Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
6. Serasi


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, waktu yang bagus untuk bermalas-malasan, tapi sayangnya impian itu tidak terkabul setelah Ratna membangunkan Kaila. Meminta Kaila untuk menyalakan mesin cuci, dan menjemur pakaian itu. Pagi ini cuaca sangat cerah, dan membuat mood Kaila membaik meskipun dirinya harus mencuci baju.


Suara mesin cuci membuatnya fokus dalam hal itu, tak mendengar bahwa ada tiga telepon yang masuk dari seseorang. Dering telepon itu benar-benar tidak terdengar ditelinga Kaila.


Setelah menyadari adanya bunyi ponsel, Kaila mengangkat telepon itu, dan membaca siapa yang menelponnya pagi-pagi.


^^^"Halo Tan?"^^^


"Halo Kai, bisa bantu Tante ga?"


^^^"Bantu apa Tan?"^^^


"Kamu temenin Reynand ya, hari ini penerimaan kejuaraan lomba Olimpiade SAINS. Sebenarnya Tante yang harus temenin, tapi Adit lagi demam, ga bisa Tante tinggal. Mau kan temenin Reynand?"


^^^"Ehm gimana ya Tan." ^^^


"Tante mohon Kai."


^^^"Ya udah iya Tan." ^^^


"Nanti kamu datang kerumah jam delapan ya, soalnya kalo Reynand yang jemput, pasti dia ga mau."


^^^"Iya siap Tan."^^^


"Makasih banget ya Kai, mau bantuin Tante."


^^^"Iya sama-sama Tan."^^^


Kaila bergegas ke kamar mandi, mengingat waktu yang kini menunjukan pukul tujuh. Setelah mandi, dirinya sarapan dengan tumis kangkung buatan Mamanya.


"Mah, Kaila berangkat ya." Pamitnya pada Ratna yang masih menyapu area dapur.


"Ya udah sana hati-hati ya." Pesan Ratna.


Dengan mengenakan dress berwana abu-abu selutut dipadukan dengan sepatu putih kesukaannya, Kaila tampak cantik dan terlihat berwibawa, Dia segera menuju ke rumah Reynand, berharap bahwa rencana ini bisa membantu Ndari.


Sinar matahari di pagi hari tak membuatnya lupa untuk memakai sunscreen. Asap yang berasal dari motor modifan terlihat sangat pekat didepan mata.


Dia telah sampai didepan gerbang berwarna hitam milik Reynand, tak ada satupun orang diluar rumah. Hanya ada beberapa tanaman yang layu dan terlihat belum disiram sejak dua hari lalu.


Dengan perlahan Kaila mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum."


Tak lama, Reynand membuka pintunya, sudah bersiap mengenakan kemeja hitam tak dikancing dipadukan dengan kaus putih polos didalamnya. Dia terlihat gagah.


"Kai?"


Reynand begitu terkejut, dirinya tidak mengetahui jika Mamanya mengajak Kaila kerumahnya. Apalagi ketika melihat Kaila mengenakan dress untuk pertama kalinya, meskipun itu hanyalah dress simpel.


"Hai." Jawabnya.


"Ada apa?" Tanya Reynand.


"Eh Kai, udah datang?" Belum sempat Kaila menjawab pertanyaan dari Reynand, Ndari sudah menyambut Kaila hangat.


"Iya Tan." Ndari mendekat, lalu Kaila mencium punggung tangan Ndari.


Reynand tak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi diantara Mamanya dan Kaila "Mama yang undang Kaila kesini?"


"Iya, dia yang temenin kamu ya. Mama kan harus jagain Adit dirumah." Jelas Ndari.


"Sebenarnya aku bisa kok pergi sendiri, tapi karena Kaila udah datang kesini, ya udah gapapa." Ucap Reynand.


"Ya udah ayo masuk dulu." Ajak Ndari.


Kaila memasuki rumah dimana dirinya pernah merasakan duka seperti yang keluarga ini rasakan, dia terbayang dengan kematian Papa Reynand. Rumah yang sepi tanpa suara radio ataupun televisi.


