
Bintang baru saja berpamitan kepada Mamanya, Ia akan terbang ke Bali untuk mengikuti Seminar. Sebenarnya untuk pertama kalinya dirinya mengikuti seminar, kalau bisa meminta, Ia ingin lokasinya lebih dekat. Sebab tak mau tertinggal pesawat, Bintang berangkat ke bandara menaiki taksi online yang sudah di pesannya.
Setelah keberangkatan Bintang, Ratna dibuat cemas oleh anak perempuan satu-satunya. Sudah pukul sebelas malam Kaila belum pulang juga, Ratna sudah mencoba menelepon tapi teleponnya tidak aktif. Yang ada dipikirannya kini hanyalah Reynand, dengan segera Ratna menelepon Ndari.
"Halo Ndar." Sapa Ratna dalam telepon nya.
"Halo Rat, ada apa telepon malam-malam?" Tanya Ndari. Beruntungnya Ratna karena Ndari belum tertidur.
"Gini Ndar, Aku mau tanya. Reynand lagi sama Kaila ga ya?"
"Oh engga Rat, ini Reynand ada di rumah sama Aku. Emangnya Kaila kemana?" Tanya Ndari.
"Aku juga ga tahu nih Ndar, dari tadi siang sampai sekarang belum pulang juga. Udah coba aku telepon tapi hp nya ga aktif, Aku kira dia main sama Reynand."
"Sebentar biar Aku tanya ke Reynand."
Mendengar ucapan Ndari, Ratna sedikit lega dan mempunyai harapan lebih akan kabar Kaila. Ia percaya bahwa Kaila bukan anak nakal yang bergabung dengan anak-anak nakal lainnya. Ia hanya khawatir kalau terjadi hal-hal buruk pada Anaknya.
"Rey, kamu tau ngga Kaila dimana?" Tanya Ndari pada Reynand yang kini duduk di hadapannya.
"Kaila?" Tanya Reynand balik.
"Iya, ini Mamanya nyariin. Katanya belum pulang dari tadi siang." Jawab Ndari.
"Tadi sore aku liat dia ada di kafe sama teman-temannya." Ungkap Reynand.
"Kafe mana?" Tanya Ndari.
"Kafe biasanya loh Ma, yang aku pernah ajak Mama kesana." Jawab Reynand.
"Kamu cari Kaila ya Rey, kasihan Tante Ratna nyariin. Mama juga jadi khawatir sama Kaila, takutmya kenapa-napa."
Reynand berdecak, Ia sedikit kesal pada Mamanya yang meminta dirinya untuk mencari Kaila. Hubungannya dengan Kaila kini sedang renggang bahkan jauh, tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya Ia sedikit khawatir juga. "Kok jadi Aku Ma?"
"Kamu ga mau tolongin Mama?" Ancam Ndari.
"Ya udah iya." Pasrah Reynand. Dia lalu menghubungi Fifi, untuk menanyakan kemana sahabatnya yang belum pulang itu.
Sudah dua panggilan tapi tidak terjawab, membuat Reynand beralih. Reynand mencari nomor telepon Dani kepada beberapa temannya, pasalnya memang Ia tak mempunyai nomor Dani. Ia lalu mendapatkan nomor Dani dari teman sekelasnya, tak menunggu lama Reynand menghubungi Dani.
"Halo." Dani mengangkat telepon dari Reynand.
"Halo, ini Dani kan?" Tanya Reynand.
"Iya, ini siapa ya?"
"Gua Reynand, lo lagi sama Kaila?"
"Ehm, iya. Kaila lagi dirumah gue, dia ketiduran." Jawab Dani.
"Sharelok sekarang." Pinta Reynand.
"Oke."
Keduanya memutus telepon, Reynand lalu mrlangkah ke kamarnya untuk mengambil jaket miliknya. Setelah berpamitan pada Mamanya, Reynand melaju dengan cepat menuju lokasi yang sudah Dani tunjukan. Kekhawatiran Ndari berkurang setelah tahu dimana Kaila, tak lupa dirinya mengabari Ratna bahwa anaknya segera dijempur oleh Reynand.
