
"Lo tunggu sini aja ya, gua cuma sebentar." Pamit Reynand sebelum dirinya turun dari mobil.
"Oke."
Reynand tersenyum melihat beberapa temannya sudah duduk manis ditemani kopi hitam. Aroma kopi hitam buatan Kang Dodit memang tidak bisa dilupakan, baunya yang khas membuat mereka menyukai kopi itu.
"Oy Rey." Sapa Bimo pertama kali.
"Oy."
Ketiga temannya melihat ke arah mobil, mencari tahu siapa yang kini tengah duduk didalam mobil.
"Itu yang lagi main hp dalam mobil siapa?" Tanya Bibin, salah satu teman Reynand yang saat inu sudah duduk dibangku kelas dua belas.
"Temen gua."
"Si Amelia teu ikut?" Tanya Kang Dodit, pemilik warung yang biasanya dipakai untuk markas Reynand dan teman-temannya.
"Engga Mang,"
Reynand melangkah mendekati meja yang semalam dia tempati, mengambil hoodie abu-abu miliknya yang tertinggal.
"Pacar baru kitu?" Tanya Kang Dodit lagi, masih penasaran dengan seorang cewek yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Bukan atuh Kang, dia mah temen." Responnya.
Kaila membuka layar ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi yang sangat sering dibukanya, instagram. Beberapa notifikasi sudah menyambutnya, dua puluh like baru saja masuk dalam ponselnya. Ia menunggu sekitar lima belas menit, sampai akhirnya Reynand kembali kedalam mobil.
"Gue dikira sombong ga?"
"Sombong gimana?" Tanya Reynand tidak mengerti.
"Kan gue ga turun dari mobil, gue takutnya mereka nyangka kalo gue sombong."
Mendengar ucapanku, Reynand membuka jendela mobilnya, melihat kearah teman-teman serta Kang Dodit yang masih setia menunggu mobilnya pergi.
"Eh, cewe yang didalam mobil, ga keluar karena gue yang minta ya. Lo jangan pada salah sangka, ngiranya dia sombong." Teriaknya keras sampai teman-temannya mendengar, dan dilanjut dengan tawaan renyah.
"Ga gitu juga." Kaila tersenyum malu melihat aksi yang Reynand lakukan.
"Ya kan biar mereka ga salah sangka."
"Ya udah iya."
Mobil bermerk Pajero itu melesat dijalan raya, sampai akhirnya mereka berhenti dipinggir jalan. "Loh kok berhenti?"
"Lo kan mau cerita, kalo gue dengerinnya sambil nyetir, nanti ga menghayati."
Kaila tidak mempercayai apa yang Reynand lakukan hanya demi untuk mendengarkan ceritanya. Cerita yang bertema toxic relasionship, topik yang sebenarnya Reynand benci. Arah matanya menatap Kaila dengan lekat, hingga hampir saja Kaila terpesona dan mengeluarkan respon berupa pipi merah.
"Jadi, waktu gue pacaran sama Dave, hubungan kita toxic. Dia selalu ngatur hidup gua, maksa ini itu, bahkan ngelarang ini itu. Gue ga pernah nyangka kalo hal itu bakalan terjadi sama gue."
Padangan Reynand kini menunjukan bahwa dirinya serius dan mendengarkan secara jelas.
"Tapi, setiap gue mau mutusin dia, dia selalu ngancam gue. Dia bilang kalo gua putus sama dia, dia bakal jelek-jelekkin gua didepan semua murid disekolah. Waktu itu sempat gua percaya sama orang itu, sampai akhirnya hubungan kita jalan dalam beberapa tahun."
"Lo taukan kalo dia primadona SMP, ya makannya banyak yang suka dan ngejar-ngejar dia. Gue dulu sering dikerjain, disuruh-suruh, dibully juga, tapi Dave selalu ngelindungin. Sampe waktu nya gua mutusin dia, gua bersyukur banget waktu itu bisa bebas dari dia. Walaupun gue yang ada di pihak tersakiti."