"Tante, Kaila bawain buah buat Adit." Ucap Kaila, sembari memberikan parsel buah yang dia beli ditoko buah tadi.


"Oh iya makasih ya Kai."


"Lo tunggu dulu, gua mau siap-siap bentar." Pamit Reynand.


"Kamu mau jenguk Adit?" Ajak Ndari.


"Boleh Tan."


Mereka berdua berjalan menuju kamar Adit, sedangkan Reynand kini bersiap mengenakan sepatu. Kaila sebenarnya kasihan dengan kondisi keluarga Reynand saat ini, keadaan dimana mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari kepala keluarga.


"Kai, Tante ke kamar mandi dulu ya. Dari tadi udah Tante tahan-tahan mau BAB." Pamit Ndari setelah mereka telah sampai didepan pintu kamar Adit.


Perlahan Kaila membuka pintu kamar Adit, melihat bagaimana kondisi Adit.


"Hai Dit." Sapanya.


Adit tak menjawab, dia menengok kearah sumber suara, mencari tahu siapa yang datang kekamarnya.


"Kak Kai?" Tanya anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu.


Kaila duduk di bibir ranjang, menemani bahkan menyemangati Adit.

__ADS_1


"Gimana kondisi kamu? Udah membaik?" Tanya Kaila lembut, tangannya memegang lengan Adit dan mengelusnya.


"Alhamdulillah Kak."


Kaila berusaha mencairkan suasana, meskipun sebenarnya diri sendirinya pun merasa sangat canggung dengan pertemuan ini. "Dari kapan demamnya?"


"Dari hari Jum'at Kak."


Dinginnya AC membuat Kaila heran, mengapa dalam keadaan seperti ini AC tetap menyala. Pikirannya pun perlahan berputar mencari topik pembicaraan.


Reynand yang telah selesai bersiap, mencari dimana keberadaan Kaila. Dirinya tidak mengetahui jika Kaila berada di kamar Adit untuk menghibur adiknya.


"Kai." Panggil Reynand kelima kalinya, namun belum ada jawaban.


Ketika dirinya sampai di depan pintu kamar Adit, Reynand mendengar suara lembut Kaila. "Adit tahu ngga sih, kalo kamu sembuh, kamu lebih kuat dari musuhnya ironman?"


Mulutnya serasa direm, ia begitu penasaran, apa yang sedang Kaila dan Adiknya bicarakan.


"Kok aku sekuat itu sih Kak? Dia kan kuat banget."


"Kalo musuhnya ironman, setiap kali nyerang ironman, pasti dia kalah. Sedangkan kamu, waktu kamu diserang sama penyakit, pasti kamu sembuh. Ngga kaya memusuhnya ironman, dia lemah. Kakak yakin besok pagi pasti Adit udah berangkat sekolah." Kata Kaila memotivasi, dia sangat berusaha agar Adit memahami kata-katanya.


Reynand tersenyum samar, dia lalu menghampiri Kaila dalam kamar Adit.


"Jadi ikut ga?"


Kaila menengok.


"Jadi."


"Ya udah Dek, Kak Kai pergi dulu ya. Ingat, harus cepat sembuh biar bisa sekolah lagi." Pesan Kaila.


Kaila dan Reynand berjalan serasi, meskipun Kaila tidak pernah mendahului langkah Reynand, tetap berjalan satu langkah dibelakangnya.


"Lo kalo jalan, jangan dibelakang gue. Kesannya pembantu gue." Ucap Reynand.


Mendengar ucapan Reynand, Kaila menuruti. Kini dia melangkah sejajar dengan Reynand.


•••


"Lo kok mau sih nemenin gua? Lagian kalo gue sendiri juga gapapa." Tanya Reynand, dibarengi dengan suara penyiar radio yang terus saja membacakan pesan dari salah satu pengirim.


"Nyokap lo mohon-mohon, ya kali ngga gua iyain."


Dering ponsel terdengar begutu keras ditelinga mereka berdua, ponsel itu dicekal Kaila setelah melihat siapa penelponnya.