Sedangkan di rumah Dani, Fifi membangunkan Kaila yang sudah tertidur pulas. Kaila memang agak susah dibangunkan ketika malam hari, terlebih lagi satu hari ini Ia berjalan kesana dan kemari bersama teman-temannya. Tentu saja membuat Ia lelah dan ingin beristirahat.
"Kai! Bangun, lo mau dijemput sama Reynand." Sudah kelima kalinya Dani mengatakan hal yang sama, tapi belum juga Kaila terbangun.
"Kai!!! Gua udah capek ya bangunin lo dari tadi. Sekarang terserah lo deh, nanti kalo sampai Reynand datang kesini dan lo belum bangun, biarin aja dia suruh gendong." Mendengar ungkapan Dani yang ini, Kaila sudah mulai sadar. Meskipun masih remang-remang, tapi dirinya tahu intinya Reynand akan menjemputnya.
Matanya terbuka perlahan, melihat pukul berapa sekarang. Awalnya Kaila sedikir bingung karena ini bukan kamarnya, tetapi setelah melihat Dani, Dia lalu tersadar bahwa dirinya ada di kamar Dani. "Ini beneran udah jam setengah dua belas?" Tanya Kaila kaget.
"Iyalah, lagian lo dari tadi dibangunin susah banget." Jawab Dani ngegas, cukup kesal dan membutuhkan kesabaran untuk membangunkan spesies seperti Kaila ini.
"Haduh gue bisa dimarahin nyokap nih, gimana gue pulangnya lagi?" Kaila mencari dimana handphonenya dan tersadar bahwa baterainya habis.
"Dani, pesanin gue taxi online dong. Gue bingung nih gimana pulang nya." Kaila terlihat panik.
__ADS_1
"Reynand udah jemput lo." Ungkap Dani tenang, sontak membuat Kaila terbelalak kaget.
"Demi apa lo?! Kenapa dia yang jemput? Bukannya Abang gue?" Tanya Kaila.
"Ya mana gue tau, udah sekarang lo siap-siap. Biar nanti waktu Reynand datang, lo udah siap." Jawab Dani, Kaila jadi bingung harus bagaimana. Kalau dia pulang sendiri, pasti berbahaya, tapi kalau tidak dia harus pulang bersama Reynand.
Tak lebih dari lima menit setelah Kaila siap, benar saja Reynand sudah datang menjemputnya. Dia merasa tegang dan takut, otaknya seakan berhenti berpikir. Rasa kantuknya menjadi hilang setelah pintu rumah Dani dibuka dan dibaliknya ada tubuh seorang lelaki yang saat ini masih dia kesali.
"Kenapa lo yang jemput gue?" Tanya Kaila pada Reynand di bibir pintu.
"Nyokap lo yang minta." Jawab Reynand.
"Ya udah Dan, gue balik dulu ya." Pamit Kaila.
"Iya, hati-hati." Pesan Dani sebelum Kaila dan Reynand pergi.
Keduanya lalu berjalan tak serasi menuju mobil Reynand, Kaila terpaksa ikur bersama Reynand dan tak bisa menolak. Ia lalu duduk di jok depan bersama Reynand, mereka mulai berjalan dengan suasana yang sunyi. Karena merasa sepi, Reynand memutar radio untuk menghangatkan suasana. Sebenarnya keduanya ingin bebas dari situasi canggung ini, situasi seperti pertama kalinya mereka bertemu.
Ditengah jalan yang lumayan sepi, telepon Reynand berbunyi. Ia lalu melihat siapa penelponnya, melihat waktu yang sudah semalam ini. Dia mengerutkan dahi bingung setelah membaca siapa penelponnya. Dengan cepat Reynand menepikan mobilnya, lalu memgangkat telepon itu. Merasa risih sebab keberadaan Kaila, Reynand keluar dari mobil agar obrolannya dengan Dara tidak terdengar. Semenjak kemarahan Dara dan Reynand tadi siang, mereka belum saling berhubungan lagi bahkan saling meminta maaf.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Reynand pada Dara dalam teleponnya.
