Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
1. Pingsan


__ADS_3

Perempuan yang kini tengah berjalan cepat itu bernama Anggun Kaila Kirania. Anak perempuan dari tiga bersaudara. Putri dari Bapak Efan dan Ibu Ratna yang pernah menjadi RT di Bandung. Dia memiliki Kakak dan juga adik yang sama-sama laki-laki.


Tujuannya berjalan cepat hanya untuk memuaskan hati kakaknya yang saat ini sangat butuh kehadirannya. Belasan bangsal sudah dia lewati, tapi belum juga sampai di ruangan yang Ia incar. Jantungnya sudah berdegub kencang karena bunyi dering telepon yang belum berhenti juga. Matanya tertuju pada ruangan berpintu putih yang ada di ujung pandangannya.


'Bruk!'


Suara itu benar-benar membuatnya kaget, tanpa pikir apapun, dia segera melangkah ke arah suara itu. Seorang ibu-ibu paruh baya kini pingsan di pangkuannya. Kaila tidak mengenal siapa orang itu, namun raut mukanya menandakan bahwa ia khawatir.


"Suster! Tolong!" Teriaknya pada orang-orang.


Beberapa orang dan suster mulai berlari kearah nya, karena suara keras Kaila yang cukup mengundang perhatian orang.


Suster dan beberapa orang itu membawa sang ibu ke ruang UGD. Detakan jantung Kaila semakin kencang, ke khawatirannya pada ibu itu membuatnya lupa akan suatu hal.


Beberapa menit menunggu di luar ruangan UGD, dan akhirnya dokter keluar menemuinya.


"Dia siapa Kai?" Tanya dokter itu. Yang tidak lain dia adalah Kakak Kaila.


"Ga tahu Kak. Tiba-tiba dia pingsan." Jelas Kaila menceritakan kejadian sebenarnya.


"Ya udah nanti biar Kakak tanya ibu itu kalo udah siuman."


"Dokumen yang Kakak minta mana?"


Kaila menyerahkan map berwarna biru yang dipegangnya pada Kakaknya. Kakak yang sudah bisa mencapai cita-citanya, cita-cita yang didambakan sejak kecil. Namanya Bintang Adi Pratama, anak sulung dari kedua orang tua Kaila.


"Dok, pasien sudah siuman." Ucap Suster yang keluar dari ruang UGD.


Kaila tetap diam tanpa gerakan apapun.


"Ayo masuk Dek. Ngapain disini?" Ajak Kak Bintang.


Detak jantung Kaila kini mulai normal dan beradaptasi dengan suasana yang sebenarnya menegangkan. Ibu itu duduk dengan tangisan yang membuat Kaila ikut luluh juga.


"Papa!" Histerisnya.


"Ibu tenang ya Bu." Ucap Suster menenangkan.


"Gimana saya bisa tenang Sus! Suami saya meninggal!" Bentak Ibu itu.


"Suster tolong cari tahu tentang keluarganya." Pinta Kak Bintang pada Suster disebelah kanannya.


"Baik Dok."


Suster Wina bergegas keluar ruangan, begitu juga Kak Bintang yang akan mengadakan rapat dengan dokter lainnya, membahas operasi yang cukup besar pada pasien lain.


"Dek, kamu tungguin ibu ini dulu." Pesan Kak Bintang sebelum pergi.


Kali itu Kaila tak bisa melakukan apa-apa, hanya ada kebingungan yang dia hadapi. "Ibu tenang Bu. Kita cari keluarga ibu dulu." Kaila mencoba menenangkan.


Kaila mengelus lembut punggung ibu itu hingga dia mulai tenang perlahan dalam pelukannya.


"Ini Ibunya Mas." Ucap Suster pada seorang cowok yang dibawanya dari luar.


Cowok itu mendekati Mamanya, membuat Kaila mundur satu langkah dari ranjang. "Ma. Mama kenapa Ma?" Pertanyaan itu terdengar sangat tenang di telinga Kaila.


"Papa kamu Rey!" Dia mulai menangis lagi. Merengek pada putra sulungnya itu.


"Iyaa Ma, Rey tahu. Kita harus bisa hadapin ini sama-sama. Mama ga boleh sakit." Ucap cowok itu lagi pada Mamanya.