^^^"Halo Dan?" ^^^


^^^"Lo kenapa nangis?"^^^


"Kaaaiiiii."


^^^"Dan, ada apa? Jangan buat gua bingung!" ^^^


Reynand menengok kearah Kaila, melihat ekspresi Kaila yang benar-benar khawatir dengan keadaan sahabatnya.


"Gua diputusin Jason!"


^^^"Demi apa lo?! Atas dasar apa?"^^^


"Karena beda agama,"


Kaila tidak menyangka jika Dani dan Jason berbeda keyakinan, sejak awal mereka berkenalan Dani tidak pernah bercerita mengenai agama Jason.


^^^"Wah! Gua ngga nyangka." ^^^


Kaila dan Dani terus berbincang mengenai Jason, sedangkan Reynand kali ini dibuat bingung karena macet yang belum juga usai. Padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh, kalau macet ini belum juga selesai sampai pukul sembilan, dia bisa terlambat. Macet didepan ternyata disebabkan adanya kecelakaan antara motor dengan mobil sedan.


"Macet banget anj-" Ucapannya terpotong dengan suara keras yang keluarkan oleh Kaila.


"Rey! Jangan diterusin. Dosa."


"Hahaha." Mendengar hentakan Kaila, Reynand tertawa keras. Dirinya tertawa sebab omongan itu bukanlah hal yang aneh dimulutnya, omongan itupun sudah biasa diucapkan oleh anak laki-laki.


"Dih, kok ketawa sih?"


"Ya abisnya lo kaya orang yang suci banget, mulut lo emang ga pernah ngucap gitu?"


Kaila tidak menyadari bahwa telepon nya masih tersambung dengan Dani, begitu malunya ketika dirinya menyadari Dani telah mendengar semua omongannya dengan Reynand.


"Woi! Lo jalan sama Reynand?"


Tatapan Kaila seolah melotot, tangannya menutup mulut, dan pandangannya tertuju pada Reynand. Dengan perlahan Kaila menjauhkan handphone dari mulutnya, lalu dia berbicara pada Reynand. "Dari tadi dia dengar omongan kita."


Melihat ekspresi seligus tingkah Kaila, Reynand malah tertawa lagi dengan keras. Kaila tidak mengerti apa yang membuat Reynand tertawa, apalagi dalam situasi seperti ini. Namun dia senang, pasalnya Reynand malah tertawa dibandingkan harus emosi saat macet seperti ini.


"Diem ngga lo! Gue tampol ye." Ucap Kaila.


"Woi! Kai! Ngapain aja sih lo?


Udah deh gua matiin aja.

__ADS_1


Ga jelas banget sih,


gua lagi sedih, eh lo malah asyik-asyikan kencan."


"Eh Dan! Dan! Jangan dimatiin."


Kaila menatap Reynand kesal, meskipun Reynand masih mencetak senyumnya. Kini macet telah usai, perjalanan dilanjutkan dengan kecepatan standar.


"Eh, si Dani kenapa?" Tanya Reynand.


"Putus sama cowonya."


"Gara-gara?"


"Beda agama." Jawab Kaila cuek, nampaknya masih agak kesal dengan Reynand.


"Seharusnya, kalo dari awal mereka udah tau beda agama, mereka ga harus jalanin hubungan. Udah tau akhirnya pun putus juga, sering ribut gara-gara agamanya masing-masing."


Kaila terdiam, dia yakin bahwa Reynand adalah sosok seseorang yang dewasa dan memiliki pikiran kritis. Reynand juga sering terjun dalam kehidupan politik, bersama teman-temannya.


"Yang namanya cinta emang ngerubah semuanya."


Mereka telah sampai diparkiran sebuah gedung lumayan besar, biasa disewa untuk pernikahan dengan acara yang tidak terlalu mewah. Setelah keluar dari mobil dan berjalan sebaris, Kaila dan Reynand nampak sangat serasi. Sangat serasi, tidak disengaja namun warna baju mereka terlihat seiras.


"Rame juga ternyata." Ucap Kaila.


