
Kaila melangkah dengan cepat ke arah mejanya, sengaja kakinya dihentakkan agar marahnya dapat terlampiaskan. Ia melihat sekeliling, hanya ada empat orang di kelasnya, itu pun melihat Kaila sinis. Beberapa hari ini Dani dan Fifi agak menjauh dari Kaila, meskipun tidak terlalu nampak bahwa mereka menjauh, tapi Kaila sangat merasakannya.
"Puas lo?" Suara seorang perempuan yang sempat membuat beberepa orang kaget kini sudah sampai di pintu kelas Kaila.
Semua orang sontak menengok ke sumber suara, termasuk Kaila. Dia mengerutkan dahi tak mengerti apa yang sudah dikatakan Amelia. "Puas lo sama bully an ini?" Sambungnya.
"Oh oh, jadi Kakak yang bikin berita hoax ini?" Tanya Kaila menantang, suaranya keras dan lantang.
"Kalo iya kenapa? Emang benar kan, lo itu cewe mu ra han!" Amelia menekankan kata terakhir agar Kaila semakin marah.
"Emang benar-benar ya Kakak! Gua ngga tau ya kak, apa yang ngebuat lo se iri ini sama Gue. Gue gak pernah berharap sekalipun bisa balikan sama Dave. Kalo lo mau Dave, ambil aja tuh bekas gue! Ambil tuh cowo yang suka ngatur dan ngga tahu kata bersyukur itu!" Jelas Kaila dengan nada tinggi, membuat teman-teman yang berada di kelas agak bingung karena Kaila seberani itu dengan kakak kelas yang terkenal galaknya.
Beberapa anak yang mau masuk ke dalam kelas akhirnya berhenti di pintu, melihat pertengkaran itu.
"Jaga ya mulut lo! Dasar cewe murahan!" Ucap Amelia sembari menyemprotkan air mineral di baju Kaila. Diikuti lemparan sampah dari anak-anak di belakang Amelia. Kaila menutupi muka dan badannya mengenakan kedua tangannya.
"Huuuuuu." Sorak serentak mereka.
"Cukup ya cukup!" Suara seorang cowok yang berlari untuk melindungi Kaila terdengar lantang. Orang itu mendekap Kaila hangat, dan menerima lemparan-lemparan sampah di punggungnya. Sedangkan Kaila, Ia hanya menunduk dan tak berani menatap siapa orang itu.
"Gue bilang cukup!" Teriak orang itu lagi, serentak membuat anak-anak menghentikan sorakan dan lemparan sampah itu. Situasi menjadi hening dan sepi.
Setelah merasa aman, cowok itu melepas dekapannya, dan mengajak Kaila pergi dari kerumunan itu. Dengan rintihan air mata, Kaila melangkah mengikuti orang yang menggandeng tangannya.
Penonton merasa kecewa karena adegan ini sudah selesai, semua anak bubar dan kembali ke tempat mereka. Amelia beserta kedua temannya, berjalan kembali ke kelas.
"Hih! Apa-apaan sih tuh Reynand, pake nyelamatin cewe murahan itu segala!" Dengus Amelia di perjalanan.
Setelah tak ada kebisingan, Kaila melihat orang yang menggandengnya itu. Reynand membawa Kaila ke kantin yang kini sangat sepi, hampir tak ada murid lain, hanya ada penjaga kantin.
"Mba, air mineral dua." Ucap Reynand begitu Ia sampai di kantin.
Reynand mengajak Kaila duduk di bangku panjang milik kantin, Reynand menghadap Kaila. Memperhatikan Kaila lekat-lekat, melihat gerakan bahunya yang naik turun karena beberapa kali sesegukan. Merasa diperhatikan, Kaila mengelap air matanya lantas membuang muka. Menghindar dari mata Reynand yang berusaha menatapnya, Ia malu sebab hari ini dia menangis.
"Ini Mas." Kata Mba Ina, memecahkan suasana.
"Makasih Mba." Respon Reynand.
Reynand tak dapat melihat wajah Kaila, Ia hanya melihat rambut panjang Kaila yang tepat ada dihadapannya. Perlahan Reynand menyisikan rambut Kaila ke belakang telinga. Setelah itu, Reynand mengambil air minum dan menbuka botolnya. Dia geser air minum nya tepat di hadapan Kaila, berharap Kaila mau meminumnya agar Dia lebih tenang. "Minum dulu." Katanya.
Beberapa menit setelahnya, Kaila menghadap Reynand, memperlihatkan muka yang kali itu dianggapnya sedang jelek-jeleknya. Rambut yang berantakan, keringat yang mulai keluar, dan baju osisnya yang terkena siraman dari Amelia.