Reynand masih dalam kondisi menatap Kaila dalam-dalam, dia memperhatikan betul-betul setiap lekukan wajah dari cewek yang berada didepannya sekarang. Reynand memperhatikan lesung pipi yang terlihat saat Kaila tersenyum, dan kantung mata yang setia menunggui mata Kaila meskipun tidak pernah begadang. "Udah ceritanya?"
"Eh bentar, kenapa ya Dave mau sama gue? Padahal kan gua buluk gini, biasa aja juga."
"Itu namanya lo kurang bersyukur," Reynand mengacak rambut Kaila, tangannya seakan digerakkan untuk melakukan itu. Sedangkan Kaila, sedikit kesal meskipun sebenarnya dia senang, jantungnya berdetak begitu kencang sampai sekarang, pipinya memerah seketika.
__ADS_1
"Iii apaan si." Gerutu Kaila.
"Karcis parkir di elo kan?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Reynand sontak membuat Kaila mencari dimana karcis itu, walaupun sebenar tidak ada karcis parkir. Reynand tertawa renyah melihat tingkah Kaila yang seakan berubah, dia berbeda dengan perempuan lain menurut Reynand.
Reynand lalu mengemudikan mobilnya, nampaknya Kaila belum menyadari jika dirinya hanya di prank.
"Udah-udah jangan dicariin lagi, mana ada karcis parkir, ini kan dipinggir jalan."
"Iih lo tuh ya, udah bikin gue panik tau ngga."
•••
Hari Senin, hari paling dibenci oleh anak pelajar, rasanya berat untuk menjalani hari-hari berikutnya. Harus upacara selama tiga puluh menit, harus membangkitkan semangat baru sehabis hari Minggu, dan hal lain yang membuat diri merasa malas. Omongan Bagas kemarin cukup menghantui pikiran Kaila, dia tidak bisa berpikir jernih karena dipanggil untuk menuju ke ruang OSIS. Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri, pernahkah dirinya berbuat salah, sampai harus dipanggil ke ruang OSIS?
"Assalamu'alaikum." Hawa dingin seakan menyambut Kaila dalam ruang OSIS yang gordennya tertutup. Penerangan yang hanya diberikan oleh lampu, nampaknya menambah situasi menjadi lebih menegangkan lagi.
"Wa'alikumsalam, ayo masuk." Ajak Si ketua OSIS yang kali itu sedang duduk bersama dua orang cewek.
"Ga usah takut, kita ngundang kamu, karena kita mau ajak kamu gabung jadi anggota OSIS. Katanya, dulu kamu jadi wakil ketua OSIS."
Kaila terdiam, berpikir sejenak.
"Salah satu pengurus OSIS baru saja keluar, makannya kami butuh pengganti. Kurang lebih dua minggu lagi, kan ada Training Motivasi dan kita kerjasama sama organisasi sebelah ."
"Kamu bersedia jadi pengurus OSIS?" Tanya Ketua OSIS itu, sembari menatap Kaila tajam.
Akhirnya Kaila mengangguk, dia yakin bahwa disekolah yang baru ini, dirinya juga akan berpartisipasi dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.
"Thank you banget, lo mau gabung sama kita."
Keluar dari ruang OSIS, Kaila dan Bagas segera menuju kekelas, terlambat lima menit bukanlah hal yang aneh bagi anak OSIS. Kaila melihat sekilas seorang perempuan yang sangat dia kenal, perempuan yang begitu dia benci, meskipun sempat lupa. Perempuan itu menengok kearah Kaila, sedikit kaget hingga dia membulatkan mata tidak percaya. Tatapan Kaila tajam, dia tidak menyangka bahwa orang itu berada disekolah ini.
"Ngapain lo disini?" Tanya perempuan bernama Amelia sembari mendekat kearah Kaila.
"Ya sekolah lah," Jawab Kaila.
"Kenapa emangnya? Emang sekolah ini punya Kakak?"
