Aku Wanita Hina

Aku Wanita Hina
Kabar Bahagia


__ADS_3

Setelah selesai melakukan beberapa pemeriksaan di Rumah Sakit, Amel di bolehkan pulang.


----------- Tiga puluh menit kemudian.


Amel dan Adit telah sampai di kediaman keluarga Raharja. Amel melangkahkan kaki masuk bersama Adit. Amel masih terlihat tidak percaya akan kehamilannya hingga Amel hanya diam saja.


"Kamu sakit apa Nak!" tanya Ayah Rudi ketika melihat siapa yang masuk.


"Amel tidak sakit Ayah, dia hanya kelelahan. Ayah tenang saja sebentar lagi Ayah akan punya cucu" ucap Adit bangga.


"Jadi kamu Hamil Nak?" Tanya Ayah Rudi bahagia.


Amel hanya mengangguk lalu tersenyum kecil.


"Ayah aku istirahat dulu ya" ucap Amel.


"Istirahatlah Nak, mulai sekarang kamu jangan kerja yang berat-berat lagi" ucap Ayah Rudi lagi.


Amel meninggalkan ruang keluarga melangkah masuk kedalam kamar.


"Ayah lebih baik aku berangkat sekarang saja" ucap Adit sambil melihat jam tangannya.


"Adit mulai sekarang kamu harus lebih perhatian pada Amel dia sedang mengandung anakmu" ucap Ayah Rudi.


Adit hanya diam tanpa menjawab, Adit bahagia dengan kabar kehamilan Amel namun di sisi lain Adit memikirkan Riska. Di dalam mobil perjalan ke bandara Adit hanya diam melihat jalanan.


------------------------ Satu jam kemudian Adit telah sampai di Bandara. Di dalam Pesawat Adit tetap diam, tatapan nya kosong.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang" bathin Adit.


Adit mengambil ponsel yang di simpannya di saku jas nya, Adit membuka galeri melihat poto Riska bersamanya, dimana Riska tertawa dan Adit pun begitu. " Huh bagaimana ini" ucapnya mengusap wajah kasar.


Sementara itu di tempat lain. Amel berguling kesana kemari mencoba memejamkan mata namun tak juga terlelap, pikiran dan hatinya tertuju pada Suaminya, kehamilannya membuatnya ingin bermanja-manja namun Adit harus pergi ke luar kota. Amel ingat belum memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya pada Ibunya. Di raihnya benda pipih itu lalu mencari kontak Ibunya.


"Halo Bu apa kabar?"


"Anak sialan tumben kau ingat pada Ibumu haaa?"


"Aku sibuk Bu"

__ADS_1


"Memangnya apa saja yang kau lakukan di sana, kamu kan hanya makan tidur"


"Andai Ibu tau bagaimana Mas Adit memperlakukan aku, bagaimana Ibu mertuaku berlaku buruk padaku " bathin Amel.


"Ekhhhh anak sialan kenapa kamu diam saja"


"Ibuuuu bisa tidak Ibu jangan marah-marah terus, aku ada kabar buat Ibu"


"Kabar apa?"


"Aku hamil Bu!"


"Apa .. Kamu tidak sedang ngigau kan?"


"Apa sih Bu, aku serius"


"Baiklah kalau begitu kamu istirahat saja, jaga tuh baik-baik pewaris tunggal Raharja"


"Ibu kenapa ngomongin harta terus"


"Bocah tau apa kamu"


---------------------------- Sementara itu di Luar Negeri.


Di sebuah gedung tinggi Mira menyusuri lorong panjang dengan perasaan was-was karena untuk pertama kalinya Riska datang menemui Aron. Mira masuk kedalam ruangan setelah Aron memberi izin.


"Siapa yang menyuruhmu datang kemari?"


"Aron, aku sangat merindukanmu"


"Huh, kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu untuk lelaki lain Mira"


"Aron, aku tidak bisa melupakanmu begitu saja"


"Memang apa yang sulit, bahkan aku tidak pernah berlaku baik padamu" Aron setengah berteriak.


Mira menangis " Aron sekas*r apapun sikapmu padaku, aku akan tetap mencintaimu"


"Semakin kamu ingin masuk dalam hidupku maka kamu akan semakin sakit"

__ADS_1


"Aku akan menunggu sampai Takdir menyatukan kita, aku akan menunggu waktu itu tiba"


Aron mendekap tubuh Mira, membenamkan wajah Mira dalam pelukannya.


"Maafkan aku yang bersikap kasar padamu"


Mira mendongak, melihat kedalaman mata Aron.


"Aron, semua orang pernah mempunyai masa lalu bukan hanya kamu. Lupakanlah dia, dia sudah bahagia Aron, mari mulai semuanya dari awal"


Aron terdiam, walaupun raga Aron di Luar Negeri namun hatinya hanya tertuju untuk Amel. Selama ini Aron menjaga Amel dengan caranya sendiri.


"Bantu aku mengikhlaskan nya" ucap Aron pelan. Mira hanya mengangguk lalu memeluk Aron kembali.


------------------------------- Sementara itu di hotel tempat Adit menginap.


"Sayang aku merindukanmu, kenapa kamu seperti menghindariku"


"Sayang aku sedang sibuk"


"Aku datang menyusulmu karna aku merindukan hangatnya pelukanmu"


"Riska, aku disini bekerja bukan liburan"


Riska berpura-pura menangis. "Adit apa kamu sudah tidak menyayangiku"


"Bukan begitu" Adit sendiri tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Belakangan ini Adit jarang menemui Riska.


Tanpa peringatan Riska ******* bibir Adit, tangannya sudah menjelajah kemana-mana. Pikir Riska lelaki mana yang akan tahan di goda dan benar saja Adit membalas ciuman Riska.


Tidak lama Riska terhempas ke atas Ranjang. Adit mencumbu tubuh Riska tanpa ada yang terlewat. Desahan demi desahan lolos dari bibir Riska, selama ini permainan Adit membuatnya bagai melayang tinggi.


Riska dan Adit melewati malam yang panjang, tubuh polos Adit dan Riska sudah bermandikan keringat. Erangan demi erangan menjadi saksi bagaimana Adit mengobrak abrik gudang Riska. Setelah sama-sama puas Adit terlelap di samping Riska.


"Adit kamu hanya milikku, kamu tidak boleh menjadi milik wanita murahan itu. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu" bathin Riska. Sambil mengusap wajah Adit.


Bersambung.................


otakku mumettttt😩😩😩😩😩

__ADS_1


__ADS_2