Tangan Reynand mendekat ke tangan Kaila, mengelusnya perlahan. "Gapapa kalo ga mau cerita, yang penting lo udah baik-baik aja." Ucap Reynand.
"Kenapa harus gue yang hadapin ini? Kenapa?" Adu Kaila setelah Ia merasa enakan.
"Gue tahu lo orang yang kuat Kai."
Reynand melihat baju Kaila basah, di bagian punggung dan di bagian depan. "Lo tunggu sebentar, jangan pergi."
Kaila mengangguk, Reynand berlari cepat menuju kelasnya untuk mengambil jaket yang dibawanya. Tidak ada lima menit, Ia sudah dapat kembali ke kantin. "Lo pake ini, gue takut bajuvlo nerawang karena basah. Kalo lo di tanyain guru kenapa pakai jaket, lo jawab lo lagi sakit." Jelas Reynand.
Kaila menatap bajunya yang dianggap menerawang karena basah. Lalu Kaila melihat baju Reynnand yang juga banyak sekali kotoran karena menolongnya. "Baju lo juga kotor, nanti kalo ditanyain guru gimana?" Kaila berusaha membersihkan lengan dan pundak Reynand.
Tangan kanan Reynand menghentikan gerakan Kaila, menggenggamnya lagi supaya Kaila tidak memikirkan dirinya. "Lo ga usah pikirin gue ya, lo pake aja jaketnya."
Reynand melepas tangan Kaila, Ia lalu mengusah air mata Kaila dan membersihakan kotoran-kotoran yang ada di rambut Kaila.
"Thank's lo udah—"
"Ga usah makasih, lo udah banyak bantuin keluarga gue. Hari ini, izinin gue balas budi." Reynand menghentikan ucapan Kaila, Ia sangat menghargai pengorbanan Kaila untuk keluarganya.
•••
"Rey! Gua mau numpang." Teriak Amelia dari belakang Reynand.
Reynand menengok ke sumber suara, melihat Amelia yang mulai berlari mendekat. Reynand berdecak kesal, baru kali ini Ia semarah ini pada Amelia. "Gua ga nyangka ya Mel, lo sejahat itu."
"Maksudnya?" Tanya Amel menggunakan muka polosnya.
"Lo kira gua ngga liat lo di kelas itu? Lo kira gua ngga tahu kalo lo penyebab semua ini?"
"Kalo emang iya kenapa?" Amelia berbalik tanya, Dia tidak menyangka bahwa sepupunya berani menggunakan nada tinggi untuk berbicara dengannya.
"Jahat lo Mel! Jahat! Pikiran lo selicik itu ya? Jangan bilang kalo gue ngga tahu cerita sebenarnya! Kaila udah cerita sama gue semuanya." Seru Reynand pada sepupunya, sebelumnya Dia tidak pernah seperti ini.
__ADS_1
"Lo mau belain cewe murahan itu dibanding sepupu lo sendiri?" Sergah Amelia pada Reynand.
Reynand memutar pandangannya, "Gue ngga pernah ngelihat kesalahan seseorang karena status! Walaupun lo sepupu gue, kalo lo salah ya tetap salah." Bentak Reynand.
"Anjing lo ya!" Amelia melangkah pergi, merasa kalah setelah berbicara dengan Reynand. Raut mukanya kesal karena pembelaan yang dilakukan Reynand.
"Jaga tuh mulut!" Sahut Reynand.
Emosinya mereda setelah punggung Amelia sudah tak terlihat lagi, kini Ia berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya. Tak lupa, Reynand menghubungi Kaila dan ingin mengantarkannya pulang.
Ayo pulang bareng.
Gapapa Rey, gua bisa pulang sendiri. Hari ini gua udah banyak repotin lo.
Engga Kai, gua tunggu lo di parkiran.
Reynand kekeh menunggu Kaila di parkiran sampai akhirnya Kaila datang dengan jaket yang masih di kenakan.
Reynand bangkit dari posisinya yang semula bersandar di motor menjadi duduk di motornya, dengan segera menyalakan mesin motor tepat saat Kaila datang ke motor nya.
"Lo kenapa nungguin gue?" Tanya Kaila.
"Gue kan udah bilang mau pulang bareng, sekarang ayo naik." Pinta Reynand.
Mereka berdua melaju ke rumah Kaila, ribuan debu yang menerpa muka rupanya tidak berhenti ketika mereka telah sampai di depan gerbang. Pintu rumah Kaila tertutup, seperti biasanya.
Setelah mematikan mesin motornya, Reynand mendengar beberapa teriakan yang Ia yakini itu adalah suara Ibu dan Ayah Kaila. Reynand menatap Kaila yang kala itu belum mendengar suara kedua orang tuanya.
