Aku Wanita Hina

Aku Wanita Hina
Hampir


__ADS_3

Seharian ini Amel mengurung diri di dalam kamar, sepulangnya dari perusahaan Raharja, Amel meyadari satu hal dalam hidupnya bahwa ia akan hidup dalam setatus istri tak di inginkan. Sakit memang menerima kenyataan namun apadaya Amel telah hamil tak mungkin ia akan egois hanya memikirkan perasaannya sendiri.


Ia sadar jika perpisahan bukanlah jalan satu-satunya, ada dua belah pihak keluarga yang harus ia jaga hatinya dan sekarangpun ia sedang hamil, tak mungkin pikirnya hamil tanpa suami, lalu melahirkan tanpa di dampingi suami walaupun ia sadar ia tak memiliki hak penuh atas suaminya.


Amel terus menangis, menangisi hidupnya yang begitu menyedihkan, hingga perutnya terasa sakit akibat stres berlebih.


"Aaaaaaakkhhhhhhhh Ya Allah perutku" teriak Amel di dalam kamar.


"Tolooooong ,,, sakiiiiitttttt" teriaknya lagi.


Bi Inah yang sedang membersihkan ruang tamu mendekati pintu kamar Amel.


Bi Inah mencoba mengetuk pintu kamar.


Tok.tok.tok!


"Non,, apa non baik-baik saja" panggil Bi Inah dari luar pintu kamar.


Amel yang mendengar suara dari luar kamarnya segera teriak minta tolong.


"Tolong aku ,,, perutku sakiiittt" teriak Amel menahan rasa sakitnya air matanya semakin membanjiri pipi mulusnya.


Bi Inah yang khawatir mendengar suara kesakitan dari dalam kamar majikannya segera berlari memanggil Tuan dan Nyonya nya.


Sampai di depan pintu kamar Ayah Rudi dan Bu Maryam, Bi Inah langsung mengetuk pintu setengah berteriak karena rasa khawatir di hatinya telah membuatnya lupa dengan siapa ia bicara.


"Ada apa?" tanya Ayah Rudi setelah membuka pintu kamar.


"Nona tuan,, Nona di dalam kamar teriak-teriak minta tolong" ucap Bi Inah.


Ayah Rudu yang mendengar ucapan Bi Inah langsung berlari menuju kamar Amel.

__ADS_1


"Amel buka pintunya Nak!" ucap Ayah Rudi setengah berteriak sambil menggedor pintu kamar Amel.


"Tidak ada sahutan, Bi tolong ambilkan kunci kamar ini" perintahnya.


Setelah Bi Inah menemukan kunci cadangan kamar Amel, Bi Inah langsung memberikannya pada Ayah Rudi. Ayah Rudi langsung menyambarnya, lalu membuka pintu.


Mata Ayah Rudi melotot, lututnya lemas melihat keadaan Amel. Ayah Rudi segera menyuruh supir siapkan mobil untuk membawa Amel ke Rumah Sakit.


"Amel apa yang terjadi Nak!" ucap Ayah Rudi mendekati Amel yang sudah tak sadarkan diri.


Ayah Rudi mengangkat tubuh mungil Amel keluar dari Rumah menuju mobil. Di dalam mobil.


"Pak lebih cepat lagi" ucap Ayah Rudi sangat khawatir pada menantunya terlebih keadaannya yang sedang hamil membuat Ayah Rudi takut terjadi apa-apa.


Ayah Rudi merogoh ponsel di saku celananya, ia segera mencari kontak Adit.


"Adit kamu ke Rumah Sakit sekarang" ucap Ayah Rudi lalu memutuskan sambungan telpon.


Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mobil yang membawa Amel dan Ayah Rudi tiba di halaman Rumah Sakit.


Adit yang bingung tiba-tiba di suruh ke rumah sakit oleh Ayahnya hanya menggrutu kesal.


"Apa-apaan ini, kenapa Ayah tidak bilang siapa yang sakit" ucapnya kesal.


"Sayang sebaiknya kita segera kesana" ucap Riska.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Adit tak percaya.


"Aku akan menemanimu" ucap Riska lagi.


------------ Di dalam sebuah ruanga Amel sedang di tangani beberapa Bidan dan Dokter OBGYN. Mereka terlihat panik dengan keadaan pasiennya. Mereka terlihat sibuk menangani Amel.

__ADS_1


Di luar ruangan Adit dan Riska telah sampai, dengan sedikit berlari mereka menghampiri Ayah Rudi yang sedang duduk di depan ruangan sambil menundukkan kepalanya.


"Ayah" panggil Adit.


Ayah Rudi mengangkat kepalanya mendengar ada yang memanggil namanya.


"Ayah ada apa ,,, siapa yang sakit?" tanya Adit. Sementara Riska hanya diam saja.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan disini?" ucap Ayah Rudi pada Riska, bukannya menjawab pertanyaan Adit, Ayah Rudi malah bertanya balik.


"Ayah kami saling mencintai" ucap Adit menggenggam tangan Riska. Ucapan Adit bagai oase bagi Riska, ia tertawa bahagia dalam hatinya.


"Cih .... Cinta ,, cinta seperti apa yang mau kau coba tunjukkan padaku. Kau sudah menikah Adit, dan di dalam sana istrimu sedang berjuang mempertahankan janin yang di kandungnya" teriak Ayah Rudi sambil mencengkram kerah kemeja Adit.


Adit yang kaget mendengar perkataan Ayahnya hanya bisa diam. Ketika Ayah Rudi dan Adit bersitegang, Pintu ruangan terbuka.


"Maaf pak jangan membuat keributan disini, ini Rumah Sakit" ucap seorang perawat.


"Maaf" jawab Ayah Rudi melepaskan cengkraannya. "Dok bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya?" tanyanya.


Dokter yang menangani Amel pun mendesah.


"Pasien belum sadarkan diri, janinnya selamat tapi dia harus di rawat inap selama beberapa hari, dan dia tidak boleh setres apalagi kelelahan karena keadaannya sangat lemah" jawab Dokter.


"Terimakasih Dok, apa kami bisa melihatnya" ucap Ayah Rudi.


"Tunggu pasien di pindahkan dulu ya pak" ucap Dokter tersenyum lalu berlalu.


Ayah Rudi mengalihkan pandangannya pada Riska. "Berhenti mengganggu hubungan Adit dan Amel. Adit sudah menikah, jika kamu wanita yang punya harga diri, kamu tidak akan merebut milik orang lain" ucap Ayah Rudi tanpa basa basi.


***Bersambung...........

__ADS_1


TAK HENTI HENTINYA AUTHOR INGATKAN. MOHON DUKUNG KARYA PERTAMAKU DENGAN LIKE DAN KOMEN, GPP GA VOTE ASAL LIKE KOMEN SAJA SUDAH CUKUP.


TERIMAKASIHπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™***


__ADS_2