
Amel berusaha melepaskan cengkraman kuat tangan Adit. "Aku istrimu, bukan pembantumu" untuk pertama kalinya Amel berani membantah ucapan Adit.
Drrrrrtttt drtttttt drrrtttt
Ponsel Amel berdering, dengan sangat marah Adit menghempaskan cengkramannya hingga Amel terjungkal.
"Awwwwwwwhhhhh!" pekik Amel
"Sekali lagi kamu berani ikut campur urusanku, aku tidak akan segan-segan melakukan yang lebih kasar dari ini" Adit berlalu keluar kamar, membanting pintu cukup keras.
Amel bangun sambil menyeka air mata yang membanjiri pipi mulusnya. Di raihnya benda pipih yang sedari tadi terus berdering.
"Ha-haloo" ucap Amel terbata karna menahan isaknya.
"Amel, kamu baik-baik saja kan?" ucap Nisa di seberang telpon.
"Ia, aku baik-baik saja. ada apa?" jawab Amel.
"Kita mau ngajakin kamu kumpul bareng, udah lama kita gak pernah kumpul bareng, kita keluar yuk jalan-jalan kaya dulu. aku kangen kamu" ujar Nisa lagi.
"Tapi aku gak bisa Nis!, lain kali aja ya" Amel menolak halus ajakan teman-temannya.
"Yaaahhhhh, gak seru kalau gak ada kamu, kamu lupa? besok kan hari ulang tahunnya Putri" kata Nisa.
"Astaga!" pekik Amel. "Aku lupa, baiklah, besok kamu jemput aku ya di rumah" ucap Amel.
Setelah Amel menyanggupi ajakan teman-temannya, Amel memutuskan sambungan telpon. Amel mencari suaminya, Amel akan meminta izin pada Adit.
"M-mas, aku mau bicara sebentar" Amel bicara sambil menundukkan kepala.
"Mau bicara apa kamu?" ucap Adit tanpa menoleh.
"Besok hari ulang tahunnya Putri, Aku mau keluar sama teman-temanku. Aku mau minta izin sama kamu" Dengan takut-takut Amel meminta izin.
"Aku tidak perduli kau mau kemanapun" ucapnya.
__ADS_1
ketika Amel baru saja akan masuk ke dalam kamar, Bel rumah berbunyi.
Ting. Tong!.
"Ya .. sebentar!" Amel berlari pelan menuju pintu.
Ceklek. pintu terbuka.
"A-ayah!" Amel kaget melihat siapa yang ada di depan pintu.
"Assalamualaikum. Apa kabar Nak!"ujar Ayah Rudi sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam Ayah, Alhamdulillah aku baik-baik saja" Jawab Amel pada Ayah mertuanya sambil meraih punggung tangan Ayah Rudi lalu menciumnya.
Ayah Rudi menggandeng Amel masuk rumah. Selama ini hanya Ayah Rudi yang berlaku baik pada Amel. Ayah Rudi lah yang memilih Amel menjadi menantunya.
"Ayah sudah makan malam? biar aku menyiapkan makan malam untuk Ayah" ucap Amel.
"Ayah sudah makan di luar. kamu istirahat saja, wajahmu pucat apa kamu sakit?" Ayah Rudi memeriksa suhu badan Amel dengan punggung tangannya.
"Berhenti mengatakan kamu baik-baik saja Nak!. Apa semua orang di rumah memperlakukanmu dengan baik selama Ayah di Luar Negeri?" ujar Ayah Rudi curiga menatap Amel.
Baru saja Amel ingin menjawab pertanyaan Ayah mertuanya. Bu Maryam datang.
"Ayah!. kapan pulang?" Tanya Bu Maryam.
"Ayah baru saja sampai Bu!. Amel, istirahatlah Nak!" Ucap Ayah Rudi lembut.
"Baik Ayah" lalu Amel masuk ke dalam kamarnya.
...💮💮💮💮💮💮💮💮...
Pagi harinya. Di sebuah gedung menjulang tinggi. Seorang pria bertubuh Tinggi Tegap sedang berdiri menampar pemandangan kota NegaraXX dari jendela dengan mata elangnya. Di masukkannya kedua tanggan nya ke dalam saku celanya.
Wajahnya yang Tegas, Hidungnya yang mancung menyempurnakan ketampanan nya.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok!.
"Masuk" ucapnya tanpa menoleh pada pintu.
"Permisi Tuan! ada seorang pria ingin bertemu dengan anda".
"Suruh dia masuk" Tubuhnya masih membelakangi pintu masuk.
Setelah tamu pria masuk ruangan.
"Apa yang ingin kamu katakan?. Kamu tau kan? Aku tidak ingin mendengar kabar yang tidak penting!" berjalan pelan menuju kursi kebesarannya.
Sambil menundukkan kepala hormat. "Tuan!, dari hasil pengintaian anak buahku selama satu bulan ini. Keluarga Raharja tidak pernah berlaku baik pada Nona!"
Mata elang yang biasanya memandang dengan penuh cinta. Seketika berubah mendengar kabar yang di dapatkan anak buahnya.
"Tetap awasi dia". melempar amplop coklat berisi uang. "Itu bayaran untuk kerja kerasmu selama ini".
"Terimakasih Tuan. Saya permisi Tuan". membungkukkan badan lalu pergi.
Setelah kepergian pria yang hanya datang melaporkan hasil pengintainnya.
Pria bertubuh tegap, meraih ponselnya. Dia menghubungi seseorang.
"Pesankan aku Tiket sekarang dan siapkan aku kamar Hotel. Aku tidak akan pulang ke rumah". ucapnya lalu memutuskan sambungan telpon.
"Amel. apa pilihan yang kamu pilih membuatmu bahagia?. Aku bahkan tak sanggup hidup tanpamu. Apa kamu sudah melupakan ku?, melupakan segala kenangan manis kita. Maafkan aku yang egois, seharusnya aku tidak menyerahkanmu pada lelaki berengs*ek itu" bathin.
Pria yang biasanya tegas dan bersikap dingin pada semua orang, menitikan air matanya hanya demi seseorang yang telah pergi dari hidupnya.
Kadang seseorang akan sangat berarti bagimu ketika dia telah pergi meninggalkanmu. Kamu akan menyadari betapa pentingnya dia untukmu ketika dia sudah tak bisa kamu raih.
Bersambung.................
Maaf tulisanku acakadul, otakku lagi mumet.
__ADS_1