Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
19. Cerita


__ADS_3

Amelia mengecek jam di ponselnya, Ia lebih sering mengecek jam diponsel daripada di jam tangannya. Wajahnya terlihat cemas ketika menatap langit yang mulai menghitam, supirnya belum juga datang untuk menjemput. Sudah lebih dari tiga puluh menit dirinya menunggu di pos satpam, tapi belum juga datang. Indra pendengarannya mendengar suara motor yang familiar menurutnya, raut wajahnya menjadi sumringah. Senyuman terlukis sempurna.


"Dave." Panggil Amelia hingga Dave berhenti tepat dihadapannya.


Dave menatap Amelia malas, merasa kurang beruntung karena hari ini bertemu dengan Amelia. Ia menaikkan alis seolah bertanya ada apa.


"Mau nebeng boleh?" Tanya Amelia.


"Nebeng gimana, orang kita ga searah." Jawab Dave.


"Please Dave, gue ga ada yang jemput. Hari udah mulai gelap juga, sebentar lagi pasti ujan." Amelia memohon-mohon dengan menampakkan wajah memelasnya, sempat membuat Dave ingin tersenyum, tapi ditahan.


"Taxi online kan banyak." Ucap Dave memberi saran.


"Ya udah kalo ga mau nganterin gapapa." Kata Amelia diakhiri senyuman palsu miliknya. Tampa pamit Dave melajukan motornya, sampai digerbang dirinya berhenti dan melihat ke arah Amelia. Ia merasa iba pada Amelia, maka dari itu Dave mengundurkan motornya sampai di posisi semula.


"Naik." Pinta Dave.


Amelia terlihat senang sekali, wajahnya kembali ceria. Dengan cepat Amelia menaiki motor Dave, lalu motor itu melesat membelah jalan raya. Semakin sore, mendung semakin memghitam. Hawannya menjadi dingin karena angin yang terus menabrak keduanya. Beberapa kali Amelia mengusap lengannya dengan kedua telapak tangan, Ia merasa dingin. Dave melihat Amelia yang melakukan itu beberapa kali melalui spion kanan motornya.


Perlahan rintik hujan turun sebelum mereka sampai di rumah Amelia, karena semakin deras Dave memutuskan untuk meneduh di halte bus.


"Berhenti dulu?" Tanya Amelia.


"Iya." Jawab Dave.


Mereka berdiri menatap hujan yang semakin deras, Amelia terus merasa kedinginan ditambah bajunya yang sedikit terkena air hujan. Dava melirik Amelia yang tangannya seperti tremor, Amelia menggigil kedinginan. Wajahnya memucat, baru kali ini Dave melihat Amelia selemas ini. Tak lama, Dave melepas hoodie hitam yang dikenakannya. Memberikan hoodie itu pada Amelia tanpa satu patah katapun.


"Makasih Dave."


Selama lima belas menit mereka menunggui halte bus yang tak ada orang sama sekali kecuali mereka, setelah hujan mereda mereka melanjutkan perjalanannya. Tak ada obrolan apapun di perjalanan itu, sampai akhirnya tiba di halaman rumah Amelia.


"Makasih lo mau nganterin gue Dave." Ucap Amelia setelah turun dari motor Dave.


Ia melepas hoodie hitam milik Dave, memberikannya pada sang pemilik. Hatinya begitu senang meskipun mukanya terlihat pucat.


"Mau mampir dulu?" Tanya Amelia.


"Engga." Jawab Dave.


Dave membunyikan mesin motornya, tapi hujan kembali turun. Membuat keduanya panik seketika.


"Ke garasi dulu, ujannya deras." Ucap Amelia.


Dave menuruti ucapan Amelia, sebenarnya Dia kurang suka dengan ini, tapi daripada harus hujan-hujanan lebih baik dirinya meneduh dahulu. Apalagi besok pagi ia pergi ke sekolah. Ia lalu turun dari motornya, berjalan menuju teras rumah Amelia yang menyambung dengan garasi.


"Ayo masuk." Ajak Amelia.


"Engga, gue disini aja."


"Ya udah duduk disini." Pinta Amelia.


Dave duduk di kursi besi yang ada diteras rumah Amel, sedangkan Amelia kini masuk ke dalam rumahnya untuk mandi. "Bi, buatin teh hangat ya dua. Bawa ke depan." Pinta Amelia pada Bi Sari, pembantunya.


"Iya siap Non, ini handuknya Non." Bi Sari memberikan handuk pink milik Amelia yanh semula berada di balcon.