Beberapa pasang mata menatap mereka, merasa iri karena keserasian Kaila dan Reynand, meskipun tidak berpegangan tangan.


"Eh duduk sini aja." Cegah Reynand sebelum Kaila melangkah lagi.


Kaila duduk, begitupun Reynand, mereka menunggu acara dimulai. Kaila dan Reynand tak berbincang, mereka malah membuka ponsel milik sendiri. Tak ada obrolan ataupun percakapan.


"Eh, tangan lo kenapa?" Tanya Kaila setelah melihat telunjuk Reynand berdarah.


"Tadi kena seat belt."


"Bentar-bentar."


Reynand menatap Kaila heran, apa yang akan dicari Kaila sebenarnya.


"Nih gua punya handsaplast." Kata Kaila sembari memberikan handsaplast pada Reynand.


"Oke thanks."


Reynand meletakkan ponselnya dikursi sebelahnya, dia sempat kewalahan memasang handsaplast ditangan kanannya.


"Sini gua pakein."


Kaila memakaikan handsaplast itu ditelunjuk Reynand. Reynand tidak mengira bahwa Kaila adalah orang yang cukup perhatian ketika sudah saling memgenal satu sama lain.


"Dah."


Acara di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, orang-orang tampak bersemangat. Wajar saja, sebentar lagi mereka akan mendapatkan kejuaraan. Dilanjutkan dengan pengumuman kejuaraan, Reynand maju keatas panggung dengan predikat juara dua olympiade SAINS.


"Bentar ya." Pamit Reynand, mukanya berbinar, hatinya serasa berada didalam syurga. Ia berharap bahwa piala yang dipegangnya bukanlah akhir dari setiap perjuangannya.


Kaila tersenyum bangga, dengan panggilan presenter, Kaila ikut keatas panggung sebagai wali dari Reynand.


"Mas Mba, kita pindah kesana bisa?" Tanya tukang foto yang telah menyimpan banyak foto mereka.


Kaila dan Reynand menatap bingung, bertanya-tanya apa yang akan si tukang foto lakukan. Dengan sedikit mengatur gaya berfoto, Kaila dan Reynand berhasil membuat puluhan pasang mata melihat padanya. Sempat malu karena menjadi buah bibir, tapi Reynand meyakinkan Kaila. "Sorry, gara-gara gue kita jadi omongan banyak orang gini."


"Gapapa."


Lebih dari lima belas foto telah diambil oleh tukang foto, Reynand tidak segan-segan untuk bertanya apa tujuan orang itu mengambil banyak foto dari dirinya dan Kaila. "Buat apa Bang, kok banyak banget?"


"Lumayan buat endors tanpa bayar, abisnya serasi banget." Si tukang foto tersenyum cerdik.


Reynand dan Kaila kembali ketempat duduk semula dengan membawa piala dan piagam.


"Eh Mas, pacarnya cantik banget." Ucap seorang bapak paruh baya yang melihat dan memperhatikan mereka sejak berada diatas panggung.


"Ini bukan pacar Saya Pak."


"Ga usah malu-malu Mas, lah wong pacarnya cantik gini." Kata Bapak itu dengan logat Jawanya.


"Udah ga usah diladenin." Bisik Kaila pada Reynand, dia malu jika terus-terusan dipuji bahkan disangka pacar Reynand.


Kaila dan Reynand kembali memasuki mobil setelah acara selesai, beruntungnya karena acara hari ini berjalan dengan lancar. Raut muka yang senang dan berbinar masih terpancar dari keduanya, seperti dilimpahi kebahagiaan.


"Abis ini, lo ada acara?" Tanya Reynand, sembari melihat kaca spion untuk membalikkan mobilnya.


"Engga, kenapa?"


"Mampir diwarung situ bentar ya."


"Oke."


Mereka berjalan menuju sebuah warung kecil yang biasa menjadi tempat tongkrongan Reynand dan teman-temannya.


"Kewarung ngapain? Kalo mau beli sesuatu di minimarket aja." Tanya Kaila.

__ADS_1


"Hoodie gua semalem ketinggalan disana."


__ADS_2