Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
20. Ruang BK


__ADS_3

Karena pertengkaran Kaila dan Reynand yang membuat kerumunan dan keramaian, alhasil mereka diundang ke ruang BK. Dara juga ikut terpanggil dalam keadaan ini, ia tidak menyangka bahwa kejadian ini menyeretnya ke ruang BK. Saat ini yang bisa dia perbuat adalah meyakinkan guru agar dramanya ini sukses. Ia membawa temannya yang tadi menjadi saksi bahwa Kaila lah yang mengunci dirinya di kamar mandi.


Dara mengingat apa yang diucapkan Amel sebelum Ia sampai di ruangan ini, "Lo harus yakinin guru kalo Kaila yang bersalah, jangan panik dan jangan gugup."


Ia menarik napas panjang dan menyiapkan kata-kata yang akan dia ucapkan nanti. Suasana ruang BK yang tetap menyeramkan membuatnya bertambah takut dan panik, ditambah lagi Pak Putra yang sudah bersiap untuk menanyai mereka.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Pak Putra.


Hanya dengan pertanyaan itu saja sudah nyaris membuat bulu kuduk orang-orang didalam ruang BK itu berdiri. Risa, teman Dara menengok ke arah Dara dengan tatapan takut. Sedangkan Kaila hanya terdiam santai karena memang bukan dirinya yang bersalah. Reynand duduk di samping Dara, dan Kaila duduk terpisah tepat dihadapan Pak Putra.


"Jadi gini Pak, tadi saya dengar dari temannya Dara, Dara terkunci di kamar mandi." Ungkap Reynand menceritakan apa yang tadi dia alami.


"Iya, terus?"


"Kata temannya Dara, dia melihat Kaila yang mengunci Dara di kamar mandi." Lanjut Reynand.


Pak Putra mengalihkan padangannya menuju Risa, tatapannya masih tetap tajam. Risa begitu takut, tangannya mendadak tremor. Ia sempat kesal pada Dara yang ikut mrnyeretnya dalam permasalahan ini, padahal dirinya hanya disuruh.


"Kalo kamu liat Dara di kunciin, kenapa kamu diam saja?" Tanya Pak Putra. Risa bertambah takut dan tegang, Ia bingung harus menjawab apa.


"Sa-saya ga berani ngelawan Kak Kaila Pak." Jawab Risa gemetar.


"Dan kamu Kai, kenapa kamu kunciin Dara?" Tanya Pak Putra pada Kaila.


"Saya berani sumpah, bukan saya yang kunciin Dara dikamar mandi Pak. Ini fitnah." Ungkap Kaila membela diri.


Pak Putra terdiam, berpikir apa yang sebenarnya terjadi dan apakah kesaksian Risa memang benar. "Tapi disini sudah ada saksinya Kai."


"Iya tapi bukan saya Pak, ini fitnah." Ucap Kaila.


Pak Putra kembali terdiam beberapa detik, dan memutuskan perkara ini. "Saya rasa kesaksian dari Risa sudah jelas, jadi memang kamu yang bersalah Kaila."


Keputusan Pak Putra membuat Kaila kaget, Ia tidak percaya bahwa fitnah ini begitu kejam. Ia berusaha untuk memohon-mohon dan membela dirinya, tapi keputusan Pak Putra sudah bulat dan akan menghukum Kaila. Sebenarnya yang membuatnya kesal bukan masalah hukumannya, tapi masalah harga dirinya yany seolah-olah diinjak-injak dan nama baiknya yang kembali tercemar.


"Ya sudah, Kalian kembali ke kelas." Pinta Pak Putra.


"Pak tapi beneran bukan Saya yang kunciin Dara Pak." Kaila masih membela diri, Ia memegang tangan Pak Putra agar membuatnya percaya.


"Sudah Kai, semuanya sudah jelas dan memang kamu yang bersalah. Sekarang kamu laksanain hukuman kamu, di toilet wanita." Ucap Pak Putra tegas. Kaila lalu berjalan sendirian ke toilet wanita untuk membersihakannya, matanya berkaca-kaca ingin menangis karena dunia seakan kejam pada dirinya. Namun Dia menguatkan diri, Ia mengusap kedua matanya dan tersenyum.