"Lo emang ya—" Amelia mengangkat tangan kanannya, hendak melemparkan pukulan itu tepat dipipi Kaila. Dave melihat kejadian itu, dia berlari begitu cepat hingga dapat mencegah pukulan itu. Kedua cewek yang tengah beradu mulut itu menengok siapa yang baru saja datang.
"Lepasin tangan gue!" Teriak Amelia, cengkraman yang diberikan Dave bukan main-main.
"Lo ngga papa kan Kai?" Tanya Dave memastikan.
"Gue ngga minta pembelaan dari lo ya, jadi lo jangan bangga dulu." Ucap Kaila lalu melangkah pergi dari hadapan mereka, berharap bahwa kejadian barusan tidak akan terulang lagi. Kini nampaknya masa lalu datang dalam kehidupannya lagi.
"Tuh cewek emang songong ya, ga bisa dijaga mulutnya." Amelia asal ceplos, Kaila yang mendengar ada orang yang menjelek-jelekkan dirinya, sontak menengok.
"Lo mending jaga mulut lo dulu, sebelum ngomongin orang." Balas Kaila kesal.
Kaila berjalan kekelasnya, kembali mengikuti pelajaran hingga istirahat kedua. Pikirannya seakan kacau sebab kedatangan orang-orang dimasa lalu. Bel yang terdengar sejak tadi pun tidak membuat dirinya berubah posisi, tetap duduk dan menatap papan tulis kosong. Fifi menggeleng heran, dia tidak pernah melihat Kaila sependiam ini, biasanya di setiap istirahat pasti Kaila yang terlebih dahulu mengajak Fifi pergi kekantin.
"Ke kantin yuk Kai, gue traktir nih." Bujuk Fifi.
"Engga deh Fi, gua ngga laper."
"Ya udah kalo engga laper, temenin gua kekantin ya. Please."
Mendengar rintihan Fifi beberapa kali membuat Kaila tidak tega, dia akhirnya mengiyakan permintaan Fifi. Kantin begitu ramai, hanya ada dua bangku terisa, tepat disamping Reynand duduk. Fifi melangkah cepat menuju kedai yang dia suka, kedai yang Kaila juga suka. Kaila hanya diam dan mencari dimana tempat duduk yang kosong selain disamping Reynand, sampai Fifi kembali, Kaila belum juga mendapatkan tempat.
"Woi! Sini kosong!" Teriak Bimo sembari melambaikan tangan pada Fifi dan Kaila.
"Iya itu kosong."
__ADS_1
"Haduh kekelas aja yuk, sumpek gini rame banget." Gerutu Kaila, kepalanya terasa pening mendengar semua ocehan anak-anak. Apalagi setelah Mba Ina si pemilik kedai bakso dan mie ayam berteriak kencang sebab kedainya sepi.
"Ih kan pesenan gue belum datang, yuk duduk sana aja yuk." Bujuk Fifi.
Pandangan Kaila tiba-tiba buram, daerah disekelilingnya terasa berputar. Perlahan tubuhnya melemas sampai dia terlihat sangat pucat. Tangan kanannya memegang dahi, begitu pusing sampai hampir saja jatuh. "Kai! Lo kenapa?"
"Engga-engga gue gapapa." Jawabnya tegar.
"Yang benar?"
"Engga Fi, gua gapapa. Lo kesana dulu gapapa, gua mau kekamar mandi sebentar." Pamit Kaila, Fifi begitu cemas dengan keadaan Kaila sekarang, tapi Kaila memintanya untuk tetap duduk tanpa ditemani ke kamar mandi. Akhirnya Fifi mengiyakan, dia duduk bersama dengan Bimo dan Reynand.
"Eh Fi, Kaila mana? Bukannya barusan lo sama Kaila?" Tanya Bimo bingung.
"Katanya dia mau ke kamar mandi,"
Mereka berbincang senang, sedangkan Amelia mulai merencanakan sesuatu yang buruk untuk Kaila. Dia beserta kedua temannya segera mengikuti Kaila ke kamar mandi. "Kita kunci pintu kamar mandinya." Bisik Amelia setelah melihat Kaila masuk ke kamar mandi.
