
"Ini Mas Mba pesananya. Yang dibungkus, nanti ambil dikasir ya Mas." Kata Mba Ani sembari memberikan dua piring nasi goreng kesukaan Reynand ditemani jus alpukat.
"Iya mba, makasih."
Mba Ani segera pergi dari hadapan Reynand dan Kaila. Kaila kini menatap Reynand sinis, dia tidak pesan nasi goreng dan jus alpukat.
"Makan." Ucap Reynand.
"Kan gua ga pesan makanan."
"Gua yang pesan." Kata Reynand.
Reynand memperhatikan raut wajah Kaila yang kebingungan, dia tidak paham apa yang membuat Kaila tetap diam tanpa tindakan apapun.
"Lo makan? Atau gua bilang nyokap kalo lo ga mau makan?" Ancam Reynand yang membuat Kaila segera memegang sendok dan garpu.
Rasa yang sangat pedas menurut Kaila, yang dari kecil tidak menyukai makanan pedas. Mungkin menurut orang lain, kurang pedas, tapi berbeda dengan Kaila. Kebiasaannya ketika memakan makanan pedas, dia akan mengeluarkan keringat di keningnya.
"Lo ga suka pedas?" Tanya Reynand yang melihat gadis itu terlihat kepedasan.
"Engga."
"Minum dulu, gue pesenin lagi yang ga pedas."
"Ngga usah, nanti gue makan dirumah aja." Tolak Kaila pada tawaran Reynand.
Reynand merasa bahwa dirinya anak kecil yang makannya masih diawasi. Meskipun didepannya ada orang, tapi tetap saja rasanya seperti sendirian.
Selesai menghabiskan makanan, mereka berdua pulang dari cafe itu. Langit tampak sudah gelap, senja pun sudah tidak terlihat lagi. Hari ini adalah perkenalan awal dari Kaila dan Reynand.
•••
"Jadi, Ila tungguin pemakaman selesai." Ceritanya pada Ratna, Mama Kaila. Kaila dan Mamanya memang seperti teman, dia akan menceritakan apa saja yang dia alami di hari itu.
"Kasihan ya ibu itu." Respon Ratna.
"Sok gera mandi, udah bau asem ceunah." Perintah Ratna pada anak perempuan nya.
"Oke Mama."
Kaila bergegas naik kekamarnya, dan mandi dengan air hangat. Sejak sore tadi dia kedinginan setelah menaiki motor tanpa menggukan jaket ataupun hoodie. Selesai mandi, Kaila merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk itu. Badannya serasa dipukuli setelah semua peristiwa berlalu. Apalagi besok pagi hari Senin, yang mengharuskan anak-anak untuk mengikuti upacara bendera.
Kaila membaca beberapa pesan dari anak-anak satu angkatan di grup. Hampir semua anak mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Ayah Reynand.
"Dia anak Antariksa?" Tanyanya pada diri sendiri, tanpa adanya jawaban dari orang lain.
Sejak pagi tadi, tak ada obrolan mengenai sekolahan. Ternyata mereka satu sekolah, di SMA ANTARIKSA, dan ternyata juga mereka seangkatan. Wajar saja Reynand ataupun Kaila belum saling kenal sebelumnya, Kaila baru saja pindah dari Jakarta Timur.
Kaila menekan nama yang sering dia telepon. Fifi Handayani, teman sebangkunya. Anak dari pengusaha kaya raya yang sangat terkenal. Tak lama setelah Kaila menelpon, cewek berambut pendek itu menjawab.
^^^Reynand tuh kelas apa sih fi? ^^^
MIPA 5, kalo ga salah.
^^^Kok gua ga pernah ^^^
^^^ngeliat dia di sekolah ya? ^^^
Lo belum pernah denger kasus dia?
^^^Kasus apa?^^^
Banyak sih, makannya
sering keluar masuk BK.
Tapi asal lo tau ya,
dia pinternya ga ketulungan.
Sering bawa nama baik
sekolah karena dia menangin Olimpiade.
^^^Baru tau gue tentang Reynand. ^^^
Dan yang gue tau,
dia itu orangnya dingin gitu
sama anak yang baru dia kenal.
Tapi ternyata waktu udah kenal,
orangnya enakan kok.
Apalagi kalo lagi ngajarin pelajaran gitu,
kek gantengnya nambah.
^^^Mulai deh ni anak. ^^^
Yee pokoknya inceran
gue tetep Kak Dave.
^^^Dih, sono embat. ^^^
Ya udah emang buat gue.