Zikri Alby Reynand, kerap dipanggil Reynand oleh teman-temannya. Hari ini, tepat pukul sepuluh, Papa kandungnya meninggal dunia karena serangan jantung. Kabar ini membuatnya terpukul, hingga ruang yang paling dalam.


"Tapi Papa meninggal Rey! Papa." Rengekan dan tangisan itu masih saja terdengar dibarengi tetesan air mata yang jatuh kesekian kalinya.


"Ya udah, sekarang kita pulang dan urusin pemakamannya Papa ya."


Kaila tak dapat berkutik dengan situasi menegangkan ini, dirinya seakan menjadi batu yang tak dapat melakukan apa-apa. Reynand dan Kaila membantu sang ibu untuk turun dari ranjang. Raut wajah yang masih dalam keadaan sedih itu, terus terbayang diotak Kaila.


"Nak. Bisa kamu ikut kami?" Tanya Ibu itu pada Kaila dengan isakan yang masih terdengar.


Kaila menatap Ibu Reynand bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Nak?" Panggilnya lagi.


Lalu Kaila mengangguk yakin, sembari mengirimkan pesan pada Kakaknya. Kaila menggenggam erat tangan ibu-ibu yang belum dia tau namanya.


...Kak Bintang...


^^^'Kak, aku ikut Ibu tadi^^^


^^^kepemakaman suaminya ya.' ^^^


Pesan itu terkirim tanpa adanya balasan. Meletakkan handphone didalam tas selempangnya, dan segera merangkul sang ibu.


Reynand berasa menjadi sandaran atas ibunya, hanya dia yang bisa diandalkan saat ini.


Ibu Reynand mulai memasuki ambulan, sedangkan Reynand memilih untuk menyetir sendiri karena dia membawa mobil. Sebelum Ibu Reynand masuk, Kaila diminta ikut bersama Reynand di mobilnya. Ndari, Ibu Reynand menyuruh Kaila untuk ikut dengannya, untuk mengawasi anaknya menyetir dengan kecepatan stabil. Disituasi seperti ini, seseorang bisa saja mengendarai dengan emosi.


Didalam mobil itu hanya ada suasana hening, tak ada lagi. Musik ataupun suara penyiar radio tak terdengar sekalipun, hanya ada beberapa klakson mobil yang meminta kendaraan didepannya untuk melaju.


"Thank's lo mau nolong nyokap gue." Ucap Reynand mengawali pembicaraan.


"Iya sama-sama." Jawab Kaila lirih.


"Maafin nyokap gue juga karena dia minta lo ikut sama kita."


"Ngga papa. Oh iya, turut berduka cita atas meninggalnya bokap lo."


"Makasih."


Hening. Tak ada yang perlu diperbincangkan lagi dan tak ada yang perlu berkenalan ditengah situasi ini. Bahkan untuk saling melihat ataupun memperhatikan wajah satu sama lain itu tidak sempat. Pikiran mereka sama-sama tertuju pada pemakaman.


Bendera kuning yang sudah terlampir di pintu gerbang hitam setinggi dua meter itu membuat Reynand semakin takut akan kehilangan Papanya. Papa yang selalu membuat dia tersenyum, Papa yang memberi tahu jika dia salah, dan Papa yang tak pernah melukai anaknya dengan tangan. Beribu kenangan seakan terkubur bersama dengan hilangnya orang itu didunia ini. Tak pernah disangka bahwa orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu akan meninggalkannya secepat ini, dikarenakan serangan jantung. Orang yang terkesan kuat dan tak pernah menyerah itu hari ini membuat anaknya menangis dalam pelukannya. Kedua anak laki-laki yang kini berjajar sembari memeluk erat badan yang sudah tak memiliki nyawa. Tentara Indonesia sekaligus pejuang itu kini telah pergi meninggalkan beribu kenangan yang terus saja terngiang dikepala Reynand. Papanya yang gagah dengan baju tentara, saat ini hanya terbaring tak bernyawa.


"Ibu yang sabar, Bapak pasti tenang disana." Kaila mencoba menenangkannya lagi. Tak ada yang bisa dia lakukan selain hal ini.


