Aku Wanita Hina

Aku Wanita Hina
Hancur


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana jadwal Amel ke Dokter untuk memeriksakan kandungannya, Tiga bulan sudah usia kandungan Amel, semuanya masih sama tidak ada yang berubah maupun perlakuan Adit.


Amel selalu pergi ke Dokter sendiri tanpa Adit di sisinya.


Setelah tiga puluh menit perjalanan Amel sampai di depan Rumah Sakit Bunda. Amel turun dari taxi, melangkah masuk. Setelah sampai di depan ruangan Dokter OBGYN, Dokter kandungan Amel, Ia melihat banyak Ibu hamil yang datang di temani sang suami, hanya dirinya yang datang sendiri. Amel mendesah melihat pemandangan yang begitu manis di depannya.


"Andai mas Adit seperti para suami Ibu-Ibu ini, betapa bahagianya aku" bathin Amel.


"Astagfirullahal'azim Ya Allah apa yang aku pikirkan, mengapa aku selalu saja mengeluh" gumam Amel tanpa di dengar Ibu-Ibu yang lain.


Setelah dua jam lamanya menunggu akhirnya tiba saatnya giliran Amel masuk.


"Ibu Amelia Ratna" panggil seorang suster.


Amel berdiri sambil tersenyum lalu masuk kedalam ruangan Dokter. Di sana sudah ada Dokter perempuan yang cantik dan begitu lembut menunggu pasiennya.


"Bu Amelia, apa yang Ibu rasakan sekarang, apa Bu Amelia sudah tidak merasa mual-mual lagi?" tanya Dokter.


"Tidak Dok, hanya saja perut bagian bawah ku sering terasa kram, dan aku sering pusing" jawab Amel.


"Apa jika Bu Amel berhubungan int*m, Suami Bu Amel agak kasar?"


Amel yang kaget dengan pertanyaan sang Dokter hanya bisa terdiam.


"Jika itu memang benar Bu Amel sebaiknya cerita apa saja, Insyaallah saya bisa bantu"


Dengan malu-malu Amel menjawab.


"Iya dok, jika suami saya melakukannya agak sedikit kasar, memangnya ada apa dok, apa ada yang harus di waspadai?" tanya Amel takut terjadi apa-apa pada kehamilannya.


Dokter itupun tersenyum. "Sebaiknya sekarang Bu Amel mengurangi aktifitas ranjang dan kalau berhubungan usahakan suami anda melakukannya dengan pelan-pelan, karna hubungan int*m yang kasar bisa menyebabkan pendarahan dan mengakibatkan keguguran" jelas Dokter panjang lebar.

__ADS_1


"Apa kandungan saya baik-baik saja dokter?" Amel sudah takut.


"Sebaiknya kita periksa dulu ya Bu, ayo Bu silahkan Ibu berbaring, naikkan sedikit baju Bu Amel ya, sebatas dada" ucap dokter ramah.


Amel menuruti perkataan dokter. Dokter mengoleskan gel bening di atas perut Amel yang sudah sedikit ada perubahan, di gesernya alat USG di atas perut Amel.


"Kondisinya baik-baik saja Bu, sejauh ini bayi Ibu sehat, pertumbuhannya juga cukup baik, baiklah kita lihat detak jantungnya ya Bu" ucap dokter tanpa menghentikan aktifitasnya sambil melihat layar monitor.


Jedug.jedug.jedug.jedug.jedug.jedug.


Suara detak jantung Bayi yang di kandung Amel.


Amel begitu bahagia dan lega setelah mendengar penjelasan dokter terlebih saat ia mendengar detak jantung anaknya.


Dokter menyudahi pemeriksaannya. "Sebaiknya sekarang Bu Amel memperbanyak konsumsi buah dan sayur agar Bu Amel selalu fit dan bayi Bu Amel sehat, jangan lupa minum vitamin nya ya Bu" ucap dokter.


"Terimakasih dokter" ucap Amel lalu berlalu meninggalkan Rumah Sakit Bunda.


"Pak putar balik ya, tolong antar aku ke kantor Raharja Group" ucap Amel pada supir taxi.


"Baik Bu" jawab sang supir taxi.


"Mas Adit pasti senang mendengar kabar kesehatan anak kita" bathin Amel.


Amel yang sedang bahagia lupa bagaimana perlakuan Adit padanya selama ini.


'------------- Setelah tiga puluh menit perjalanan Amel telah sampai di depan kantor Raharja Group. Amel melangkah menuju meja resepsionis.


"Maaf, apa Mas Adit nya ada?" tanya Amel.


"Siapa ya?"

__ADS_1


"Saya istri Mas Adit, apa Mas Adit nya ada?"


"Adit siapa yang mbak cari?"


"Adit Raharja"


"Maaf apa mbak tidak salah orang, tidak mungkin Bos di perusahaan ini mempunyai istri seperti mbak"


"Apa anda mau saya telpon mertua saya Ayah Rudi"


"Tidak ,, tidak mbak, Pak Adit ada di ruangannya" jawabnya sudah mulai agak takut. "Pak satpam tolong antar dia ke ruangan Pak Adit" panggilnya pada satpam yang bertugas siang ini.


Di depan pintu ruangan Adit Raharja, Amel menarik nafasnya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Amel membuka pintu ruangan Adit. Senyum yang sedari tadi terpancar di bibir Amel sirna setelah melihat pemandangan di depannya. Beberapa hasil pemeriksaan kandungannya terjatuh berserakan di lantai karena genggaman tangannya lepas.


"Maaf, maaf mengganggu Mas, aku salah tidak mengetuk pintu terlebih dahulu" ucap Amel berlutut mengambil apa yang berserakan di lantai.


Riska dan Adit melepaskan tautan bibir mereka.


"Apa yang kamu lakukan disini? tanya Adit tanpa rasa berdosa.


"Tadi aku habis dari Rumah Sakit, mau memberi kabar bahwa anak kita tumbuh dengan sehat" jawab Amel tanpa berani menatap Adit.


"Pergilah, kamu tidak perlu kesini hanya untuk memberi kabar seperti itu!" ucap Adit. Riska yang mendengar Amel di usir, merasa bahagia.


Amel meninggalkan kantor dengan perasaan yang hancur, Amel keluar dengan setengah berlari.


Amel naik taxi untuk kembali pulang. Di dalam mobil Amel menangis tersedu-sedu.


"Tuhan kuatkan hatiku, jangan buat kesabaranku habis, karena ketika aku pergi dari hidupnya, aku tidak akan kembali lagi padanya" ***bathin Amel.


Bersambung............

__ADS_1


MOHON DUKUNGANNYA YA, GPP GA VOTE YANG PENTING LIKE DAN KOMEN ITU SAJA SUDAH CUKUP🙏🙏🙏🙏***


__ADS_2