
Mobil yang di tumpangi Amel dan Ayah Rudi Tiba di depan pusat perbelanjaan di kotaXX. Ayah Rudi segera memarkir kendaraannya. Amel dan Ayah Rudi segera turun lalu mereka berjalan masuk kedalam pusat perbelanjaan.
Setelah tiba di toko buah-buahan, Amel memilih beberapa buah-buahan yang ingin di belinya, Setelah merasa cukup Amel menyudahi acara belanjanya. Saat beberapa langkah ingin meninggalkan toko buah Amel tidak sengaja berpapasan dengan Bu Ratih. Amel yang menyadari keberadaan Bu Ratih, kaget melihat Ibu seseorang yang pernah sangat di cintainya.
Bu Ratih melihat Amel lalu memegang tangan Amel. "Amel" panggil Bu Ratih masih dengan memegang tangan Amel.
"Ta-tante" jawab Amel terbata-bata.
"Apa kamu ada waktu, Tante ingin bicara sama kamu" mohon Bu Ratih.
Amel melihat mertuanya seakan meminta izin. Ayah Rudi hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Tante kenalkan ini Ayah Mertuaku" ucap Amel.
Bu Ratih Dan Ayah Rudi saling berjabat tangan.
---------------- Di taman Bu Ratih dan Amel duduk berdua setelah kepergian Ayah Rudi terlebih dahulu.
"Ada apa tante?" tanya Amel setelah beberapa saat menunggu Bu Ratih bicara namun tak kunjung bicara.
"Amel, maafkan tante yang sudah memisahkan kamu dan Aron" ucap Bu Ratih sambil menggenggam tangan Amel.
"Tante bicara apa, aku dan Aron memang tidak di takdirkan bersama"
__ADS_1
"Aron masih mencintaimu Amel" bulir bening mulai menetes dari pelupuk mata Bu Ratih.
"Aku dan Aron sekarang hanya teman, sudah tidak ada kata cinta di antara kita, apalagi sekarang aku sedang hamil" ucap Amel tersenyum.
Bu Ratih kaget mendengar kabar Amel yang sedang hamil, namun secepat kilat Bu Ratih tersenyum.
"Selamat ya Nak, semoga kamu dan bayi yang kamu kandung sehat selalu" ucap Bu Ratih tulus.
"Tante, tante tenang saja. Aron sudah berjanji padaku jika dia akan bahagia walaupun tanpa aku. Dia sudah berjanji akan memulai hidupnya tapi tidak sekarang, tunggulah waktu itu datang" ucap Amel menitikan air matanya.
Amel menyudahi pembicaraannya dengan Bu Ratih. Amel berdiri lalu melangkah meninggalkan Bu Ratih yang masih duduk sambil menangis, tangisnya semakin pecah karna menyesal telah memisahkan anaknya dari gadis sebaik Amel. Bu Ratih semakin menyesal setelah bicara dengan Amel.
Baru beberapa langkah Amel berjalan Bu Ratih bicara. "Jika suatu saat nanti Tuhan memberi kalian waktu, tolong terima anak tante"
Amel berhenti ketika mendengar perkataan Bu Ratih. Ia menjawab perkataan Bu Ratih tanpa berbalik.
"Kembalilah pada anak tante, Aron sangat mencintaimu dia akan menerima kamu apa adanya" ucap Bu Ratih lagi.
"Bukan Aron tapi tante" Amel berbalik menatap Bu Ratih. "Apa tante bisa menerima janda beranak" ucapan Amel bagai menyayat hati Bu Ratih.
Bu Ratih tak bisa berkata apa-apa. Amel tersenyum "Sudah ku duga tante tidak akan menerima anak ku, aku sadar tidak mungkin keluarga Wijaya akan menerima wanita sepertiku. Seharusnya sebelum bicara padaku pikirkan dulu apa yang tante inginkan" lalu Amel pergi meninggalkan taman.
----------------------- Di dalam taksi yang di tumpangi Amel untuk kembali ke kediaman Raharja. Amel menangis karna kembali teringat masa lalunya bersama Aron.
__ADS_1
"Aron bahagialah walau tanpa aku, kamu sudah berjanji akan melanjutkan hidupmu dengan bahagia walau tanpaku. Sekarang aku sudah bahagia tinggal giliranmu" bathin Amel.
Supir taksi yang melihat penumpangnya menangis mencoba bertanya. "Nona, apa Nona baik-baik saja?"
Amel tersadar. "Akhh maaf pak, saya baik-baik saja" ucap Amel menghapus air matanya.
Setelah tiga puluh menit di perjalanan pulang Amel tiba di depan Rumah keluarga Raharja.
Sebelum masuk Amel menarik nafasnya lalu melangkah. Rasa ingin sekali memakan stroberi hilang sudah karena kesedihan di dalam hatinya. Amel langsung masuk ke dalam kamarnya merebahkan tubuh mungilnya, tidak lama Amel terlelap.
------------------- Sementara itu di NegaraXX seorang lelaki bertubuh tegap dan parasnya yang sempurna membuat kaum hawa selalu memuja-mujanya ingin menjadi pemilik hatinya, siapa lagi jika bukan Aron.
"Apa Ibu sadar jika yang Ibu lakukan itu salah" ucap Aron mendesah. " Ibu meminta seorang wanita yang sudah menikah menerima cintaku, apa semudah itu menurut Ibu" ucapnya lagi.
Aron sedang bicara lewat sambungan telpon dengan Ibunya yaitu Bu Ratih. Bu Ratih hanya menangis semakin besarlah penyesalannya. Sambungan telpon pun terputus, Bu Ratih mengingat bagaimana Ia dulu menghina dan meminta Amel meninggalkan Aron.
"Pergilah dari kehidupan anakku, wanita murahan sepertimu tidak pantas menjadi menantu di keluarga Wijaya!" ucap Bu Ratih pada Amel.
Amel hanya menangis. "*Kami saling mencintai tante, tolong restui hubungan kami" ucap Amel memohon.
"Cih ... merestui hubungan kalian?. Aku tidak akan pernah sudi punya menantu sepertimu" ucap Bu Ratih lalu pergi meninggalkan Amel yang masih menangis pilu*.
Bu Ratih yang hanya bisa menangisi kesalahannya tidak bisa berbuat apapun, kata-kata yang pernah terucap dari mulutnya untuk Amel terngiang di telinganya.
__ADS_1
***Brsambung...........
JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE NYA YA, GPP GA VOTE ASAL LIKE DAN KOMEN SAJA TERIMAKASIH🙏🙏🙏🙏🙏***