"Gue harus bisa." Ucapnya semangat.


Kaila memgambil kain pel lalu memulai hukumannya dengan semangat meskipun  dihatinya Ia merasa sedih. Tak lama, seseorang datang menghampiri Kaila. Membawakan sebotol air mineral yang dibelinya dari kantin.


"Kai, minum dulu." Ucap Dave memberikan air mineral itu pada Kaila. Kaila mengerutkan dahi, bertanya-tanya dari mana Dave tahu atas semua yang Dia alami.


"Dave? Lo ngapain disini?" Tanya Kaila, agak kesal.


"Ini mau ngasih lo minuman." Jawab Dave.


"Kalo ada orang yang ngeliat lo disini, pasti kita akan dituduh macam-macam. Tolong lo pergi dari sini sebelum ada orang yang ngelihat." Pinta Kaila.


"Ini minumannya." Ucap Dave masih diposisi yang sama.


"Dave, please lo dengarin kata-kata gue kali ini. Gue minta lo keluar, bahaya kalo ada orang yang ngeliat." Kaila mendorong tubuh Dave sampai di pintu toilet.


Dave menatap Kaila sembari tersenyum, meskipun Ia bersedih karena Kaila mengusirnya. Dave memberikan air mineral itu ke tangan Kaila.


"Gue akan pergi, asal lo terima minumnya ya." Ucap Dave. Kaila menerima pemberian Dave, dan Dave segera pergi.


•••


Dara dan Reynand duduk berdua di kafe yang biasa dikunjunginya, Mereka sudah sering mengunjungi kafe itu karena memang tempatnya yang keren dan nyaman. Keduanya berbincang, mengenai pengalaman yang pernah di lalui sampai bercerita tentang hari-hari mereka.

__ADS_1


Hari ini juga, Reynand semakin yakin pada tekatnya untuk menembak Dara. Tangannya seketika menjadi dingin dan detak jantungnya semakin cepat. Tangannya mulai mendekati tangan Dara yang ada diatas meja, lalu memegang tangan Dara perlahan. Dara sedikit kaget karena Reynand belum pernah melakukan itu sebelumnya.


"Dar, gue sayang sama lo. Lo mau ga jadi pacar gue?" Tanya Reynand yang membuat Dara sedikit melotot tidak percaya bahwa rencananya telah berhasil.


Dara terdiam, tak lama dan menjawab pertanyaan Reynand dengan yakin. "Mau Kak."


Jawabnya.


Reynand bangkit dari posisi duduknya dan menarik kedua tangannya sembari berteriak keras, Ia sangat puas. "Yes!!" Katanya.


Dara melihat Reynand senang, Ia tersenyum. Hari ini hari spesial menurutnya, hari yang akan dia ingat sampai kapan pun. Reynand kembali duduk di posisi semula karena merasa orang-orang disekitar melihatnya sinis.


Selesai makan, Dara dan Reynand berjalan pulang. Berjalan sejajar, perlahan tangan Reynand mencari dimana keberadaan tangan Dara. Setelah di temukan, Ia menggenggam tangan Dara erat. Dara tersenyum melihat tingkaj lucu pacarnya, intinya hari ini Dia sangat senang.


"Langsung pulang?"Tanya Dara dengan polosnya.


Mereka berhenti di samping parkiran dan saling menatap satu sama lain.


"Emang mau kemana lagi?" Tanya Reynand berbalik.


"Ya udah ayo pulang." Ajak Dara, sebenarnya Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pacar barunya. Ingin berkeliling kpta Jakarta yang luas ini sembari mendekapnya erat.


"Kamu mau mampir emangnya?" Tqnya Reynand, Dara tetap tersenyum mendengar logat aku-kamu yang tak biasa didengarnya dari mulut Reynand.


"Engga kemana-mana sih, ayo ke anterin Aku." Ajal Dara, mereka segera melaju dengan kencang menuju rumah Dara. Dara tak sama sekali memeluk Reynand meskipun kini status mereka berpacaran, Ia takut kalau Reynand marah jika dirinya terlalu manja.