Puluhan orang kini sudah berkumpul sembari membaca surat yasin dihadapan jenazah Suripto, Papa Reynand. Dengan kepala yang sangat berat, Ibu Reynand menyandarkan kepalanya di pelukan gadis yang belum dia kenal. Dia hanya merasa nyaman dan ingin terus memeluknya. Dengan tangan yang masih mengelus lembut lengan Ibu Reynand, Kaila memperhatikan Reynand benar-benar. Tak sampai hati dia melihat Reynand dan adiknya yang masih berusia dua belas tahunan kini merengek dengan keras.


"Tolong panggil Reynand nak." Pinta Ibu Reynand pada Kaila.


Kaila menurut, lalu mengesot kearah Reynand.


"Kak. Dipanggil Mama." Panggilan 'Kak' terdengar nyaman ditelinga. Sebenarnya dia belum tahu berapa umur Reynand, tapi karena dia bingung harus memanggil apa, jadi dia memanggilnya dengan sebutan 'kak'.

__ADS_1


Reynand yang mendengar panggilan itu, menatap Kaila tanpa ucapan apapun, dan tanpa sadar, mereka membentuk kontak mata.


"Kenapa Ma?"


"Papa harus dimakamin sekarang." Tutur Ibu Reynand dengan bijaknya.


Beberapa orang mulai berdiri dan melangkah kepemakaman, sebenarnya Kaila memutuskan untuk pamit. Tapi Ibu Reynand masih memegang erat tangannya, sehingga dia enggan untuk pergi.


Sampai selesai pemakaman, Ibu Reynand masih saja mendekap Kaila. Kenyamanannya tidak membuat dia takut ataupun was-was mengenai asal-usul Kaila.


Setelah beberapa jam Kaila menemani Ibu Reynand, dia berencana untuk pamit. Pukul lima sore sudah membuat dirinya khawatir dengan telepon dari orang tuanya.


"Ibu, Kaila mau pamit ya." Pamit Kaila, sebenarnya dia takut mengucapkan hal ini.


"Nama kamu Kaila?"


"Iya Bu." Jawab Kaila dibarengi anggukan mantap.


"Jangan panggil ibu. Panggil Tante aja." Meskipun enggan, tapi Kaila menuruti permintaan orang dihapannya itu.


"Iya Tan."


"Makasih kamu mau nememin Tante ya, maaf sekali kalo keluarga kami merepotkan kamu. Pasti kamu jadi cape hari ini."


Reynand hanya terdiam mendengar perbincangan mereka, dia belum habis pikir bagaimana cewek yang bernama Kaila itu bisa membuat Mamanya terhipnotis seketika. Meskipun begitu, tak ada sedikit pun pemikiran darinya jika Kaila berusaha mencari muka. Karena dia tahu, Mamanya yang meminta dia ikut bersama mereka.


"Tante tahu, pasti badan kamu pada pegel semua karena dari tadi Tante senderan ke kamu terus." Sambungnya, dan membuat Kaila sedikit tersenyum sebab hal itu benar adanya.


"Engga kok Tan. Kaila senang bisa nemenin Tante kok."


"Boleh Tante minta nomer hp kamu?"


"Boleh Tan." Respon Kaila senang.


Ndari celingukan mencari dimana handphone yang dari tadi tak ada digenggamannya. Kesedihan dan kebingungannya membuat dia lupa akan adanya ponsel.


"Hp Mama kemana Rey?"


"Rey ngga liat Ma." Jawab Reynand cuek. Melihat ketulusan Kaila, dengan cara berlutut menenangkan Mamanya, membuat dia senang. Dengan kedatangan gadis itu kerumah ini, sedikit memberikan Mamanya ketenangan.


"Ya udah pake hp kamu dulu, nanti biar Mama cari kemana hp Mama." Menuruti perintah Mamanya, dia memberikan ponselnya pada Kaila.


"Sandinya?"


"0912" Sebut Reynand memberi tahu sandi ponselnya pada Kaila. Dia tidak peduli orang-orang akan mengetahui isi ponselnya, lagi pula tak ada apa-apa yang perlu diketahui.


"Hah?"


Kaila menatap Reynand penuh tanya, angka yang disebutkan adalah tanggal lahirnya. 'Tanggal lahir gue?' bantinnya. Tapi pertanyaan itu tak sampai diucapkan.