"Kai. Ikut gue dulu yu." Ajak Reynand, mencari alasan supaya Kaila tidak mendengar suara itu. Satu hari ini Kaila sudah cukup sedih karena perlakuan teman-temannya, kalau saja dia mengetahui pertengkaran kedua orang tuanya mungkin dia akan bertambah stres.
"Kemana?" Tanya Kaila, agak bermalas-malasan sebab memang dari awal dia tidak bersemangat.
"Ehm, kerumah gua."
Mendengar ungkapan Reynand, Kaila mengernyit bingung. Baru saja dia sampai di rumahnya, tapi Reynand sudah mengajaknya pergi.
"Ngapain? Ada acara dirumah?" Tanya Kaila lagi.
"Engga, ayo ikut aja." Reynand sedikit memaksa, mempercepat obrolan mereka di depan rumah Kaila agar Dia tetap tidak mendengarnya meakipun suaranya samar-samar.
"Engga usah, ayo buruan."
Kaila akhirnya menurut, mereka segera pergi dari rumah Kaila dan menuju rumah Reynand.
"Di rumah ada Mama?" Tanya Kaila ketika mereka sampai di pintu kompleks.
"Engga tahu, kenapa emangnya?"
"Kalo ga ada gimana? Lo gamau ngapa-ngapain gue kan?" Kaila terlihat kebingungan.
"Ya pasti mau lah, ya kali engga." Jawab Reynand, dia lalu tertawa keras karena melihat ekspresi Kaila yang seketika berubah.
"Ih Rey! Gua tampol ya kalo sampe lu ngapa-ngapain gua! Ih!" Kaila memukul lirih pundak Reynand.
"Engga lah Kai, positif thinking Kai. Lagian mana mau gua ngapa-ngapain lo." Edek Reynand pada Kaila.
"Ihhhh apaan si lo."
Mereka telah sampai di rumah besar milik Reynand, dengan segera mereka melangkah masuk. "Ma." Panggil Reynand saat Ia masih berada di ruang tamu.
"Mama." Panggilnya lagi, tak ada jawaban sekali pun.
"Nyokap gue kayanya beneran ga ada deh Kai." Ungkap Reynand setelah beberapa kali panggilan tapi tak ada jawaban.
"Kok lo serem si, gua mau keluar ah." Pamit Kaila, lalu Dia keluar dari rumah Reynand, berdiri di teras sembari melihat keadaan sekitar.
"Ayo lah Kai." Ajak Reynand, terdengar ambigu.
"Ayo apaan?! Lo ga usah aneh-aneh deh Rey! Gua kan jadi takut." Ucap Kaila dengan nada yang sudah meninggi, Dia sungguh takut kalau terjadi hal-hal yang tidak senonoh.
"Hahahahahah." Reynand tertawa keras, dengan alasan yang sama.
"Kenapa?"
"Ekspresi lo lucu banget asli, ngakak bat gua." Reynand melanjutkan tawanya.
__ADS_1
"Ayo masuk, ada adik gue di dalam. Mama lagi kerumah temannya, paling sebentar lagi pulang." Ucap Reynand, Ia sudah melihat Adit yang berada di dapur dan berbisik pada Reynand bahwa Mamanya sedang tidak ada dirumah.
"Yang benar lo? Adit? Dit? Kamu di dalam." Masih dalam raut muka yang sama, Kaila memanggil-manggil Adit.
"Dor!!! Hahaha, ada Aku kok Kak." Teriak Adit mengagetkan Kaila. Mereka bertiga lalu masuk ke ruang keluarga.
"Duduk Kai, lo mau minum apa?"
"Iya, ehm mau coffe." Kata Kaila.
"Cewe doyan coffe?" Tanya Reynand, Dia duduk di samping Kaila tapi sudah berbeda kursi.
"Ye emangnya cowo doang yang doyan? Tapi kalo kopi item gua ga suka si. Apa aja deh Rey, ga usah juga gapapa." Ungkap Kaila.
Reynand melangkah ke dapur untuk mengambil minuman, sedangkan Kaila memandangi rumah Reynand yang bayangannya masih tetap sama mengenai meninggalnya Papa Reynand. "Rey, lo kenapa ajakin gua ke rumah lo?" Tanya Kaila, lumayan keras supaya Reynand mendengar. Perlahan Ia melangkah ke dapur.
"Gapapa, mau ngajak aja."
Kaila lalu duduk di meja makan, tak lama Reynand membawa orange juice ke meja makan.
"Thank you." Ucap Kaila.
"Kak Kai dari sekolah langsung ke sini?" Tanya Adit, yang kala itu tengah mengambil camilan di kulkas.
"Engga, tadi Kak Kai udah pulang ke rumah. Tiba-tiba Kakak kamu ngajakin Kak Kai ke sini."