Reynand merasa bahwa perjalanan ini perjalanan yang biasanya, seharusnya perjalanan ini menjadi perjalanan spesial di hari yang spesial juga. Reynand mengambil alih tangan Dara dan mendekapkannya erat di pinggangnya. Pipi Dara memerah, tidak menyangka kalau Reynand sepeka itu dengan apa yang dirasakannya.


Sampai di rumah Dara, Reynand langsung berpamitan. Pasalnya memang matahari sudah mulai tenggelam, dan hari ini badannya pegal sekali. Banyak peristiwa yang Ia lalui, sehingga memaksanya untuk berjalan kesana kemari.


"Aku pulang ya." Pamit Reynand.


"Iya, hati-hati." Sahut Dara sembari melambaikan tangan kanan nya.


"Ma." Panggilnya.


"Iya, di kamar." Sahut Ndari.


Reynand mengerutkan dahi heran, tak seperti biasanya Mamanya berada di kamar ketika dirinya pulang. Reynand lalu membuka kenop pintu kamar Mamanya, mencari tahu apa yang sedang Mamanya lakukan.


Ndari berbaring lemas, kepalanya terasa pusing dan semuanya terasa berputar. Sejak sore tadi, selepas mandi, Ndari merasa badannya lemas sekali. Di tambah dengan hawa dingin yang menyelimutinya.


"Ma? Mama sakit?" Tanya Reynand ketika melihat muka Mamanya yang pucat.


"Kepala Mama pusing." Jawab Ndari.


Reynand memegang dahi Mamanya, mengecek keadaan orang yang paling di sayanginya. Dahinya terasa panas, dan sepertinya pelu di kompres.


"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang dari arah pintu luar.


"Itu pasti Kaila, tolong bukain pintu Rey." Pinta Ndari pada Reynand.


"Kaila?"Tanya Reynand.


"Iya, tadi Mama telepon Kaila karena kamu dihubungin ga bisa-bisa. Udah buruan bukain." Jawab Ndari.


Dengan langkah yang berat Reynand membukakan pintu pada Kaila, wajahnya cuek dan sama sekali tak ada senyuman. Kaila juga, Ia tak tersenyum sama sekali.


Ketika pintu rumah Reynand dibuka, mereka salimg bertatapan tanpa ekspresi. Apalagi mengingat kejadian yang tadi terjadi di sekolah. Keduanya terdiam tanpa perbincangan. Dan akhirnya Reynand meminta Kaila untuk masuk.


"Masuk."


Kaila mengangguk, Ia lalu mengikuti langkah Reynand menuju kamar Ndari. Ndari tersenyum senang kedatangan tamu spesialnya, sudah cukup lama Kaila tidak bertemu dengan Ndari selepas pulang dari rumah sakit. Kaila mendekat kearah Ndari dan memeluknya, Ia lalu duduk di bibir ranjang.

__ADS_1


"Tante kangen sama kamu, udah lama ga ketemu." Ucap Ndari halus.


Kaila tersenyum pada Ndari, Reynand hanya terdiam dan berdiri melihat keduanya begitu senang.  "Kaila juga, oh iya tadi Mama bawain bubur buat Tante."


"Wah makasih ya, ya udah sana kamu ambil mangkok dulu di bawah." Pinta Ndari, dibalas anggukan mantap dari Kaila.


Tak butuh waktu lama, Kaila berjalan keluar dari kamar Ndari dan segera menuju dapur. Matanya berputar mencari dimana letak mangkok, maklum saja, bukan dapurnya maka dia kurang mengetahui dimana letak benda-benda itu.


"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Ndari pada anaknya yang masih saja berdiri di kamar.


"Ya kan aku mau tungguin Mama." Jawab Reynand.


"Kamu bantuin Kaila dong, masa Kaila sendirian." Ucap Ndari, mendengaritu Reynand lalu berjalan mengikuti Kaila ke dapur. Ia begitu bingung apa yang harus dia lakukan pada Kaila, karena memang Ia masih marah.


Kaila membuka dua lemari di samping kulkas, tapi tidak ada. Lalu Ia membuka lemari di bawah kompor, tidak ada juga.


Reynand membuka lemari atas, Ia mengambil satu mangkok berwarna putih. Kaila melihat Reynand yang mengambilkan mangkok padanya, tak ada perbincangan apapun diantara mereka. Keduanya sama-sama marah, sebab kesalah pahaman ini.