"Ga bisa tidur," Jawab Dara.
"Maafin Aku ya Kak, aku yang terlalu egois. Aku ga bisa ngertiin kamu." Lanjut Dara, Ia menyesal.
"Iya gapapa, maafin Aku juga karena udah marah-marah sama kamu." Ucap Reynand.
"Kamu lagi dijalan?" Tanya Dara.
"Ehm, iya."
"Habis dari mana malam-malam gini?" Tanya Dara lagi.
"Habis dari.. nongkrong." Jawab Reynand terbata-bata.
"Iya, kamu tidur Dar. Udah malam ini, besok kan sekolah."
Keduaya mematikan telepon, Reynand kembali masuk kedalam mobil. Kaila melirik Reynand sudah kembali, Ia sedikit penasaran apa yang diperbincangkan antara keduanya sampai-sampai Reynand keluar dari mobil. Rasa kantuknya mulai datang kembali, apalagi tak ada obrolan apapun tentu saja menambah kantuk pada diri Kaila. Tak disadari Dia tertidur sampai di rumah Kaila.
Rumah yang tampak sepi ditengah malam srlarut ini, Reynand melihat Kaila tertidur pulas. Tentu tak heran baginya melihat Kaila tertidur, sebab beberapa kali Kaila memang tidur dihadapannya. Reynand mencoba membangunkan Kaila, berharap Kaila bisa bangun.
"Kai, bangun udah sampai." Ucap Reynand.
"Kai, udah sampai Kai." Reynand menepuk-nepuk pipi Kaila halus. Amarahnya mulai runtuh seiring berjalannya waktu.
"Kailaaaaaaa." Dengus Reynand kesal. Kaila akhirnya terbangun dan melihat Reynand yang tengah memperhatikannya. Ia lantas bergidig dan melihat sekeliling, Ia lalu sadar bahwa dirinya telah sampai didepan rumahnya.
Kaila turun dari mobil Reynand tanpa kata pamit apapun, Ia mengetuk-ngetuk pintu rumahnya agar Mamanya segera membuka pintunya.
"Mama, Ila pulanggg." Rengeknya seperti anak kecil.
Tidak munafik, rengekan itu sempat membuat Reynand gemas.
"Iya, sebentar." Sahut Ratna.
Reynand turun dari mobil dan mendekat kearah Kaila. Setelah pintunya dibuka, Kaila segera masuk tanpa ucapan terima kasih. Tingkah laku Kaila membuat Mamanya terheran-heran, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Makasih ya Rey, kamu udah anterin Kaila." Ucap Ratna.
"Sama-sama Tan, kalo gitu Saya langsung pamit ya Tan." Pamit Reynand.
"Ga mau masuk dulu?" Tanya Ratna.
"Engga Tan, udah malam. Mama pasti udah nungguin." Jawab Reynand.
"Ya udah hati-hati."
•••
__ADS_1
"Mel, boleh ga sih lo lupain Dave aja?" Ucap Tiara, teman dekat Amelia.
"Iya Mel, emang lo ga cape apa ngejar-ngejar dia terus?" Tanya Mala.
"Guys. Please. Ini pilihan gue, ga ada orang lain yang bisa gantiin Dave." Jawab Amelia menegaskan.
"Udah berapa kali lo dibuat nangis sama Dave? Gue rasa itu semua udah cukup ngebuat lo putus asa." Ucap Tiara.
"Gue harus dapatin Dave pokoknya!" Tegas Amelia lagi, sudah lebih dari sepuluh kali Tiara dan Mala mengingatkannya agar tidak mengejar-ngejar Dave lagi.
"Mel mel. Gue punya trik gimana biar Dave penasaran sama lo." Cetus Mala tiba-tiba.
"Trik apa?" Tanya Amelia.
"Gini, jadi lo cuekin aja Dave kalo ketemu. Kalian kan sering ketemu nih, nah setiap pertemuan lo pasti nyapa Dave. Sekarang lo coba deh buat cuek sama Dave, dijamin bakalan manjur." Jelas Mala.
