Padahal ntuk biaya hidup mahal, sedikitpun tidak memikirkan kamu yang butuh biaya dan tidak memikirkan capeknya Mas bekerja. Dipikiran Ibu hanya ada kesejahteraan Ria " sahut Mas Edi dengan berkaca - kaca

__ADS_1


"Padahal, Mas juga pengen punya motor sendiri seperti anak lainnya. Ngajak kamu jalan - jalan dan siapa tau dapat jodoh juga" sahutnya lagi


"Mas sudah punya pacar ?" tanyaku terkejut


"Belum, tetapi siapa tau tiba - tiba ada orang ketuk pintu minta agar anaknya Mas nikahi" sahutnya


"Memangnya Mas dijodohin ?" tanyaku


"Nggak" sahutnya


"Menghayal" sahutku, kamipun tertawa bersama


"Gendis mau siap - siap berangkat ngaji dulu" sahutku, dia hanya tertunduk lesu


"Oh iya Mas, lusa katanya di rumah Budhe rutinannya ya ?" tanyaku


"Iya rutinan yang habis isya', kamu diminta tolonh Budhe buat bantuin ?" sahutnya


"Iya, katanya Budhe mau ngasih kue entah acara apa. Gendis cuman dimintai tolong buat bantuin saja" sahutku


"Mungkin sekalian tasyakuran buat Ifa" sahutnya


"Ifa tasyakurannya masih bulan depan, kalau kata Mbak Mumun sih mau di kasihkan ke anak - anak ngaji" sahutku


"Mungkin hanya niatan Budhe supaya lekas sembuh dan bisa beraktifitas seperti dulu lagi" sahutnya


"Mas, Gendis berangkat ngaji dulu, Assalamu'alaikum" pamitku


"Wa'alaikumsalam" sahutnya


Sepulang dari mengaji, aku dengar sayup - sayup Mbak Ria menangis. Sepertinya sambil berbicara dengan seseorang didalam kamarnya.


'Seperti ada orang, tetapi kamarnya tutupan. Ibu juga sepertinya tadi keluar. Ah, mungkin temannya yang berkunjung' batinku


Aku kembali belajar dan menyelesaikan tugas rumah yang ternyata ada beberapa yang belum aku isi. Dan betapa terkejutnya aku, ketika yang keluar adalah seorang laki - laki. Mbak Ria ikut mengantar keluar, seperti kebingungan melihatku sedang berada di ruang tamu.

__ADS_1


'Hah kok laki - laki yang keluar dari kamar Mbak Ria ? Aduh gawat kalau sampai Ayah tau, bisa - bisa Mbak Ria dimarahi habis - habisan' batinku


__ADS_2