Adit mengangguk, Dia mengeluarkan camilan dari kulkas ke meja makan. Menyandingkannya di hadapan Kaila dan Reynand.
"Mau bantuin Aku kerjain PR ga kak?" Tanya Adit.
"Oh jadi kamu mau nyogok Kak Kai?" Kaila terkekeh pelan.
"Hehe, engga sih Kak tapi iya juga sih. Kak Kai mau?"
"Boleh, yuk." Kaila bangkit dari duduknya, berjalab bersama Adit sembari merangkulnya.
Adit mengambil beberapa bukunya dari dalam kamar, dan membawanya ke depan tv. Kaila duduk dibawah, karena ingin menyesuaikan badannya agar mudah dalam menulis. Reynand membawa minum dan camilan yang belum sama sekali belum dipegang Kaila, ke meja.
"Lo ajarin Adik gue deh, Gua mau ngegame bentaran." Pinta Reynand.
Adit juga duduk dibawah menyeimbangi Kaila, sedangkan Reynand tetap duduk di sofa. Reynand melihat Kaila yang kala itu tengah membuka buku Adit, mencari tahu apa PR yang mestinya di kerjakan. Tak lama, Dia memulai game nya.
Kaila mengajari Adit mengenai hitung-hitungan aljabar, pelajaran yang menurutnya sangat mudah. Selama tiga puluh menit Kaila menjelaskan materi aljabar, lalu setelah itu Kaila meminta Adit untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku paket.
"Ini kan udah selesai PR nya, coba Adit latihan soal lagi nih yang di buku. Nomor satu sampai tiga aja gapapa." Pinta Kaila.
"Okey siap Kak."
Adit mulai mengerjakan latihan nya, Kaila melihat Reynand yang masih saja bermain dengan game nya. Katanya sebentar tapi ternyata lebih lama dibanding penjelasnnya pada Adit. "Katanya sebentar, kok lama?"
"Ini juga baru sebentar."
"Sebentar apanya, bibir gue sampai mau copot gini lo bilang sebentar." Gerutu Kaila, tentunya membuat Reynand tersenyum miring.
Kaila menjatuhkan kepalanya di atas meja, menghadap ke Adit yang tengah mengerjakan soal. Dia memandangi Adit lekat, merasa kasihan karena ditinggalkan Papanya dengan umur yang masih dibilang sedikit. Kaila percaya bahwa Adit sangat membutuhkan sosok Papa di usianya kini.
Perlahan, mata Kaila terlelap. Sama seperti dulu waktu Ia ketiduran di taman bersama Reynand. Kurang lebih dua puluh menit, Adit telah menyelesaikan latihannya. "Kak Kai, Aku udah—" Ucapannya terhenti ketika melihat Kaila terlelap di atas meja.
"Kak Kaila tidur." Bisik Adit pada Kakaknya.
"Tidur?"
Adit mengangguk, Reynand lalu melangkah untuk melihat Kaila yang tertidur. Dia terkekeh pelan, lirih sekali agar Kaila tidak terbangun.
"Biarin aja ya." Ucap Reynand masih dengan bisikan.
Tak lama setelah itu, Ndari pulang sembari membawa beberapa makanan untuk anak-anaknya. Dia membuka pintu depan, dan berjalan mendekat ke arah Kaila yanh sedang tertidur. Kala itu Reynand duduk di posisi semula, dan Adit sudah kembali ke kamarnya.
"Oh ada Kaila?" Tanya Ndari dengan suara keras.
Reynand melihat Ndari lalu dia menunjukan jari telunjuknya di depan mulutnya. Meminta Mamanya untuk tetap diam dan tidak berisik. Ndari mendekat lagi ke arah mereka, mengecek Kaila yang sudah bermimpi entah kemana. Ndari terkekeh pelan, dan Reynand mengajak Mamanya ke dapur. Ia menarik tangan Mamanya perlahan. "Kaila udah dari tadi disini?" Tanya Ndari.
"Ya lumayan sih, tadi dia ngajarin Adit. Eh malah ketiduran, Aku ga tega bangunin Dia Mah. Dari dua hari lalu Dia di bully satu sekolah karena mantannya ngajak balikan, nah waktu Aku nganterin Dia Aku dengar Mama Papanya lagi berantem. Ya udah karena Aku ga mau dia tambah sedih, Aku bawa Dia kesini. Untung aja Kaila belum dengar Mama Papanya lagi berantem." Ungkap Reynand, Mamanya mengangguk paham. Dia merasa iba, keadaan Kaila kini memprihatinkan.
"Ya udah gapapa, biar dia istirahat dulu." Kata Mamanya, sembari mengelus lembut lengan tangan anaknya.
__ADS_1