"0912." Sebutnya lagi, Reynand mengira bahwa suaranya itu lirih dan kurang terdengar oleh Kaila.


Setelah menuliskan nomor teleponnya di handphone Reynand, Kaila beranjak dari berlutut menjadi berdiri. Pikirannya yang campur aduk karena dia dicari orang tuanya, berkecamuk hingga membuat tangannya dingin. Dihari libur ini sebenarnya dia punya niatan untuk pergi bersama Mamanya ke mall, tapi dia sudah bilang kalau ia memiliki acara dadakan.


"Rey, anter Kaila pulang." Pinta Mamanya, Reynand sebenarnya canggung untuk mengantarkan orang yang baru dia kenal. Perkenalannya pun tidak langsung.


"Kaila bisa pulang sendiri kok Tan." Tolak Kaila halus, dia memilih untuk mengeluarkan uang daripada harus merasakan kecanggungan itu lagi.


"Iyaa. Lo bisa naik taksi kan?"


"Ada Adit kok. Udah kamu pergi anterin Kaila, Rey." Ndari tetap memaksa, begitupun Reynand yang menerima permintaan orang tuanya. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mau mengecewakan Mamanya.


Kaila dan Reynand berjalan keluar dengan serasi, tak berani Kaila menyamai langkah Reynand, dia hanya berjalan dibelakangnya.


"Naik motor aja, pake mobil macet." Ucap nya. Dan tak ada jawaban apapun dari Kaila, menggunakan apapun dia akan menurut.


Reynand menyalakan mesin motor, menunggu Kaila menaiki jok motor belakangnya.


"Naik."


Degupan jantung Kaila kembali terdengar kencang, jarak yang tercipta antara dirinya dan Reynand membuat dia canggung dan gugup. Tak bisa dia mengucapkan apa-apa, dia hanya terdiam sembari mendengarkan jantungnya yang sedang marathon. Reynand menatap Kaila dari spion kirinya, melihat betapa canggung dan gugupnya Kaila disampingnya. Hal itu membuat dirinya tersenyum miring, raut wajah yang terus saja diperhatikannya itu benar-benar lucu.


Kaila yang memergoki Reynand tengah melihatnya, langsung menatapnya balik sampai Reynand tidak berani melihatnya lagi.


"Pegangan sebelum lo jatuh." Ungkapnya.


Reynand sengaja mengatakan itu, agar Kaila semakin gugup dan memeperlihatkan wajah lucunya itu. Kaila tak menuruti apa yang Reynand katakan, mana mungkin dia memegang orang yang baru dia kenal.


Dengan prediksinya, Reynand melajukan motornya semakin kencang hingga Kaila tersentak kaget dan melingkarkan tangannya di perut Reynand.


"Gua udah bilang." Serunya.


Kalau bisa dia berteriak, Kaila pasti sudah berteriak sekencang-kencangnya karena tingkah dari anak Ibu Ndari. Ia sangat kesal hari ini, tapi berbeda dengan Reynand yang kini malah tersenyum melihat ekspresi Kaila.


Dering disertai getar dari ponsel Reynand membuat dia kaget. Dengan segera dia menghentikan motornya, lalu melepas helm. Ponsel itu didekatkan dengan indera pendengaran.


^^^"Halo." ^^^


"Halo Rey,


Sorry gua ga bisa ngelayat."


^^^"Iya gapapa Mel." ^^^


"Gue turut berduka cita ya.


Sorry banget keluarga


gue ga bisa ikut kerumah lo."


^^^"Iyaa Mel, gue lagi dijalan,^^^


^^^nanti telepon lagi ya." ^^^


"Oke. Bye."


Perempuan dibalik telepon itu bernama Amelia, anak dari Bapak Husen dan Ibu Jihan, yang tidak lain adalah adik dari Ndari. Kesibukan yang harus dijalani oleh Ayahnya, membuat dia tidak bisa mengahadiri pemakaman Omnya.


Kaila tak menghiraukan apa yang dibicarakan oleh keduanya, tatapannya berputar, melihat hari yang hampir gelap. Handphonenya sengaja di matikan, untuk menghindari puluhan telepon dari orang tuanya. Dan benar saja, ketika dinyalakan, beberapa telepon sudah tertera didaftar. Baru dia sadari, bahwa ada telepon dari Ndari. Ketakutannya seakan berkecamuk dalam pikiran, dia takut terjadi apa-apa pada Ndari.