Mereka memematikan panggilan itu bersamaan. Dave Danendra, anak kelas dua belas yang menjadi incaran banyak cewe di SMA ANTARIKSA. Dia pernah menjadi bagian dari hidup Kaila, orang yang sempat membuat Kaila merasa bahwa dirinya memiliki semuanya.
Rintihan hujan terdengar merdu, memberikan ruang waktu pada memori untuk mengingatnya lagi. Mengingat cerita yang membuat rasa senang menjadi kelabu. Rasanya sulit bagi Kaila untuk tersenyum saat mengingat kenangan yang terbuka kembali. Orang-orang bisa saja mengidolakan mantannya, karena mereka belum tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi dan apa sebenarnya yang dilakukan oleh Dave.
"Untung aku sadar kalo kamu jahat." Ungkapnya.
Dua tahun yang lalu, mereka menghidupkan sebuah hubungan yang meninggalkan kenangan didalamnya. Kenangan pahit ataupun kenangan manis. Tak bisa dibayangkan, orang yang dianggap tidak memiliki kekurangan itu bisa melakukan hal mengecewakan dalam hidup Kaila.
Dua tahun berpacaran, membuat Kaila dan Dave saling memahami satu sama lain meskipun mereka masih SMP. Tepat hari Kamis sore, Kaila memutuskan Dave dengan alasan Dave telah berubah. Tidak seperti sebelumnya, yang akan menjawab pesan dengan selang beberapa detik. Perhatian pun tidak pernah dilontarkannya pada Kaila, apalagi pertemuan. Pertemuan itu hanya sebatas berpapasan ketika di sekolah, tak ada yang lain.
__ADS_1
Hari itu Kaila mengambil keputusan, mengambil kesimpulan juga bahwa Dave bukanlah yang terbaik untuk dirinya. Pukul lima sore, Kaila tengah berbincang di sebuah cafe dekat sekolah. Dirinya dan teman-temannya duduk disamping pintu cafe, otomatis dia akan melihat siapapun yang datang dan memasuki cafe itu.
...DAVE ...
^^^AKU MINTA PUTUS^^^
OKE
Jawaban yang paling dibenci oleh Kaila, hari itu adalah hari yang menyesatkan bagi dirinya sendiri. Mungkin tidak dengan Dave yang malah tersenyum ketika Kaila meminta putus.
"Gue ikut senang dengar nya Dave."
"Bagus lah kalo dia putusin lo."
Obrolan dalam telepon itu tak sengaja terdengar oleh Kaila dan teman-temannya. Semakin yakin bahwa orang itu memiliki kerja sama dengan Dave. Dia Amelia, satu angakatan dengan Dave. Cewek yang selalu mengejar-ngejar Dave dari SD. Sejak awal hubungan Kaila dan Dave, Amelia sering mengusili Kaila. Dan bodohnya Kaila, dia tidak pernah mengadu pada Dave.
Itu sekilas cerita antara Kaila dan Dave pada masa SMP, dan kini mereka satu sekolah di SMA ANTARIKSA.
"Kai. Gimana tadi?" Tanya Kak Bintang sembari memasuki kamar Kaila.
"Iya, aku ikut kepemakaman. Kasihan banget ibu itu." Ungkap Kaila pada Kakaknya.
"Thank you ya lo mau anterin berkas itu."
"Oke kak." Respon Kaila pendek.
"Tadi sore ada yang nyariin lo tuh."
"Siapa?" Kaila begitu penasaran dengan ucapan Kakaknya.
"Cowok, pake kacamata, giginya behelan." Cerita Kak Bintang mendeskripsikan orang itu.
"Yee, itu mah elo Kak."
Itu memang deskripisi dari Kak Bintang, memakai kaca mata dan giginya memakai behel.
"Bukan gua, dia bilang dia teman SMP lo."
Kaila memutar bola matanya, dia tahu siapa orang itu, pasti Dave. Demi apapun, Kaila tidak mau bertemu dengan orang seperti dia lagi.
•••
Tiga hari setelah kematian Ayahnya, rumah Reynand masih sama. Tampak sepi dan tak bercahaya seperti biasanya. Dengan keluarga yang terkadang masih berkunjung, membuat dirinya teringat selalu dengan sosok ayah.
"Tante, turut berduka cita ya. Maaf Amel ga bisa datang waktu pemakaman." Ucap Amelia sembari memaluk erat Ndari.
"Iya Mel, gapapa. Mama sama Papa kamu mana?" Tanya Ndari.
"Masih didepan."
Reynand yang masih berada di meja makan, kini dia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju Amelia. Hubungan saudara yang mereka cipatakan sejak SMP, membuat keduanya merasa seperti saudara kandung. Begitupun dengan keluarga Reynand dan Amelia yang memang saudara.