"Oke." Respon kompak dadi kedua temannya yang bernama Tiwi dan Rahmy.
Rencana itu berjalan dengan lancar, Mereka bertiga kembali ke kelas dengan tawaan. Kini Kaila hendak membuka pintu yang sudah terkunci dari luar, dia begitu panik setelah mengetahui bahwa pintu kamar mandinya terkunci. Kepanikannya membuat kepalanya bertambah pusing, dan badangannya kini melemas. Perlahan dia terjatuh, pingsan didalam kamar mandi.
"Udah lima belas menit kok Kaila belum balik ya? Bentar lagi kan masuk." Adu Fifi pada Bimo dan Reynand yang saat ini menyeruput es teh manisnya.
"Lo ditinggalin kali ke kelas." Jawab Reynand.
"Ga mungkin, gua jadi takut kalo dia kenapa-kenapa deh. Soalnya waktu mau kekamar mandi, mukannya pucat banget gitu."
Reynand menatap Fifi tajam, rasanya begitu cemas mendengar cerita Fifi. Tanpa pamit, Reynand melonjak dari bangkunya, meletakkan uang lima ribuan dibawah gelas lalu pergi mencari Kaila.
Dia berlari menuju kamar mandi wanita terdekat dari kantin, Fifi dan Bimo turut mengejar Reynand. Kedua pintu kamar mandi terbuka, sedangkan yang satu tertutup dan tidak terdengar suara apapun. Reynand mengambil ponselnya dari kantong celana, mencari keberadaan nomor Kaila. Setelah ditelepon, benar saja terdengar dering dari kamar mandi.
"Kai!" Dengan keras Reynand berteriak dibarengi pukulan kecil pada pintu.
"Kai?!" Teriaknya lagi.
Tak sabar ingin melihat keadaan Kaila, Reynand mencoba mendobrak pintunya. Bimo pun turut membantu dengan sekuat tenaganya, akhirnya berhasil. Kaila ditemukan sudah tergeletak dikamar mandi. "Kai!"
Tidak lama Reynand segera menggendong Kaila menuju UKS, dengan cepat. Puluhan mata memandang kearah mereka, omongan atau rumpian pun kini sudah terdengar jelas. Pertanyaan yang sama juga masij terdengar disepanjang jalan.
"ITU KENAPA?"
"EH KENAPA SI?"
"DIA KENAPA?"
"ITU PINGSAN KENAPA?"
Begitu misalnya.
"Kak, bisa keluar dulu ngga? Biar Kakak ini ditanganin sama petugas lainnya." Ucap salah seorang anak PMR yang hari itu mendapat bagian menjaga UKS.
Pikiran Reynand berkecamuk setelah bel masuk berbunyi dengan kerasnya, dia begitu bingung apa yang harus dia lakukan setelah ini. Apakah tetap menunggu Kaila sadar? Atau pergi kekelasnya untuk mengikuti pelajaran. Bimo dan Fifi akhirnya tiba, mereka juga ikut bingung setelah melihat Reynand memegang kepalanya dengan tangan kanan. "Gue sama Fifi kekelas ya, lo tungguin Kaila." Ucap Bimo santai.
"Ngga! Gue mau nungguin Kaila Bim." Cetus Fifi tidak setuju pada usulan Bimo.
"Tapi udah mulai pelajaran Fi!" Bimo menentang.
"Kaila gimana Bim?!"
Mereka berdebat tentang masalah sepele itu, ego yang membuat mereka saling beradu mulut. Reynand awalnya terdiam, lama-kelamaan dirinya terganggu. "Udah deh udah! Gue aja yang nungguin Kaila. Kalian balik kekelas aja ya." Dia seakan menjadi penengah.
"Masa gue tinggalin sahabat gue sendiri." Fifi belum bisa menerima.
__ADS_1
"Gapapa Fi, biar gue aja yang jagain."
Fifi dan Bimo akhirnya mau, mereka segera kembali kekelas meninggalkan Reynand menjaga Kaila di UKS.