"Iya makasih Bibi."


Amelia lalu naik ke kamarnya untuk mandi, Bi Sari pun membuatkan permintaan majikannya. Membawa teh hangat itu ke depan rumah, dan bertemu dengan Dave yang sedang duduk sembari melihat hujan. Hujannya belum mereda, malah semakin deras.


"Diminum Mas, teh nya." Ucap Bi Endang, sambil memindahkan teh hangat dari nampan ke meja disamping Dave.


"Oh iya, makasih Bi."


Bi Sari kembali ke dapur, tak lama Amelia turun dari kamarnya dan segera menemui Dave kembali. Ia sudah berganti pakaian dengan kaus berwarna putih dan celana se lutut.


"Makasih ya Dave." Ucap Amelia untuk ketiga kalinya.


"Kebanyakan makasih lo." Sahut Dave.


"Eh iya, tapi beneran kalo ga ada lo pasti gue udah kedinginan di sana." Kata Amelia, melihat ke arah Dave sedangkan Dave menatap hujan.


"Sans."

__ADS_1


"Bokap nyokap lo mana?" Tanya Dave.


"Belum pulang, paling pulangnya nanti malam kalo gue udah tidur. Besok pagi berangkat sebelum gue bangun. Ya gitulah, tinggal satu rumah tapi jarang banget ketemu." Jawab Amelia terbuka dengan kehidupannya.


"Kasihan." Celetuk Dave, lebih mengarah kepada mengejek daripada merasa iba.


"Untung ada Bi Sari, kalo ditanya sayang sama Bi Sari atau sayang sama bokap nyokap, gue pasti jawab lebih sayang sama Bi Sari." Ungkap Amelia.


Dave menengok ke arah Amelia, bersiap mengeluarkan nasehatnya. Karena menurutnya, ucapan Amelia salah besar. "Ga ada orang tua yang ga sayang sama anaknya, gue yakin orang tua lo sebenarnya perhatian sama lo. Tapi karena pekerjaan mereka, mereka jadi ga punya waktu buat lo."


"Ya tapi kenapa mereka ga pernah nemuin gue? Padahal kita satu rumah loh. Kita ketemu cuma di wekeend aja, itu pun mereka acuh." Hari ini Amelia merasa lega sebab ada teman yang bisa diajaknya mengobrol, sebelum ini dirinya belum pernah mengutarakan isi hatinya terhadap orang tuanya kecuali pada Bi Sari. Hari demi hari hanya Bi Sari yang dapat mengerti perasaan Amelia.


"Lo ga tahu seberapa nyesel mereka waktu pulang dan lo udah tidur kan? Mungkin sebenarnya mereka nemuin lo dikamar, tanpa lo tahu." Nasehat Dave.


•••


Kaila membuka pintu rumahnya lemas, masih terbayang kejadian tadi. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Reynand membentak-bentaknya hanya perkara jus jambu yang tumpah di rok Dara. Lagi pula bukan dirinya yang menumpahkan itu, tapi siapa yang pura-pura menjadi saksi supaya Kaila disalahkan?


Terdengar suara dari dapur yang membuatnya sedikit takut, karena penasaran Kaila pun mengecek siapa yang sedang berada di dapur. Betapa histerisnya ketika dia melihat Ibunya yang tengah mencuci piring, dengan larian kecil Kaila memeluk erat sosok yang melahirkannya. Ia sudah rindu dengan orang itu, meskipun ditinggal hanya beberapa hari. Banyak kejadian yang membuatnya kesal saat ditinggal Ibunya.


"Ibu pulang kenapa ga ngomong-ngomong?" Tanya Kaila sembari melepas pelukannya.


"Kamu masuk rumah sakit aja ga ngomong ke Ibu." Jawab Ratna.


"Maaf Bu, kalo aku bilang nanti Ibu jadi khawatir disana. Lagian aku juga gapapa." Ucap Kaila, kini dia duduk di meja makan. Ia memperhatikan ibunya menaruh piring di rak.


"Gapapa gimana? Tifus kok gapapa. Kalo ada apa-apa itu bilang."


"Iya iya." Kaila menurut.


"Pie kabare Mbah? ( Gimana kabarnya Mbah? )" Tanya Kaila, sudah lama Ia tak mengenakan bahasa jawa di Jakarta. Mungkin ada beberapa kata yang Ia lupa.


"Apik Alhamdulillah, Mbah seneng Ibu rono. ( Baik Alhamdulillah, Mbah suka Ibu kesana.)" Jawab Ratna.