^^^"Halo Tante?" ^^^


"Kamu dimana?

__ADS_1


Kok Reynand Tante telepon sibuk terus?"


^^^"Lagi dijalan Tan,^^^


^^^Reynand abis angkat telepon." ^^^


"Kamu temenin dia makan,


Tante takut dia ga


mau makan setelah dia pulang."


^^^"Harus ya Tan?"^^^


"Iya Kai, dari pagi dia belum makan."


"Udah, biar Tante yang


ngomong sama Reynand.


Kasihin handphone kamu ke dia."


Kaila memberikan ponselnya pada Reynand, dia belum paham siapa penelpon itu.


"Nyokap lo mau ngomong." Ucapnya.


^^^"Halo Ma?" ^^^


"Kamu makan diluar


aja ya Rey. Ditemenin Kaila."


^^^"Nanti Rey kan bisa^^^


^^^makan sendiri,^^^


^^^abis nganterin Kaila." ^^^


"Mama tahu, kamu ga


bakal mau makan kalo


ga diawasin."


^^^"Tapi Ma, Rey kan udah gede. ^^^


^^^Ya kali makan aja harus ditemenin." ^^^


"Udah deh mending


sekarang kamu ke cafe


terus cari makan.


Dari pagi kan belum sempat makan."


^^^"Iya Ma." ^^^


Telepon itu dimatikan oleh penelpon, ponsel itu dikembalikan pada pemiliknya. Dan tanpa sengaja tangan itu bersentuhan.


"Lo kedinginan?" Tanya Reynand setelah dia mengetahui bahwa tangan Kaila sangat dingin.


"Engga."


"Emang seharusnya tadi naik mobil aja." Ungkap Reynand merasa bersalah. Dia menyesal telah mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Udah gapapa, terlanjur."


Mereka berdua berjalan menuju cafe yang Reynand suka. Kebetulan searah dengan rumah Kaila.


"Makan dulu, kata Mama."


"Iya." Jawab Kaila polos.


Berjalan tanpa gandengan, tampak membuat beberapa orang mengira bahwa mereka adalah pasangan yang kini sedang memiliki masalah.


"Duduk." Pinta Reynand.


Seorang pelayan cewek mendekati tempat duduk mereka, gadis itu kerap disapa Mba Ani oleh Reynand dan teman-temannya. Mba Ani hafal sekali dengan pesanan Reynand, dia suka nasi goreng ditambah sosis.


"Kaya biasanya mba, yang dibungkus dua." Ucap Reynand ramah.


"Tumben ngga sama Mba Amelia Mas?"


"Iya, Amel nya lagi diluar kota." Respon Reynand.


"Kalo ini siapanya Mas?"


"Dia- temen saya." Reynand bingung harus menjawab apa, dia saja baru kenal dengan wanita didepannya.


Mba Ani pamit kebelakang untuk menyiapkan pesanan Reynand, keduanya kembali hening tanpa pembicaraan. Baik Kaila ataupun Reynand, sama-sama dingin.


^^^"Halo Ma?" ^^^


Tidak nyaman dengan puluhan telepon dari orang tuanya, Kaila akhirnya mengangkat telepon itu. Dia yakin bahwa ibunya tidak akan membiarkan dirinya untuk pulang setelah maghrib.


"Kamu kemana aja sih?


Udah jam segini belum pulang."


^^^"Maaf banget Ma, Ila ga kabarin."^^^


"Ya udah cepat pulang."


^^^"Iya sebentar lagi Aku pulang.^^^


^^^Ini Ila baru mau makan." ^^^


"Iyaa hati-hati ya nak dijalan."


^^^"Iya Ma." ^^^


Kaila mematikan panggilan itu, sedangkan Reynand, kini menatap Kaila tajam. Dia tidak akan pernah nyaman dengan tatapan orang seperti Reynand. Tentu saja, membuat dirinya gelisah.

__ADS_1


"Lo udah dicariin nyokap?" Tanya Reynand.


"Iyaa."


__ADS_2