Kaila memindahkan bubur yang dibawanya ke mangkok putih tadi, lalu mengambil sendok yang tak jauh dari posisinya berdiri. Reynand berdiri dan bersandar di meja makan, kedua tangannya berada di dada sembari menunggui Kaila. Sebenarnya dia malas untuk melakukan hal ini, tapi kalau tidak pasti Mamanya mengomel.


Selesai itu, Kaila berjalan kembali ke kamar Ndari.


"Tante makan dulu ya." Ucap Kaila, Ia membantu Tari untuk duduk. Wajahnya pucat sekali sehingga Kaila merasa iba.


Kaila mengangkat sendoknya dan menyuapkan bubur itu pada Ndari, dengan lembut dan tidak terburu-buru. Jelas sekali bahwa Kaila adalah orang yang lemah lembut. "Buburnya enak, Mama kamu pasti masakannya selalu enak ya?" Tanya Ndari.


"Iya kah Tan? Masakan Mama emang ter the best sih menurut Aku." Jawab Kaila.


Perasaan Reynand menjadi campur aduk antara senang, sedih ataupun marah. Ia mengambil ponsel di saku celananya dan menguhubungi Dara untuk datang ke rumahnya, Reynand ingin Dara juga dekat dengan Mamanya.


Setelah Dara bersedia, Reynand pergi menjemput Dara dirumahnya. Sampai dirumah Reynand lagi, Dara mengikuti Reynand masuk ke kamar Ndari. Reynand ingin Dara menggantikan posisi Kaila saat ini. "Mama kamu ngobrol sama siapa?" Tanya Dara saat mendengar beberapa obrolan dari dalam kamar Ndari.


"Sama— Kaila." Jawab Reynand.


Kaila terkaget ketika Dara datang ke rumah Reynand, Ia sudah lelah dengan lingkungan ini. Ia sudah cukup tertekan berada di situasi seperti ini, padahal sebelumnya Kaila ingin meringankan bebannya ketika bertemu dengan Ndari.


"Ma, ini ada Dara. Katanya mau jenguk." Ucap Reynand. Dara mendekat dan mencium punggung tangan, senyuman Ndari benar-benar berbeda dengan senyuman sumringahnya pada Kaila. Kaila beralih posisi, Ia menjauh dan memberikan ruang pada Dara dan Reynand.


"Tante, Kaila ke bawah ya." Pamit Kaila.


"Loh? Kamu sini aja Sayang, sama Tante. Kita kan belum selesai ngobrolnya." Cegah Ndari, obrolan mereka memang belum usai.


"Nanti gampang diterusin Tan, Kai kebawah dulu." Pamit Kaila sekali lagi dan akhirnya diizinkan.


Kaila turun ke lantai bawah dengan napas terengah-engah dan genggaman tangan yang kini mulai melemas. Rasanya geram, juga sedih karena melihat kebersamaan keduanya. Tapi ekspresi itu bisa dinetralkan ketika Dia melihat Adit duduk di sofa sembari bermain ponsel miliknya.


"Dit, lagi apa?" Tanya Kaila.


"Lagi main game nih Kak." Jawab Adit.


"Ga belajar?" Tanya Kaila lagi.


"Udah barusan, mumpung Mama dikamar jadi ya udah Aku main aja hehe."


Kaila mengangguk, Ia melihat seisi rumah yang begitu sepi. Ia melihat-lihat foto yang tertempel di dinding, foto keempat orang yang tengah berdiri sembari tersenyum.


"Oh iya Kak, aku ga terlalu suka sama Kak Dara." Ungkap Adit pada Kaila.


"Oh kamu udah kenal? Emang kenapa ga suka sama Kak Dara?" Tanya Kaila.


"Waktu Dia kesini, Aku kan baru pulang main. Nah karena baru aja kenalan, ya Aku mau salaman kan. Nah dianya kaya ga mau gitu, agak sombong juga Kak. Tadi aja aku disini engga disapa sama sekali." Cerita Adit walaupun matanya tidak lepas dari layar ponsel.


"Mungkin Kak Dara ga liat kamu disini Dit." Ucap Kaila menenangkan Adit.

__ADS_1


"Aku segede gini masa ga liat."


__ADS_2