"Bawa oleh-oleh Bu?" Tanya Kaila lagi.


"Bawa, kae neng keranjang. ( Bawa, itu di keranjang."


Kaila mendekati keranjang yang dituduhkan Ibunya, mengambil beberapa oleh-oleh yang dibawanya dari Semarang. Kalau ditanya apakah Ia rindu dengan neneknya, pasti Dia akan jawab dengan cepat bahwa dirinya rindu. Ia rindu dengan suasana desa yang tentram.


"Iya."


Kaila berjalan ke kamarnya, ingin sekali merebahkan tubuh meski hanya beberapa menit. Hari ini hari yang melelahkan, hari yang menguras kesabaran, dan hari yang membuatnya kesal. Sebenarnya ia ingin lari, merasa ingin pergi dari situasi yang membuatnya kesal seperti ini. Terkadang Ia menganggap bahwa tuhan tidak adil terhadap dirinya, yang setiap membuka mata pasti selalu memiliki masalah. Tapi sampai titik ini Ia mampu bertahan, memgandalkan kesabaran untuk mengatasi setiap masalahnya.


Kaila membuka ponselnya, melihat siapa orang yang menghubunginya.


...DAVE ...


Masih sakit Kai?


Melihat pesan dari Dave, dirinya menghela napas panjang dan memejamkan mata nya sekejap. Ia lalu mengetikan dua huruf di layar ponselnya.


^^^Ga. ^^^


Setelah balasan dari Kaila, Dave tak membalasnya. Pikiran Kaila masih tetap pada persoalan siang tadi, meskipun bisa disebut dengan masalah sepele, tapi pikiran itu muncul berulang kali diotaknya.


Sedangkan Reynand bertambah percaya pada Dara bahwa Kaila selama ini tak sebaik yang dia kira. Pukul sepuluh Reynand masih bersama teman-temannya di warung Kang Dodit, biasanya Dia sudah pulang karena memang jam mainnya hanya sampai pukul sepuluh. Tapi malam ini Ia merasa malas untuk pulang.


"Udah jam sepuluh Rey, lo ga pulang?" Tanya Dito, Ia sudah tau kebiasaan temannya itu.


"Nanti dulu, gue males pulang." Jawab Reynand.


"Nanti lo dikunciin dari dalam, ga usah ngadi-ngadi jadi anak." Sahut Bimo meskipun masih fokus pada game yang sedang dimainkannya.


"Biar, kalo dikunciin ya gue tidur di luar. Eh gue mau ikut nge game." Ucap Reynand acuh.


"Iya ayo, langsung masuk aja." Ucap Bimo.


Dito dan Maul seolah bermain isyarat melalui mata mereka, melihat perubahan sikap Reynand sejak siang tadi. Mereka mengetahui apa yang terjadi tadi siang. Reynand tak sama sekali menceritakan itu, tapi memang saat itu mereka ada di tempat kejadian.


"Masih marah lo sama Kaila?" Tanya Maul.


"Ya iyalah, ya kali engga. Tega-teganya dia nyiram Dara." Jawab Reynand, sembari menekan-nekan layar ponselnya gemas.

__ADS_1


"Kalo Dara yang bohong gimana Rey?" Tanya Dito.


"Bohong gimana? Jelas-jelas gue dengar dari teman sekelasnya. Temennya itu bilang ke gue kalo Kaila nyiram Dara." Ungkap Reynand.


"Tapi gue masih ga nyangka, buat apa coba Kaila nyiram Dara?" Maul mengambil gelas kopinya.


"Paling sewot sama Dara, gara-gara Reynand lebih perhatian ke Dara ketimbang ke Kaila." Sahut Bimo.


"Gue kurang suka sama Dara." Ucap Dito.


Reynand melepaskan handphone nya dan melihat dengan tajam ke arah Dito.


"Maksud lo apaan ngomong gitu?" Tanya Reynand dengan nada yang bisa dibilang tinggi. Di situasi seperti ini, hati Reynand lebih sensitif dari biasanya. Disebabkan karena terlalu banyak yang dipikirkan.


"Santai Rey, ini kan pendapat gue. Lo jangan emosi gitu dong." Jawab Dito, ia sedikit kaget pada ekspresi Reynand yang emosi.


"Lo pasti mau jelek-jelekin Dara kan akhirnya?"


Dito tersenyum miring, tidak menyangkan temanya se sensitif itu saat ini. "Dara seistimewa itu ya Rey? Apa sih yang ngebuat lo suka sama Dia? Padahal ada orang disamping lo." Ucap Dito.