"Berangkat yuk." Ajak Reynand.
"Ayo."
Setelah keduanya berpamitan, mereka bergegas ke sekolah. Hampir setiap hari mereka berangkat bersama, maka tidak asing bagi orang-orang mengatakan mereka berpacaran. Padahal diantara mereka tak ada perasaan suka satu sama lain, hanya sebatas saudara.
"Gua ke kelas ya." Pamit Amelia pada Reynand yang masih merapihkan bajunya.
"Oke."
Mereka berpisah di parkiran, Reynand yang bertemu teman-temannya dijalan, langsung menjadi topik pembicaraan.
"Sepupu kaga boleh pacaran Rey." Goda Maul, teman dekat Reynand. Anak kelas dua belas yang terkenal sebagai ketua geng dari anak IPS. Pertemanan erat sudah tercipta antara mereka sejak kelas sepuluh. Hampir semua teman Reynand adalah anak kelas dua belas.
"Yee bilang aje lu sirik kan, gua mah ga pacaran." Respon Reynand.
"Dari pada lu sama Amel, mending lo deketin anak baru deh." Saran Dito, yang juga kelas dua belas.
"Anak baru saha?" Tanya Rey.
"Eta, si Kai- Kai- lupa eh." Kata Maul sembari merobohkan tubuhnya di tembok.
"Kaila!" Ceplos Dito.
Setelah mendengar ucapan Dito, dia teringat dengan gadis yang kemarin kerumahnya. Baru dia ingat, mereka tak saling berkenalan dan menceritakan sekolah satu sama lain. Ketika dia mengingat sosok bernama Kaila, sebenarnya dia ingin tersenyum saat wajah Kaila gelisah.
"Satu angkatan?"
"Iya sama lo." Jawab Dito.
Bel masuk terdengar sangat keras ditelinga mereka, membuat beberapa orang menegakkan badan, lalu masuk kedalam kelas. Kericuhan terdengar dari kelas paling pojok, yaitu kelas XI MIPA 5, kelas Reynand. Guru yang mengajar, hari ini tidak masuk karena sakit. Tak ada tugas juga dari guru piket.
Kaila berjalan di koridor, membawa buku paket dari perpustakaan ditemani Fifi. Bu Guru memintanya mengambil buku paket fisika sebanyak 36 dengan tebal lumayan.
"Ni buku cari masalah sama gue ya." Ungkap Fifi kesal.
"Emang nih, kalo gitu, mendingan tadi si Soleh yang bawain." Jawab Kaila.
Reynand berjalan santai bersama Bimo, teman sekelasnya. Dengan mengeluarkan baju OSIS nya, mereka berhasil membuat cewek-cewek yang tengah melihatnya terpesona. Bukan hanya tampan, anak dari Alm. Suripto tidak kalah pintar dari Dave.
"Rey!" Panggil Fifi pada Reynand.
Tanpa jawaban apapun, Reynand mendekat kearah Fifi. Di kelas sepuluh, mereka satu kelas, jadi tidak saling canggung.
"Kenapa Fi?"
"Turut berduka cita ya."
Kaila dan Reynand saling memandang satu sama lain, Reynand yang baru tahu bahwa gadis penolong itu bersekolah di SMA nya, tak dapat mengucapkan apa-apa. Mereka tampak seperti orang yang belum pernah bertemu ataupun bersama sebelumnya.
"Iya, thank's Fi."
"Bimo." Kini giliran Bimo, cowok gendut yang rajin belajar, tapi kepintarannya masih kalah dengan Reynand yang jarang sekali belajar.
"Iya Fi?" Bimo tersenyum ketika namanya dipanggil oleh cewek cantik.
"Bawain buku ini ke kelas mau ga?" Fifi mengekuarkan jurus pupyface nya di hadapan Bimo, hingga Bimo tidak mampu untuk menolak permintaan Fifi.
__ADS_1
"Boleh Neng." Respon Bimo senang.
Reynand tak melakukan gerakan apapun, dia malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana tanpa adanya rasa risih ataupun kasihan apapun.
"Lu bantuin dia dong, jiwa laki-laki lu kemana si?" Ucap Bimo.
Reynand menengadahkan tangannya kehadapan Kaila yang masih merasa keberatan dalam membawa buku.
"Sini." Pintanya.
"Engga papa, gua bisa bawa sendiri kok." Tolak Kaila ramah, dia melepaskan senyuman yang bisa membuat hati para cowok seakan ingin pingsan saat itu juga.
Reynand menatap Kaila tajam, seperti tatapan yang sebelumnya. Bukannya takut, dia malah salting. Tatapan itu bisa membuat Kaila gelisah dimana pun dia menemukannya.