"Ga ga ga. Mana bisa cuek?"
"Bisa Mel, ayo dong kita coba cara ini dulu." Jawab Mala.
"Iya Mel, benar kata Mala. Lo coba gih, lo pasti bisa." Ucap Tiara.
Amelia berpikir sekejap, memikirkan ide dari kedua sahabatnya. "Ya udah gue coba, tapi kalo dia tambah ngejauh gimana?" Tanya Amelia khawatir.
"Engga Mel, percaya deh sama gue. Lu coba ya." Ucap Tiara.
Benar saja, Amelia mempraktikan apa yang diminta sahabatnya. Amelia berjalan bersama Tiara didepan kelas, Ia melihat Dave dari arah utara berjalan mendekatinya. Karena memang Dave sering nongrkong di kelas Amelia besama teman sekelasnya.
"Mel, lo harus bisa." Bisik Tiara mrnyemangati.
Amelia mengangguk paham, Ia benar-benar meneguhkan hatinya agar tidak menyapa bahkan tersenyum pada Dave. Tiga langkah lagi mereka akan berpapasan, tatapan tajam Amelia sudah menjerumus ke arah mata Dave. Membuat Dave sedikit bingung sebab tak ada senyuman apapun. Berbeda dengan Amelia biasanya yang sering histeris ketika bertemu dirinya.
'Haduh gue mana tega ngeliatin Dave tanpa gue sapa.' Batin Amelia.
'Lo harus bisa Mel.' Batinnya lagi.
Didetik ketika mereka berpapasan, tak ada suara apapun dari keduanya, tak ada ekspresi apapun juga. Amelia merasa beruntung sebab berhasil untuk tidak tersenyum pada Dave.
Setelah Dave berlalu, Amelia memgeluarkan napas panjang. Merasa lega. "Huftt."
"Mantap Mel, nah gitu. Lo ikutin dulu cara gue ya." Ucap Tiara senang.
"Iya Tiara cantik." Sahut Amelia dengan senyuman palsunya.
•••
Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Reynand, Ia bersemangat sekali menuju tempat lomba. Ditambah lagi dengan suara semangat dari Mama dan pacarnya, sungguh kebahagian yang nyata. Ia sudah duduk di bangku yang disediakan ditemani bulpoin serta kertas untuk berhitung. Tepat pukul delapan lombanya di mulai, hati yang bahagia membuatnya mudah untuk berpikir jawaban dari soal-soal Olimpiadenya.
Sudah hampir satu jam waktu terlewati, tinggal menunggu menitan saja waktunya akan habis. Reynand bergegas menyelesaikannya, keringat memenuhi dahinya karena gugup. Bel bernunyi tanda waktu sudah habis, semua anak yang mengikuti olympiade mengangkat tangan mereka begitu juga Reynand. Bersyukurnya Dia bisa mengerjakan semua soalnya meskipun dia belum yakin betul.
Seusai itu, Reynand melangkah keluar dari ruangan. Hari sudah sore, sebab memang lombanya tidak diadakan pagi hari. Reynand tersenyum ketika Dara datang menghampirinya, Dara tak mengabari Reynand sebelumnya kalau dia akan menemui Reynand. Maka dari itu Reynand sedikit terkejut dan senang melihat pacarnya.
"Kamu disini ternyata?" Tanya Reynand.
"Iya, abis pulang sekolah aku kesini." Jawab Dara.
Reynand merangkul Dara, mengajaknya pergi ke parkiran untuk mengambil motor. "Gimana? Bisa kan?" Tanya Dara.
"Bisa sih, tapi Aku belum yakin."
"Kenapa ga yakin, yakin lah Kakak kan pintar." Ucap Dara membuat Reynand tersenyum senang.
"Sekarang mau kemana?" Tanya Reynand.
"Kafe?"
"Oke." Jawab Reynand.
Mereka berdua melaju menuju kafe, entah ada apa dikafe itu tapi yang pasti keduanya sering sekali ke kafe itu.
__ADS_1