"Orang itu bakalan setia ada disamping lo kok, meskipun lo jalan kesana kemari. Dia akan selalu nerima setiap omongan ataupun cerita dari lo, tentang sedihnya ataupun susahnya." Jelas Dito.


"Iya Dara kan?" Tanya Reynand.


Dito tersenyum miring, masih belum paham juga mengapa sahabatnya itu bodoh sekali tentang percintaan. Ia tak menjawab pertanyaan Rey, memilih untuk beralih topik.



••


Dua hari berturut-turut hidup Kaila terasa sepi, tak ada orang yang mengajaknya tertawa dan tak ada lagi lelucon konyol Reynand. Kaila merasa kehilangan sosok Reynand yang menghiasi hidupmya setiap hari. Reynand memberikan warna baru dalam hidup Kaila.


Ia kini berjalan sendirian menuju kamar mandi, Fifi dan Dani sudah menuju kelas terlebih dahulu dari pada dirinya. Mereka baru saja dari kantin dan ingin kembali ke kelas. Kaila sengaja mampir ke kamar mandi, ingin mencuci mukanya agar lebih fresh untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


Setelah mencuci muka, Ia kembali berjalan ke kelas. Kelasnya tidak begitu jauh dari kamar mandi, hanya memerlukan beberapa detik saja sudah sampai. Sampai di kelas, Kaila duduk bersama kedua sahabatnya itu, berbincang mengenai kakak kelas ataupun teman satu angkatannya. Tentunya menggosip memang sudah mendarah daging pada setiap perempuan.


"Kai." Panggil Lita, teman sekelas Kaila.


"Iya Lit?" Sahut Kaila menengok kearah Lita yang berada di bibir pintu.


"Ada yang nyariin lo." Ucapnya.


Kaila melangkah mendekati pintu, mencari tahu siapa orang yang mencarinya. Kaila sudah biasa dicari orang, karena dirinya OSIS pasti ada saja urusan diluar rapat. Langkah kakinya terhenti ketika melihat seorang cowok yang berdiri di depan pintu. Tatapannya tajam dan tak ada sama sekali senyum diwajahnya.


"Lo abis dari kamar mandi?" Tanya Reynand.


"Iya." Jawab Kaila singkat.


Reynand menarik napas panjang, "Bisa ya lo? Tega lo Kai? Dia ga pernah buat salah sama lo." Ucap Reynand, membuat Kaila kaget dan bingung. Ia tidak mengerti apa yang Reynand katakan, Dia siapa yang dimaksud?


"Tega gimana? Maksudnya?" Tanya Kaila bingung.


"Ga usah pura-pura ga tahu. Gue udah tahu kok Kai. Sengaja banget ya lo ngunciin Dara di kamar mandi?"


Pertanyaan Reynand membuat Kaila semakin kaget, Ia tak melakukan apa-apa tapi dituduh yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin Kaila melakukan itu? Tak ada alasan yang bisa membuatnya melakukan hal seburuk itu.


"Drama apa lagi sih ini?" Tanya Kaila.


"Lo tanya sama gue? Justru gue yang tanya sama lo, drama apa lagi yang lo buat kali ini Kai?" Reynand semakin membentak Kaila seperti kemarin. Beberapa orang menengok ke arah mereka, melihat pertengkaran kedua orang itu.


"Gue ngga ngelakuin apa-apa!" Jawab Kaila.


"Terus lo pikir siapa lagi kalo bukan lo yang ngunciin Dara di kamar mandi?"


Dito, Bimo, dan Maul melihat keduanya adu mulut. Mereka bertiga melerai keduanya, berharap keduanya mau menyelesaikan perkara ini tanpa emosi. "Ini ada apa sih? Lo ga malu di liat orang-orang kaya gini?" Tanya Dito.


Keduanya diam, Reynand menatap Kaila tajam. Kaila memejamkan matanya sekejap, berusaha agar lebih kuat dari sebelum-sebelumnya. Sebenarnya ia sudah lelah dengan fitnah yang dibuat-buat entah oleh siapa.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Putra, guru BK.


Semua anak yang tadinya mengumpul, kini bubar perlahan karena kedatangan guru yang dibilang paling menyeramkan diantara guru lainnya.


"Ini Pak—" Jawab Maul yang dipotong oleh Pak Putra.

__ADS_1


"Alah sudah, ikut Saya ke kantor." Pinta Pak Putra.


__ADS_2