"Jangan cari masalah deh sama gue. Biar gua yang bawa bukunya." Ancam Reynand.
'Aneh banget sih ni cowo! Kalo aja dia bukan anaknya Tante Ndari, udah gua bejeg-bejeg nih anak.' Batin Kaila kesal, dia membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap ancaman dari Reynand, meskipun dia tahu bahwa ancaman itu menguntungkan dirinya.
Kaila memberikan delapan belas buku paket itu pada Reynand. Keempat orang itu mulai berjalan menuju kelas XI MIPA 1, Bimo meminta Fifi untuk menemaninya berjalan didepan. Sedangkan Reynand berjalan dibelakangnya, diikuti Kaila dengan selisih satu langkah.
Dengan kode mata, seolah Reynand meminta Kaila untuk berjalan sejajar dengannya. Kaila pun paham, lalu menurutinya.
"Gua baru tahu kalo lo anak Antariksa juga." Ucap Reynand setelah langkah mereka sejajar.
Kaila tak menjawab ungkapan Reynand, dia hanya tersenyum terpaksa.
"Nyokap minta lo dateng kerumah abis pulang sekolah." Kata Reynand menyampaikan apa yang Mamanya katakan sebelum berangkat sekolah tadi.
"Tante Ndari ga bilang sama gue."
"Lo kira gua bohong? Ya kali. Ada motif apaan gua bohongin lo?"
Kaila terdiam setelah ucapan itu keluar dari mulut Reynand, dia sangat kesal hari ini bertemu dengan orang seperti Reynand. Orang yang sangat menyebalkan ketika diajak bicara, dia mengira bahwa Fifi berbohong jika Reynand adalah orang yang baik.
Sampai di kelas, Reynand dan Bimo meletakkan buku paket itu di meja guru. Mereka tidak sadar bahwa baju OSIS nya dikeluarkan.
"Bagus ya bajunya." Puji Bu Sri, guru fisika yang sangat terkenal galaknya. Bukan hanya galak, tapi dia juga killer.
Reynand dan Bimo berpura-pura tidak mendengarkan apa yang Bu Sri katakan, mereka tetap meneruskan jalannya.
"Masih mau jalan juga?"
Merasa bahwa Bu Sri sudah mengetahui kepura-puraan mereka, Reynand dan Bimo berbalik badan secara bersamaan. Menatap Bu Sri dengan tatapan kesal.
"Ehm-" Reynand mencoba mencari alasan.
Kini Reynand dan Bimo menjadi pajangan bagi anak kelas XI MIPA 1. Mereka berdua berdiri di depan kelas tanpa rasa bersalah.
"Tadi Saya abis pipis Bu, nah, Saya lupa belum masukin bajunya." Ungkap Reynand. Membuat dirinya menjadi bahan tertawaan satu kelas itu.
"Diam!" Bentak Bu Sri pada seisi kelas.
"Kamu itu anak pintar Rey, tapi kenapa akhlaknya ngga di perbarui sih. Ga punya google play store kamu?"
Mendengar ucapan Bu Sri, satu kelas kembali tertawa meriah layaknya melihat acara lawakan.
"Kamu juga Bimo! Bajunya kenapa ngga dimasukin?"
"Bajunya udah ga muat Bu, kalo di masukin." Alasan Bimo yang hanya mengarang dan asal ceplos.
"Halah sudah-sudah, cuma bisa ngeles aja ya kalian. Sekarang masukin bajunya, lalu kembali kekelas." Perintah Bu Sri, dan mereka berdua menuruti.
•••
^^^"Halo Tante?" ^^^
"Halo Cantik.
Kamu bisa kerumah Tante
ga habis pulang sekolah?"
^^^"Ehm." ^^^
^^^"Sebenarnya nanti ^^^
^^^Kaila ada ekstra Tan,^^^
^^^jadi pulangnya maghrib." ^^^
"Yah padahal Tante udah
masakin kamu,
Tante masak banyak banget ini.
Sayang kalo ga dimakan."
^^^"Ya udah nanti Kaila usahain ya Tan." ^^^
"Nah gitu dong,
kamu ajak Mama kamu ya nak."
^^^"Mama aku?"^^^
"Iya, Tante mau kenalan."
^^^"Oke Tan."^^^
"Ya udah, kamu usahain bisa
datang ya Kai. Tante mohon."
^^^"Iya Tan." ^^^
Ndari memutus sambungan teleponya pada Kaila. Dia sangat berharap bahwa Kaila bisa datang kerumahnya malam nanti.
---------------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa vote atau komen yaa. Tencuuu kalian.